NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun

Bab 29: Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun

Seluruh makam berguncang hebat.

Retakan yang membelah lantai terus melebar, memuntahkan kabut hitam pekat yang terasa lebih berat daripada tekanan spiritual seorang kultivator Alam Inti Emas. Batu-batu raksasa berjatuhan dari langit-langit, menghancurkan pilar-pilar kuno yang selama ribuan tahun menopang ruang warisan.

Dua mata merah yang menyala dari dalam jurang perlahan bergerak.

Tatapannya menyapu seluruh aula.

Bahkan Luo Tian, Tetua Ketiga Sekte Surya Putih, tanpa sadar menggenggam tombaknya lebih erat.

"...Mustahil."

Suara itu keluar lirih.

"Itu bukan ilusi."

Xu Ran yang tubuh rohnya semakin memudar menundukkan kepala.

"Aku sudah memperingatkan kalian."

"Itu bukan monster yang disegel."

"Itu adalah penjaga segel."

Kalimat itu membuat seluruh orang yang hadir membeku.

Cakar naga perlahan mencengkeram tepian retakan.

Batu purba yang begitu kokoh hancur seperti tanah liat.

Namun...

Makhluk itu tidak langsung keluar.

Seolah ada rantai tak kasatmata yang masih menahan sebagian tubuhnya.

Ethan mengamati setiap detail.

Sisik hitam.

Retakan cahaya keemasan di sela-selanya.

Mata merah tanpa sedikit pun niat membunuh yang liar.

"Masih memiliki kesadaran."

Jika benar-benar monster yang kehilangan akal, aura kebenciannya pasti memenuhi seluruh ruangan.

Sebaliknya...

Makhluk ini justru terlihat seperti sedang mengamati.

Menilai.

Suara tua kembali bergema dari dalam Cincin Bayangan.

"Itu bukan musuhmu."

Ethan memejamkan mata sejenak.

"Lalu kenapa ia dibangunkan?"

"Karena seseorang merusak keseimbangan segel."

Tatapan Ethan beralih kepada Luo Tian.

Lalu kepada empat kristal formasi yang tadi dipasang Sekte Surya Putih.

Barulah semuanya tersambung.

Formasi mereka bukan sekadar perangkap.

Energi formasi telah mengganggu jalur spiritual makam.

Xu Ran juga menyadarinya.

"Wahai Tetua Luo..."

"Kau baru saja mempercepat keruntuhan Segel Kedua."

Ekspresi Luo Tian berubah muram.

"Itu tidak mungkin."

"Kami telah menghitung setiap jalur energi."

Ethan menjawab singkat.

"Kalian menghitung berdasarkan peta."

"Bukan berdasarkan perubahan yang terjadi setelah warisan memilih pewaris."

Keheningan memenuhi aula.

Tak seorang pun membantah.

Naga itu akhirnya berbicara.

Suaranya seperti ribuan guntur yang bergema di dasar lautan.

"...Manusia..."

Satu kata saja membuat darah hampir semua orang bergetar.

Maya memegangi dadanya.

Ia merasa seolah jantungnya hendak berhenti berdetak.

Namun Ethan tetap berdiri tegak.

Tatapannya tidak berubah.

Naga itu memandang ke arah Ethan.

"...bau..."

"...Kaisar Bayangan."

Suasana mendadak sunyi.

Luo Tian menoleh cepat.

Xu Ran menutup mata.

Sementara Ethan menjawab dengan nada tenang.

"Aku bukan Kaisar itu lagi."

Mata naga sedikit menyipit.

"...Benar."

"Jiwanya sama."

"Takdirnya berbeda."

Tiba-tiba...

Salah satu anggota Sekte Surya Putih kehilangan kesabaran.

"Jangan dengarkan makhluk iblis!"

Ia menghentakkan pedangnya.

Puluhan bilah cahaya meluncur menuju kepala naga.

"Lancang!"

Luo Tian berteriak.

Namun sudah terlambat.

Serangan itu bahkan belum sempat mengenai sasaran.

Naga hanya mengembuskan napas.

Hembusan sederhana.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada teknik.

Hanya...

Angin.

Tubuh kultivator itu langsung terpental puluhan meter.

Pedangnya hancur berkeping-keping.

Ia menghantam dinding batu hingga batuk darah sebelum pingsan.

Seluruh aula kembali sunyi.

Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.

"Naga Senior."

Xu Ran membungkuk hormat.

"Segel belum sepenuhnya rusak."

"Tolong kembali."

Tatapan naga beralih kepadanya.

"...Xu Ran."

"Kau masih menjaga."

Nada suaranya mengandung penghormatan.

Tidak seperti hubungan antara monster dan penjaga.

Melainkan...

Rekan lama.

Xu Ran tersenyum tipis.

"Selama tugasku belum selesai."

"Aku tidak boleh pergi."

Naga mengangguk pelan.

Namun kemudian matanya kembali mengarah pada Ethan.

"Kau..."

"...harus memilih."

"Membuka."

"Atau menutup."

Maya mengerutkan dahi.

"Maksudnya apa?"

Tidak ada jawaban.

Tiba-tiba tanah kembali berguncang.

Namun kali ini...

Getarannya berasal dari luar makam.

Ethan segera memperluas indra spiritualnya.

Wajahnya sedikit berubah.

"Ada orang lain."

Luo Tian ikut memejamkan mata.

Sesaat kemudian ekspresinya mengeras.

"Bukan orangku."

Ledakan keras terdengar dari lorong menuju aula utama.

BOOM!

Pintu batu kuno yang sebelumnya tertutup rapat kini hancur berkeping-keping.

Puluhan sosok berjubah hitam berlari masuk.

Mereka mengenakan topeng tanpa wajah.

Di dada mereka terdapat simbol lingkaran hitam dengan retakan merah.

Xu Ran langsung memucat.

"...Gerbang Hitam."

Luo Tian mengutuk pelan.

"Mereka juga menemukan tempat ini."

Pemimpin kelompok berjubah hitam melangkah santai.

Tubuhnya tinggi.

Seluruh wajahnya tertutup topeng putih polos.

Tidak ada satu bagian kulit pun yang terlihat.

Ia menatap naga.

Kemudian tertawa kecil.

"Bagus."

"Sangat bagus."

"Kami datang tepat waktu."

Luo Tian mengangkat tombaknya.

"Organisasi Gerbang Hitam."

"Kalian ingin memulai perang?"

Pria bertopeng itu mengangkat bahu.

"Perang?"

"Kami hanya ingin mengambil sesuatu yang memang sejak awal milik kami."

Xu Ran membentak.

"Kalian bahkan tidak ada ketika segel dibuat!"

Pria itu tertawa lebih keras.

"Itu benar."

"Tapi..."

"Orang yang membuat segel..."

"...adalah leluhur kami."

Kalimat itu mengejutkan semua orang.

Bahkan naga kuno perlahan mengangkat kepalanya lebih tinggi.

Ethan mengamati pria bertopeng tanpa berkedip.

Aura orang itu disembunyikan dengan sangat sempurna.

Namun...

Ada sesuatu yang aneh.

Irama napasnya.

Cara ia berdiri.

Semuanya terlalu teratur.

Seolah ia sudah menghitung setiap kemungkinan sebelum memasuki aula.

"Dia berbahaya."

Jauh lebih berbahaya daripada Luo Tian.

Pria bertopeng mengeluarkan sebuah cakram logam hitam dari balik jubahnya.

Permukaan cakram dipenuhi tulisan kuno.

Begitu benda itu muncul...

Cincin Bayangan di jari Ethan langsung bergetar hebat.

Suara tua di dalam cincin terdengar untuk pertama kalinya dengan nada tergesa.

"Hancurkan benda itu!"

"Apa pun yang terjadi!"

Ethan tidak bergerak.

Ia justru bertanya dalam hati.

"Apa itu?"

Suara itu menjawab singkat.

"Kunci Segel Ketiga."

Jantung Ethan berdetak sedikit lebih cepat.

Jika itu benar...

Maka tujuan mereka sejak awal bukan warisan.

Melainkan...

Membuka seluruh segel.

Pria bertopeng mengangkat cakram itu tinggi-tinggi.

"Kalian semua sibuk memperebutkan pewaris."

"Padahal..."

"Yang kami butuhkan hanyalah waktunya."

Tiba-tiba seluruh simbol di atas cakram menyala merah.

Energi hitam melesat ke segala arah.

Lantai makam mulai berubah menjadi lautan pola kuno.

Xu Ran menjerit.

"Dia mengaktifkan Formasi Pembalikan Segel!"

Naga kuno menggeram.

Untuk pertama kalinya...

Aura membunuh memenuhi seluruh ruangan.

Luo Tian menggertakkan gigi.

"Sekte Surya Putih!"

"Gagalkan formasi itu!"

Namun sebelum siapa pun sempat bergerak...

Pria bertopeng tersenyum.

"Kalian terlambat."

Ia menjentikkan jarinya.

Seluruh anggota Gerbang Hitam menusukkan belati ke telapak tangan mereka sendiri.

Darah mereka mengalir ke pola formasi.

Seketika cahaya merah menyelimuti seluruh aula.

Di luar makam...

Langit di atas Laut Kabut mendadak berubah hitam.

Awan berputar membentuk pusaran raksasa.

Petir merah menyambar tanpa henti.

Dan jauh di dasar lautan...

Sesuatu yang jauh lebih besar daripada naga penjaga perlahan bergerak.

Suara retakan yang dalam menggema dari kedalaman bumi.

Disusul bisikan kuno yang terdengar di telinga setiap kultivator yang berada di kota tersembunyi itu.

"Segel Ketiga... telah menerima pemanggilan."

"Sang Pemakan Langit... akan segera terbangun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!