Demi mendapatkan surat izin praktik kedokteran tanpa pengawasan, Ozman harus melakukan magang di sebuah rumah sakit . Tetapi, kedatangan Ozman di rumah sakit Bunda Kasih, tak diharapkan oleh banyak orang, terlebih lagi Ozman dalam kondisi spektrum autisme.
Bagaimana jadinya jika ternyata orang yang mereka remehkan kemampuannya karena keterbatasan, adalah sebenarnya dokter genius?
Semuanya terbukti ketika Ozman mampu menolong dan memberikan pertolongan darurat untuk seorang anak yang mengalami kecelakaan. Dari situ nama Ozman dikenal dan diperhitungkan dalam dunia kedokteran.
Dia bahkan diberikan kesempatan untuk magang di Rumah Sakit Bunda Kasih. Tetapi, banyak hal yang Dokter Ozman lalui ketika dia magang. Dokter Ozman menemukan sebuah penyakit yang langka, penyakit yang tidak banyak diketahui dan diderita oleh banyak orang.
Mampukah Dokter Ozman menangani penyakit tersebut? Dan menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit langka itu?
Yuk simak kisah Ozman di Dokter Oz!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Please! Bacanya jangan di skip! Baca dulu baru like.🙏
________________________
Perawat Adi terus mengontrol alat itu dan berkata, "tingkat kejenuhan oksigen menurun sampai 70%,"ucap Perawat Adi yang panik, menoleh kearah Dokter Ozman.
"Segera periksa tabung intubasi endotrakeal!"perintah Dokter Ozman kepada Dokter Amel.
Intubasi endotrakeal merupakan tindakan medis berupa memasukan tabung endotrakeal melalui mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan kedua paru. Pada penderita yang pernapasannya terganggu biasanya dilakukan tindakan ini untuk mengatasi jalan napas yang tesumbat.
"Tabungnya terlalu tipis sehingga selalu bergerak setiap saya menahannya. Suhu tubuh juga menurun dibawah 36 derajat, semuanya menjadi tidak stabil,"timpal Perawat Adi, sebelum Dokter Amel memeriksa tabung tersebut.
Dokter Ozman terdiam saat mendengar jawaban dari Perawat Adi. Dokter Ozman mencoba berpikir sembari memejamkan matanya.
"Ta-tabung dra-drainase dan as-aspirasi,"ucap Dokter Ozman dan membuka mata. Semua orang menoleh kearahnya tak percaya termasuk Dokter Amel.
"Jika kita mengalirkannya itu bukan solusi yang tepat,"bantah Dokter Amel.
"Setelah jahitan pertama, tempatkan tabung drainase ke sisi saluran empedu dan operasi telah selesai,"ujar Dokter Ozman.
"Apa?"Suster Meli, malah terkejut dengan ucapan Dokter Ozman.
"Segera bawa tabung drainasenya yang tipis!"perintah Dokter Ozman.
"Baik, Dok."Suster Meli segera pergi untuk menyiapkan tabung tersebut.
Drainase abses adalah tindakan mengeluarkan nanah yang terkumpul di dalam kantong (abses) sampai habis atau kering. Tindakan drainase sebaiknya segera dilakukan sebelum abses pecah.
"Jika kita melakukan drainase, mungkin akan ada resiko infeksi,"ucap Dokter Amel, yang melihat kearah Dokter Ozman.
"Tekanan didalam saluran empedu saat ini rendah. Walaupun kita tak bisa menjahit perforasinya kita masih bisa mengalirkan empedu dengan tabung, kita dapat mencegah peritonitis dan kita berharap perforasi dapat tertutup secara alami setelah operasi,"ungkap Dokter Ozman.
Perforasi adalah kondisi terjadinya luka, lubang pada dinding organ saluran pencernaan yang dapat terjadi pada organ seperti, gaster, duodenum dan colon.
Peritonitis adalah radang membran yang melapisi dinding perut dan menutupi organ-organ perut. Peritonitis biasanya menular dan sering mengancam jiwa. Ini disebabkan oleh kebocoran atau lubang di usus, seperti dari usus buntu pecah. Meskipun cairannya steril, peradangan dapat terjadi.
"Benang bedah,"
"ikat!"
"Sekali lagi, ikat!"
Dokter Ozman segera melakukan jahitan pada bagian terbuka.
"Hasil sonogram yang terlihat seperti artefak adalah batu empedu kecil yang merupakan penyebab perforasi pada saluran empedu. Itulah sebabnya ada sejumlah kecil kebocoran empedu di sekitarnya,"ujar Dokter Ozman, menjelaskan kepada tiga orang tersebut.
"Dok, saluran empedu terlalu tipis, apa tak akan menjadi semakin tipis setelah jahitan pertama?"Perawat Adi bertanya kepada Dokter Ozman.
"Jika terputus akan sulit untuk terjadi penutupan secara alami, jadi kita hanya akan membuat sedikit jahitan,"sahut Dokter Ozman.
"Aku membawa tabung drainasenya,"ucap Suster Meli. Dokter Amel langsung mengambil dan memberikannya kepada Dokter Ozman.
"Tutup perutnya dengan cepat!"
"Gunting,"
"Ikat,"
Mereka menyelesaikan operasi dan tepat pada waktunya. Hal itu telah dibuktikan oleh Dokter Ozman, jika bayi prematur dengan kehidupan 10% telah diselamatkan. Itu terbukti jika kematian ada di tangan Tuhan, asal para dokter mau mencoba dan berusaha.
Orang tua bayi yang melihat lampu di atas pintu operasi berubah warna hijau barulah mereka terlihat lega.
Operasi telah selesai, Dokter Amel segera memeluk Dokter Ozman, yang membuat Perawat Adi dan Suster Meli terkejut.
"Maaf, Dok. Saya hanya terlalu senang. Kita telah berhasil, selamat untuk kita semua telah bisa melakukan yang terbaik, meskipun tanpa bantuan Dokter Rendy,"tukas Dokter Amel yang terlalu senang.
Dokter Ozman meminta Perawat Adi dan Suster Meli untuk memindahkan pasien tersebut pada ruangan bayi khusus baby prematur.
Dokter Ozman dan Dokter Amel keluar dari ruangan operasi, di luar sudah ada orang tua dari bayi tersebut.
"Terima kasih banyak, Dok."Ucap Mereka berdua tetapi Dokter Ozman hanya tersenyum dan berdiri seperti biasanya, kepala menunduk dan bahu sedikit membungkuk.
"Kita yang berterima kasih pada bayi, sudah mau bertahan. Padahal, saya sendiri sangat takut dan cemas jika operasi ini akan gagal, tetapi ternyata bayi itu mampu bertahan hingga operasi selesai,"imbuh Dokter Amel, terlihat raut wajah kebahagiaan dari kedua orang tua bayi itu.
Jam di dinding resepsionis menunjukkan pukul 19.30, malam. Dokter Ozman telah mengambil barang-barangnya dan akan segera pulang ke apartemen tanpa menunggu Dokter Amel. Wanita ini mengetahui akan hal itu dan segera mengejar Dokter Ozman hingga ke koridor rumah sakit.
"Kenapa dokter meninggalkan, Saya?" Dokter Amel bertanya dengan raut wajah yang kesal, Dokter Ozman tak menjawab, pria ini terus berjalan hingga mereka kita telah sampai di depan lobi rumah sakit.
Hari ini Dokter Amel tak membawa mobil, mereka berdua pulang dengan berjalan kaki menuju apartemen tempat tinggal mereka.
"Hari ini ibu masak banyak, ayo makan sama!"ajak Dokter Amel, ketikan mereka telah tiba di depan kamar apartemen Dokter Amel.
Namun, Dokter Ozman malah berhenti dan tidak menghiraukan ajakan Dokter Amel.
"Ada apa? Dokter takut pada ibuku?"
Dokter Ozman mengangguk pelan, yang membuat Dokter Amel tertawa kecil. Wanita ini segera membuka pintu dan benar saja, ibu Dokter Amel telah menunggunya di depan meja makan. Tetapi, begitu melihat Dokter Amel pulang bersama dengan Dokter Ozman membuat wanita tua ini memasang wajah masamnya.
"Kenapa kau membawa pria idiot itu masuk ke sini, membuat selera makan ibu hilang saja." Ketus Wanita tua itu, membuang wajahnya kearah lain.
"Ma, tidak boleh menghina orang seperti itu. Aku sengaja mengajaknya untuk makan malam di sini, untuk merayakan operasi kita yang berhasil, benarkan Dok?" Dokter Amel menoleh kearah Dokter Ozman yang hanya diam saja dengan kepala yang menunduk sembari meremas ujung jas dokternya.
Mau tak mau Ibu Dokter Amel membiarkan Dokter Ozman ikut makan bersama dengan mereka. Dokter Amel membantu Dokter Ozman membersihkan tangannya, sebelum mereka akan makan malam bersama.
"Kamu tinggal di mana? Siapa orang tuamu? Apa pekerjaan orang tuamu?"berbagai macam pertanyaan Ibu Dokter Amel tanyakan apa Dokter Ozman yang membuat pria ini berhenti untuk makan.
"Ibu, Ayah telah tiada pada saat kecelakaan. saya tinggal bersama dengan seorang pengacara, sehingga saya berhasil sekolah di kedokteran,"ujar Dokter Ozman. Dokter Amel baru tahu jika pria yang duduk di sebelahnya adalah yatim piatu.
"Yatim piatu, toh?"Ibu Dokter Amel melihat Dokter Ozman dengan ujung matanya. Memikirkan jika masa depannya anaknya tak akan cerah jika menikah dengan pria yang duduk bersama dengan mereka.
'Yatim piatu? Idiot? Apa yang bisa dia berikan untuk anakku, jika mereka menikah?' Ibu Dokter Amel menatap tak suka kearah Dokter Ozman, sehingga selera makannya pun hilang. Wanita tua itu meninggalkan meja makan membuat Dokter Amel menghela napasnya.
"Ayo makan banyak! Jangan pedulikan mamaku,"ucap Dokter Amel meletakkan udang goreng di atas piring Dokter Ozman. Pria itu hanya tersenyum sekilas lalu melirik kearah wanita tua yang duduk sembari menonton televisi dalam keadaan kesal.
malah tamatnya nggak jelas 🤧
RS ribut bener 🤭
tapi ini mereka dokter lho,moral e neng endi kalian lulus cara apa ,astoge
dr, Rendi tak sumpah i dirimu mencret2 sampe nggak sempat ke toilet,bleber2neng dalan 🤣🤣🤣