NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: BERPUSTAKA BIASA SAJA

Sejak hari itu, setiap pertemuan menjadi semakin berat bagi Rian. Ia berusaha bersikap profesional, namun mata dan hatinya tak pernah bisa berbohong. Setiap kali melihat Nadia, bayangan masa lalu kembali menghantui—saat ia pulang lelah dan Nadia sudah menyiapkan teh hangat, saat ia gagal dalam usaha pertamanya dan hanya dia yang tetap berdiri di sampingnya, hingga saat ia meletakkan surat perceraian dengan wajah dingin tanpa peduli air mata wanita itu.

Nadia seolah tak tergoyahkan. Ia memperlakukan Rian persis sama seperti mitra bisnis lainnya: sopan, tegas, dan menjaga jarak yang sangat jelas. Tak ada satu pun kata atau sikap yang menunjukkan bahwa mereka pernah memiliki ikatan yang begitu dekat.

Suatu sore, saat rapat berakhir lebih lama dari biasanya, hujan deras tiba-tiba mengguyur kota. Rian terpaksa menunggu di lobi kantor, melihat kendaraan yang sedang dalam perjalanan menjemputnya. Tak lama kemudian, Nadia keluar dari lift, mengenakan mantel panjang berwarna gelap, terlihat siap pulang.

Saat ia melangkah melewati Rian, ia berhenti sejenak tanpa menoleh penuh. "Kendaraan Anda belum datang?"

"Belum, Ibu Nadia. Hujannya terlalu lebat," jawab Rian pelan.

Nadia menoleh sedikit, menatap jendela kaca yang berkabut karena air hujan. "Supir saya akan lewat ke arah perumahan tempat kantor Anda berada. Anda bisa ikut, jika tidak keberatan."

Rian tertegun sejenak, tak menyangka ia akan menawarkan hal itu. "Tentu... terima kasih banyak, Ibu."

Sepanjang perjalanan di dalam mobil yang sunyi, hanya terdengar suara hujan yang menghantam atap kendaraan. Duduk bersebelahan namun terasa terpisah ribuan mil. Rian berkali-kali ingin membuka mulut, namun tak tahu harus memulai dari mana.

"Diana... apakah dia tahu kesulitan yang Anda hadapi dalam proyek ini?" tanya Nadia tiba-tiba, tanpa melihat ke arahnya.

Rian terkejut. "Belum... dia lebih banyak membantu urusan perizinan. Soal teknis, saya yang mengurus langsung."

"Pastikan dia tahu apa yang Anda kerjakan. Jangan sampai Anda berjalan sendirian hanya karena ingin terlihat hebat. Seperti yang pernah Anda lakukan dulu," ucapnya tenang, namun kalimat terakhir itu membuat jantung Rian berdegup kencang.

"Anda benar-benar tidak ingin mengakuinya?" tanyanya akhirnya memberanikan diri. "Kita berdua tahu siapa Anda sebenarnya. Kenapa harus berpura-pura seolah kita baru pertama kali bertemu?"

Nadia akhirnya menoleh, menatapnya lurus dengan sorot mata yang dingin namun menyimpan kepedihan yang tak terucap. "Karena wanita yang Anda kenal dulu sudah tidak ada, Tuan Rian. Dia lenyap bersamaan dengan tanda tangan yang Anda bubuhkan di atas kertas perceraian itu. Yang ada sekarang hanyalah Nadia Kirana, pemimpin Grup Arka—mitra bisnis Anda, bukan mantan istri yang dulu Anda rendahkan."

"Saya tidak bermaksud merendahkanmu..."

"Tapi itulah yang terjadi," potong Nadia cepat. "Kata-kata Anda, sikap Anda, keputusan Anda—semuanya mengatakan bahwa dia tidak berharga bagi Anda. Jadi sekarang, jangan heran jika wanita yang berdiri di hadapan Anda ini hanya melihat Anda sebagai rekan kerja, bukan sebagai pria yang pernah dicintainya sepenuh hati."

Mobil berhenti tepat di depan kantor Rian. Rian belum sempat berkata apa-apa lagi, Nadia sudah berbicara duluan. "Turunlah. Hujan mulai reda. Dan ingat—jangan mencampuradukkan perasaan pribadi dalam urusan bisnis kita. Jika Anda tidak bisa melakukannya, saya akan menugaskan orang lain untuk menggantikan posisi Anda."

Rian turun dengan perasaan hancur. Pintu mobil tertutup, dan kendaraan itu melaju kembali menjauh. Di dalam sana, Nadia memejamkan mata erat, menahan getaran di tangannya yang mulai bergetar pelan. Berpura-pura tak kenal ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan. Namun ia tahu, ini satu-satunya cara agar ia tidak kembali lemah di hadapan pria yang pernah menghancurkannya.

 

(Lanjut ke Bab 11?)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!