Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Dikejar dalam Kegelapan
Laila membeku di tempat. Ucapan Surya terus terngiang di kepalanya.
"Kematian Arman bukan kecelakaan biasa."
Kalimat itu membuat seluruh tubuhnya gemetar. Selama ini ia berusaha menerima kenyataan bahwa suaminya meninggal karena takdir. Namun, jika benar ada seseorang yang sengaja menghilangkan nyawa Arman, berarti semua yang terjadi selama ini bukanlah sebuah kebetulan.
"Pak... siapa yang tega melakukan itu?" suara Laila bergetar.
Surya menggeleng pelan.
"Itulah yang sedang kucari."
"Tapi Arman tidak pernah punya musuh."
"Belum tentu. Bisa jadi ada sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepadamu."
Laila terdiam. Ia mencoba mengingat kembali hari-hari terakhir bersama suaminya.
Beberapa minggu sebelum meninggal, Arman memang sering pulang larut malam. Wajahnya tampak lelah dan pikirannya seperti dipenuhi beban. Ketika Laila bertanya, Arman hanya tersenyum sambil berkata bahwa semuanya akan segera selesai.
Saat itu Laila tidak menaruh curiga sedikit pun.
Kini penyesalan mulai memenuhi hatinya.
"Seandainya waktu itu aku lebih banyak bertanya...."
Surya menatapnya dengan iba.
"Jangan menyalahkan diri sendiri."
Di sisi lain jalan, pria bertopi yang sejak tadi mengawasi mereka kembali menghubungi seseorang.
"Mereka masih di warung."
Suara dingin dari seberang telepon terdengar tegas.
"Jangan bertindak di tempat ramai. Ikuti mereka. Tunggu kesempatan."
"Baik, Bos."
Pria itu mematikan sambungan, lalu menyalakan mesin mobilnya perlahan.
Selesai makan, Surya berdiri.
"Aku akan mengantarmu ke tempat yang aman."
Laila langsung menggeleng.
"Saya tidak ingin merepotkan Bapak."
"Ini bukan soal merepotkan."
Surya menatap Raka yang kembali tertidur.
"Kalau dugaanku benar, kalian sedang dalam bahaya."
Ucapan itu membuat Laila tak mampu membantah lagi.
Ia akhirnya masuk ke dalam mobil Surya.
Mobil hitam itu melaju meninggalkan warung.
Beberapa ratus meter di belakang mereka, mobil lain mulai mengikuti tanpa menyalakan lampu utama.
Surya sesekali melihat kaca spion.
Keningnya berkerut.
"Aneh...."
"Ada apa, Pak?"
"Sepertinya kita diikuti."
Laila langsung menoleh ke belakang.
Sebuah mobil berwarna gelap terlihat menjaga jarak.
Mungkin hanya kebetulan.
Namun mobil itu tetap berada di belakang mereka bahkan ketika Surya beberapa kali berbelok.
Surya mempercepat laju kendaraan.
Mobil di belakang ikut mempercepat.
"Pegang Raka baik-baik."
Jantung Laila berdetak semakin cepat.
"Pak... saya takut."
"Tidak apa-apa. Tetap tenang."
Mobil Surya memasuki jalan yang lebih sepi.
Tiba-tiba...
Bruaak!
Mobil dari belakang menabrak bagian belakang mobil Surya dengan keras.
Laila menjerit.
Raka langsung menangis ketakutan.
Surya berusaha mengendalikan kemudi agar mobil tidak keluar jalur.
"Kurang ajar!"
Tabrakan kedua kembali terjadi.
Kali ini lebih keras.
Mobil mereka hampir menabrak pembatas jalan.
"Pak!"
Surya segera membanting setir memasuki jalan kecil yang hanya cukup dilewati satu mobil.
Mobil pengejar terlambat berbelok sehingga hampir menghantam pohon besar.
Kesempatan itu dimanfaatkan Surya untuk mempercepat kendaraan.
Beberapa menit kemudian, mobil pengejar akhirnya menghilang dari kaca spion.
Laila masih memeluk Raka erat sambil menangis.
Tubuhnya belum berhenti gemetar.
Surya menghentikan mobil di pinggir jalan yang gelap.
Ia turun memeriksa bagian belakang mobil yang penyok cukup parah.
"Ini bukan kecelakaan."
Laila ikut turun.
"Apa mereka memang mengejar kita?"
Surya mengangguk pelan.
"Iya."
"Berarti..."
"Mereka sudah tahu keberadaanmu."
Wajah Laila mendadak pucat.
Ia menatap Raka yang mulai tenang dalam gendongannya.
"Kenapa mereka mengincar anak sekecil ini?"
Surya mengepalkan tangannya.
"Itulah yang harus kita cari tahu."
Namun tanpa mereka sadari, di balik pepohonan yang gelap, seseorang sedang memotret mereka menggunakan kamera beresolusi tinggi.
Pria itu tersenyum puas sebelum mengirim foto tersebut kepada atasannya.
Pesan balasan pun masuk beberapa detik kemudian.
"Pastikan bayi itu tidak sampai melihat ulang tahunnya yang pertama."
Pria itu tersenyum tipis.
"Perintah diterima."
Sementara Laila sama sekali belum menyadari bahwa ancaman terhadap putranya kini semakin nyata.
Bersambung...