Aditya , seorang remaja miskin , karena dosa yang tidak sengaja dia buat , terpaksa di kejar kejar dua kelompok gangster .
lalu ada lagi para pembunuh bayaran yang mengincar nyawa nya , atas suruhan seseorang .
Ada pula sekelompok preman , yang mencari nya , juga atas suruhan seseorang .
Dapatkah Aditya mengatasi masalah nya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Pengeroyokan .
Hari ini anak anak pulang lebih awal , karena para guru ada rapat .
Aditya sudah ber ulang ulang kali menelpon Aurelia , tetapi karena Aurelia dan Siska ada pertemuan dengan rekanan bisnis dari Jepang di sebuah restoran , sehingga sengaja handphone di matikan nya .
Aditya melangkah perlahan menapaki trotoar sambil sesekali melihat kearah jalan raya .
Beberapa murid sekolah itu pulang dengan menaiki sepeda motor berbagai merek , ada juga yang di jemput oleh sopir mereka .
Sekali lagi Aditya menelpon Aurelia , namun tidak diangkat , cuma terdengar suara operator mengatakan sedang sibuk .
Kini langkah kaki Aditya membawa nya melewati sebuah pemakaman umum yang cukup luas di sebelah kiri nya .
Pohon pohon akasia , mahoni , trembesi dan Ketapang , tumbuh me rimbun di depan pemakaman umum itu .
Beberapa orang perempuan tua duduk menjual kembang di bawah teduhan pepohonan yang rindang .
Aditya duduk di dekat seorang wanita tua , yang sebaya dengan nenek nya sambil berjualan kembang melati , yang biasa di pergunakan oleh orang orang untuk ziarah kubur .
"Beli bunga nak ?" tanya wanita tua itu dengan tangan nya yang gemetaran .
"Enggak nek , apa kah hari ini hasil nya lumayan nek ?" tanya Aditya duduk didekat nenek itu .
"Sudah tiga hari ini sepi nak , orang yang ziarah tidak ada , meskipun ada , bunga nenek tak laku nak , maklum sudah layu !" jawab nenek itu sedih .
"Nenek sudah makan kah hari ini ?" tanya Aditya lagi .
Nenek itu menggelengkan kepala nya , mata nya berkaca kaca sedih .
"Nenek sih tak apa apa nak , suami nenek di rumah sakit sudah tiga hari juga tidak makan , karena nenek tidak membawa hasil jualan bunga !" ujar nenek itu sambil menyusut air mata nya yang bergulir di sudut mata nya .
Aditya bangkit berdiri , dia ingat jika di seberang sekolah ada warung nasi yang berdiri dekat toko photo copy .
Aditya segera berjalan kearah warung nasi itu , memesan dua porsi nasi hangat komplit dengan lauk pauk nya dan minta di bungkus kan .
Ibu pemilik warung segera membungkukan nasi itu untuk Aditya .
Beberapa waktu ini , Aditya selalu makan di warung ini , karena dia menghindari pertemuan dengan Anita Chan di kantin .
Setelah nasi selesai di bungkuskan oleh ibu pemilik warung itu , Aditya mengambil air mineral satu botol besar , lalu menyerahkan uang selembar limapuluh ribuan kepada ibu pemilik warung .
Ibu pemilik warung memberi kembalian sebesar delapan belas ribu kepada Aditya .
Aditya segera berjalan kearah wanita tua yang berjualan bunga tadi , menyerahkan dua bungkus nasi dan sebotol air mineral yang dia beli tadi .
Wanita tua itu segera membereskan bunga bunga jualan nya kedalam tas pandan tua bersama nasi bungkus dan air mineral tadi .
"Kenapa nenek tidak makan nek ?" tanya Aditya heran .
"Mana bisa nenek makan enak nak , sementara di rumah , suami nenek belum makan tiga hari , biarlah nenek makan Dirumah bersama sama suami nenek , dulu semasa suami nenek masih kuat , dia jualan keliling kemana mana , dan selalu pulang membawakan nenek makanan nak , semoga dengan yang sedikit ini , bisa membalaskan jasa nya kepada nenek nak !" sahut wanita tua itu , memungut tongkat kayu nya , lalu dengan tertatih tatih melangkah perlahan .
Hati Aditya terenyuh melihat dua manusia yang sudah memasuki usia tua , namun memiliki cinta yang tidak pernah lapuk oleh renta nya usia .
Di keluarkan nya sisa uang jajan yang di berikan oleh Aurelia dan Siska sebanyak tiga lembar ratusan ribu , lalu di letakan nya di dalam tas pandan milik wanita tua itu .
"Nek , ambil sedikit uang itu , semoga dapat meringan kan beban nenek beberapa hari kedepan ya nek " ...
Tangan wanita tua itu gemetar melihat tiga lembar uang ratusan ribu itu , dengan air mata yang berlinang , uang itu di masukan nya kedalam sapu tangan lusuh di lipat , lalu di ikat nya .
"Nak semoga Allah selalu menuntun langkah mu , membimbing tangan mu , menerangi jalan mu , dan menguatkan hati mu pada semua ujian dan cobaan yang menimpa mu , aamiin !" ucap wanita tua itu , yang di sahut oleh Adit dengan kata "Aamiin !" juga .
Dengan langkah tertatih tatih , wanita tua itu berjalan perlahan , melewati sisi tembok makam , arah kebelakang .
Sementara itu , Aditya kembali berjalan menyusuri trotoar sepi di depan tempat pemakaman umum itu .
Baru saja dia berjalan beberapa puluh langkah , tiba tiba dari arah belakang nya , muncul empat buah sepeda motor yang masing masing di naiki oleh dua orang remaja .
Rupanya mereka Roy dan tujuh orang teman teman nya .
Kedelapan orang remaja murid SMK Bina Bangsa itu itu segera bergerak mengelilingi Aditya yang sendirian itu .
"Ayo teman teman , hajar dia !" teriak Roy memberikan komando nya .
Spontan saja , tujuh orang remaja itu segera bergerak memukuli Aditya tanpa ampun .
Meskipun Aditya dapat menghindar pukulan dua tiga orang , tetapi remaja yang lain nya berhasil mendaratkan pukulan mereka kearah tubuh Aditya .
Satu dua pukulan mendarat sempurna di tubuh Aditya , lalu tujuh pukulan , delapan pukulan , akhirnya berpuluh puluh pukulan mendarat sempurna di sekujur tubuh anak muda itu .
Sangking banyaknya pukulan yang mendarat di tubuh Aditya , anak muda itupun tumbang ketanah pada akhirnya .
Melihat tubuh Aditya tersungkur ketanah tanpa bergerak lagi , Roy pun memberikan tendangan terakhir nya pada tubuh yang sudah tidak bergerak lagi itu , " itu upah pada orang yang berani mengambil kekasih Roy si singa bina bangsa , Cuih !" sambil meludah , Roy berlalu pergi dari tempat itu .
Beberapa wanita tua penjual bunga , tidak berani berbuat apa apa , karena mereka tahu , sia Roy dan geng nya itu .
Setelah para remaja nakal itu pergi , barulah para wanita tua itu berani mendekati Aditya yang pingsan di tanah .
Para wanita tua itu bingung , tidak tahu harus berbuat apa , mereka hanya berteriak meminta pertolongan .
Namun komplek pekuburan umum itu agak sepi dari orang orang .
Meskipun ada mobil yang lewat , tetapi umum nya mereka tidak ingin berhenti .
Seorang Remaja pemulung , usia sekitar delapan belas tahun , yang menggenjot becak yang dia modifikasi menjadi sebuah gerobak , lewat di tempat itu .
Melihat tubuh Aditya yang tergeletak pingsan di atas tanah itu , segera menghentikan becak gerobak nya .
"Ada apa nek ? , ada apa ?" tanya anak muda itu yang mengira ada kejadian tabrak lari .
"Tolong lah nak !, tolong anak ini , dia korban pengeroyokan orang nak , tolong bawa ke rumah sakit !" kata salah seorang wanita tua itu memohon kepada remaja pemulung itu .
Remaja itu tanpa pikir panjang , segera mengangkat tubuh Aditya , dan meletakan nya diatas tumpukan kardus , lalu dengan sekuat tenaga , dikayuh nya becak gerobak nya itu .
Setelah menggenjot becak gerobak itu lebih dari lima kilometer , barulah dia menemukan sebuah rumah sakit umum .
Tetapi malang nya , jangan kan mendapat perawatan , melihat tampang remaja itu sekilas , para petugas di rumah sakit itu menolak dengan halus , dengan alasan rumah sakit itu sudah penuh , meskipun sebenar nya , rumah sakit itu sepi .
Remaja itu kembali menggenjot beca gerobak nya ke tempat lain nya .
Baju remaja itu kini sudah basah oleh peluh , meskipun tubuh Aditya kecil , tetapi menggenjot becak ber kilo kilometer tanpa henti , adalah suatu pekerjaan sangat berat .
Akhirnya, setelah kembali menggenjot becak gerobak nya beberapa kilometer lagi , sampai juga remaja ini di depan sebuah rumah sakit swasta yang kecil .
Karena terlalu cape , di depan pos satpam rumah sakit As Syifa itu , sang remaja itupun tersungkur pingsan kelelahan .
Beberapa orang petugas satpam segera memberikan pertolongan nya , ramai ramai menggotong kedua orang anak muda itu kedalam rumah sakit .
Karena cuma kelelahan , remaja itu tidak terlalu lama , segera siuman dari pingsan nya .
...****************...