Desri Winandra, gadis yang dibayar menikahi lelaki lumpuh untuk melunasi hutang-hutang biaya pengobatan almarhum ayahnya.
Ternyata lelaki lumpuh itu Arkhan Ghani, dia tak lain CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang selama dua tahunan ini dia kagumi. Lelaki yang begitu dingin dan seolah bersikap tidak menyukainya.
Dibalik kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan penderitaan yang selalu datang bertubi-tubi, Desri memiliki sikap tegas, baik, tulus dan penyayang.
Di dalam kisah mereka, kalian juga akan tertarik dengan beberapa karakter pendukung lainnya yang menjadi lakon utama pada diri mereka masing-masing. Terutama sang pengawal tampannya keluarga Arkhan.
Mampukah Desri melalui penderitaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Dapatkah dia memikat hati Arkhan yang dikaguminya selama dua tahun itu?
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGINAP
Setelah kepergian Arkhan dan Endro ke rumah Desri, wajah Nur dan Yuni terlihat berbinar-binar penuh harap.
"Mama... Maksud Mama apaan sih tadi ngedip-ngedip gitu?" Tanya Yuni polos sambil menggelayuti tangan mamanya dan hendak berlalu ke kamar.
"Jadi kamu nggak ngerti maksud Mama?" Nur balik bertanya keheranan.
Yuni hanya menggeleng dan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Maksud Mama, biarkan kita kasih kesempatan buat kakak kamu dan kakak iparmu berdua sayang. Mana tau mereka bisa saling membuka hati." Jawab Nur sambil membelai pipi putrinya yang masih saja bergelayutan manja di tangannya itu.
"Oh gitu..." Seru Yuni. "Tapi apa Mama setuju?" Tanya Yuni menghentikan langkahnya dan menatap heran ke mamanya itu. Yang dia tau Desri bersedia menikah dengan kakaknya karna dibayar.
"Loh kenapa tidak, Sayang? Desri perempuan yang sangat baik... Kalau bukan karna terpaksa, Mama malah tidak setuju waktu itu kakak kamu bertunangan dengan
Melani." Sahut mamanya dan mulai melangkahkan kakinya lagi.
"Iya, Ma... Yuni tau itu... Tapi, kaan..." Dia tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
"Tapi kenapa lagi, Sayang?" Kamu tidak senang Desri terus-terusan ada di dekat kita? Dan sebagai keluarga kita?" Tanya Nur sembari duduk di tepi kasur karna memang mereka baru saja sampai di kamar Nur.
"Senang, Ma... Tapi apa..." Belum selesai Yuni melanjutkan kata-katanya, Nur segera memotongnya.
"Karna kamu taunya Desri menikah dengan kakak kamu karna dibayar, kan?" Tanya Nur menatap lekat wajah anaknya. Yuni menyahuti dengan anggukan kepala.
"Sebenarnya..." Kemudian Nur menceritakan bagaimana Desri menerima Arkhan tanpa syarat. Bagaimana Desri melakukannya dengan tulus.
Yuni terisak haru. Bagaimana bisa dia tidak mengetahuinya.
"Selama ini kamu dekat dengan kakak iparmu itu tidak terpikir dengan ketulusannya?" Tanya Nur serius.
"Ada sih, Ma... Tapi karna Yuni pikir kak Des memang membutuhkan uang, makanya dia terpaksa melakukannya." Ujarnya penuh penyesalan.
***
Sedan mewah yang ditumpangi Arkhan berhenti di depan pagar sebuah rumah sederhana. Mungkin dia baru sekali kesana. Semenjak dibantu Endro turun dari mobil, pandangan Arkhan sudah tertuju ke rumah mungil yang di hadapannya itu.
Ada apa dengan jantungku? Kenapa dia tidak beraturan seperti ini sih..? Mana gerah lagi~ Gumam Arkhan. Dia merasa seperti kepanasan, padahal cuacanya sangat dingin sekali. Apalagi di sekitaran sana banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang.
Tok... Tok... Tok...
Endro mengetuk pelan pintu rumah Desri.
"Assalamu'alaikum..." Panggil Endro dari luar.
Sesaat kemudian, terdengar sahutan dari dalam.
"Wa'alaikumsalam... Iya sebentar." Pintu pun terbuka. Di belakang pintu tampak seorang wanita paruh baya. Dia tak lain Wiwit ibunya Desri.
"Endro... Nak Arkhan..." Sapanya dengan terkejut. Dia seperti tak percaya dengan penglihatannya saat ini.
"Maaf, Bu... Permisi... Malam-malam kami mengganggu ibu dan non Desri." Ujar Endro sungkan. Arkhan sedari tadi hanya diam.
"Tidak apa-apa... Ayo, silakan masuk." Pinta Wiwit sambil melebarkan pintunya.
"Silakan, Ibu ambilkan minum dulu..." Ujar Wiwit mempersilakan Endro duduk dan Arkhan mengambil tempat. Wiwit berlalu ke belakang.
Arkhan yang hendak mengambil posisi agak ke dalam tidak sengaja melihat kearah kamar. Disana, di lantai samping dipan, Desri tertidur di atas sajadahnya. Dia masih memakai telekung. Wajah Desri tak terlihat karna posisi Desri miring.
Kenapa rasanya terlalu damai melihat dia? ~ Gumam Arkhan dengan sedikit tersenyum.
Arkhan berlalu karna takut terlihat oleh Endro kalau dia sedang memandangi istrinya itu.
Tak lama Wiwit datang dengan membawa nampan berisikan dua gelas teh dan cemilan seadanya.
"Silakan..." Ucap Wiwit sambil meletakkannya satu persatu di atas meja.
"Terima kasih, Nyonya..." Ucap Endro. Setelah mengatur napas, dan dikira waktunya sudah tepat, akhirnya Wiwit membuka suara.
"Maaf, ada apa ya, kalian datang kesini?" Tanya Wiwit sedikit sungkan tanpa mengurangi kesopanannya.
"Begini, Nyonya... Beberapa hari yang lalu nona Desri pamit untuk menginap di rumah ini. Kata nona Desri dia sangat merindukan Nyonya." Ujar Endro akhirnya buka mulut karena tampaknya Arkhan tak juga ingin mengeluarkan suaranya.
"Iya... Lalu...?" Wiwit kembali bertanya dengan tatapan sedikit bingung.
"Kami ingin menjemput nona Desri, Nyonya." Tutur Endo to the point.
"Hmmm... Tapi, Desri nya tertidur setelah sholat isya tadi." Sahut Wiwit ragu.
Endro menatap Arkhan seolah meminta tanggapannya. Tetapi tetap saja Arkhan bergeming di posisinya.
Melihat itu, Wiwit pun berinisiatif akan membangunkan putrinya itu.
"Kalau begitu tunggu sebentar, biar ibu bangunkan Desri dahulu." Ujar Wiwit yang hendak berdiri.
"Tidak usah, Bu... Biarkan dia tidur... Saya saja yang akan menginap disini." Sergah Arkhan cepat. Akhirnya dia membuka suaranya.
Wiwit dan Endro sedikit melongo. Sadar dengan suasana hening yang diciptakannya, Arkhan kembali melanjutkan kata-katanya.
"Itu pun kalau ibu tidak keberatan..." Kata Arkhan lagi. Dia melirik sedikit ke arah Endro yang sedari tadi entah memikirkan apa dan sesekali melirik kearahnya
Kenapa hah??? Kau tidak senang? Apa kau cemburu? Ini masalah cinta, End... Jika permasalahan lain, mungkin aku akan mengalah... Tapi kali ini biarkan aku berjuang. Dia istriku~ Gumam Arkhan dalam hatinya seakan tidak senang melihat guratan wajah Endro.
"Ibu tidak keberatan kok, Nak... Tapi beginilah keadaan rumah ibu... Apa kamu tidak resah?" Ujar Wiwit dengan senyum sumringah yang tidak dapat disembunyikannya. Dia yakin Desri pasti akan senang pikirnya.
Arkhan tidak tau saja bahwa diam-diam Endro tersenyum kegirangan saat ini.
.
.
.
.
.
dulu iparku anemia , bukan amnesia biasa ada jenisnya jg , selalu operasi melahirkan anaknya ... Alhamdulillah selamat .
semoga ada keajaiban untuk Desri .
kasihan klo Desrinya metong .
perempuan utama baik begitu.
sementara ayah arkhan bisa aja sengaja di celakai jg , sama halnya seperti arkhan.
jodoh Yuni siapa ya .
rival atau Endro
kasihan jg si Endro .
apa maksudnya dengan mentari yang sama?🤔
enakan melawak aja ndro jangan ganti profesi🤭😁
kakak ipar idaman
menantu idaman.