Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Hendro Memilih
Pintu mobil yang dibanting Bu Nur masih terngiang di kepala Hendro sampai ia kembali ke Surabaya.
Di mess perwira malam itu, ia belum sempat mengganti seragam ketika telepon dari rumah datang tiga kali berturut-turut. Panggilan pertama ia biarkan berdering sampai mati. Panggilan kedua ia angkat, lalu hanya mendengar napas berat ibunya. Panggilan ketiga membuat ia akhirnya mengambil kunci motor dan pulang ke rumah orang tuanya.
Bu Nur sudah menunggu di ruang tamu, masih dengan kerudung rapi, tetapi matanya merah. Pak Wibowo berdiri di dekat jendela, tangan dilipat di belakang punggung.
"Kamu puas mempermalukan Ibu di rumah orang?" Bu Nur membuka suara lebih dulu.
Hendro berdiri di ambang ruang tamu. "Saya tidak mempermalukan Ibu. Saya hanya tidak mau Ibu menghina keluarga Mbak Tari."
"Keluarga itu yang memancing!" Bu Nur menunjuk wajahnya sendiri. "Perempuan itu menyebut Putri di depan semua orang. Dia membuka aib keluarga kita."
"Aib itu bukan karena Bu Yati menyebutnya." Suara Hendro rendah. "Aib itu karena Putri benar-benar ditinggalkan."
Tamparan Bu Nur mendarat cepat.
Hendro tidak bergerak. Pipinya panas, tetapi ia tetap menatap ibunya.
Pak Wibowo menajamkan suara. "Jaga bicaramu."
"Saya sudah terlalu lama menjaga bicara."
Bu Nur menutup mulut, air matanya jatuh. "Anak durhaka. Kamu memilih perempuan kampung daripada ibumu sendiri."
"Saya memilih tidak membiarkan orang yang saya sayangi diinjak."
"Tari itu belum jadi siapa-siapa!"
"Kalau Ibu terus begini, justru Ibu yang membuat saya ingin segera menjadikannya istri."
Pak Wibowo melangkah maju. "Hendro, jangan bermain-main. Kariermu masih panjang. Keluarga itu tidak punya apa-apa. Kalau kamu keras kepala, jangan harap kami membantu. Rumah, mobil, koneksi, semua bisa kami cabut."
Hendro menarik napas.
Dulu ancaman itu mungkin membuatnya diam. Sejak kecil ia diajari bahwa nama keluarga adalah payung. Bahwa jabatan ayahnya membuka banyak pintu. Bahwa seorang anak baik tidak mempermalukan orang tua. Tetapi setelah Putri ditemukan, ia mulai melihat bentuk lain dari payung itu. Besar, indah, tetapi bisa dipakai menutup anak yang sedang menangis.
"Saya tentara, Pak. Saya punya gaji. Saya punya mess. Saya bisa hidup tanpa uang Bapak."
Wajah Pak Wibowo mengeras. "Kamu pikir hidup semudah itu?"
"Tidak. Tapi lebih mudah daripada hidup dengan menukar hati sendiri."
Bu Nur menangis lebih keras. "Kamu mau jadi apa? Suami yang nurut istri?"
Hendro menatap ayahnya, lalu ibunya. "Aku mau jadi suami yang benar. Bukan seperti Papa."
Ruangan itu mendadak beku.
Pak Wibowo mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh Hendro. Mungkin karena ia melihat di mata anaknya tidak ada rasa takut yang dulu.
"Keluar," katanya.
Hendro mengangguk pelan. "Saya memang mau keluar."
Ia berjalan ke kamar Putri sebelum pergi. Pintu kamar itu setengah terbuka. Adiknya duduk di tepi ranjang, memeluk bantal. Tubuh Putri lebih berisi daripada saat pertama diselamatkan, tetapi matanya masih sering seperti orang yang berdiri di pinggir sumur.
"Kak," panggil Putri pelan.
Hendro masuk dan berjongkok di depannya. "Kamu dengar?"
Putri mengangguk. "Jangan dengarkan Papa Mama."
Dada Hendro nyeri.
"Mereka juga pernah meninggalkan aku," kata Putri. Suaranya tidak marah. Justru itu yang membuatnya lebih sakit. "Dulu aku tunggu. Aku pikir Papa datang. Ibu datang. Kakak datang. Tapi yang datang surat dari orang asing."
"Maaf," bisik Hendro.
Putri menggeleng. "Kakak datang akhirnya. Itu cukup. Tapi jangan biarkan Mbak Tari menunggu sampai sakit seperti aku."
Hendro memegang tangan adiknya. Tangan itu dingin, tetapi genggamannya kali ini kuat.
"Kalau mereka mengusir Kakak?" tanya Putri.
"Aku punya tempat pulang."
"Ke mana?"
Hendro terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. "Mungkin ke rumah Bu Yati."
Untuk pertama kalinya malam itu, Putri ikut tersenyum.
Hendro kembali ke mess menjelang tengah malam. Ia duduk di ranjang sempit, menatap dinding putih yang kosong. Di meja ada foto kecil Putri yang ia simpan setelah adiknya ditemukan. Di sampingnya ada kartu nama Bu Yati yang dulu ia tulis ulang nomornya agar tidak hilang.
Ia mengambil ponsel.
Telepon pertama ia tujukan kepada Tari.
"Mas?" suara Tari terdengar cemas. "Mas sudah sampai?"
"Sudah."
"Tadi... orang tua Mas marah?"
Hendro menutup mata. Ia bisa membayangkan Tari duduk di pinggir kasur, memegang ponsel dengan dua tangan, wajahnya masih menyimpan luka dari hinaan Bu Nur.
"Marah."
Tari diam.
"Tapi aku tidak menyesal," lanjut Hendro. "Mbak Tari, aku tidak bisa menjanjikan keluargaku akan mudah. Tapi aku bisa janji, aku tidak akan berdiri di belakang mereka saat mereka menyakitimu."
Suara Tari bergetar. "Mas jangan sampai kehilangan keluarga karena Tari."
"Keluarga yang benar tidak hilang hanya karena aku membela yang benar."
Mereka diam cukup lama. Diam yang tidak kosong. Di ujung sana, Tari menarik napas pelan.
"Aku percaya Mas."
Kalimat itu membuat Hendro menunduk. Di dadanya, sesuatu menetap.
Setelah menutup telepon, ia menghubungi Bu Yati.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Hendro?"
"Maaf mengganggu malam-malam, Bu."
"Kalau soal Bu Nur, aku belum tidur juga."
Hendro hampir tersenyum. "Bu, saya mau melamar Tari."
Di seberang, Bu Yati diam.
"Tapi saya mau dari rumah Ibu," lanjut Hendro. "Saya tidak mau membawa Tari masuk ke rumah yang sejak awal menghitung harga dirinya. Kalau nanti akad, saya ingin menghormati Ibu sebagai orang yang menjaga Tari. Saya bersedia mengikuti cara keluarga Ibu. Kalau harus tinggal dekat Cirebon dulu, saya akan usahakan. Kalau orang bilang saya ikut pihak istri, biar saja."
Suara Bu Yati ketika menjawab terdengar lebih pelan. "Kamu paham artinya?"
"Paham. Saya tidak membeli Tari dari keluarganya. Saya meminta izin kepada orang yang membuat dia hidup lagi."
Bu Yati tidak langsung berkata apa-apa. Hendro hanya mendengar napas di ujung telepon, berat dan putus-putus.
"Besok siang datang," katanya akhirnya. "Bicara langsung."
"Iya, Bu."
Setelah telepon ditutup, Bu Yati duduk lama di ruang depan. Lampu kecil membuat bayangan kursi jatuh miring di lantai. Di kamar, Tari mungkin sudah tidur sambil memeluk ponsel. Di luar, suara serangga malam terdengar pelan.
Air mata Bu Yati jatuh tanpa suara.
Dalam hidup yang lalu, Tari pergi dari rumah dengan takut, menikah karena terpaksa, lalu mati bersama anak yang belum sempat menangis. Dalam hidup ini, seorang laki-laki baik menelpon tengah malam, meminta izin bukan untuk membawa anaknya pergi, tetapi untuk berdiri di pihaknya.
Bu Yati menutup wajah dengan telapak tangan.
Tangisnya tidak keras. Justru karena pelan, dadanya terasa lebih sakit.
Pak Tono keluar dari kamar, terbangun karena melihat lampu masih menyala. "Bu'e? Kenapa menangis?"
Bu Yati mengusap pipi, lalu menatapnya.
"Tari mau menikah."
Pak Tono terdiam.
"Tapi dia tidak berangkat dari rumahmu," kata Bu Yati. "Dia berangkat dari rumahku."
Wajah Pak Tono berubah gelap.