Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?
Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Aku mengangguk ke arah wajah mereka secara bergantian. Sementara putri Pak Bima itu masih terus menatapku intens hingga acara makan malam kami terselesaikan.
Tentu saja, aku merasa tidak enak dengan hal itu. Apa benar kami pernah saling bertemu? Ah, aku juga tidak tahu. Lebih baik aku fokus dengan lelaki paruh baya yang sedang duduk di sampingku.
Seusai acara makan malam, Pak Bima langsung mengajakku ke ruang tamu. Kami berdiskusi dan berbagi informasi tentang pekerjaan masing-masing, tanpa ragu. Menurutku, karakter Pak Bima cukup ramah untuk ukuran orang baru.
Dan aku sangat mengapresiasi hal itu!
"Ru, sebenarnya bapak ada satu permintaan lagi. Semoga kamu tidak menolaknya," ucapnya dengan wajah tidak yakin. Aku malah semakin curiga dan membatin.
Kira-kira apa yang akan dikatakannya setelah ini?
"Sebagai ungkapan terima kasih bapak karena kamu telah menyelamatkan nyawa ini, bolehkah bapak memberimu sebuah hadiah?" tanyanya yang kembali membuatku terkesiap.
"Mohon maaf, Pak. Bukannya bermaksud tidak sopan, tapi bapak tidak perlu melakukan hal itu. Karena saya benar-benar ikhlas. Apa pun yang sudah saya lakukan itu murni hanya untuk menolong saja. Saya rasa, siapa pun akan melakukan hal yang sama jika dihadapkan pada kondisi tersebut," tolakku dengan cara halus. Aku bahkan tak mengharapkan balasan apa pun untuk semua yang sudah aku lakukan, karena aku benar-benar tulus.
"Tapi, Nak, bapak mohon terimalah! Jika kamu tidak menerima apa pun dari bapak, maka bapak akan merasa berhutang seumur hidup sama kamu." Pak Bima masih saja kekeuh dengan keinginannya. Begitu juga dengan sebaliknya.
Namun, pepatah mengatakan; Tidak baik menolak rezeki. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengalah dan memberikan kesempatan padanya agar bisa berbagi.
Selain bisa menciptakan ladang pahala untuknya, aku juga akan kecipratan kebaikannya. Itulah keutamaan jika kita saling berbagi, bukan hanya sang pemberi, sang penerima juga akan mendapatkan pahala.
Setelah melihat anggukan kepala dariku, Pak Bima langsung meneruskan hajatnya. "Nak, maukah kamu menikahi putri bapak?"
Apa?
Aku terlonjak, hampir saja aku tersedak ludahku sendiri. Dimana-mana imbalan itu berupa benda mati atau apalah yang bernilai tinggi. Nah, ini ... Pak Bima malah memintaku untuk menikahi putrinya sendiri?
"Apa bapak tidak salah bicara? Menurut saya ini sangat berlebihan, Pak." Aku mencoba untuk menyadarkannya, siapa tahu ia sedang berhalusinasi.
"Tidak, Nak. Bapak serius dengan semua ini. Menikahlah dengan Ayu, maka bapak pasti akan merasa bahagia sekali. Karena putri bapak bisa dinikahi oleh lelaki pemberani dan bertanggung jawab seperti kamu," ucap Pak Bima yang membuat relung hatiku menghangat karena dipuji.
Ah, beliau belum tahu saja kalau aku ini sudah menduda sebanyak dua kali ...!
"Tapi saya ini bukan perjaka lagi, Pak." Aku masih berkelit. Berusaha mencari celah untuk bisa keluar dari pilihan yang lumayan sulit.
Pak Bima tersenyum simpul, lalu merespon ungkapanku, "Tidak masalah, Nak Heru. Karena putri bapak juga bukan gadis lagi."
Hah?
Jadi, wanita yang bernama Ayu itu sudah menjanda?
Berapa kali?
Ah, aku ini ...!
Bisa-bisanya berpikiran begini ...!
Aku tersenyum kikuk menanggapi kalimat terakhir Pak Bima. Kenapa takdir seakan tidak mengizinkanku untuk menghindar agar tidak ada lagi yang terluka? Namun, apa iya aku tega menghempaskan harapan besar Pak Bima?
Aduh, lagi-lagi aku berada di dalam situasi yang sama. Apa benar kehadiran Ayu Widia akan menjadi jodohku yang selanjutnya?
Aku bahkan belum berhasil mengingat momen pertemuan kami. Tapi, aku juga penasaran dalam hal ini. Apa Ayu mau menikah lagi?
"Pak, sebaiknya semua ini bapak diskusikan lagi dengan putri bapak. Karena saya tidak ingin ada unsur pemaksaan dalam hal ini. Apalagi, kondisi saya yang sudah duda dua kali."
Pak Bima mengangguk tegas tanda mengerti. Sontak dipanggilnya Ayu untuk bergabung bersama kami. Aku rasa ia pun sudah menunggu momen ini sedari tadi.
"Sayang, tolong kamu ceritakan semuanya!" seru Pak Bima kepada putrinya.
Dalam balut senyuman ayu, wanita itu langsung menceritakan awal pertemuanku dengannya. Aku tersentak ketika mendengar bahwa ia adalah wanita, yang kala itu tidak sengaja menabrakku di supermarket, ketika aku hendak menyusul Najwa.
"..., jujur aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, Mas. Maka dari itu, aku menceritakannya pada ayah setelah mengetahui bahwa yang sudah menyelamatkan beliau dari kejadian naas tadi adalah kamu."
Aku tak bisa lagi berkata-kata. Lidahku seakan kelu untuk bersilat bahkan hanya untuk mengucapkan satu kata. Ditambah lagi adanya dukungan penuh dari ibundanya.
Kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya?
***
Tetapi ... ada hal yang sangat mengusik ketenanganku sedari tadi.
Ibundanya Ayu!
Tatapannya itu cukup mampu membuatku bergidik ngeri. Pancaran kemagisan yang berpendar dari balik namanya, seolah ingin sekali menyesap habis ingatanku, hingga aku menjadi lupa diri. Melupakan semua kenangan yang sudah dilewati, bahkan ingatan tentang orang yang sangat aku cintai selama ini.
Apa benar ia sehebat itu?
Ah, mungkin hanya perasaanku saja!
Buktinya, beliau masih mau berbicara walaupun hanya sepatah atau dua patah kata. Dan benar adanya, beliau merestui rencana suaminya. Berharap penuh agar aku bisa menerima, sehingga putrinya bisa keluar dari masalahnya.
Ya, Ayu mempunyai sedikit masalah dengan lingkungan di sekitarnya!
Masalah apakah itu?
Ikuti saja ceritanya!
Setelah mencapai mufakat, aku pamit undur diri dari sana. Ada perasaan getir yang masih bergelora di dalam dada setelah lidahku mencetuskan kata 'IYA'.
Namun, tidak apa! Anggap saja aku menerima tawaran ini untuk menyelamatkannya. Menyelamatkan Ayu dari fitnah para tetangga, yang selama ini mengecapnya sebagai janda penggoda.
Nasiblah!
***
Satu bulan kemudian, aku dan Ayu melangsungkan pernikahan. Karena ini adalah rumah tangga yang kesekian kalinya bagi kami, jadi aku rasa Ayu juga sudah berpengalaman. Dan ... tidak diragukan lagi, masa-masa awal pernikahan, sukses menjadi momen yang begitu mengesankan.
Kalian pasti tidak ingin melewatkan momen yang satu ini, bukan?
Ya, momen liburan. Anggap saja, bulan madu untuk yang ke sekian. Karena terlahir dari keluarga yang super-duper kaya, membuat istriku yang satu ini hidup bergelimang kemewahan.
Berpenampilan modis dan mempunyai paras ayu seperti namanya, siapa yang tidak akan tergoda?
Sebagai seorang suami, aku tak keberatan sama sekali. Apalagi untuk kebahagiaan seorang istri. Ditambah lagi, dia merupakan seorang wirausahawati. Sehingga selama ini ia mempunyai penghasilan sendiri. Namun, tetap saja, aku yang menjadi pemeran utama dalam hal menafkahi.
Uang istri adalah milik istri, sementara uang suami juga merupakan hak seorang istri ...!
Bukankah begitu, Para Istri?
Ya, aku sudah mengetahui pedoman itu sejak lama. Bahkan jauh sebelum aku menikahi Iklima. Sebagai seorang arsitek ternama, aku tak ingin enteng dalam keutuhan rumah tangga.
Ini bukanlah kali pertamanya. Jadi, aku sudah paham beberapa macam sifat wanita. Tentu saja, aku juga sudah menguasai beberapa teknik jitu untuk menghadapinya di kala murka.
Wanita itu sangat suka jika dipuja. Walaupun hanya dalam bentuk gombalan recehan semata, namun sebagai seorang lelaki sejati, kita harus menguasai ilmu peka tingkat dewa. Jangan sampai tidak bisa mendengar suara hatinya, bisa-bisa akan terjadi perang dunia ketiga.
***
Ayu sudah berada di rumah ketika aku pulang bekerja. Sebagai owner dari sebuah butik ternama, istriku lebih banyak menghabiskan waktunya di luaran sana. Bukannya untuk bersenang-senang semata, namun demi ajang promosi yang selalu dilakukannya.
Sebagai pengusaha sukses dalam usia yang masih muda, Ayu tidak ingin berpangku tangan dan menerima takdir, apa adanya. Ia adalah tipe wanita yang menginginkan kesuksesan dengan kategori sempurna. Sehingga tidak heran kalau ia sering menginap berhari-hari di butiknya.
Sebenarnya aku agak keberatan dengan hal yang satu ini. Namun, untuk menghargai jerih payah dan mimpinya, aku tidak ingin egois sendiri. Bisa kumaklumi, walaupun sebenarnya aku tidak enak hati.
Mau bagaimana lagi?
Tidak elok rasanya jika aku mempermasalahkan hal ini. Bisa-bisa apa yang aku sampaikan nanti, malah membuat Ayu tersinggung bahkan tersulut emosi.
Tidak!
Aku tidak ingin itu terjadi. Bagaimanapun aku harus bisa menekan perasaan ini. Sampai kapan waktu akan membuatnya sadar bahwa ia juga memiliki kewajiban atas seorang suami.