SPIN OFF Ayah Untuk Safira
Dihadapkan dengan kenyataan bahwa status dirinya merupakan anak rahasia, membuat Safira harus extra hati - hati untuk bersikap dengan seorang pria. Belum lagi sikap sang ayah yang seolah enggan menganggap keberadaannya. Semakin membuat Safira membenci sosok ayah biologisnya.
Beruntung Safira masih memiliki sosok laki - laki yang bisa ia jadikan sosok panutan. Laki - laki yang nantinya akan menjadi role mode nya untuk mencari tambatan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrijawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapture 32.
Seorang gadis tampak menggandeng mesra seroang pria yang usianya dua kali lipat dari usianya. Wajah ceria gadis tersebut menggambarkan betapa senang hatinya bisa bersama orang tersebut.
Di tangan kirinya terdapat tiga paper bag dari toko pakaian. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menggandeng lengan pria disebelahnya.
Keduanya terus berjalan di lorong hingga berhenti tepat disebuah pintu paling ujung lorong tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, keduanya pun masuk.
"Kamu mandi dulu. Daddy mau pesen sesuatu untuk kita." ucap pria itu lalu mengecup mesra bibir ranum gadis tersebut.
"Gak mau sekalian mandi bareng aja ?" tanya gadis itu sambil menggerakkan jarinya secara abstrak di dada bidang pria tersebut.
"Jangan menggoda daddy Aqilah. Kamu siap - siap aja dulu. Nanti ada waktunya kamu harus layani daddy." ucap pria tersebut.
Aqilah mengalungkan tangannya ke leher pria tersebut sambil terus menatap kagum pada wajah pria dewasa dihadapannya. "Nanti aku bakal service daddy sampek puas." ucapnya lalu mengecup singkat bibir pria tersebut.
"Mulai nakal, ya." goda pria yang bernama Raja.
"Kalo sama daddy harus nakal. Supaya daddy bisa puas." sahut Aqilah sambil melakukan flying kiss karena gadis itu langsung berlalu masuk ke kamar mandi.
Raja hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat tingkah gadis polosnya. "Gak sia - sia keluar uang banyak." gumamnya seraya mengotak atik ponselnya.
Beberapa menit setelahnya, Aqilah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Ia berjalan mendekati Raja dan langsung memeluk pria itu dari belakang.
"Daddy gak mandi ?" tanya gadis itu sambil mengusap dada bidang Raja.
Pria berumur itu memutar tubuhnya. Ia langsung menyambar bibir gadis dihadapannya. Tangannya bahkan sudah menelusup ke dalam bathrobe yang dikenakan Aqilah.
"Tunggu sebentar, ya, baby." ucap Raja setelah melepas pagutan mereka.
Aqilah mengangguk pelan. Bibirnya terus menyunggingkan senyuman seraya terus memperhatikan Raja menuju kamar mandi. Atensinya teralihkan saat mendengar suara dering ponselnya.
"Bilqis ? Ngapain coba dia nelpon gue ? Padahal 'kan dia tau kalo gue lagi sama daddy Raja." gerutu Aqilah kesal, namun tangannya tetap menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Qis. Ada apa ?"
[Gue ada kirim sesuatu ke elo dari tadi tapi gak lo respon. Makanya gue telpon. Sekarang coba lo cek dulu chat gue. Jangan matiin panggilannya.]
Aqilah mengerutkan keningnya merasa bingung. Lalu ia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat isi pesan yang dimaksud oleh Bilqis. Matanya membulat seketika saat melihat siapa yang ada dipoto tersebut.
"Ini 'kan poto gue sama Safira waktu di mall beberapa waktu lalu. Trus apa hubungannya ?" tanya Aqilah seorang diri. Lalu cepat - cepat gadis itu menempelkan kembali ponselnya ke telinga.
"Halo, Qis."
[Lo udah liat chat gue ?]
"Udah. Trus apa hubungannya ?"
[Kemaren gue gak sengaja liat lo sama tuh cewek. Pas banget waktu itu gue lagi jalan sama Om Gerry. Nah, Om Gerry tertarik sama temen lo itu. Kira - kira lo bisa gak bujuk dia supaya mau nemeni Om Gerry ?]
Aqilah tampak berpikir sejenak. 'Mana mau Safira ngelakuin hal kayak gini.' ucapnya membatin.
"Gimana cara gue bujuknya ? Dia itu anak baik - baik. Taunya cuma belajar dan belajar. Temen dia aja bisa gue pastiin cuma gue sama adek gue. Lagian gue yakin, kok kalo dia gak bakal mau kalo diajak kayak kita."
Ada jeda sejenak dari percakapan mereka. Sepertinya Bilqis tengah memikirkan sesuatu untuk mencari solusi.
[Dia itu bukannya temen kita waktu TK gak, sih ?]
Aqilah membulatkan matanya dengan bibir yang ikut terbuka. "Iya, bener. Dia temen satu TK kita. Gue malah gak inget kalo lo juga pernah satu TK sama gue."
[Yaudah, gini aja. Lo ajak dia ketemuan sama kita. Bilang aja kayak reunian gitu. Nanti gue yang atur sisanya supaya dia mau nemeni Om Gerry. Gimana ?]
"Oke, deh. Entar lo kabari gue aja dimana tempatnya. Biar gue nerusin ke Safira tentang rencana kita." sahut Aqilah.
[Oke. Pokoknya lo tenang aja. Kalo kita berhasil bujuk Safira buat nemeni Om Gerry, lo juga bakal dapet bonus dari dia. Setelah urusan lo sama Om Raja selesai, langsung kabari Safira. Jangan lupa kabari gue juga.]
"Oke. Secepetnya gue bakal kasih lo kabar baik." sahut gadis itu kemudian mengakhiri panggilan mereka setelah mendapat jawaban dari Bilqis.
"Lagi ngobrol sama siapa ?" tanya Raja yang tiba - tiba saja sudah memeluk Aqilah dari belakang.
Aqilah yang sempat terkejut langsung menerbitkan senyumannya. Tangannya terulur mengusap rahang tegas milik sugar daddynya. Gadis itupun membalikkan tubuhnya hingga ia bisa dengan leluasa memandangi wajah tampan pria dewasa tersebut.
Mata gadis itu jatuh pada dada bidang Raja yang tak terbalut apapun. Tetesan air yang mengalir dari rambutnya yang basah semakin menambah kesan seksi pada tubuh Raja.
"Itu tadi Bilqis. Dia mau minta tolong sama aku." sahut Aqilah sambil meletakkan ujung jari telunjuknya pada dada bidang tersebut. Lalu secara abstrak gadis itu membuat goresan lembut di dada kekar itu.
"Mau minta bantuan apa sampai dia harus hubungi kami saat lagi sama daddy ? Dia tau 'kan ?"
Aqilah mengangguk sebagai jawaban. "Dia minta aku untuk bujuk temen aku supaya mau nemeni Om Gerry."
"Oh, ya ? Trus ?"
"Nanti aku bakal coba ngomong ke dia. Sekarang, waktunya aku sama daddy. Gak ada yang boleh ganggu waktu kita."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, tangan Aqilah langsung menarik tengkuk Raja untuk menyambar bibir tebal pria tersebut. Bak gayung bersambut, pria dewasa yang selalu haus akan cumbuan gadis tersebut langsung memulai permainannya.
*
Disisi lain, Bilqis tampak tersenyum senang setelah berhasil membujuk Aqilah untuk mendapatkan mangsa baru. Ia lalu menatap gadis disebelahnya.
"Lo punya masalah apa, sih sama dia ? Sampek pengen banget ngancurin dia." tanya Bilqis pada temannya itu.
Gadis yang tak lain adalah Kalula tersenyum miring. "Dia udah buat daddy gue berpaling. Kemarin gue sempet liat dia jalan bareng mantan daddy gue. Dan kebetulan ada Om Gerry juga disana. Gue sempet denger Om Gerry tertarik sama dia. Tapi kalo gue liat wajah Safira, kayaknya dia sama sekali gak berminat sama Om Gerry."
"Trus hubungannya apa ? Kalo dia gak suka gimana mau nemeninya ?" tanya Bilqis heran.
Kalula menatap sekilas pada teman seprofesinya. "Daddy Arya paling gak suka sama baby yang masih terikat sama dia tapi malah ngelayani orang lain. Gue bakal buat daddy Arya buang Safira dengan ngejebak dia untuk nemeni Om Gerry. Setelah itu, gue bakal deketin daddy Arya lagi."
"Bukannya lo bilang daddy Arya pelit ngasih uang jajan ke lo. Trus kenapa lo malah pengen balikan sama dia ?" tanya Bilqis yang masih tak mengerti dengan jalan pikiran temannya.
Kalula mengendikkan bahunya. "Permainannya gak ada yang bisa menandingi. Gue udah candu sama sentuhan dia." ucapnya sambil mengingat kembali permainan panas mereka yang sudah sangat lama berlalu.
"Boleh, dong gue cobain." goda Bilqis yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kalula.
"Pelit lu." cibir Bilqis yang gak mendapat respon dari temannya.