NovelToon NovelToon
Living The Underworld

Living The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kaya Raya / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu / Lari Saat Hamil
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Dignity

Millie Peterson.

Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.

Orion Alano.

Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.

Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

"Kau yakin tidak mau menginap, Orion?" rengek Elijah sekali lagi sambil bersandar pada bingkai pintu sementara Orion dan aku melangkah keluar. Aku tidak melihatnya selama berminggu-minggu, tetapi di penghujung malam ini, dia malah lebih terobsesi pada Orion.

Menyaksikan Orion berkumpul dan bercengkerama dengan keluargaku terasa seperti dongeng. Dia mau berseloroh dan menonton pertandingan hoki di televisi bersama ayahku, berpura-pura kalah dalam beberapa ronde permainan Mario Kart melawan adikku, dan bahkan membantu ibuku mencuci piring setelah kami selesai santap malam. Untuk beberapa jam, aku lupa. Aku lupa betapa hidupku penuh bahaya dan siapa Orion sesungguhnya. Aku melupakan fakta bahwa hidupku mulai terikat dengan seorang Don Mafia, yang entah akan melambungkan hatiku setinggi-tingginya atau menghancurkanku berkeping-keping.

Namun tetap saja, malam ini berlangsung sempurna. Rasanya begitu nyata dan mudah sehingga saat harus kembali pada kenyataan, aku merasa berat untuk mengakhirinya.

Memilih bertahan dengan Orion akan mengubah hidupku sepenuhnya, dan suasana tenang seperti makan malam sederhana dengan keluargaku hanya akan menjadi angan-angan di masa depan. Mereka tidak boleh mengetahui Orion yang sebenarnya karena itu akan menempatkan mereka dalam bahaya.

"Kami tidak bisa menginap malam ini, tapi kami akan berkunjung lagi dalam waktu dekat. Aku janji." Orion menyeringai, melambaikan tangan pada Elijah. Aku mengerang, berharap dia tidak mengucapkan janji pada adikku tang tidak bisa dia tepati. Mengetahui dia berbohong padaku merupakan satu hal yang mungkin... mungkin bisa kumaafkan, namun jika keluargaku terbawa-bawa ke dalam masalahnya, aku tidak akan sanggup menanggungnya.

"Mungkin berikutnya kita bisa berjemur atau memancing dengan perahu." Dave menyarankan, memberiku satu pelukan terakhir.

"Kedengarannya menyenangkan." balas Orion.

"Dah, semuanya!" seruku kebalik bahu sementara kami melangkah ke mobil.

"Sampai jumpa lagi." ibuku melambaikan tangan. "Kabari kami begitu kalian sampai."

Orion membukakan pintu untukku kemudian berjalan ke pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil. Kami langsung melaju kembali ke New York.

Ketika tak tahan lagi mendengarkan keheningan, aku membuka suara. "Menyenangkan sekali, ya."

Orion menjulurkan tangannya dan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Sangat. Aku senang bisa berkumpul dengan keluargamu. Mereka orang-orang luar biasa."

"Aku pikir mereka juga menyukaimu." gumamku setuju. "Berapa lama pertemuanmu malam ini?"

"Tidak terlalu lama. Mungkin sekitar dua jam." katanya. "Kau mau menunggu di rumahku?"

Tepat sekali, Orion adalah rumahku sekarang. Tak ada alasan bagiku menunggu di rumahnya, kecuali aku menginginkannya. "Kau menawarkan?"

Oriom menyeringai, lalu menggelengkan kepala. "Ya. Aku tidak terlalu mencemaskan keamananmu karena aku di sini sekarang. Alasanku memintamu tinggal di rumahku murni karena keegoisan."

Aku sangat ingin mengiyakan permintaannya, tetapi masih banyak keraguan yang menari-nari di pikiranku. Bukan hanya tentang mafia, melainkan Orion sendiri. Dia pria tampan, kaya, dominan, dan sangat menyadari keunggulannya. Kami tidak pernah setara, baik dari penampilan, kepercayaan diri, maupun gaya hidup, dan aku tidak bisa mengimbanginya. Pengalamannya dengan wanita lebih banyak dibanding kisahku bersama makhluk berjenis laki-laki. Dan aku menjalin hubungan paling lama bersama Jack, yang kemudian berakhir menyedihkan. Orion dan kehidupannya benar-benar wilayah baru untukku, dan sekalipun ketakutan terbesarku adalah terjebak dengan mafia, namun aku juga khawatir keberadaanku tidak cukup untuknya. Aku takut membayangkan Orion berpaling pada gadis yang lebih muda dan lebih cantik.

"Seberapa sering kau melakukan ini dengan wanita?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Apa?" Dia tergelak, melirik singkat ke arahku. "Apa maksudmu bertanya seperti itu?"

"Seperti ini," aku melempar tangan ke udara. "Mengajak kencan, membuat mereka tergila-gila padamu, atau menjanjikan hal-hal yang bahkan tidak ingin kau tepati."

"Oh, kau melupakan bagian saat aku menyelamatkan mereka dari sindikat penjahat internasional. Apa aku tidak pantas menerima pujian dalam hal itu?" Dia menyeringai genit. "Pertama-tama, aku tahu kau berusaha menjaga jarak. Reputasiku soal wanita memang tidak terlalu baik, tetapi itu karena aku tidak suka menahan mereka. Begitu ketertarikanku hilang, aku tidak mau membuang-buang waktu dan langsung mengakhirinya. Dan satu hal yang harus kau ingat, aku memang sering menghabiskan waktu bersama wanita, namun hanya kau yang pernah tidur di ranjangku. Kamarku adalah area pribadi dan kau wanita pertama yang masuk kesana. Satu lagi, aku tidak menjanjikan sesuatu padamu yang tidak ingin kutepati. Kupikir aku sudah menjelaskan keseriusanku dalam hal ini, Tesoro. Sisanya kuserahkan padamu."

Aku merasa tertangkap basah sehingga tak mampu berkata-kata. Aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar pengakuannya, dan sekaligus mengutarakan semua pikiran buruk di kepalaku. Mungkin aku akan menyesali ini di kemudian hari, namun aku juga bersungguh-sungguh.

"Okay."

"Okay?" Dia menaikkan alis. "Hanya itu responmu?"

"Aku juga serius, Orion." Aku tak dapat menahan senyum puas karena telah mengucapkannya dengan lantang.

"Bagus." katanya. "Kau tak perlu ragu, Millie. Dari semua wanita di dunia ini, aku memilihmu. Bagiku kau yang utama, yang paling kuinginkan. Dan aku rela melakukan apapun demi membuatmu bahagia dan nyaman."

"Kau tahu apa yang membuatku bahagia saat ini?" tanyaku, menguji keberuntungan.

"Mungkin bukan hal yang sama yang akan membuatku bahagia." Dia tertawa. "Apa itu?"

"Bisakah kita memainkan dua puluh pertanyaan edisi mafia? Aku ingin mengetahui lebih banyak tentangmu. Ini tidak adilz kau mengetahui segalanya tentangku sementara aku sama sekali buta mengenai kehidupanmu."

"Lima pertanyaan, tidak lebih. Hanya karena kau sangat menggemaskan saat memohon dengan tatapan seperti itu. Aku harus bergegas untuk pekerjaan malam ini, jadi lakukan dengan cepat. Okay?"

"Siap, bos!" Aku menyeringai, mengetahui betapa dia gelisah ketika aku berbicara seperti itu. Dominasi adalah karakteristik kepribadiannya yang paling kuat, yang lantas membuatnya liar ketika aku menunjukkan semacam kepatuhan. Meskipun aku hanya menggodanya.

"Berapa usiamu saat itu?" tanyaku. Pertanyaan ini terus mengganggu pikiranku sejak pertama kali dia menceritakan tentang keluarganya.

"Saat aku terjun ke mafia? Pada hari ulang tahunku yang ke empat belas, Alonzo dan ayahku membawaku ke pusara, istilah yang kami gunakan untuk menyebutkan sel di mana para tawanan berada." Dia menjelaskan, menoleh sekilas untuk melihat reaksi keterkejutanku. "Mereka baru saja membunuh seorang pria yang tadinya merupakan salah satu dari kami. Pria itu membocorkan informasi penting kepada pihak lawan yang membuat beberapa dari kami tewas dalam serangan mendadak. Mereka menyiksanya berhari-hari sebelum mengakhiri penderitaannya. Ketika usiamu memasuki angka empat belas, kau menjadi seseorang yang mereka sebut pelayan. Pada dasarnya, kau melakukan pembersihan dan tugas-tugas lain yang perlu dilakukan dalam grup. Mereka ingin aku membersihkan sel itu. Aku tidak akan melupakan aroma menyengat dari darah yang berceceran hari itu. Butuh waktu tiga hari penuh untukku membersihkan semuanya dan aku muntah berkali-kali."

Perutku bergejolak sementara aku mendengarkan ceritanya yang sangat tidak masuk akal bagiku. Hatiku sesak membayangkan umurnya masih begitu muda saat dipaksa masuk ke dalam dunia segila itu. Aku meletakkan tangan di atas pahanya, lalu dia meremas tanganku.

"Pertanyaan berikutnya?" katanya, tak sabar ingin mengakhiri topik ini.

"Apakah kalian bekerja seperti geng? Yang bisa berhenti saat kau bosan atau lelah?" tanyaku, lebih kepada rasa penasaran akan kehidupanku nanti jika aku bertahan dengannya.

"Kami lebih berpengalaman dibandingkan gangster." Orion mendengus. "Seperti yang kukatakan padamu, orang-orangku bekerja dengan sukarela. Mereka boleh keluar kapanpun mereka mau, tetapi kebanyakan dari mereka menyukai kehidupan ini."

"Apa maksudmu? Orang-orang ini suka berada di tengah-tengah kekerasan dan setiap keputusan yang mereka ambil dikendalikan oleh orang lain?" Sekarang aku penasaran. Sampai hari ini, aku belum melihat aspek lain dari kehidupan mereka selain kekerasan dan kerahasiaan.

Orion mulai tertawa. "Kau harus mempelajari lebih jauh tentang ini, Millie. Dunia kami tidak terbatas pada kendali dan kekerasan. Banyak orang-orangku yang bekerja mengurus klub, hotel, dan gedung-gedung perkantoran. Beberapa dari mereka bahkan tidak pernah benar-benar menyakiti seseorang. Aku terlibat dalam bidang yang lebih kompleks karena itu tugasku sebagai Don, suka atau tidak, aku harus melakukannya. Tetapi, kau bisa menjadi bagian dari keluarga kami tanpa terlibat dengan kekerasan. Seperti para wanita lainnya."

"Adakah wanita yang bekerja denganmu secara langsung?"

"Hanya beberapa. Biasanya mereka menyamar atau sebagai informan."

"Jadi, mereka bergabung karena butuh perlindungan?" tanyaku, lagi-lagi penasaran kenapa mereka mau jika tidak dalam posisi terdesak.

"Mereka memiliki alasan masing-masing. Sebagian dari kami dilahirkan untuk kehidupan ini, seperti yang dilakukan para pendahulu sebelum kami. Semacam tradisi keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Ada juga yang bergabung karena sedang dalam pelarian, baik pria maupun wanita. Mereka kabur karena hutang, kecanduan obat-obatan, kekerasan dalam rumah tangga, korban pelecehan, dan masih banyak lagi yang tidak kuketahui. Namun, disitulah letak keindahannya. Kami tidak peduli dengan masa lalu mereka, kami tidak menanyakan hal yang tidak perlu mereka jawab, dan mereka bisa menemukan kembali jati diri mereka disini. Kami tidak pernah memaksa mereka melakukan sesuatu, setiap saat kami membebaskan mereka, dan mereka memilih bertahan. Kadang-kadang hanya kami keluarga yang mereka miliki. Tak semua orang beruntung terlahir dalam keluarga yang harmonis dan memiliki rumah indah di tepi pantai di Rhode Island. Mereka ingin merasa dicintai, dan berkontribusi pada suatu pekerjaan. Dan menjadi bagian dari keluarga kami mampu memenuhi keinginan itu. Ditambah, pemasukan dan tunjangan lainnya juga tak kalah menggiurkan."

Dia terus mengulangi kata yang sama; keluarga. Agak aneh bagiku, tetapi entah kenapa terdengar masuk akal sekaligus. Dia benar dalam satu hal; aku beruntung memiliki keluarga yang utuh. Tidak semua orang memiliki keluarga yang penuh cinta, rumah yang hangat, atau makanan di atas meja setiap malam. Aku lebih mudah memahaminya ketika Orion memberikan gambaran seperti itu.

"Itukah yang membuatmu bertahan sampai hari ini?"

Ekspresinya mengeras dan dia terdiam sesaat sebelum menjawab. "Aku bertahan karena aku sudah ditakdirkan menjadi seorang mafia. Sama seperti Javer, Damien, dan yang lainnya. Pekerjaan ini sudah mendarah daging hingga aku bahkan tak tahu cara menjalani hidup normal."

"Jadi, seandainya bisa memilih, kau tidak akan bergabung?"

Begitu kata-kata terlepas dari mulutku, Orion langsung berubah gelisah. Dia bergerak di tempat duduknya dan membuka rahangnya, menghindari kontak mata denganku.

"Tidak penting apakah aku bisa memilih atau tidak. Intinya aku disini sekarang." Nadanya tenang dan datar, namun aku merasakan kemarahan memancar darinya. Pertanyaanku telah mengusiknya dan menutup semua pintu informasi yang akan kudapatkan darinya. "Kupikir sudah cukup untuk malam ini."

Pasrah tak mau mendorongnya lebih jauh, aku menautkan jemariku padanya sambil memandang ke luar jendela, merelakan topik pembicaraan tadi terhenti.

"Kenapa kau sangat ingin mengetahui detail tentang mafia? Aku yakin jawabanku tidak akan membuatmu merasa nyaman, hm?"

"Aku ingin memahamimu." kataku. "Aku harus tahu dunia macam apa yang sedang kuhadapi saat ini dan untuk kedepannya. Aku tidak ingin menghabiskan setiap malam bertanya-tanya kemana saja kau dan bagaimana keadaanmu, atau khawatir tidak bisa melihatmu lagi."

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Millie. Aku janji. Aku sudah ahli dalam bidang ini, malah bisa dibilang yang terbaik. Aku pasti baik-baik saja, dan kalaupun memang terjadi sesuatu, pengetahuanmu tentang mafia tidak akan membantu." Dia mengangkat tanganku dan menciumnya. "Sekarang, kita sudah semakin dekat. Bagaimana kalau kau tutup mata dan istirahat sejenak?"

"Okay." Mungkin dia benar. Mungkin mengetahui seluk-beluk pekerjaannya hanya akan membuatku cemas setengah mati.

1
Abyan FH
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!