Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Ketiga Adalah Kunci
Tepi pucat bulan ketiga muncul dari balik awan.
Hanya sedikit.
Setipis kuku.
Namun seluruh Istana Bulan Merah langsung bereaksi.
Rune perlindungan di dinding berkedip. Lantai bergetar pelan. Dari kejauhan terdengar suara pintu-pintu besi menutup serempak, diikuti raungan makhluk penjaga yang tinggal di bawah menara.
Aelora mencoba turun dari ranjang.
Eirna menahannya.
“Tidak.”
“Kita harus memberi tahu Kael.”
“Saya yang akan memanggilnya.”
“Lebih cepat kalau aku pergi.”
“Kau baru saja berdarah dari sayap.”
“Bulan ketiga sudah muncul.”
“Itu tidak membuat kakimu lebih kuat.”
Aelora mendorong tangan Eirna. Kakinya menyentuh lantai, lalu langsung kehilangan keseimbangan.
Eirna menangkapnya sebelum jatuh.
Milo mendecakkan lidah dari atas meja.
“Tubuhmu kembali memenangkan perdebatan.”
“Aku cuma berdiri terlalu cepat.”
“Kau selalu berdiri terlalu cepat ketika seharusnya tidak berdiri.”
Di balik kaca pintu, Nira mengetuk keras.
“Apa yang terjadi?”
Ryn berdiri di sampingnya, wajahnya tegang. Ia pasti merasakan rune istana berubah. Umbra dalam tubuh iblis selalu lebih peka terhadap gangguan pada bulan-bulan Nocthara.
Eirna membuka pintu sedikit.
“Panggil Raja. Sekarang.”
Ryn langsung berlari.
Nira hendak ikut masuk, tetapi Eirna menghalangi.
“Kau tetap di luar.”
“Aku bisa membantu.”
“Dengan apa?”
Nira melihat mangkuk sup di tangannya.
“Sup.”
“Tidak.”
“Sup membantu banyak hal.”
“Tidak untuk gerbang tiga dunia.”
Nira memeluk mangkuknya dengan kecewa.
Aelora berdiri dengan satu tangan berpegangan pada ranjang.
“Seraphiel bilang bulan ketiga bukan batas waktu. Itu kunci altar.”
Eirna menoleh.
“Artinya ketika ketiga bulan berada pada satu garis—”
“Gerbang akan terbuka meski aku tidak datang.”
Eirna memandang jendela sempit.
Bulan pertama sudah tinggi dan merah. Bulan kedua muncul separuh dari balik awan. Bulan ketiga terus naik perlahan.
“Berapa lama sampai ketiganya sejajar?” tanya Aelora.
Eirna mengambil alat berbentuk cincin dari dalam tas obatnya. Ia memutar tiga bagian logam kecil sampai setiap lingkaran menunjukkan posisi bulan.
“Kurang dari dua jam.”
“Dua jam?”
“Mungkin lebih cepat. Gangguan sihir dapat mempercepat lintasannya.”
Milo turun dari meja.
“Varion mungkin sudah menarik bulan ketiga.”
Aelora menatapnya. “Bisa seseorang menarik bulan?”
“Bukan bulan sebenarnya. Bayangan langitnya.”
“Itu tetap terdengar buruk.”
“Memang.”
Langkah kaki berat memenuhi lorong.
Kael masuk bersama Orin, Daren, Elianor, dan utusan dua sayap yang selalu membawa gulungan. Ryn mengikuti di belakang, terengah-engah karena berlari terlalu cepat.
Bayangan Kael memasuki ruangan lebih dahulu.
Tatapannya menemukan Aelora yang berdiri.
“Kenapa kau tidak berbaring?”
“Karena Seraphiel menghubungiku.”
Semua orang berhenti.
Elianor mengangkat kepala. Luka berbentuk matahari terbelah masih terlihat di belakang lehernya.
“Bagaimana?”
“Melalui sayapku. Atau darahku. Aku tidak tahu.”
“Apa yang dikatakannya?” tanya Kael.
“Bulan ketiga bukan batas waktu. Itu kunci altar.”
Kael memandang langit melalui jendela.
Orin langsung membuka peta astronomi Nocthara di atas meja. Daren memanggil seorang prajurit dan memerintahkan agar seluruh menara pengawas melaporkan posisi bulan setiap lima menit.
Elianor berjalan mendekati jendela, tetapi dua bayangan Kael langsung melingkari pergelangan kakinya.
Ia berhenti.
“Saya tidak berniat membuka jalan.”
“Aku belum memutuskan apakah tubuhmu masih milikmu sendiri,” kata Kael.
“Keraguan yang masuk akal.”
Elianor tidak berusaha melepaskan diri.
Utusan dua sayap membuka gulungan resmi Elyrion. Tulisan emas muncul di permukaannya, lalu bergerak terlalu cepat untuk dibaca.
“Ada perubahan pada registrasi gerbang.”
“Apa?” tanya Kael.
“Ruang Bawah Ketujuh tidak lagi terdaftar sebagai ruang tahanan.”
Aelora mencengkeram Piko.
“Lalu sebagai apa?”
Utusan itu menelan ludah.
“Sebagai ruang jangkar.”
Elianor memucat. “Tunjukkan.”
Ia membaca gulungan dari jarak beberapa langkah.
“Jangkar mana?”
“Tiga titik,” jawab utusan itu. “Katedral Fajar, Kuil Sayap Patah, dan…” Ia berhenti.
Kael menatapnya. “Lanjutkan.”
“Istana Bulan Merah.”
Ruangan menjadi dingin.
Aelora memandang lantai.
Tangga makam yang terbuka di bawah kamarnya.
Detak jantung raksasa di balik dinding timur.
Takhta pertama yang memanggilnya.
“Mereka tidak perlu membawaku ke altar,” katanya pelan. “Karena istana sudah menjadi bagian dari altar.”
Kael langsung memandang Orin.
“Segel tua di bawah kamar Aelora.”
“Tim pemeriksa belum mencapai dasar,” jawab Orin. “Tangga terus berubah arah. Setiap kali mereka menandai satu dinding, tanda itu muncul di lantai lain.”
“Makam itu bukan makam,” kata Milo.
Semua orang menoleh kepadanya.
Kucing bayangan itu duduk di dekat kaki Aelora, ekornya yang transparan bergerak pelan.
“Setidaknya bukan hanya makam.”
“Jelaskan,” kata Kael.
“Ratu pertama Nocthara tidak dikuburkan di bawah istana. Ia mengikat bayangannya pada takhta agar kerajaan tetap memiliki inti ketika garis darah terputus.”
Orin menatapnya. “Informasi itu bahkan tidak ada dalam arsip keluarga.”
“Aku lebih tua daripada arsipmu.”
“Kau terlihat seperti anak kucing yang baru jatuh ke dalam cerobong.”
“Itu tidak berhubungan dengan usia.”
Aelora menyentuh lambang Solumbra.
“Takhta pertama adalah jangkar Umbra.”
Elianor mengangguk perlahan.
“Katedral Fajar menjadi jangkar Aether. Kuil Sayap Patah berada di antara keduanya.”
“Dan Seraphiel?” tanya Aelora.
“Darah langit untuk menstabilkan jalur,” jawab Elianor. “Kalau dia dirantai pada pusat altar, mereka dapat menggunakan garis Seraphiel tanpa perlu persetujuannya.”
“Lalu darahku?”
Semua orang diam.
Aelora menatap mereka satu per satu.
“Lalu darahku untuk apa?”
Elianor menjawab, “Untuk memberi gerbang kehendak.”
Aelora merasakan perutnya mengencang.
“Aku tidak datang.”
“Mereka akan mencoba membuatmu menginginkan sesuatu dari gerbang,” lanjut Elianor. “Menyelamatkan Seraphiel. Mengambil obat. Menghidupkan Mirael. Selama keinginan itu cukup kuat, jarak tidak penting.”
Kael memotong, “Dia tidak akan terhubung.”
Aelora menatap benang emas samar yang masih tersisa pada pergelangan tangannya.
“Tapi aku sudah terhubung.”
Kael bergerak mendekat.
“Putuskan jalurnya,” perintahnya kepada Eirna.
“Kalau diputus paksa, sayapnya bisa ikut rusak.”
“Lakukan.”
Aelora menarik tangan.
“Tidak.”
Kael menatapnya.
“Jalur itu satu-satunya cara mengetahui apakah Seraphiel masih hidup.”
“Dan satu-satunya cara altar mencapai pikiranmu.”
“Aku bisa menahannya.”
“Kau baru saja hampir dipaksa membunuhku oleh mural.”
“Itu berbeda.”
“Tidak cukup berbeda.”
Aelora merasakan suara dalam dadanya mulai naik.
“Kau selalu memotong semua jalan begitu sesuatu berbahaya.”
“Karena jalan itu terus mencoba membawamu ke kematian.”
“Kalau kita putuskan, kita buta.”
“Aku lebih memilih buta daripada menyerahkan pikiranmu kepada Varion.”
“Ayah—”
“Tidak.”
Satu kata itu jatuh berat.
Aelora menunduk.
Bagian kecil dalam dirinya ingin berteriak bahwa tubuh itu miliknya. Bahwa Seraphiel adalah ayah kandungnya. Bahwa ia berhak memilih risiko.
Namun sayapnya kembali berdenyut. Rasa sakit membuat lututnya lemas.
Kael menangkap bahunya.
“Berbaring.”
“Aku masih bisa berdiri.”
“Kau bergetar.”
“Karena dingin.”
“Ruangan ini hangat.”
“Kalau begitu lantainya—”
“Jangan salahkan lantai.”
Aelora menatapnya kesal.
Kael mengangkatnya dan meletakkan kembali di ranjang. Kali ini ia duduk di tepi kasur, seolah khawatir Aelora akan turun lagi saat ia menoleh.
Orin menyusun potongan informasi di atas meja.
“Tiga jangkar. Dua bulan sudah naik. Kita perlu mematikan salah satu titik sebelum bulan ketiga sejajar.”
“Katedral Fajar terlalu jauh,” kata Daren.
“Kuil Sayap Patah dijaga Gereja,” tambah Elianor.
Kael melihat ke lantai.
“Takhta pertama berada di bawah kita.”
Orin langsung menggeleng. “Menghancurkan inti bayangan kerajaan dapat meruntuhkan seluruh perlindungan Nocthara.”
“Tidak perlu dihancurkan,” kata Aelora.
Kael menoleh.
Aelora memegang Piko di atas selimut.
“Jangkar bisa diberi tujuan yang salah.”
Milo mengangkat telinga.
Seperti gerbang ke Laut Abu.
Mirael pernah meninggalkan petunjuk yang sama.
Jangan menutup gerbang.
Beri gerbang tujuan yang salah.
“Kalau takhta pertama adalah salah satu jangkar,” lanjut Aelora, “kita bisa membuatnya mengarah ke tempat lain.”
“Ke mana?” tanya Daren.
“Tempat yang tidak punya cahaya.”
“Laut Abu,” kata Milo.
Elianor menggeleng cepat. “Asterion berada di sana.”
“Kalau begitu bukan Laut Abu.”
Aelora mencoba mengingat peta tiga dunia dari masa depan. Elyrion di atas. Nocthara di bawah. Dunia manusia di tengah. Di antara ketiganya terdapat ruang-ruang mati, tempat jalur yang gagal berakhir.
“Koridor Tanpa Nama,” bisiknya.
Kael menegang.
“Kau tahu tempat itu?”
“Aku pernah jatuh ke sana.”
“Kapan?”
“Di masa depan.”
“Tentu saja,” gumam Orin. “Semua tempat buruk rupanya pernah dikunjungi Putri.”
Aelora mengabaikannya.
“Koridor itu tidak terhubung pada dunia mana pun. Kalau jangkar diarahkan ke sana, gerbang akan membuka jalan tanpa tujuan.”
“Dan memakan energinya sendiri,” kata Elianor.
Utusan dua sayap memeriksa gulungan.
“Secara teori, ya.”
“Secara teori?” tanya Daren.
“Belum pernah dicoba.”
Orin mengangkat alis. “Pernyataan yang sangat menghibur.”
Kael berdiri.
“Kita turun ke takhta pertama.”
Aelora langsung menyingkap selimut.
“Kita?”
“Kau tetap di sini.”
“Tapi hanya aku yang tahu Koridor Tanpa Nama.”
“Kau bisa menjelaskan.”
“Jalannya bukan peta biasa. Tempat itu berubah berdasarkan ingatan orang yang masuk.”
Kael diam.
Aelora melanjutkan sebelum ia ditolak lagi.
“Takhta memanggilku. Lambang ibumu sama dengan lambangku. Darahku mengaktifkan rune istana. Kalau kau turun tanpa aku, pintunya mungkin tidak terbuka.”
“Tubuhmu tidak mampu menahan penggunaan sihir.”
“Kalau gerbang terbuka, tubuhku juga tidak akan selamat.”
Kael memalingkan wajah sejenak.
Aelora tahu ia sedang mencari pilihan lain.
Tidak ada.
Bulan kedua sudah hampir sepenuhnya terlihat.
Suara lonceng baru terdengar dari menara astronomi.
Dua dentang panjang.
Orin melihat jam pasir.
“Kurang dari satu jam.”
Kael memandang Aelora lagi.
“Eirna, ikat sayapnya agar tidak bergerak.”
Eirna menegang. “Yang Mulia—”
“Bukan untuk menahan kekuatannya. Untuk mencegah luka bertambah.”
Aelora langsung duduk. “Berarti aku ikut?”
“Kau berada di dekatku sepanjang waktu.”
“Aku bisa berjalan sendiri.”
“Tidak.”
“Aku tidak mau digendong di depan pasukan.”
“Kau lebih suka ditarik menggunakan kereta obat?”
Aelora memikirkan itu.
“Digendong.”
Nira mengetuk kaca dengan keras. “Aku juga ikut!”
“Tidak,” jawab semua orang hampir bersamaan.
Nira menatap mereka dengan tersinggung.
Ryn mengangkat kertas baru.
KAMI MENUNGGU DI SINI.
Aelora mengangguk kepadanya.
Eirna membalut sayap putih menggunakan kain ringan yang dipenuhi rune pendingin. Setiap lilitan terasa dingin dan sedikit menenangkan.
Kael mengangkat Aelora setelah selesai.
Daren memimpin pasukan keluar. Orin membawa peta. Elianor berjalan dengan kedua tangan terikat bayangan agar tubuhnya tidak dapat digunakan Peniru lagi. Utusan dua sayap membawa gulungan registrasi.
Milo naik ke bahu Kael.
“Jangan mengira ini berarti aku menyetujui rencana.”
“Tidak ada yang bertanya,” kata Kael.
Mereka menuju kamar lama Aelora.
Lantai masih terbuka.
Tangga batu turun ke kegelapan.
Dari kedalaman terdengar detak jantung.
Dum.
Dum.
Dum.
Lebih cepat daripada sebelumnya.
Kael berhenti di tepi tangga.
Aelora menatap bulan ketiga melalui jendela kamar.
Separuhnya sudah muncul.
Kemudian suara Seraphiel kembali terdengar di dalam kepalanya.
Kali ini bukan melalui benang emas.
Suara itu datang dari bawah.
Dari takhta pertama.
“Aeloria…”
Aelora menegang.
Kael merasakannya.
“Apa?”
“Dia memanggil.”
“Dari kuil?”
Aelora memandang kegelapan tangga.
“Tidak.”
Detak dari bawah berhenti.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Kemudian suara perempuan menggantikan Seraphiel.
Suara Ratu Nocthara yang sudah lama mati.
“Bawa anak itu turun.”
Dua mata merah terbuka jauh di dasar tangga.
“Karena sebelum gerbang ditutup, Raja harus mengetahui satu hal.”
Kael mengangkat bayangan sebagai senjata.
Suara itu tertawa pelan.
“Seraphiel bukan tahanan utama altar.”
Aelora merasakan jantungnya berdetak tidak teratur.
“Lalu siapa?” tanyanya.
Dinding di sekitar tangga menyala.
Huruf-huruf hitam membentuk satu nama.
MIRAEL ARVAND.
Dan dari kedalaman, terdengar seorang perempuan menjerit.