"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 32~ Bertemu Masa Lalu
"Kamu apa kabar? " ucap perempuan tersebut sembari memeluk Davier dengan penuh rasa rindu.
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia datang langsung meluk Davier gitu? Tenang Ai mungkin itu teman lamanya." batin Ai
"Sya, ga enak diliatin orang. Ini tempat umum." ucap Davier sembari melepaskan pelukan perempuan yang bernama Nasya.
"Eh, kamu apa kabar, sudah lama kita ga ketemu. Hampir 8 tahun. Kamu ga banyak berubah ya." ucap Nasya.
"Untuk apa berubah, aku adalah aku ga akan jadi orang lain Sya." ucap Davier dingin.
"Kamu masih sama seperti 8 tahun lalu. Aku rindu kamu Davier." ucap Nasya.
"Apa katanya rindu? Apa yang terjadi 8 tahun lalu? Jangan-jangan dia mantan pacar Davier." batin Ai.
"Sudahlah Sya jangan membahas hal yang sudah lewat. Kamu ngapain kesini? Ada yang sakit?" tanya Davier.
"Oh iya, Mama aku masuk rumah sakit sudah 3 hari, dan aku baru sempat jenguk Mama. Kamu sendiri kenapa di sini? Siapa yang sakit?" tanya Nasya.
Davier pun tersadar bahwa ia sedang bersama Ai. Ia pun melirik Ai yang entah sejak kapan hilang keberadaannya.
"Aira? Dimana dia?" ucap Davier panik.
"Kamu kenapa? Siapa yang kamu cari?" tanya Nasya bingung.
Aku cari Ai, tunangan aku. Tadi dia duduk di sini. Dimana kamu Ai? Kondisi kamu masih belum pulih." ucap Davier gusar.
"Tunangan? Davier sudah bertunangan? Itu artinya dia akan segera menikah?" batin Nasya.
"Kita cari aja, dia pasti ga jauh kok." ajak Nasya.
Mereka pun mencari keberadaan Ai ke semua are taman rumah sakit dan akhirnya menemukan Ai sedang berbicara dengan seseorang. Sepertinya mereka akrab hingga membuat Ai bisa tertawa lepas.
"Ya ampun Ai, aku cari kamu kemana-mana ternyata kamu di sini. Aku khawatir banget waktu tau kamu ga ada di bangku taman tadi." ucap Davier.
"Eh maaf aku udah bikin kamu khawatir. Aku ga mau ganggu kalian ngobrol jadi aku pikir mau cari angin segar agak jauh. Eh aku ga sengaja ketemu teman lama." ucap Ai.
Kenapa kamu bilang gitu. You're my priority dear. Jangan diulangi lagi ya Ai. Jangan buat aku khawatir. Misal kalau ada yang berniat jahat sama kamu gimana. Ini itu tempat umum Ai." ucap Davier.
"Kamu mah lebay deh. Udah deh ya, aku janji ga akan pernah mengulangi hal seperti ini lagi. Swear!" ucap Ai.
"Nah, nurut gini kan bagus. Ya udah kita udah lama di luar. Balik ke kamar rawat kamu ya." ajak Davier.
"Eh tunggu dulu... Kamu main tinggal aja di sini itu juga ada orang lain. Seenggaknya nyapa dulu. Nah Al kenalin ini Davier calon suami gue, dan Davier ini teman SMP aku namanya Alvaro." ucap Ai.
"Alvaro" ucap Alvaro sembari mengulurkan tangannya sebagai tanda bersahabat.
"Davier" ucap Davier membalas uluran tangan Alvaro.
"Ya udah Anin gue balik dulu ya. Cepat sembuh. Gue janji bakal bantu ngelurusin masalah lo sama Revan, walau sebenarnya gue masih shock aja dengar cerita lo." ucap Alvaro.
"Ih lo mah, sebegitu ga percayaanya lo sama gue Al. Gini-gini kan gue pernah jadi partner lo main baskt selama tiga tahun lamanya." ucap Ai terkekeh.
"Nah satu hal ini juga perlu gue lurusin. Kita bukan partner basket. Tapi kita lebih tepatnya riva basket. Lo amesia atau gimana sih Anin." ucap Al kesal.
"Hahahaha.. Lo masih ingat dengan baik ya Al. Ingatan lo tajam juga udah setajam pisau yang baru aja diasah." kekeh Ai.
"Setajam. Silet kali ah Anin." balas Alvaro kesal.
"Kok jadi bahas tayangan infotaiment sih. Nah lo kan udah gue kasi tu nomor gue, jangan lupa kabarin. Kali ini lo harus jadi teman gue bukan jadi rival gue." ucap Ai dan hanya diangguki oleh Alvaro.
"Ai, udahan ngobrolnya. Sambung di roomchat aja. Kamu harus istirahat kalo kamu mau cepat pulang." pinta Davier.
"Udah sana balik. Ntar gue hubungin. Gue balik dulu ya Anin." ucap Alvaro sembari melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.
Sejak menemukan keberadaan Ai, Davier melupakan bahwa Nasya masih ada di antara mereka. Nasya yang merasa terasingkan pun mencoba untuk mencairkan suasana.
"Davier ,aku mau balik ke ruangan Mama dulu ya. Aku duluan." ucap Nasya.
"Tunggu Kak." ucap ai.
"Iya, ada apa?" tanya Nasya yang menghentikan langkah kakinya.
"Ruangan rawat Mama kakak di ruang mana? Kita boleh jenguk ga?" pinta Ai.
"Ai kamu harus istirahat. Kita balik ke kamar kamu ya." pinta Davier.
"Eh, apa yang Davier kaatakn benar. Kamu harus istirahat." ucap Nasya untuk menghindari Ai.
"Tunggu dulu. Kita jenguk bentar doang kok. Apa salahnya kita mengesampingkan diri untuk membuat oranf lain bahagia." ucap Ai.
"Eh, ya sudah tapi hanya sebentar ya. Setelah itu ga ada penawaran lagi." ucap Davirer.
"Siapp bos." ucap Ai.
"Jadi dimana ruangan tante Risa dirawat Sya?" tanya Davier.
"Di ruang Melati no. 305." balas Nasya.
"Ya udah kita searah. Kamar aku di ruang Melati nomor 307 loh. Ternyata deketan ya." ucap Ai.
"Iya juga. Kalo gitu ayo kamu juga perlu istirahat kan." ajak Nasya.
Mereka pun berjalan bersama menuju kamar rawat Mama Nasya. Sesampainya di depan pintu, mereka berhenti.
"Kenapa berhenti Sya?" tanya Davier.
"Ga papa, aku lupa mau nemuin dokter yang nanganin Mama. Kalian masuk duluan aja ya." ucap Nasya.
"Ya udah, ga jadi aja deh." ucap Davier.
"Loh kok ga jadi sih. Kan udah terlanjur di sini." ucap Ai.
"Tapi kan Nasya nya harus nemuin dokter Ai. Ga enak kalo kita main masuk aja." ucap Davier.
"Kan kita mau jenguk Mamanya Kak Nasya bukan Kak Nasyanya. Lagi pula kamu kan juga udah kenal sama Mamanya. Kok dibawa ribet sih. Yang penting kan niatnya." ucap Ai. Davier pun menghela napasnya.ia terpaksa mengalah dengan gadisnya agar lebih cepat meninggalkan ruangan itu.
"Ya sudah, kalo itu mau kamu." ucap Davier.
"Aku tinggal dulu ya, kalian masuk aja." ucap Nasya.
Mereka pun masuk dan kebetulan Risa sedang duduk santai di atas brankarnya.
"Permisi tante.. " ucap Ai lembut sembari tersenyum.
"Eh iya kamu siapa dan ada perlu apa?" ucap Risa ketus. Ia melihat spsok pria yang berdiri di belakang Ai yang ternyata adalah Davier.
"Apa kabar tante?" tanya Davier.
"Eh kamu Davier. Aduh kamu datang disaat ga tepat. Nasyanya lagi keluar. Tunggu bentar ya, tante telpon dulu." ucap Risa bersemangat.
"Tidak perlu tante, tadi kami sudah bertemu dengan Kak Nasya. Karena dia ada keperluan dengan dokter jadi dia meminta kami masuk duluan dan nanti dia menyusul." jelas Ai.
"Saya tidak berbicara dengan kamu. Saya betbicara dengan Davier calon menantu anak saya." ucap Risa ketus.
"Calon menantu? Apa maksud perkataan Tante Risa? Rasanya hatiku begitu tercabik-cabik mendengar ucapan itu. Lo harus kuat Ai." batin Ai.
"Maaf tante, ucapan tante sepertinya keliru atau tante lupa. Biar saya ingatkan pertunangan saya dan juga Nasya sudah berakhir 8 tahun yang lalu. Jadi tolong kondisikan ucapan tante karena itu menyakiti hati tunangan saya." ucap Davier sedikit meninggi.
"Davier, dia lebih tua jangan berkata seperti itu." ucap Ai lirih.
"Maaf tante, Davier tidak bermaksud berucap dengan nada tinggi seperti tadi. Dia refleks." ucap Ai lembut.
"Cihh.. Kamu berubah ya Davier, dengan mudahnya kamu memutuskan hubungan pertunganmu dengan putriku. Apa kau tidak menghargainya? Apa kau pikir dia itu bonekamu?" tanya Risa dengan nada mulai meninggi.
"Sebaiknya tante jangan terlalu menutupi kesalahan putri tante dengan menyalahkan orang lain. Sudahlah Ai ayo kita kkembali ke kamarmu. Kamu harus istirahat. Pernikahan kita tidak lama lagi. Aku tidak mau kamu kenapa-napa." ucap Davier.
"Ta-tapi.. " ucap Ai terpotong oleh Davier.
"Tolong jangan keras kepala." ucap Davier.
"Baiklah, kalo begitu kami permisi tante. Semoga lekas sembuh." ucap Ai lembut.
Setelah keluar mereka berpapasan dengan Nasya. Davier tak menoleh hanya Ai saja yang memberi senyum. Davier mendorong kursi roda dengan raut wajah dingin dan kesal.
"Ada apa degan Davier mengapa dia terlihat kesal. Pasti terjadi sesuatu." batin Nasya.
-----------------Next Update----------------
Rabu, 1 Juli 2020
Salam Hangat
Author Halu