"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Menguntit
Akhirnya, setelah Rendra dengan tegas menolak ditemani, Kenan memilih bertindak nekat.
Diam-diam, ia mengikuti mobil sang kakek hingga tiba di rumah sakit.
Dari jarak aman, ia mengintip ketika Rendra bertemu dengan Alena di depan lobby rumah sakit. Keduanya tampak berbincang akrab sebelum berjalan masuk bersama.
Kenan hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Posisiku benar-benar digantikan oleh wanita itu," gumamnya pelan. Lalu, ia menggeleng cepat. "Tidak! Ini tidak bisa di biarkan."
Doni yang ada di sampingnya hanya bisa memutar bola matanya. Ia memilih menunggu di sana, sedangkan Kenan mengikuti keduanya sampai di luar ruang pemeriksaan.
Setelah Rendra dan Alena keluar dari ruang dokter dan meninggalkan rumah sakit, Kenan mengirim pesan pada Doni, lalu segera menghampiri dokter yang menangani kakeknya.
"Dok, saya cucu Pak tua yang baru saja keluar dari sini. Saya ingin mengetahui kondisi kesehatan kakek saya," ujarnya dengan nada serius.
Dokter sedikit terkejut. Tapi kemudian, ia menatap Kenan penuh curiga. "Maaf, saya sudah memberitahu kondisi pasien pada cucu perempuannya."
"Dia bukan cucu Kakek," seru Kenan tidak terima.
Dokter mengedipkan matanya berulang kali. Namun, ia tetap menolak memberitahu Kenan.
Tapi, Kenan tidak menyerah. Dengan berbagai penjelasan dan bukti jika ia adalah cucu Rendra yang sebenarnya, akhirnya sang dokter bersedia menjelaskan kondisi Rendra secara rinci, mulai dari pola makan, obat-obatan yang harus diminum, hingga hal-hal yang perlu dihindari.
Kenan mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk dan mencatat semuanya di ponselnya.
"Beliau tidak boleh terlalu lelah dan harus mengurangi makanan yang mengandung banyak lemak," jelas sang dokter.
"Baik, Dok. Ada lagi yang harus saya perhatikan?"
"Yang paling penting adalah kondisi emosinya. Jangan sampai beliau terlalu banyak pikiran atau mengalami stres."
Kenan mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok."
Setelah keluar dari ruangan dokter, ia segera menghubungi Doni.
"Di mana mereka sekarang?" tanyanya.
"Mereka makan di kafe dekat rumah sakit, Tuan."
"Aku ke sana."
Tidak lama kemudian, Kenan tiba di kafe tersebut. Ia sengaja memakai topi dan kacamata hitam agar tidak dikenali oleh Rendra maupun Alena.
Begitu masuk, ia langsung melihat keduanya duduk di dekat jendela.
Rendra dan Alena tampak mengobrol dengan santai. Sesekali, di selingi suara tawa yang berhasil membuat Kenan iri.
"Apa yang mereka lakukan di sini?" tanyanya pelan, sambil duduk di depan Doni
Doni menatapnya datar. "Memangnya, apa lagi yang biasa dilakukan orang di kafe, Tuan? Bertanding tinju?"
Kenan melirik sinis. "Kamu kenapa? Marah?"
"Aku tidak marah." Doni memaksakan senyum lebar. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali cemberut. "Aku hanya kesal. Hari ini seharusnya aku menikmati hari liburku. Tapi, Anda malah memanggilku untuk menguntit dua orang yang sedang bersantai."
Kenan berdecak pelan. "Kamu ini asistenku. Sudah seharusnya kamu siaga saat aku membutuhkanmu."
Doni memutar bola matanya malas. "Tuan benar-benar tidak punya rasa bersalah."
Namun, perhatian Kenan sudah kembali tertuju pada Rendra dan Alena.
"Mereka terlihat sangat akrab, ya."
"Tentu saja," sahut Doni. "Alena itu orang yang menyenangkan. Siapa pun pasti nyaman berada di dekatnya."
Ia berhenti sejenak, lalu mengembuskan napas. "Jujur saja, aku tidak rela kalau dia diperlakukan buruk oleh suaminya."
Kening Kenan langsung berkerut. "Dari mana kamu tahu kalau dia diperlakukan tidak baik?"
"Aku memang tidak melihatnya secara langsung, Tuan. Tapi, aku bisa menebaknya."
"Maksudmu?"
Doni menatap Alena yang sedang tersenyum di meja seberang.
"Setelah kita memenangkan tender dari Atma Group, aku yakin Tuan Arsen tidak akan menerimanya dengan baik. Dikalahkan oleh perusahaan lain saja sudah menyakitkan, apalagi dikalahkan oleh istrinya sendiri."
Ia menghela napas panjang. "Aku malah merasa bersalah pada Alena."
Kenan terdiam. Perkataan Doni ada benarnya.
Ia mengenal Arsen cukup lama. Temperamen pria itu memang buruk dan harga dirinya sangat tinggi. Dan, kekalahan dari Alena tentu akan menjadi pukulan besar bagi egonya.
"Kamu benar, Don. Tapi, itu namanya strategi. Lagipula, dia sendiri tidak keberatan, kan?" seru Kenan.
"Tapi, tuan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Alena?"
"Kenapa memangnya? Yang aku lihat sekarang dia baik-baik saja."
Doni menghela napas. "Memang susah bicara dengan orang yang tidak berperasaan."
Kenan berdecak kesal. Tatapannya kembali tertuju pada Alena. Ia melihat wanita itu sedang tertawa bersama Rendra.
Senyumnya tampak tulus, bahkan matanya sampai menyipit karena terlalu bahagia.
Tidak ada kesedihan, atau raut tertekan. Atau mungkin, wanita itu hanya terlalu pandai menyembunyikan lukanya.
Sementara itu, di meja dekat jendela, Alena terus bercerita tentang berbagai hal. Sesekali, ia melontarkan candaan yang membuat Rendra tertawa terbahak-bahak.
"Jadi, temanmu sampai salah kirim berkas karena panik?" tanya Rendra sambil menahan tawa.
Alena mengangguk dan ikut tertawa. "Iya, Kek. Wajahnya sampai pucat. Untung saja masalahnya cepat selesai."
"Hahaha... kasihan sekali anak itu."
Tawa mereka perlahan mereda. Namun, beberapa detik kemudian, Rendra memperhatikan wajah Alena lebih saksama.
Sejak tadi, wanita itu memang tersenyum dan tertawa. Akan tetapi, matanya tidak benar-benar menunjukkan kebahagiaan. Seperti, ada sesuatu yang Alena sembunyikan.
Rendra berdeham pelan sebelum bertanya dengan hati-hati.
"Alena, ada apa?"
Alena yang sedang mengaduk minumannya langsung terdiam.
"Tidak ada apa-apa, Kek," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Rendra menggeleng pelan. "Jangan berbohong pada Kakek."
Senyum di bibir Alena perlahan memudar. Ia mengembuskan napas panjang.
"Perusahaan ku berhasil mendapatkan tender besar, Kek."
Mata Rendra langsung berbinar. "Benarkah?"
Alena mengangguk.
"Wah, itu kabar yang luar biasa!" seru Rendra dengan antusias. "Kamu hebat sekali, Alena." Rendra tersenyum bangga. Tapi, beberapa saat kemudian, senyumnya perlahan menghilang. "Tapi, kenapa wajahmu justru terlihat sedih?"
Alena menundukkan pandangannya. "Aku tidak sedih, Kek. Aku malah senang karena sebentar lagi akan mendapatkan bonus dari perusahaan."
"Lalu?"
Alena tersenyum pahit. "Tapi, sepertinya bonus itu masih belum cukup untuk menyewa seorang pengacara."
Ucapan itu membuat Rendra terdiam. Ia sangat ingin membantu Alena dengan mempertemukannya dengan pengacara keluarga. Tapi, Kenan melarangnya ikut campur terlalu jauh.
Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah.
"Maafkan Kakek, Alena," ucapnya pelan. "Kakek tidak bisa menepati janji Kakek."
"Kek..."
"Kakek sudah berjanji akan mengenalkan mu dengan pengacara kenalan kakek. Tapi sampai sekarang, Kakek belum bisa mewujudkannya."
Alena segera menggenggam tangan pria tua itu. "Kek, jangan berkata seperti itu. Aku sungguh tidak apa-apa."
"Tapi... "
"Mungkin saja pengacara itu sedang sibuk menangani kasus lain. Lagi pula, Kakek sudah cukup banyak membantuku. Aku tidak ingin merepotkan Kakek lagi."
Rendra justru semakin merasa bersalah. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Alena terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan menerawang ke luar jendela.
"Aku juga tidak tahu, Kek," lirihnya. "Aku sudah tidak tahan tinggal di rumah itu. Tapi, aku juga tidak bisa pergi begitu saja."
"Kenapa?"
"Karena, kalau aku pergi sekarang, mereka akan menang, kek," seru Alena.
Kenan terdiam saat menguping pembicaraan mereka. Tanpa sadar kedua tangannya mengepalkan di atas meja.
"Aku harus bertahan untuk mendapatkan hak ku dan membalas semua yang sudah mereka lakukan padaku."
Rendra menatapnya dalam diam. Di balik wajah lembut dan senyum yang selalu menghiasi bibir Alena, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam.
Pria tua itu pun menggenggam tangan Alena lebih erat.
"Kamu tidak sendiri, Alena. Selama Kakek masih ada, Kakek akan selalu mendukungmu."
Alena tersenyum dan mengangguk pelan. "Terimakasih banyak, Kek."
aduhh😂😂😂
😂😂😂😂