Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. ( Dibawa Kabur Pria Asing )
Tak terasa seminggu sudah Andrea bekerja di GS Company. Dia begitu giat, ikut kemanapun pemilik perusahaan pergi. Saking patuhnya, Andrea sampai rela mewajarkan prilaku nyeleneh Lucien yang acap kali memamerkan harta kekayaannya yang memang luar biasa banyak. Dan sekali lagi, Andrea memiliki pemikiran kalau orang kota punya kebiasaan suka pamer.
"Ini hari minggu, An. Tidak libur?" tanya Nenek Erwita. Ditatapnya lekat sang cucu yang tengah sibuk bersiap.
"Nek, aku ini masih pekerja magang. Kata bosku, aku harus lebih giat dari karyawan lain jika ingin diangkat menjadi karyawan tetap. Makanya hari libur pun aku harus tetap masuk kerja," jawab Andrea penuh semangat.
"Aneh sekali ya. Biasanya para bos itu menggunakan waktu libur untuk istirahat di rumah, kok bosmu tidak begitu?"
"Namanya juga orang kaya, Nek. Bagi mereka waktu adalah uang. Dan bagi orang miskin seperti kita uang adalah masa depan. Jadi ya sudahlah, tak perlu risau memikirkan kesibukan mereka selagi gajiku tetap jalan. Hehehe,"
Selesai bersiap, Andrea mengajak sang nenek sarapan bersama. Hidangan sederhana, semangkuk bubur jagung dan segelas susu hangat. Sambil menikmati sarapan, mereka berbincang hangat. Walau terpisah lama itu tak menjadi alasan untuk Andrea bersikap canggung. Baginya masa lalu biarlah berlalu, apalagi perpisahan mereka terjadi karena adanya penyebab yang jelas. Jadi tak ada alasan untuk Andrea menjaga jarak dari sang nenek.
"Aku sudah selesai. Waktunya berangkat," pamit Andrea lalu berjalan menuju rak sepatu.
"Hati-hati di sana. Ingat, apapun yang dikatakan bosmu jangan pernah kau melawan jika tak mau kehilangan pekerjaan," ucap Nenek Erwita memberi petuah. Cucunya lumayan nakal dan keras kepala. Harus selalu diingatkan supaya tak membuat kekacauan.
"Iya-iya, Nek. Aku tahu,"
Bersenandung kecil, Andrea melangkah keluar dari rumah. Dia lalu tertawa saat teringat insiden beberapa hari lalu saat dirinya bertemu dua preman.
"Entah bagaimana kabar mereka sekarang. Aku penasaran sekali ingin bertanya apa yang terjadi pada mereka setelah ku tinggalkan di hutan. Hihihi,"
"Apa yang sedang kau tertawakan?"
Andrea terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba bicara. Namun, rasa kaget tersebut seketika berganti jadi bengis begitu melihat siapa yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa? Terpesona melihat ketampananku sampai tak bisa bicara?"
Narsistik. Perut Andrea rasanya mual sekali mendengar ucapan Lucien barusan. Dia akui bosnya memang tampan, tapi belum sampai di tahap bisa membuatnya terpesona. Akan tetapi anehnya orang ini selalu saja beranggapan kalau dirinya tersihir oleh ketampanan itu. Padahal tidak sama sekali.
"Sedang apa di sini?" tanya Andrea mengesampingkan rasa kesal. Dia lalu berjalan mendekat. "Bukannya kau itu anti dengan yang kotor-kotor ya? Kenapa kemari?"
"Hanya kebetulan lewat saja." Lucien berdehem. Memang kebetulan lewat setelah semalam dia meminta Veroz mencari tahu tempat tinggal Andrea.
"Jawabanmu mencurigakan."
"Terserah apa katamu. Aku memang cuma sekadar lewat saja kok, siapa yang menduga malah akan bertemu orang gila di sini."
"Masih mengelak juga?"
"Lalu aku harus bagaimana? Mengakui kalau kedatanganku disengaja?"
Sungguh pandai bersilat lidah. Lucien mendadak jadi ahli dalam memunafikkan diri.
"Hari ini pekerjaan apa yang harus ku lakukan?" tanya Andrea. Dengan santai dia ikut menyender di kap mobil. "Nenekku bilang kau bos yang aneh. Seharusnya hari minggu menjadi hari libur untuk para karyawan, tapi kau malah memintaku untuk tetap masuk kerja. Ini namanya kerja rodi. Harus ada bonus besar yang diberikan padaku."
"Mau berapa?"
"Bonusnya?"
"Mau berapa lama kau bekerja di perusahaanku? Baru juga diminta lembur satu hari kau sudah mengomel dan menuntut bonus lebih. Kau pikir aku sebaik hati itu?" ejek Lucien. Enak saja ingin menikmati uangnya. Walaupun uangnya banyak, dia harus tetap perhitungan.
"Eh hehehe, aku cuma becanda kok. Jangan marah, ya?"
(Dia sedang membujukku ya? Manis sekali)
"Ekhmmm, kalau hari ini pekerjaanmu memuaskan akan ku pikirkan lagi untuk memberimu bonus," ucap Lucien secepat kilat menjilat ludah sendiri. Kenapa memangnya? Diakan kaya raya. Mustahil jatuh miskin jika memberi sedikit bonus pada gadis yang begitu menyukainya.
"Jangan ingkar ya?"
"Mana mungkin orang sehebat diriku ingkar janji. Ayo masuk mobil, kau perlu bekerja keras untuk mengambil hatiku."
Meski terdengar ambigu, Andrea memilih untuk abai. Terkadang ucapan Lucien memang tak masuk akal, tapi ya sudahlah. Demi bonus dia rela bersikap masa bodoh dengan tingkahnya yang aneh.
Jalanan cukup sepi saat mobil bergerak membelah jalan raya. Lucien yang sedang menyetir, tak sengaja terpana melihat Andrea yang sedang tersenyum sambil menatap keluar. Di detik itu perasaannya seolah melambung tinggi, berbunga-bunga tanpa sebab yang pasti.
"Cantik."
"Kenapa?"
Andrea menoleh. "Kau bilang apa?"
"Cantik."
"Oh," Kembali Andrea menatap keluar. "Pemandangan hari ini memang sangat cantik, langitnya juga begitu cerah."
"Kau cantik."
Lagi, seperti orang yang hilang kesadaran Lucien menampakkan sisi bodohnya. Beruntung mobil sedang melaju pelan, jadi tak khawatir menabrak kendaraan lain. Saat ini dia sedang tersihir oleh rasa kagum yang hanya dia sendiri yang merasakan.
"Lucien, aku tebak kau sedang merencanakan niat buruk untuk mengerjaiku, makanya kau memujiku cantik. Iyakan?" cecar Andrea curiga. Dipuji cantik sama sekali tak membuatnya salah tingkah atau merasa tersanjung, yang ada malah sebaliknya. Bosnya punya lidah yang tajam dan sikap yang bengis. Jika sampai mengeluarkan pujian, sudah pasti ada niat terselubung dibaliknya. Ibarat kata pepatah, ada udang dibalik wajan.
Tergagap, Lucien baru tersadar telah melakukan tindakan bodoh. Dia berdehem beberapa kali, mencoba memasang ekspresi bengis sebelum akhirnya mengomel panjang.
"Hidupmu semiskin itu ya sampai tak mampu pergi dokter THT? Di dalam telingamu pasti ada banyak sekali kotoran sampai kau tak bisa membedakan mana pujian dan mana hinaan. Iyakan?" kilah Lucien mencoba mempertahankan harga diri.
"Sembarangan kalau bicara. Walaupun miskin aku juga tidak sejorok itu. Memang benar kok barusan kau memujiku cantik," sahut Andrea tak terima.
"Wajah jelek begitu ku puji cantik? Yang benar saja. Lihat, bahkan wajahmu tak lebih lebar dari telapak tanganku. Orang yang memujimu pasti sudah gila dan matanya buta. Cihh!"
Lagi-lagi Andrea bertengkar hebat dengan Lucien perihal pujian. Kalah debat, Lucien menepikan mobil lalu keluar. Di berjalan cepat ke arah samping lalu membuka pintu dan menarik tangan Andrea.
"Turun kau di sini!"
"Eh eh, apa-apaan ini. Kau sudah gila ya menurunkanku di tengah jalan," ucap Andrea panik.
"Asal kau tahu saja ya. Aku paling benci pada wanita yang sok merasa paling cantik. Tidak ada yang memujimu tapi kau tetap kekeh menuduhku. Sebagai hukuman, kau pergilah sendiri menuju kantor," sahut Lucien licik.
(Merengeklah Andrea. Semakin merengek, di mataku kau malah semakin cantik. Ayo ayo cepat merengek dan memohonlah kepada pria tampan ini)
Awalnya Lucien mengira Andrea akan memohon agar tetap diizinkan pergi bersamanya, tapi yang terjadi malah diluar dugaan. Alih-alih merasa keberatan, Andrea malah dengan gaya petatang-petentengnya meninggalkan Lucien lalu menghentikan sebuah taksi yang lewat.
"Cihh, sudah tahu salah bukannya minta maaf malah ingin meninggalkanku. Dia pikir aku selemah itu sampai harus memohon. Tidak akan terjadi, Lucien. Asal usulku memang dari desa, tapi soal mental boleh diadu. Dasar diktaktor!"
Lucien hanya bisa melongo seperti orang bodoh saat taksi yang membawa Andrea melaju pergi. Benarkah yang dia lihat? Gadis itu lebih memilih pergi dengan pria lain daripada memohon padanya? Lucien tak terima. Dengan wajah merah padam dia menelpon Veroz.
[Veroz: "Iya Tuan, ada apa?" ]
"Selidiki latar belakang pria yang berani membawa lari Andrea dariku!" perintah Lucien murka. Dia mencengkram ponsel erat sekali sambil tak henti menggeretakkan gigi.
[Veroz: "Baik. Boleh sebutkan ciri-ciri pria itu?"]
Dengan amarah yang meluap-luap Lucien menjelaskan pada Veroz mengenai ciri-ciri pria yang membawa Andrea. Setelah itu dia bergegas masuk ke dalam mobil, hendak menyusul.
[Veroz: "Tuan Lucien, ciri-ciri mobil yang membawa Nona Andrea terdengar familiar. Apakah itu sebuah taxi?"]
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂