Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 07
Mendapatkan kabar jika Sean sudah sadar membuat Rean langsung berlari menuju ruangannya. Dia adalah orang pertama yang paling mengkhawatirkan keadaan saudaranya itu.
"Sean?" panggilnya dengan nafas terengah-engah setelah berlari dari kantin menuju ruangan Sean.
Tatapannya terlihat begitu menyedihkan, Sean menatapnya dengan tatapan kosong.
"Kalau begitu kami permisi dulu." ucap dokter tadi meninggalkan kedua saudara kembar itu.
Mungkin saat ini kehadiran saudaranya yang bisa membuatnya bicara.
Setelah dokter dan perawat pergi, Rean menghampiri adiknya. Duduk di samping ranjang pasien dan menatap Sean yang terlihat kosong.
"Kau pasti akan baik-baik saja, percayalah padaku." kata Rean yang berusaha menguatkan Sean.
"Apanya yang akan baik-baik saja? Kau mau bilang semua ini baik-baik saja?" tanya Sean menatap kasihan pada tangan kirinya yang bahkan tidak bisa dia rasakan sedikitpun. Dia bisa mengerakkan tangannya, tapi tidak memiliki rasa apapun. Bahkan untuk mengangkatnya saja dia tidak berdaya.
Lalu bagaimana bisa Rean bilang dia akan baik-baik saja?
"Sean, aku-"
"Keluarlah, aku ingin istirahat." usirnya pada Rean yang masih duduk disana.
"Sean, dengarkan aku. Ibu berada disini dan dia merindukanmu. Dia ingin bicara denganmu, lalu bagaimana bisa kau mengabaikannya begitu saja?"
"Lalu apa kau pikir aku ingin melakukan hal ini? Apa kau pikir aku tidak merindukan ibu? Aku selalu berusaha untuk membahagiakannya. Lantas atas dasar apa aku harus membiarkannya melihat keadaan ku yang menyedihkan ini?" jelas Sean menahan rasa sesak di dadanya, membuat Rean ikut merasakan hal yang sama.
"Kau tau, sejak dalam kandungan ibu kita selalu berbagi dan bersama. Jika saat ini tangan mu tidak sempurna, masih ada tanganku. Jika kakimu tidak sempurna masih ada kakiku, jika matamu tidak sempurna, masih ada mataku. Kau tau, semua yang ku miliki adalah milikmu juga. Begitu pula sebaliknya, jangan menyalahkan diri atas semua ini. Kau harus bangkit, dan hidup lebih baik." ucap Rean dengan penuh kasih sayang untuk adiknya.
Dia benar-benar harus menjadi kakak yang baik, tidak peduli sekeras apa dunia menghakimi mereka. Tapi Sean harus bangkit.
"Tanganku cacat Rean! tanganku tidak bisa merasakan apapun lagi. Penglihatan ku sudah tidak sempurna. Aku sudah tidak bisa mengangkat pisau bedah lagi. Aku cacat Rean, aku cacat!!!" teriaknya histeris membuat semua orang yang mendengarnya ikut merasakan kesakitan yang luar biasa.
Rean berusaha menenangkannya, dia bahkan memeluk Sean dengan erat sebagai tanda kasih sayangnya terhadap sang adik.
"Aku cacat Sean, aku cacat. Aku sudah tidak bisa membantu orang lain lagi. Duniaku hancur. Aku tidak bisa menjadi dokter hebat seperti yang ayah inginkan Rean. Aku sudah gagal, aku gagal Rean. Aku gagal!" ucapnya semakin histeris membuat Rean ikut merasakan sakit yang luar biasa.
Bagitu juga dengan ibunya, hati ibu mana yang tidak hancur melihat putranya hancur tak berdaya begitu.
"Ini salahku, Pradana. Andai saja aku tidak egois, mungkin anak-anak ku akan hidup bahagia. Andai aku tidak menjadi pengecut dan lebih memilih bersembunyi, mungkin Sean akan baik-baik saja." ucap ibunya penuh penyesalan.
Sebagai seorang ibu, dia merasa gagal karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.
"Kau adalah ibu terhebat untuk anak-anak, Rieka. Mereka tidak akan menyalahkan mu. Mereka pasti bangga karena ibu mereka hidup dengan baik. Percayalah padaku. Sean akan baik-baik saja setelah semua ini. Yang terpenting saat ini, kita harus menjadi suporter hidup untuknya." ujar Pradana menasehati istrinya.
Bagaimanapun, tidak ada yang tau dengan rencana hidup. Mereka hanya terus berjalan dan mengikuti arus takdir yang telah di gariskan, dan inilah yang harus mereka jalani sekarang.
Sean benar-benar hancur dengan kenyataan ini. Seharusnya dia tidak berada disini. Tidak seharusnya dia menjadi pasien.
"Istirahatlah, besok akan ada pemeriksaan lanjutan. Kau bisa mulai melakukan terapi untuk melatih sistem motorik mu lagi. Aku yakin kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku." ucap Rean, yang membantu Sean untuk berbaring di ranjang pasiennya.
Sean tidak menjawab lagi, dia menuruti apa yang Rean katakan. Bolehkah dia berharap jika ini hanya sebuah mimpi, dan setelah dia bangun nanti semuanya akan baik-baik saja?
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh