Andra, 27 tahun, pemuda pengangguran harus merawat seorang wanita yang mengalami amnesia. Ia tak sengaja bertemu dengan wanita itu ketika hendak pergi mencari pekerjaan. Ia membawanya ke rumah, sang ibu sempat menolak keputusannya namun menggunakan penjelasan serta belas kasihan akhirnya Andra diizinkan untuk mengurus wanita tersebut.
Apakah selama merawat dan mengurusnya Andra mampu tak jatuh hati? Apakah setelah mengetahui wanita itu ternyata bukan kalangan orang biasa melainkan putri konglomerat tempatnya bekerja Andra akan menjauhinya atau malah memanfaatkannya demi uang?
Jangan lupa tinggalkan jejak..
Silahkan Membaca tapi Untuk Tidak Boom Like..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Menolak Bertemu
Setelah dari rumahnya Andra, Cyra melajukan kendaraannya menuju perusahaan tempat Tiko bekerja. Andra pernah sedikit menceritakan tentang sosok temannya itu. Cyra berharap Tiko dapat memberikan petunjuk.
Cyra memasuki gedung kantor yang berada di sebelah perumahannya, Cyra lalu bertanya kepada karyawan bagian resepsionis, "Apa benar saudara Tiko bekerja di sini?"
"Kalau saya boleh tahu, dia bertugas di bagian mana Nona?"
"Cleaning service."
"Benar. Tiko bekerja di bagian cleaning service."
"Apa saya boleh bertemu dengannya?"
"Sebentar lagi dia juga turun, Nona."
Cyra mengangguk mengiyakan.
Hampir 20 menit menunggu di lobi akhirnya Tiko muncul. Cyra lantas berdiri dan melemparkan senyuman singkat kepada pria itu.
"Ada apa Nona mencari saya?" tanya Tiko yang heran tiba-tiba Cyra mendatanginya.
"Saya butuh bantuan kamu," jawab Cyra.
"Bantuan apa Nona?" tanya Tiko lagi.
"Apa kamu bisa mengantarkan saya ke kampungnya Andra," jawab Cyra menjelaskan maksud permintaannya.
"Memangnya Andra tidak bekerja lagi di perusahaan Nona?" tanya Tiko yang heran Cyra menanyakan kediaman Andra di kampung.
"Justru karena dia tidak bekerja lagi makanya saya menemui kamu!" ketus Cyra.
Tiko menyengir, "Maaf, Nona."
"Apa kamu bisa membantu saya?" Cyra berharap sekali kepada pria yang ada dihadapannya.
"Bisa, Nona," Tiko menyanggupinya.
"Sepulang kerja kita berangkat, kamu minta izin sehari. Saya bersedia mengganti gaji satu hari kamu," janji Cyra.
"Baik, Nona."
"Saya akan menjemputmu pukul lima sore di sini!" ucap Cyra.
-
-
Tepat jam 5 sore, Tiko keluar dari gedung perusahaan tempatnya bekerja. Di depan pintu masuk mobil Cyra sudah menunggunya, tanpa berlama-lama ia segera ke dalam. Tiko duduk berada di samping sopir.
Mereka pun berangkat ke kampungnya Andra. Lebih kurang 2 jam perjalanan yang dilalui. Begitu sampai hari sudah gelap, Cyra turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya.
"Itu rumah Andra, Nona!" tunjuk Tiko ke arah bangunan setengah kayu dan batu yang hanya berjarak 3 meter dari mereka berdiri.
"Kalian boleh pergi!" ucap Cyra.
"Pergi ke mana, Nona?" tanya sopir yang juga berdiri di samping Tiko.
"Menginap di rumah orang tuanya Tiko. Besok pagi kita kembali ke kota," jawab Cyra.
Kedua pria itu gegas masuk ke mobil dan berlalu.
Cyra melangkah, ia mengetuk pintu dan tak menunggu lama terbuka. Cyra tersenyum kepada Laila yang tampak bingung. "Apa kabar, Bibi?"
"Cyra? Dari mana kamu tahu kami tinggal di sini?" tanya Laila terbata.
"Aku meminta bantuan Tiko, Bi," jawab Cyra.
"Oh," ucap Laila singkat.
"Apa aku boleh bertemu dengan Andra?" tanya Cyra.
"Boleh dong, tapi dia sedang keluar ke rumah pamannya," jawab Laila. "Mari masuk!" lanjutnya.
Cyra memandangi sekeliling isi ruangan tamu yang dindingnya tampak kusam. Mungkin karena sudah cukup lama ditinggal.
Laila pergi ke dapur membuatkan minuman, sementara Cyra menunggu menepuk beberapa nyamuk yang hinggap di kulit tangan dan kakinya.
Selang 5 menit kemudian, Laila membawa secangkir teh hangat lalu dihidangkan di depan Cyra. "Silahkan diminum!"
"Terima kasih, Bibi!"
Laila duduk dihadapan Cyra dan diam. Ia tak mau memulai pembicaraan takut salah.
"Apa Andra masih lama?" tanya Cyra.
"Bibi akan meneleponnya," jawab Laila beranjak dari duduknya dan melangkah ke kamar.
Tak lama berselang, Laila kembali menghampiri Cyra dan berkata, "Andra pulang larut malam. Lebih baik kamu beristirahat saja di kamar."
"Memangnya Andra ada urusan apa di luar?" tanya Cyra.
"Bibi juga kurang tahu, besok saja kamu tanyakan," jawab Laila.
-
-
Jam 11 malam ketika Cyra sudah berada di kamar dan terlelap tidur. Andra pun pulang.
"Andra, kenapa kamu lama sekali?" tanya Laila dengan suara pelan.
"Aku sudah lama tidak bertemu paman, Bu. Jadi mengobrolnya panjang," jawab Andra beralasan.
"Karena lama menunggu, ibu suruh saja dia tidur," ucap Laila.
"Di rumah kita tidak ada AC, apa dia bisa tidur nyenyak?" tanya Andra.
"Entahlah, tapi Ibu sudah pinjam kipas angin tetangga untuk satu malam ini," jawab Laila.
-
Jam 5 pagi, Andra sengaja bangun lebih awal sebelum Cyra. Ia melangkah ke kamar mandi mencuci wajah lalu ke kamar tidur ibunya. Mengetuk pintu dan memanggilnya pelan, "Bu ..."
Panggilan tersebut Andra ucapkan berulangkali hingga akhirnya Laila terbangun dan keluar kamar.
"Ada apa, An?" tanya Laila seraya mengucek matanya.
"Bu, aku mau keluar mencari pekerjaan. Jika Cyra terbangun, beri dia sarapan setelah itu suruh pulang ke kota," jawab Andra sekaligus permintaan.
"Kamu tidak ingin bertemu dengannya dulu," ujar Laila.
"Tidak, Bu. Aku belum siap memberikan alasannya," ucap Andra.
"Baiklah, nanti Ibu akan sampaikan," janji Laila.
"Aku pergi, Bu!" Andra meraih tangan Laila lalu mengecupnya.
***
Sejam selepas Andra pergi, Cyra terbangun. Keluar kamar melangkah ke dapur, ia celingak-celinguk mencari sosok Andra namun tak menemukannya.
"Di mana Andra, Bi?" tanya Cyra kepada Laila yang kebetulan baru masuk membawa beberapa buah cabai merah dari hasil kebun di halaman belakang.
"Andra sudah berangkat mencari pekerjaan," jawab Laila.
"Pergi mencari pekerjaan sepagi ini?" Cyra tak percaya.
"Iya."
"Maafkan aku, Bi!" lirih Cyra.
Laila membalikkan badannya menatap wajah Cyra. "Semua sudah terjadi, kamu telah kembali kepada keluargamu. Mungkin rejeki Andra bekerja di perusahaan kamu hanya sebentar saja."
"Seharusnya aku tidak perlu mencari tahu siapa penolong waktu aku mengalami amnesia jika kejadian seperti ini. Andra harus kehilangan pekerjaan dan Bibi terpaksa kembali bekerja di kebun keluarga Bayu," ungkap Cyra.
"Nak, semua sudah berlalu. Mungkin memang lebih baik kami di sini," ucap Laila.
"Aku benar-benar merasa bersalah, Bi."
"Kamu tidak salah, ayahmu hanya ingin terbaik untukmu. Mungkin dia berpikir jika Andra akan memanfaatkanmu," ujar Laila.
"Iya, Bi. Aku juga minta maaf atas nama papa," kata Cyra.
Laila mengangguk mengiyakan.
"Sekarang kamu pergi mandi, Bibi akan buatkan sarapan. Kita makan bersama," ucap Laila kemudian diiyakan Cyra.
Cyra memilih tidak mandi, ia hanya mencuci wajah dan menyikat gigi karena dia tak membawa perlengkapan mandi. Setelah itu, ia duduk bersama dengan Laila di ruang makan yang berada di dapur juga.
"Bibi belum belanja ke warung, kamu makan seadanya saja, ya!" ucap Laila menyiduk nasi lalu diletakkan ke piringnya Cyra.
"Tidak apa-apa, Bi!"
Laila menyodorkan sepiring nasi dengan lauk telur balado dan tumis kangkung di hadapan Cyra.
Tanpa menunggu lama Cyra segera menyantapnya, karena sedari tadi malam perutnya terasa keroncongan akibat menolak nasi goreng buatan Laila.
"Cyra.."
"Iya, Bi."
"Andra 'kan lagi di luar, tidak tahu kapan kembali. Lebih baik kamu pulang saja, pasti papamu sedang mencarimu," ucap Laila.
"Papa sudah tahu, Bi."
"Kamu akan bosan jika menunggu Andra di rumah ini sendiri, Bibi mau pergi mencuci pakaian di rumah tetangga," Laila terpaksa berbohong.
Cyra terdiam.
"Nanti Bibi akan bicara dengan Andra agar dia bersedia menghubungi kamu," janji Laila.
Cyra menghela napas pasrah, dengan terpaksa ia mengangguk mengiyakan. Laila tersenyum senang melihatnya.
Cyra pun pulang di jemput sopirnya yang menginap di rumah Tiko. Sedangkan pemuda itu memilih akan kembali ke kota sore harinya karena masih melepas rindu dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya.