"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 32
"Aku capek, Bu. Nyuruh Haikal aja, dia udah gede. Udah bisa dimintai tolong."
"Nau!"
"Apa sih, Bu. Harus banget hari ini? ATM itu jauh, atau nggak nunggu Mas Harsa pulang kerja?" Naura yang perutnya mulai membuncit jadi malas melakukan apapun. Namun, ibu tirinya itu malah menyuruhnya ini itu.
"Lagian kenapa sih Ibu sekarang benci banget sama Hanin? kalau ada Hanin kan enak bisa disuruh-suruh."
"Kamu lupa, Hanin pergi karena siapa?"
Naura jadi masam, "Ibu ikut andil juga kan."
"Iya, tapi Ibu gak mau Hanin tetap sama Harsa karena dia sering menemui kamu di kontrakan. Ibu gak benci Hanin, cuma kesel karena wajahnya mirip ibumu. Kamu yang anak kandungnya kenapa malah beda."
Wajah Naura langsung menegang, "Ibu?"
"Ibumu."
Naura terdiam, tak lagi menyahut. Tangannya menengadah minta kartu pada wanita yang sejak kecil ia panggil ibu itu. Dengan langkah pelan, menuju ATM terdekat. Namun, tak ada yang tau dengan riuh di kepalanya saat ini.
Kalau memang ibu kandungnya masih ada? Kenapa tak berusaha mencarinya?
Naura memegangi perutnya yang terasa nyeri, ini karena kesalahannya yang sepanjang jalan keluar gang menendang udara karena kesal.
"Kamu yang anak kandungnya kenapa malah beda?"
"Karena wajahnya mirip ibumu!"
Naura mendesis sinis, Hanin sekali lagi selalu beruntung.
***
Untuk pertama kalinya, setelah putus dengan Harsa. Hati Hanin dibuat berbunga-bunga. Sebuah kiriman coklat dan buket mawar, untuknya dari Sagara.
Sepanjang jalan pulang, Hanin tersenyum sumringah. Tak sabar bertemu dengan Sagara yang sudah menunggunya di apartemen.
Ya, Hanin urung pindah dari apartemen Sagara, apalagi saat ini mereka sedang menjalin hubungan. Dua hari yang lalu, ia menerima Sagara menjadi kekasihnya.
Hanin turun dari taksi setelah membayarnya. Dengan langkah lebar memasuki lobi gedung apartemen dimana ia tinggal.
Hanin masuk ke dalam lift, memandang dengan senyum bunga di tangan. sesekali menghidu aromanya, senang sekali.
Tak lama, setelah lift berhenti di lantai apartemen Sagara berada, gadis itu melangkah dengan segera. Menekan sandi apartemen dan menemukan Sagara di dalam menunggunya.
"Sagara!"
Hanin mendengus geli, Sagara sedang menggunakan dapur. Laki-laki itu menoleh, menampilkan wajah senyum dengan tangan belepotan. Jangan lupakan celemek bunga-bunga yang menempel, melindungi bajunya.
Lucu.
"Ya ampun, pacarku masak."
Sagara hanya tertawa, melepas celemek nya kemudian cuci tangan. Barulah mendekati Hanin, mengusap pelan rambutnya.
"Ketampananku jadi berkali-kali lipat kan?" tagihnya minta dipuji.
"Iya, jadi tambah tambah tampan kali sepuluh." Hanin tertawa lucu, sekaligus terharu. Kehadiran Sagara berhasil membuat banyak tawa dalam hidupnya.
"Jadi makin sayang kan?" seru Sagara.
"Sagara narsis!"
Setelah menunggu Hanin membersihkan diri, mereka duduk berhadapan di meja makan. Ada beberapa masakan yang Sagara buat. Dan Hanin tak sabar untuk menikmatinya. Sagara harap cemas kala potongan daging yang ia buat steak itu Hanin coba.
"Enak gak?"
"Dari satu sampai sepuluh, kamu mau nilai berapa?"
Sagara mendengus geli, Hanin malah mengajukan pertanyaan yang membuatnya bingung memilih angka berapa.
"Satu."
"Kok satu?" Hanin menaikkan alisnya. Padahal berharapnya Sagara memilih angka sembilan atau sepuluh untuk rate makanannya karena benar-benar enak.
"Karena aku mau jadi satu-satunya di hidup kamu."
Sial, pipi Hanin saat ini tak bisa lagi dikondisikan. Sagara berhasil merayunya, membuat pipinya bersemu merah.