Kehidupan yang pahit di saat remaja, sungguh membuat Keyra sering menangis. Hidup dengan ibu yang sendirian. Karena menolong seorang teman yang dirundung, Keyra menjadi target selanjutnya.
Pertemuan yang tidak sengaja dengan seorang berandalan geng motor, membuat Keyra semakin kewalahan. Ia tidak tahu, dia dengan lelaki itu menjadi semakin dekat. Ternyata, Aprilio sama sakitnya seperti Keyra.
Keyra mau membantu masalah Aprilio, dengan syarat lelaki itu harus sedia melindungi Keyra, selalu.
Bagaimana kisah keduanya melewati kehidupan remaja mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Luka parah
Keyra terpaku, menatap lamat layar ponselnya yang menampakkan brosur sebuah universitas. Terlintas keinginan untuk pergi ke sana. Namun, sepertinya mustahil. Keyra mematikan ponselnya dan meletakkan di meja. Lalu, dia beranjak dari atas kasur dan melenggang keluar kamar.
Gadis itu membulatkan mata melihat sosok lelaki berjalan tertatih memasuki rumah. Itu Aprilio, dia berdiri dengan berpegangan pada tembok. Keyra segera menghampiri dan mengangkat wajah Aprilio.
Banyak lebam dan darah di wajah Aprilio. Terdapat goresan yang cukup lebar di lengan tangannya. "Lo ngapain, sih?" tegur Keyra, seraya membantu lelaki itu untuk berjalan.
Keyra membantu Aprilio duduk di lantai, lelaki itu mendesis berulang kali. Keyra beranjak dari sana untuk mengambil kompresan.
Keyra kembali dengan baskom berisi air dan handuk kecil di tangannya. Dia menyuruh Aprilio untuk membuka baju, tetapi Aprilio kesusahan. Mau tidak mau, Keyra mambantunya.
Bahkan punggung lelaki itu terdapat memar merah banyak sekali. "Lo gila!" pekik Keyra.
Mendengar bentakan Keyra, Aprilio tersentak kaget.
"Akh! Pelan-pelan!" seru Aprilio, ketika merasakan Keyra terlalu menekan lukanya saat gadis itu menyeka wajahnya. "Sakit, Key."
Keyra hanya melirik sinis, kemudian mengelap bercak merah di luka Aprilio. "Kalau tau bakal sakit gak usah berantem," ujar Keyra.
"Gue gak berantem. Gue dikeroyok."
"Sama aja."
Keyra beranjak dari sana setelah membersihkan luka-luka Aprilio. Seraya menunggu Keyra kembali, Aprilio melihat luka di tubuhnya yang cukup parah.
Dikeroyok lima orang tentu saja membuat luka Aprilio cukup fatal. Meski begitu, saat Aprilio hampir kalah, dia bisa menumbangkan mereka seorang diri.
Keyra kembali dengan membawa piring berisi bungkusan. Lalu, dia letakkan di atas meja depan Aprilio. "Makan!" ujar Keyra.
"Apa?" tanya Aprilio, sembari membuka bungkusan tersebut. "Nasi campur?"
Keyra mengangguk singkat. "Gue beliin salep buat luka lo bentar," ucap Keyra.
"Key!" panggil Aprilio, menghentikan langkah kaki Keyra. "Gak usah."
Akan tetapi, Keyra seolah tidak peduli. Dia melenggang pergi keluar, meninggalkan Aprilio yang menatap kepergiannya.
Aprilio bergeming, melihat gadis itu kemudian menghilang dari pandangan. Tatapan Keyra tadi kelihatan sinis, sepetinya marah. "Dia kenapa? Jutek amat," gumam Aprilio.
Saat keluar rumah, Keyra melihat motornya yang terparkir di depan rumah, rusak parah. Banyak goresan di sana, bahkan sepionnya remuk. Footstepnya tidak ada dan tempat duduknya sobek. Keyra mengerutkan kening mengamati setiap sudut motor Aprilio. "Parah banget," gumam Keyra. "Pasti orang banyak."
Pikir Keyra, Aprilio tidak mudah dikalahkan seperti itu hanya dengan beberapa orang.
Syukurlah ada apotek di jalan raya depan sana, membuat Keyra tidak perlu berjalan jauh. Berjalan di bawah langit sore, udara yang masih hangat berpadu dengan angin sepoi nan sejuk.
Matahari hampir saja tenggelem, ia hampir pulang sepenuhnya membuat langit berwarna jingga. Di sebelah timur, biru berpadu dengan hitam, sudah hampir gelap.
Tidak hanya membeli salep untuk luka, Keyra juga membawa obat pereda nyeri. Keyra tahu betul apa yang Aprilio rasakan saat ini.
Sembari menunggu Keyra yang pergi membeli obat, Aprilio menikmati makanannya. Meski kesusahan saat memegang sendok karena ibu jarinya keseleo, Aprilio tetap berusaha menyuapi sesendok nasi ke dalam mulutnya. Rasanya sangat nikmat karena lapar.
Aprilio mendadak merasa kesal saat mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Dia meletakkan sendok di atas piring dengan keras. "Berani banget nyeroyok gue, gak akan gue biarin. Sialan!"
Makan sambil menggerutu, Aprilio hampir menghabiskan nasinya. Namun, saat hendak menyuapi mulutnya, terdengar ketukan pintu membuat Aprilio urung.
Alisnya saling bertaut menatap pintu itu. Tidak mungkin Keyra karena pasti tidak akan mengetuk.
Aprilio berdiri dari duduknya dengan bersusah payah. Dia berjalan pelan menuju pintu dan kemudian membukanya. Aprilio mengangkat wajahnya, mendapati sosok perempuan membuka mulut lebar melihat kondisinya.
"Lio! Kamu kenapa?" pekiknya. Dia meraba-raba tubuh Aprilio yang terluka, padahal membuat Aprilio semakin kesakitan karena lukanya tersentuh. "Kamu abis tawuran?"
"Iya. Lihat motor gue, tuh!" jawab Aprilio. Helaan napas panjang terdengar, kemudian ia berjalan masuk ke rumah.
Perempuan itu mengikuti Aprilio, membantu Aprilio berjalan. Lalu, dia juga menolong Aprilio untuk duduk.
"Ada apa lo ke sini?" tanya Aprilio, sambil menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi yang masih tersisa.
"Main aja, sih," jawabnya, sambil tersenyum. Dia tidak lain adalah Popi,. perempuan yang menyukai Aprilio padahal sudah mempunyai tunangan.
Aprilio bersikap cuek, dia tidak memperdulikan Popi.
Wanita itu celingukan, melihat sudut rumah Aprilio. "Kamu masih betah di sini? Pengap banget loh, Lio," ujarnya, sambil mengipasi dirinya dengan tangan. "Bisa banget loh kalau mau pindah ke apartemenku."
"Gue gak sanggup bayarnya," jawab Aprilio.
"Astaga. Ya gak usah bayar, biar aku."
Aprilio membuang muka. "Gue bukan cowok matre."
"Aku gak ada bilang kamu gitu."
"Gue juga punya harga diri sebagai cowok." Aprilio menggeser badannya, menjauhkan diri dari Popi yang terus menempel padanya. "Gue ingetin sekali lagi. Lo udah punya tunangan, Popi," ucap Aprilio.
"Tahu," jawab Popi dengan ketus. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, mengerucutkan bibirnya. Wajahnya seperti sedang kesal sekarang.
Secara tidak sengaja, Popi melihat jemuran di dalam rumah. Dia mengerutkan kening. "Itu seragam siapa, Lio?" tanyanya, tidak mengalihkan pandangan dari sana.
Aprilio melihat. "Seragam Keyra."
Popi membulatkan mata. "Kalian tinggal bareng?" Aprilio mengangguk, membaut Popi semakin melebarkan mata. "Lio!"
"Kenapa? Dia pacar gue."
Popi berdecak tidak menyangka. "Whay? Kenapa harus dia?"
"Karena gue maunya Keyra," jawab Aprilio.
Popo semakin kesal. Dia memutar tubuh, membelakangi Aprilio.
"Lo pulang sana! Atau gue telpon Oyu biar dia jemput lo?"
"Gak mau! Aku cuma mau ketemu kamu."
"Oke. Tapi, jangan aneh-aneh! Keyra lagi keluar beli salep."
Popi menganggukkan kepala. Aprilio berdiri dari duduknya. "Gue mau ganti baju," ucap Aprilio, kemudian melenggang pergi.
.....
Kaki yang beralaskan sandal membawa Keyra menuju rumah, tempatnya pulang. Kantong plastik berada di genggamannya. Melewati motor Aprilio, membuatnya menatap cukup lama. "Perbaikannya pasti mahal," gumam Keyra.
Terkejut bukan main. Begitu Keyra membuka pintu, dia melihat seorang wanita berada di sana. Menyadari kedatangan Keyra, Popi juga melemparkan tatapan sinis.
Bersamaan dengan itu, Aprilio keluar dari kamar dan melihat Keyra. "Udah?" tanyanya, begitu sampai di hadapan Keyra.
Keyra mengangguk dengan canggung. Lalu, dia menyodorkan kantong plastik itu kepada Aprilio. "Gue buatin minum, ya?" tawar Keyra.
Aprilio berpikir sejenak melihat Keyra begitu baik. "Lo mau minum apa?" tanya Aprilio kepada Popi.
"Es sirup aja. Ada, kan?"
"Ada, kok. Aku buatin, ya." Keyra melenggang dari sana, ke dapur.
Aprilio mendudukkan tubuhnya di samping Popi. Lagi-lagi, Popi mendekatkan tubuhnya dengan Aprilio, membuat lelaki itu mendengus kesal.
"Sini, Lio! Aku bantu obatin," ujar Popi.
"Gak usah," jawan Aprilio, dengan cuek.
"Sini!" Popi mengambil salep tersebut. Lalu, dia mengoleskannya ke luka di lengan dan beberapa lebam di wajah Aprilio.
Tidak lama, Keyra datang dengan es sirup dan air putih. "Itu ada obat anti nyeri. Lo minum, aja!" ujar Keyra.
"Gak sakit, kok," ucap Aprilio.
"Minum aja apa susahnya, sih! Biar nanti gak sakit," ketus Keyra.
"Iya-iya," jawab Aprilio, merasa takut dengan bentakan Keyra.
"Gue mau belajar di kamar." Lalu, gadis itu melenggang pergi, meninggalkan Aprilio dan Popi.
...Males nulis, sepi sihh:(...