Dyah Alfah Antariksa.
Menemukan dirinya terjebak dalam kehidupan fresh graduate yang penuh tekanan. orangtua yang menuntut untuk segera mendapat pekerjaan mapan, juga soal perjodohan. rasanya kehidupan sesak, oleh tuntutan lingkungan.
Taurus Eka Pradipta cowok ganteng, yang konyol dan sembrono. Menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggalkan Sang Ayah. Jalan hidupnya terjal, namun dia selalu ceria.
Bagaimana jika mereka berdua ditemukan oleh takdir??
Tulisan pertama genre Romance
Nggak tahu bakalan asyik atau nggak
coba saja dulu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigapuluh Satu
Laju bus terasa kurang nyaman melewati jalan berkelok yang cukup tajam. Jumlah penumpang tidak sampai separuh dari jumlah kursi. Hari memang masih pagi, hanya ada beberapa orang yang hendak bepergian lintas kabupaten. Mas Ta menjadi salah satunya.
Subuh tadi dia pergi ke halte kemudian naik bus ke Ponorogo. Sampai di terminal seloaji, dia berganti bus untuk menuju ke Trenggalek kampung halamannya. Pikirannya suntuk, otak menjadi buntu, hanya terpikirkan untuk bertemu Ibu.
Satu bulan lamanya Mas Ta tidak menengok rumah. Dia memang rindu. Tapi kepulangannya kali ini bukan hanya soal rindu, melainkan lebih karena hati yang tengah terombang-ambing oleh rasa cinta terhalang restu. Mungkin memang Mas Ta terasa kekanak-kanakan, dia pulang hanya untuk mengadu pada Ibunya. Satu-satunya orangtua yang dia miliki.
Melewati wilayah pegunungan sawo yang terlihat hijau, patung Reog menjadi penanda Mas Ta keluar dari kota Ponorogo. Mas Ta memasuki kampung halamannya dan disambut oleh Bendungan nglinggis Tugu yang baru selesai dibangun. Warna airnya yang hijau kebiruan terlihat sedikit berkilau diterpa sinar mentari pagi.
Mas Ta merogoh handphone di saku celana, dan baru menyadari gawainya itu mati kehabisan baterai. Mas Ta mengedarkan pandangan di dalam bus dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Ibu-ibu paruh baya yang duduk di sebelah. Seorang Ibu dengan beberapa kalung emas berkilau sebesar jangkar kapal pesiar terpasang di leher. Setiap laju bus berguncang terdengar suara gemeretak dari logam mulia itu yang beradu.
Mas Ta mengangguk sopan saat bertukar tatap dengan Ibu berkalung emas. Kemudian dibalas anggukan oleh Sang Ibu. Mas Ta tersenyum dan mengangguk lagi, berusaha bersikap santun. Ibu berkalung emas kembali membalas anggukan. Mas Ta mengangguk lagi, dan terus dibalas oleh Ibu berkalung emas. Kejadian tersebut mengalami repetisi beberapa kali hingga leher Mas Ta terasa pegal.
"Masih pagi mau kemana Dik?" tanya Ibu berkalung emas sambil memegangi lehernya. Rupanya Sang Ibu juga merasa pegal sama seperti Mas Ta.
"Ah, pulang ke Trenggalek Buk," jawab Mas Ta sambil tersenyum.
"Oohh, pulang merantau? Kerja dimana? Surabaya?" tanya Ibu berkalung emas menebak.
"Di Madiun Bu," jawab Mas Ta singkat.
Ibu berkalung emas mengangguk-angguk kembali meski lehernya terasa pegal. Setelah itu obrolan berhenti. Suasana hening, hanya terdengar suara roda bus di jalanan yang sedikit bergelombang.
Mas Ta kembali termenung, melamun mengingat sosok Dyah yang terpatri di hatinya. Padahal belum lama Mas Ta mengenalnya, tapi dia merasa sudah bersama dalam kurun waktu yang panjang. Pertanyaan yang muncul di benaknya kini, apakah bisa dia melupakan Dyah? Semakin dipikirkan semakin terasa mustahil untuk melupakan.
"Mas? Mas?" sebuah suara membuyarkan lamunan Mas Ta. Ibu berkalung emas rupanya. Dia mengguncang bahu Mas Ta perlahan.
"Mas nya ndak turun?" tanya Ibu berkalung emas.
"Hah?" Mas Ta mengedarkan pandangan sedikit linglung. Di barisan depan terlihat orang-orang berdiri mengantre untuk turun dari bus.
"Sudah sampai di terminal ini," tukas Ibu berkalung emas.
Mas Ta terperanjat. Padahal seharusnya dia turun di pertigaan sebelum terminal. Kini dia harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di tempat pemberhentian angkot. Dari terminal kota ke rumah Mas Ta memang harus naik angkot kurang lebih 45 menit perjalanan.
Mas Ta turun dari bus dan berjalan gontai menyusuri jalanan aspal yang cukup halus. Sinar mentari mulai terasa hangat menyentuh tengkuk yang terbuka. Beberapa tetes keringat membasahi punggung yang tertutup kaos warna biru kusam saat sampai di pangkalan angkutan kota.
Mas Ta masuk ke dalam salah satu angkot warna kuning dengan beberapa bagian cat yang mengelupas. Di dalam angkot hanya ada dua penumpang ibu-ibu sepuh dengan barang belanjaan di dalam tas rotan rajut. Semua jenis angkutan umum memang sedang sepi penumpang di masa kini. Menjamurnya kendaraan pribadi membuat angkutan yang sempat menjadi primadona kini perlahan tenggelam.
Hampir satu jam lamanya di dalam angkot, Mas Ta akhirnya turun di dekat pasar kecamatan. Mas Ta kemudian berjalan kaki menyusuri jalanan dari semen yang sedikit menanjak. Dari kejauhan nampak rumah sederhana dengan seorang perempuan duduk di teras depan tengah menjemur 'karak' atau nasi sisa kemarin.
Perempuan dengan rambut memutih, dan kerutan di dahi yang sangat Mas Ta rindukan. Perempuan yang Mas Ta panggil Ibuk itu, kian hari semakin terlihat renta. Jakun Mas Ta naik turun menelan ludah, dadanya pun terasa sesak. Mas Ta menghentikan langkah memandangi Ibuknya dari jauh.
Bola mata Mas Ta bergetar dan terasa hangat berair. Dia ingin menangis mengingat Ibuknya di usia setua itu masih belum bisa bersantai di rumah. Masih belum bisa menikmati masa senjanya bersama keluarga yang utuh. Mas Ta sadar betul, Bapaknya tidak akan pernah kembali. Keluarga kecil mereka tidak akan pernah bisa seperti dulu. Mas Ta kembali melangkah setelah mengusap air matanya.
"Buk?" panggil Mas Ta lirih, saat dirinya berada beberapa langkah di hadapan Ibuknya.
Ibuk Mas Ta mendongak, memegangi punggungnya yang nyeri. Mata tua itu menyipit, mencoba melihat lebih jelas siapa gerangan yang memanggilnya. Seulas senyum terkembang kala menyadari anak laki-lakinya pulang ke rumah.
"Lee. ." pekik Ibuk Mas Ta. Sedangkan anak laki-lakinya berlari menghambur memeluk Sang Ibu.
Se dewasa apapun, seorang anak tetap terlihat bocah di hadapan orangtuanya. Sebesar dan selebar apapun telapak tangan Mas Ta kini, bagi Ibuknya jari-jari tersebut tetaplah terlihat seperti jari lembut yang dia genggam berwarna kemerahan saat terlahir ke dunia.
"Hari apa ini Le? Kok bisa pulang?" tanya Ibuk Mas Ta saat menyadari kalau hari ini bukanlah akhir pekan ataupun tanggal merah.
"Aku ambil jatah cutiku Buk. Aku kangen rumah," ucap Mas Ta setelah menghela nafas.
"Kok ndak telpon dulu? Tahu gitu tak masakin sambal pete kesukaanmu. Pagi ini Ibuk belum masak apa-apa lho," ujar Ibuk Mas Ta dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan.
"Lha ibuk belum makan?" tanya Mas Ta cemas. Matanya menatap telapak tangan Ibuk yang nampak kasar.
"Bukankah sudah kukirimkan gajiku Buk? Kenapa tidak beli bahan makanan yang enak? Itu cukup lho," lanjut Mas Ta meminta penjelasan.
"Ndak pa-pa Le. Itu buat tabungan Ibuk saja," jawab Ibuk Mas Ta dengan senyuman yang tulus. Hati Mas Ta teriris. Bagaimana mungkin Ibuknya harus berhemat bahkan hanya untuk sekedar makan? Padahal semakin tua, gizi seimbang dari makanan itu sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan.
Mas Ta semakin merasa bersalah. Ibuknya dalam kondisi yang jauh dari kata sejahtera, namun dirinya malah egois hendak meminang seorang gadis. Mas Ta merasa telah bersikap congkak dan sombong hanya karena telah menjadi kepala cabang. Padahal kehidupan keluarganya masih memprihatinkan.
Bersambung___
gasss.. utk semua novelnya /Good/
karya sangat bagus