Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Cia melangkah di sepanjang lorong sunyi lantai dua dengan kepala tegak dan seringai kemenangan yang masih membekas di bibirnya. Namun, tepat beberapa meter sebelum jemarinya menyentuh kenop pintu kamar utama, ekspresi wajahnya berubah drastis dalam hitungan detik. Seringai iblis itu lenyap, digantikan oleh gurat wajah yang teramat sendu, layu, dan dipenuhi gumpalan kesedihan yang mendalam. Kebolehannya dalam berakting kembali diaktifkan.
Cklek.
Pintu kamar utama terbuka pelan. Di dalam ruangan, Dixon sudah selesai mandi. Pria berusia 39 tahun itu kini mengenakan kaos hitam santai dan sedang berdiri di dekat meja kerja sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Aura dominan dan dinginnya kembali pekat menyelimuti ruangan.
Mendengar suara pintu, Dixon menoleh. Sepasang mata elangnya langsung menangkap siluet Cia yang berjalan menunduk, meremas ujung jubah satin hitamnya dengan langkah yang diseret pasrah.
Dixon meletakkan handuknya, lalu bertanya dengan nada bariton yang ketat dan sedingin es. "Apa yang terjadi? Bagaimana pertemuanmu dengan Amora?"
Cia tidak langsung menjawab. Ia sengaja menghentikan langkahnya di tengah ruangan, mendongak perlahan untuk memperlihatkan sepasang matanya yang sengaja dibuat berkaca-kaca seolah menahan beban emosional yang teramat berat.
"Mas Dixon..." cicit Cia dengan suara yang bergetar lirih dan serak. "Sepertinya... dugaan dan ketakutanku siang tadi di kantor benar-benar terjadi. Amora... dia sama sekali tidak menyukaiku. Dia sangat marah begitu melihatku ada di rumah ini."
Dixon tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Wajah tampannya tetap kaku bagai pahatan marmer. Sifat kaku dan prinsip tidak mau mencampuri urusan domestik wanita membuatnya merespons dengan ketidakpedulian yang mutlak.
"Aku sudah katakan padamu siang tadi, Valencia. Aku tidak peduli dengan bagaimana reaksinya atau apakah dia menyukaimu atau tidak," jawab Dixon datar, suaranya terdengar sangat berjarak dan tegas. Pria itu membalikkan badannya, berjalan menuju ranjang tanpa berniat menenangkan istrinya. "Pernikahan ini tetap sah. Tugasmu hanya satu: jalani hidupmu sendiri dan jangan pernah mengganggu Amora. Berikan dia ruang."
Mendengar kalimat "jangan mengganggu Amora" keluar dari mulut Dixon, batin Cia seketika mengencang kesal. Ia merasa kurang puas dengan respons suaminya. Dixon memang memegang komitmen pernikahan, tetapi pria itu masih memasang benteng pelindung yang terlalu tebal untuk putri kandungnya. “Lo masih melindunginya, Mas,” batin Cia bergejolak tajam di balik wajah sendunya. Namun, Cia hanya mengangguk pasrah dan menjawab, "Baik, Mas..." sambil berjalan menuju sisi ranjang dengan kepala tertunduk.
Sementara itu, di sayap kiri lantai dua, atmosfer di dalam kamar Amora benar-benar berubah menjadi seperti medan perang yang mengerikan.
Prank!! Braakk!!
Suara pecahan kaca dan hantaman keras menggema beruntung di dalam kamar bernuansa mewah itu. Amora sudah kehilangan seluruh akal sehat dan keanggunannya sebagai seorang model papan atas. Wajah cantiknya memerah padam karena amarah yang meledak-ledak, bercampur dengan rasa takut yang amat sangat.
Ia menyambar sebuah vas bunga porselen mahal di atas meja riasnya, lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping. Tidak puas, Amora menyapu bersih seluruh botol parfum chanel dan alat kosmetik mewahnya hingga berhamburan mengenaskan di atas lantai.
"Aaaaaaarrrgghh!! Sialan!! Bajingan!!" jerit Amora histeris, mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi yang luar biasa dahsyat.
Air matanya mengalir deras, merusak riasan wajahnya hingga tampak berantakan. Napasnya memburu naik turun bagai memompa udara panas. Mengingat kembali kata-kata Cia yang mengaku sebagai ibunya yang baru, membuat dada Amora terasa seperti dihantam godam tak kasatmata.
"Kenapa si jalang miskin itu bisa berani masuk ke rumah ini?!" desis Amora dengan nada suara yang bergetar hebat di antara gigi-giginya yang menggeretak meradang. "Kenapa harus dia?! Kenapa dari sekian banyak wanita di dunia ini, Daddy harus menikahi pelayan toko kue pembawa sial itu?!"
Amora menendang kopernya hingga terguling di lantai. Rasa takut yang paling besar di dalam hidupnya kini menjadi kenyataan. Masa lalunya yang kriminal, rahasia maut yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari ayahnya, kini dibawa langsung oleh korban utamanya ke dalam istananya sendiri.
Amora berjalan terhuyung, menatap pantulan dirinya di cermin yang retak. "Gak... gue gak boleh tinggal diam. Kalau si jalang Valencia itu tetap ada di sini, hidup gue bakal hancur. Gue harus cari cara buat depak dia keluar sebelum Daddy tahu semuanya!" raung Amora dalam tangis frustrasinya, bersumpah demi sisa kehormatannya untuk memulai perang terbuka di dalam kediaman Alessandro.
Pagi berikutnya, atmosfer di dalam kamar utama masih diselimuti sisa-siga ketegangan semalam. Dixon berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja abu-abu gelapnya. Gurat kaku di wajah matangnya menegaskan bahwa pria berusia 39 tahun itu sedang memikirkan banyak hal, terutama kehadiran Amora yang kini berada di bawah satu atap dengan istri barunya.
Melihat Dixon yang tampak kesulitan melilitkan dasi sutra bernuansa charcoal miliknya, Cia kembali melancarkan aksinya. Dengan langkah ringan tanpa suara, ia naik ke atas kasur king-size mereka, memosisikan dirinya agar sejajar dengan tinggi tubuh raksasa suaminya.
"Biar aku bantu, Mas," ucap Cia lembut, jemari lentiknya dengan lihai mengambil alih ujung dasi tersebut.
Dixon tidak menolak, namun sepasang mata elangnya menatap Cia dengan tatapan mengintimidasi yang sangat dingin. Jarak di antara mereka mengikis habis. Cia merapikan simpul dasi itu dengan sangat telaten, memastikan setiap lipatannya sempurna. Begitu selesai, Cia menepuk pelan dada bidang Dixon, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan binar manja, lalu dengan cepat mencondongkan wajah cantiknya.
Cup.
Sebuah kecupan basah dan hangat kembali mendarat mulus di permukaan kulit pipi tegas Dixon.
"Valencia!" bentak Dixon seketika.
Suara baritonnya menggema rendah, sarat akan amarah kaku yang sudah mencapai puncaknya. Dixon mencengkeram kedua bahu ramping Cia dengan cengkeraman yang tegas, menjauhkan tubuh gadis itu darinya. Rahangnya mengeras sempurna, dan urat-urat di lehernya menonjol tajam.
"Sudah berapa kali kukatakan, jangan lancang melanggar batasanmu! Jangan pernah mengulangi tindakan kekanak-kanakan ini tanpa izin dariku!" bentak Dixon dengan nada suara yang teramat dingin dan menekan, menatap Cia seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Cia langsung memasang wajah membelalak ketakutan. Ia buru-buru turun dari kasur, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari meremas jemarinya dengan tubuh yang dibuat bergetar halus. "M-Maaf, Mas... aku hanya ingin menyemangatimu sebelum bekerja. Maafkan aku," cicit Cia dengan nada suara yang serak, menyembunyikan seringai iblisnya yang puas di balik helaian rambut yang jatuh membingkai wajahnya.
Di meja makan lantai bawah, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Amora sudah duduk di kursinya dengan pakaian modis, namun sepasang matanya yang sembap dan merah memancarkan kebencian yang pekat saat melihat Cia turun bersama ayahnya.
Cia tidak memedulikan tatapan membunuh itu. Ia langsung mengambil posisi sebagai nyonya rumah dan ibu tiri yang sempurna. Dengan senyuman manis dan gerakan yang teramat lembut, Cia mengambil piring kosong Amora.
"Amora, ini nasi goreng seafood kesukaanmu, 'kan? Nenekmu yang memberi tahu menu ini kemarin. Aku sengaja bangun subuh untuk memasaknya sendiri. Dimakan yang banyak ya, Sayang," ucap Cia dengan nada suara yang begitu tulus, keibuan, dan penuh perhatian, berakting seolah-olah konfrontasi kejam di kamar semalam tidak pernah terjadi.
Brak!
Amora menghempaskan garpunya ke atas meja marmer hingga menimbulkan bunyi dentangan yang nyaring. Wajah cantiknya berkerut jijik menatap piring yang disodorkan Cia.
"Nggak usah sok baik lo di depan gue, jalang!" sembur Amora dengan suara melengking penuh hinaan. Ia menoleh ke arah Dixon, mencoba menghasut ayahnya dengan tatapan memohon. "Daddy! Kenapa Daddy bisa tahan melihat perempuan ini ada di rumah kita? Lihat dia, Dad! Dia itu cuma pelayan miskin, rendahan, yang nggak punya latar belakang kelas sosial apa pun! Dia sama sekali gak pantas bersanding dengan Daddy yang terhormat! Kehadiran dia di sini cuma bikin malu nama besar Alessandro!"
Amora menunjuk wajah Cia dengan telunjuknya yang bergetar karena emosi. "Dia itu cuma benalu yang mengincar harta Daddy! Perempuan gatel kayak dia nggak pantas menjadi istri seorang CEO, apalagi menjadi ibu tiriku! Usir dia sekarang, Dad!"
Mendengar rentetan makian tajam dan penghinaan fisik yang keluar dari mulut Amora, Cia tidak membalas. Ia justru menurunkan pandangannya ke lantai, membiarkan tubuhnya gemetar hebat seolah-olah harga dirinya baru saja diinjak-injak sampai hancur. Sepasang matanya berkaca-kaca, memperlihatkan kepasrahan seorang korban yang teramat teraniaya di depan suaminya.
Dixon yang duduk di kepala meja tetap tenang memotong daging steak-nya. Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan riak emosi. Mendengar keributan yang memekakkan telinga itu, Dixon meletakkan pisaunya perlahan, lalu mengetuk meja makan dengan ujung jarinya.
"Jangan berisik. Habiskan makanan kalian dalam diam, atau tinggalkan meja ini sekarang juga," desis Dixon dengan suara bariton yang teramat rendah, datar, dan sedingin es.
Sikap Dixon benar-benar netral secara kejam. Pria berusia 39 tahun itu sama sekali tidak membela Cia yang baru saja dihina habis-habisan sebagai jalang miskin di depan wajahnya. Baginya, konflik antarwanita di rumah ini bukanlah urusannya, dan ia menolak untuk menjadi tameng pelindung bagi Cia.
Melihat ayahnya yang acuh tak acuh dan tidak membelanya, Amora menyunggingkan senyum kemenangan yang puas, mengira ayahnya mulai berpihak padanya.
Sementara itu, Cia tetap menunduk dalam-dalam dengan air mata palsu yang menetes pelan ke atas meja. Namun, di bawah kolong meja, jemari tangan Cia mengepal begitu kuat hingga memutih tajam. Di balik isak tangisnya yang malang, batin Cia bersedih sekaligus bersorak pekat.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu