Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU MENYUKAINYA
Mata yang terus menatap wanitanya pergi itu pun menyadari bahwa ada sebuah mobil yang melesat begitu cepat. Bahkan Zero bisa meyakini bahwa mobil tersehut sama sekali tak menginjak rem meskipun sudah terlihat Vianne di depannya.
"Anne!" teriak Zero.
Dengan cepat Zero langsung melangkahkan kakinya dengan lebar dan menarik Vianne, hingga membuat mereka terjatuh di trotoar. Vianne tak merasakan sakit apapun karena ia bertumpu di atas tubuh Zero.
Saat ia membuka mata, ia melihat Zero yang berada tepat di bawah tubuhnya.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Zero.
"Aku tidak apa apa," jawab Vianne yang kemudian langsung berdiri.
Jantung Vianne berdetak cepat ketika ia berada sangat dekat dengan Zero. Ia segera bangkit karena tak ingin Zero merasakannya ataupun mendengarnya. Selain itu, ia juga merasa kaget dengan kenyataan yang ada di hadapannya bahwa hampir saja sebuah mobil akan menabrak dirinya.
"Kita kembali saja ke perusahaan. Aku akan membelikanmu makanan," ucap Zero. Ia tak ingin sampai terjadi lagi hal itu pada Vianne.
"T-tapi ..."
"Masuklah dulu," Zero meminta Vianne kembali ke OR Trade sementara dirinya akan pergi sendiri ke cafe yang berada di seberang jalan. Vianne akhirnya menurut karena ia juga masih sedikit syok.
Sebuah motor melesat di hadapan Zero dengan kecepatan tinggi. Zero sangat tahu siapa itu. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi orang itu.
"Apa yang akan ia lakukan?" gumam Zero, karena panggilannya tidak diangkat sama sekali.
*****
Zero kembali ke OR Trade sambil membawa kantong berisi makan siang dirinya dan juga Vianne. Ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai di mana ruangan Vianne berada.
Ia pun mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. Ia melihat Vianne masih duduk di kursi kerjanya dan melamun. Zero meletakkan makanan yang telah ia beli ke atas meja, kemudian mendekati Vianne.
"Apa ada yang sakit?" tanya Zero berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Vianne. Sejujurnya ia merasa takut jika tadi Vianne benar benar tertabrak mobil. Ya, Zero merasa takut kehilangan wanita yang ada di hadapannya ini, ntah sejak kapan wanita ini selalu memenuhi hati dan pikirannya.
"Ehhh ...," Vianne kaget karena Zero yang tiba tiba saja sudah ada di hadapannya. Sejak tadi ia berusaha menetralkan degup jantungnya, baik dari syok saat akan tertabrak dan saat dirinya berada dekat dengan Zero.
"Aku bertanya apa ada yang sakit?" tanya Zero sekali lagi.
"Ohh, tidak ada," jawab Vianne.
"Ayo kita makan dulu," tiba tiba saja Zero langsung menggenggam tangan Vianne dan membawanya ke meja di mana ia meletakkan makan siang mereka.
Saat berjalan, Vianne yang berada di belakang Zero pun melihat bahwa siku lengan Zero terluka. Itu terlihat dari kemeja Zero yang sedikit robek dan tercetak warna merah di sana.
"Lenganmu," ucap Vianne.
"Ada apa?" tanya Zero saat mendengar Vianne berbicara.
Vianne melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi membuatnya merasakan sesuatu di dalam tubuhnya. Namun Zero langsung menangkap kembali tangan Vianne dan tak membiarkan genggaman itu lepas.
"Lepaskan aku dulu," ucap Vianne.
"Aku tak akan melepaskanmu. Ayo kita makan dulu."
"Siku lenganmu terluka. Aku akan mengambil kotak obat dulu dan mengobatinya," ucap Vianne.
"Aku tidak apa apa, makanlah dulu," ucap Zero.
"Aku tak akan makan kalau lukamu belum diobati," tiba tiba saja ucapan Vianne menjadi sedikit ketus. Ia paling tak suka jika seseorang mengabaikan luka yang ada pada dirinya, dan menganggap hal itu sepele.
Zero diam dan melihat Vianne mendekati sebuah lemari. Ia mengambil sebuah kotak dengan logo tanda tambah berwarna merah di bagian luarnya.
"Buka kemejamu," perintah Vianne. Tak mungkin ia mengobati siku lengan Zero karena kemeja tersebut akan sulit digulung di atas lengan.
Tak menolak ataupun membantah, Zero membuka kemejanya. Vianne yang membuka kotak P3K, kemudian beralih melihat lengan Zero. ia mulai mengangkat dan membersihkan di area luka. Tak ada rasa canggung sedikit pun karena Vianne sudah terbiasa melakukannya.
"Sudah selesai," ucap Vianne saat selesai mengobati Zero. Ia pun menutup kotak P3K dan hendak berjalan untuk mengembalikan kotak tersebut pada tempatnya.
Zero langsung menarik lengan Vianne hingga membuat wanita itu terduduk di pangkuannya. Mata keduanya saling menatap dan degup jantung keduanya seakan saling bersahut sahutan.
"Kamu benar benar tak mengingatku sama sekali?" tanya Zero, masih dengan menatap intens manik mata Vianne.
Vianne menggelengkan kepalanya dan berusaha bangkit dari pangkuan Zero. Namun, Zero melingkarkan kedua tangannya di tubuh Vianne, membuat jantung Vianne berdegup dengan kencang.
"Apa kamu ingin aku mengingatkanmu tentang siapa diriku?" tanya Zero.
Apa dia berniat menjalin hubungan lagi denganku kemudian membuangku lagi di saat ia tak menginginkannya? - batin Vianne.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya aku mengembalikan ini dulu," ucap Vianne, berusaha untuk menghindar.
"Anne, maukah kamu menjadi kekasihku?"
Apa dia akan mengulangi semuanya dan kembali menyakiti perasaanku? - batin Vianne.
"Maaf, Tuan. Aku tidak mengenal anda dengan baik," jawab Vianne. Ia tak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.
"Apa kamu menyukai Tuan Wesley?" tanya Zero.
"Ya, aku menyukainya," jawab Vianne. Ia tak ingin Zero mempermainkannya seperti dulu, jadi akan lebih baik jika ia mengatakan sesuai pemikiran pria itu. Lagi pula siapa yang tak menyukai Wesley, ia adalah pria yang baik, pikir Vianne.
Namun bila dihadapkan pada kenyataan bahwa ia adalah wanita dan Wesley adalah pria, ia hanya menganggap Wesley sebagai kakak karena Wesley selalu melindunginya, bahkan dalam hal apapun.
Hati Zero terasa panas saat Vianne mengatakan bahwa wanita itu menyukai Wesley. Tangannya mengepal dan mulai melonggar dari tubuh Vianne. Kesempatan itu digunakan Vianne untuk bangkit dari pangkuan Zero dan mengembalikan kotak P3K.
*****
Bughhhhh
Sebuah pukulan melesat ke wajah seorang pria dan membuatnya jatuh terduduk. Tatapan tajam seakan ingin membunuh pria itu.
"Kamu sengaja ingin menabrak Dokter Vianne hah?!" teriak Five yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Itu bukan urusanmu! Dasar suka ikut campur! Memangnya siapa kamu hah?!"
"Siapa aku itu juga bukan urusanmu!" teriak Five.
Bughhh
Sebuah pukulan kembali Five layangkan ke wajah pria itu, membuat pria itu kini jatuh tergeletak di samping mobilnya sendiri. Setelah itu Five menaiki kembali motornya dan meninggalkan pria itu.
🧡 🧡 🧡