Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Gisela Aura selalu percaya bahwa perpustakaan pusat universitas adalah satu-satunya tempat paling aman di bumi. Di balik dinding tebal yang meredam bisingnya jalanan kota, di antara aroma khas kertas tua dan pembersih lantai beraroma lavender, Aura menemukan kedamaiannya. Bagi seorang mahasiswi tingkat akhir dengan beban beasiswa penuh di pundaknya, kedamaian adalah kemewahan yang harus dipertahankan mati-matian.
Tugas akhir hukum pidana internasional miliknya sudah mencapai bab tiga, dan hari ini, ia bertekad untuk menyelesaikannya. Aura membenarkan letak kacamata berbingkai tipisnya, merapikan kardigan rajut biru dongker yang membungkus kemeja putihnya, lalu mengembuskan napas lega saat matanya menangkap satu-satunya buku referensi yang ia butuhkan sejak minggu lalu: Hukum Pidana Internasional dan Dinamika Global. Buku bersampul tebal itu terletak manis di rak nomor empat baris C.
Aura melangkah maju. Tangannya baru saja terulur, menyentuh tepi buku, ketika sebuah tangan lain dengan jemari panjang, kokoh, dan berhias tato sulur hitam di pergelangan tangannya, menyambar buku itu lebih cepat.
Sret.
Aura tertegun. Ia mengerjapkan mata, menatap ruang kosong di rak, lalu perlahan menoleh ke samping.
Berdiri di sebelahnya adalah sumber masalah terbesar di Universitas Ganesha. Devanandra Bratadikara.
Aura langsung mengenalnya, tentu saja. Siapa yang tidak kenal Devan? Mahasiswa jurusan hukum yang lebih sering terlihat di area parkir belakang bersama motor besarnya daripada di dalam kelas. Seseorang yang mengenakan jaket kulit hitam belel di atas kaos oblong gelap, j jeans robek di bagian lutut, dan sepatu bot yang selalu tampak kotor. Potret nyata dari seorang berandalan kampus yang masa bodoh dengan aturan. Namun, yang membuat semua orang heran adalah bagaimana Devan selalu lolos dari sanksi akademis meski absensinya hancur-hancuran. Rumor mengatakan keluarganya punya kuasa besar, tetapi Aura tidak peduli pada rumor. Yang ia pedulikan saat ini adalah buku di tangan laki-laki itu.
"Maaf," suara Aura memecah keheningan sunyi perpustakaan, pelan namun tegas. "Aku yang memegang buku itu duluan."
Devan tidak langsung menjawab. Ia menurunkan buku itu sedikit, menatap Aura dari balik helaian rambut hitamnya yang berantakan dan jatuh di dahi. Sepasang mata elang yang gelap dan dingin menatap Aura dengan tatapan meremehkan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang langsung membuat bulu kuduk Aura meremang.
"Oh ya?" Devan membalikkan buku itu di tangannya dengan santai, seolah benda itu tidak memiliki berat. "Tapi tangan gue yang dapet duluan. Jadi, buku ini punya gue."
"Ini fasilitas kampus, bukan milik pribadi," balas Aura, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya mulai berdegup kencang karena kesal. "Dan aku sangat membutuhkannya untuk referensi skripsi yang dikumpulkan besok lusa. Tolong kembalikan."
Devan melangkah satu tindakan lebih dekat. Jarak yang terkikis tiba-tiba membuat Aura bisa mencium aroma maskulin yang pekat—perpaduan antara parfum mahal, aroma tembakau tipis, dan dinginnya angin malam. Aura terpaksa mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup mencolok.
"Gue juga butuh," ucap Devan pendek, suaranya berat dan serak.
"Kamu? Butuh buku hukum pidana internasional?" Aura tidak bisa menahan nada sinis dalam suaranya. Ia menatap Devan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu bahkan jarang masuk kelas Profesor Wijaya, Devan. Untuk apa kamu membaca buku setebal lima ratus halaman ini? Untuk bantal tidur di warung kopi depan kampus?"
Seringai di wajah Devan menghilang, digantikan oleh tatapan yang mendadak menajam. Ada kilat berbahaya di matanya yang membuat Aura mendadak menyesali kelancangannya. Orang-orang bilang Devan tidak segan-segan menggunakan kekerasan jika diganggu.
"Lo berani juga ya, cewek beasiswa," desis Devan, membaca pin logo berprestasi yang tersemat di kardigan Aura. "Siapa nama lo? Aura? Denger ya, Aura si anak baik-baik. Jangan sok tahu tentang hidup gue kalau lo masih mau kuliah dengan tenang di sini."
Aura mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Aku tidak tertarik dengan hidupmu. Aku hanya ingin buku itu."
"Sayang sekali," Devan menepuk sampul tebal buku itu dengan telapak tangannya yang bertato. "Gue gak suka berbagi. Dan gue paling gak suka diatur-atur oleh cewek yang hobi mendekam di perpustakaan kayak lo."
Tanpa menunggu balasan Aura, Devan berbalik dan melangkah pergi dengan santai, membawa buku itu di bawah ketiaknya. Aura berdiri mematung, menatap punggung tegap itu dengan perasaan dongkol yang membubung hingga ke ubun-ubun. Tangannya gemetar karena menahan amarah. Sepanjang hidupnya, Aura selalu mengalah dan menghindari konflik, tetapi sikap arogan Devan baru saja menyalut api permusuhan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Dasar berandalan egois," gumam Aura sengit.
Kekesalan Aura tidak berhenti di perpustakaan. Sore harinya, awan mendung menggantung tebal di langit kota, memaksa Aura untuk terburu-buru berjalan menuju kedai kopi kecil di dekat area kampus tempat ia bekerja paruh waktu. Sebagai anak tunggal dari seorang ibu tunggal yang sedang berjuang melawan penyakit kronis, Aura tidak punya waktu untuk meratapi nasib atau meratapi buku yang hilang. Ia harus bekerja untuk menambah biaya pengobatan ibunya.
Kedai kopi malam itu cukup ramai karena hujan mulai turun dengan deras. Aura bergerak lincah di balik meja konter, mengelap gelas, mencatat pesanan, dan menyajikan kopi dengan senyuman ramah yang dipaksakan. Kepalanya masih berdenyut memikirkan bagaimana cara menyusun bab tiga tanpa buku referensi utama tersebut.
Hingga sekitar pukul delapan malam, lonceng di atas pintu kedai berdenting keras. Angin dingin malam berembus masuk bersamaan dengan sekelompok pemuda berjaket kulit hitam. Kedai yang tadinya berisik oleh obrolan mahasiswa mendadak senyap. Aura mendongak dan seketika membeku.
Itu Devan, bersama dengan tiga orang temannya. Salah satunya adalah Bram, cowok jangkung yang terkenal sebagai tangan kanan Devan di kampus. Mereka berjalan dengan gestur tubuh yang dominan, seolah-olah mereka memiliki tempat tersebut. Devan melepaskan jaket kulitnya yang basah oleh sisa air hujan, menyisakan kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengan dan tato-tatonya yang rumit.
Mereka mengambil tempat di meja sudut yang agak temaram. Aura berdoa dalam hati agar rekan kerjanya, Tari, yang mengantar pesanan ke meja mereka. Namun, nasib baik sedang tidak berpihak padanya malam ini.
"Aura, tolong antar ini ke meja nomor tujuh, ya? Aku harus ke toilet sebentar, perutku sakit sekali," bisik Tari dengan wajah pucat, menyerahkan sebuah nampan berisi tiga cangkir kopi hitam pekat dan satu espresso ganda.
Aura menatap nampan itu seolah benda itu adalah bom waktu. Meja nomor tujuh adalah meja Devan.
Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Aura menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, dan berjalan menuju sudut kedai. Ia meletakkan cangkir-cangkir kopi itu satu per satu ke atas meja dengan gerakan sehalus mungkin.
"Permisi, ini pesanannya," ucap Aura dengan nada profesional yang datar.
Bram mendongak, lalu menyenggol lengan Devan sambil berbisik, "Hei Dev, bukannya ini cewek yang lo ceritain tadi siang di perpus?"
Devan, yang sejak tadi sibuk memeriksa ponselnya, perlahan mendongak. Ketika matanya bertemu dengan mata Aura, sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyuman miring yang sangat familiar.
"Wah, dunia sempit banget ya," ujar Devan dengan nada mengejek. "Ternyata si juara kelas ini kerja jadi pelayan kopi."
Aura mengabaikan sindiran itu. "Selamat menikmati kopinya," katanya formal, berniat langsung berbalik.
"Tunggu dulu," panggil Devan. "Gue belum selesai."
Aura menghentikan langkahnya, menatap Devan dengan tatapan dingin. "Ada yang salah dengan pesanannya, Tuan Bratadikara?"
Devan meraih cangkir espresso ganda miliknya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi klak yang cukup keras di atas meja kayu. "Kopi lo terlalu pahit. Selera lo payah, sama kayak muka lo kalau lagi marah."
Teman-teman Devan terkekeh, membuat telinga Aura terasa panas. Batas kesabaran Aura yang setipis benang akhirnya putus. Ia mengepalkan tangannya di balik nampan plastik yang ia pegang.
"Jika Anda menginginkan sesuatu yang manis, Anda bisa memesan susu murni, bukan espresso, Devan," balas Aura, suaranya naik satu oktav, cukup keras hingga beberapa pengunjung di dekat mereka menoleh. "Dan jika Anda memiliki masalah pribadi dengan saya karena kejadian tadi siang, tolong jangan bawa-bawa pekerjaan saya di sini."
Suasana di meja itu mendadak hening. Teman-teman Devan berhenti tertawa, tampak terkejut karena ada seorang gadis yang berani berbicara dengan nada menantang kepada Devan.
Devan sendiri tidak marah. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada, dan menatap Aura dengan binar ketertarikan yang aneh di matanya. Belum pernah ada orang di kampus ini, apalagi seorang gadis pendiam seperti Aura, yang berani menatap matanya langsung dan membalas ucapannya dengan begitu tajam.
"Gisela Aura," Devan membaca papan nama kecil yang tersemat di apron kerja Aura dengan perlahan, seolah sedang mengecap setiap suku katanya. "Lo menarik juga kalau lagi gak pegang buku."
"Permisi," Aura berbalik dengan cepat, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang hanya akan menguras energinya.
Namun, saat ia berbalik dengan tergesa-gesa, ujung sepatunya tidak sengaja tersangkut kaki meja. Tubuhnya limbung ke depan. Nampan di tangannya terlepas, dan sisa air di dalam nampan serta satu cangkir kosong yang belum sempat dibersihkan jatuh langsung ke arah Devan.
Prang!
Kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik. Cangkir itu pecah di lantai, dan sisa cairan kopi yang ada di nampan sukses membasahi bagian depan kaos hitam Devan.
Aura terengah-engah, memegangi pinggiran meja terdekat agar tidak jatuh sepenuhnya. Matanya melebar ngeri melihat noda basah yang melebar di dada Devan. Seluruh kedai kopi mendadak sunyi senyap, bahkan musik latar belakang seolah ikut berhenti berputar.
"Dev! Lo gak apa-apa?" Bram langsung berdiri, mengambil beberapa lembar tisu dengan panik.
Devan menghentikan gerakan tangan Bram. Ia melihat ke bawah, menatap kaosnya yang basah, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali kepada Aura. Kali ini, tidak ada lagi senyuman miring atau tatapan mengejek di wajahnya. Wajah Devan berubah menjadi sangat datar, dingin, dan memancarkan aura kegelapan yang membuat Aura mendadak merasa dunianya runtuh.
Aura menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya mendadak kering. "A-aku... aku tidak sengaja."
Devan berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar seolah menenggelamkan Aura dalam bayangan hitam. Ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, membuat Aura bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh cowok itu.
Devan menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Aura, lalu berbisik dengan suara yang begitu rendah hingga hanya Aura yang bisa mendengarnya.
"Gisela Aura," bisik Devan, nadanya tenang namun penuh ancaman yang nyata. "Mulai hari ini, anggap hidup tenang lo di kampus sudah selesai. Lo baru saja mengibarkan bendera perang sama orang yang salah."
Devan mundur selangkah, mengambil jaket kulitnya dengan sentakan kasar, lalu berjalan keluar dari kedai kopi tanpa menoleh lagi, diikuti oleh teman-temannya yang memberikan tatapan peringatan kepada Aura.
Aura berdiri membeku di tengah kedai, mengabaikan tatapan kasihan dan bisikan dari pengunjung lain. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Di luar, guntur menggelegar keras bersamaan dengan hujan yang semakin lebat. Aura tahu, hidupnya yang tenang dan teratur tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini. Permusuhan mereka baru saja dimulai, dan kampus tidak akan lagi menjadi tempat yang aman baginya.