Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung Sang Nenek, Kanaya rela menjadi ibu pengganti bagi pasangan suami istri Yuga Tjandra dan Zielin.
Tak mau melahirkan diluar ikatan pernikahan, Kanaya meminta suami dari Zielin itu menikahinya secara siri dan sepakat untuk bercerai begitu anak yang dikandungnya telah lahir.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka selanjutnya, jika Yuga akhirnya juga mencintai Kanaya? Relakah Zielin membagi suaminya dengan ibu pengganti untuk anak mereka?
Jangan lupa rate ⭐lima dan follow akun medsos author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RK - Chapter 32
"Dia jadi asisten pribadi saya, Nek," jawab seseorang dari balik pintu.
Sebelum masuk ke ruang rawat, orang tersebut terlebih dulu mengucapkan salam. Ia juga tidak lupa menyapa nenek Kanaya dengan sopan.
"Perkenalkan, Nek. Nama saya Yuga Tjandra, saya CEO sekaligus atasan Kanaya di perusahaan Tjandra Grup." Yuga memperkenalkan diri.
"Tapi... cucu saya ini kan cuma lulusan SMA bagaimana bisa ia menjadi asisten pribadi dari seorang CEO?" Nek Asih bukanlah orang yang bodoh, tentu ia tahu seseorang yang hanya lulusan SMA tidak mungkin menjadi asisten pribadi dari seorang CEO.
Yuga menatap Kanaya dan sebaliknya. Kanaya justru takut lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu akan salah menjawab dan akan membuat neneknya semakin curiga.
"Kebetulan waktu itu ada orang yang merekomendasikanya, jadi aku mencoba dan ternyata benar, meskipun Kanaya hanya lulusan SMA dia adalah anak yang cepat tanggap dan cerdas. Bukankah cerdas tidaknya seseorang tidak melulu diukur dari tinggi rendahnya pendidikan seseorang?" Yuga memberikan penjelasan yang masuk akal yang tidak bisa lagi dibantah oleh nenek dari Kanaya ini.
Dan benar. Kali ini Nek Asih tidak lagi memberikan pertanyaan kepada Yuga. Wanita yang sudah menginjak usia senja itu tersenyum bangga mendengar penjelasan tersebut. "Terima kasih ya, Nak karena sudah memberikan cucu saya ini kesempatan. Saya yakin, dia tidak akan mengecewakan Anda. Saya juga akan sangat bersyukur kalau Anda dan perusahaan milik Anda mau memberikan kesempatan kepada cucu saya ini untuk melanjutkan kuliah. Gara-gara saya sakit, dia harus bekerja keras sampai-sampai tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena harus mengumpulkan uang untuk membiayai pengobatan saya."
Dibalik ucapan terima kasih yang Nek Asih sampaikan terselip harapan dari wanita renta itu agar cucunya bisa melanjutkan sekolah ke bangku kuliah.
"Pasti, Nek. Saya akan membiayai dia kuliah kelak," jawab Yuga dengan lugas.
Nek Asih terlihat sangat bahagia mendengarnya. Matanya berkaca-kaca mendengar jawaban dari Yuga. Akhirnya dia akan bisa memenuhi keinginan almarhum anaknya.
Nek Asih ingat seminggu sebelum kejadian nahas itu, mereka membicarakan masa depan Kanaya yang saat itu masih berusia 5 tahun.
"Lihatlah, Mas, anak kita cerdas bukan? Aku berharap kelak dia bisa mengeyam pendidikan tinggi, tidak seperti diriku yang hanya lulusan SMA!" Nia begitu bangga karena hari itu Kanaya berhasil memenangkan lomba bahasa inggris antar murid TK.
"Sayang, aku pasti akan menyekolahkan putri kita setinggi-tingginya. Aku janji." Arif menimpali.
Arif tahu ketakutan yang dirasakan oleh istrinya. Nia bukanlah orang berada, dia juga hanya lulusan SMA. Wanita itu tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di zaman sekarang ini. Segala hal diukur dari tinggi rendahnya pendidikan yang dimiliki. Dia tidak mau Kanaya bernasib sama dengannya. Berbeda dengan Arif, meski dia bukan orang yang kaya raya, Arif bisa sekolah tinggi bahkan ia berhasil menyelesaikan S2nya. Hal itulah yang membuat Arif bisa naik jabatan saat ini.
Arif bekerja di sebuah perusahaan besar dan menjabat sebagai manager. Dan sekarang dia mendapatkan promosi untuk memimpin anak perusahaan dari perusahaannya tersebut.
Waktu itu Nek Asih hanya mendengarkan pembicaraan anak dan menantunya, dia tidak pernah berpikir jika hari itu menjadi hari terakhir kebersamaan mereka karena di hari berikutnya saat mereka sedang melakukan perjalanan menuju ke tempat kerja baru, mereka mengalami kecelakaan. Kedua orangtua Kanaya meninggal di tempat dan beruntung Kanaya selamat dari insiden itu meski harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit hampir sebulan karena cidera kepala.
"Nek, kenapa Nenek nangis?" tanya Kanaya ketika melihat air mata jatuh di pipi neneknya.
"Nenek berharap operasi nenek nanti berhasil agar nenek tidak merepotkanmu lagi dan kamu bisa fokus melanjutkan pendidikanmu."
Kanaya memeluk neneknya. "Pasti, Nek. Operasi itu pasti bakalan berhasil dan Nenek pasti akan sembuh. Tapi, bukan karena Naya takut direpotin sama Nenek. Selama ini Nenek gak pernah ngerepotin Naya."
"Nenek tahu kamu pasti akan mengatakan ini. Nenek sayang sama kamu Naya, Nenek berharap suatu hari nanti kamu bisa menikah dengan laki-laki yang baik yang bisa menjagamu." Nek Asih mengusap rambut panjang cucunya dengan lembut.
"Tuan Yuga."
"Panggil saja saya Yuga," jawab Yuga. Nek Asih mengangguk.
"Nak Yuga selama Nenek menjalani pengobatan di luar negeri tolong jaga cucu nenek ini ya. Saya justru tidak tega meninggalkannya sendirian!" pinta Nek Asih sungguh-sungguh.
"Nek.... "
"Tentu, saya pasti akan menjaga cucu Nenek dengan baik. Jadi, Anda fokus saja dengan pengobatan di sana."
"Terima kasih ya Nak Yuga."
Yuga tersenyum sembari mengangguk.
***
"Terima kasih ya, Mas karena kamu udah mau jengukin Nenek," ucap Kanaya.
Saat ini Kanaya sudah berada di luar rumah sakit. Keduanya pergi setelah Nek Asih tertidur.
"Naya, aku ini suamimu. Jadi sekarang ini, dia bukan hanya nenekmu, tetapi juga nenekku."
Kanaya mengangguk.
"Sebelum pulang kita makan, yuk! Aku yakin kamu pasti lapar," ajak Yuga.
"Mau makan dimana? Di sekitar sini tidak ada restoran atau rumah makan yang buka 24 jam. Di sini cuma ada pedagang kaki lima yang jualan di emperan jalan." Kanaya tidak berani mengajak Sang suami makan di tempat sembarangan. Dia takut perut Yuga tidak terbiasa dengan makanan yang dijual di pinggir jalan.
"Aku bukan pemilih kok. Dulu waktu kuliah aku juga sering makan jajanan pinggir jalan," ujar Yuga menenangkan, ia tahu hal yang istrinya khawatirkan.
"Benarkah?" tanya Kanaya sambil menatap Yuga tak percaya.
Kanaya yakin Yuga sengaja berkata seperti itu agar ia tidak merasa khawatir.
"Sungguh, Sayang." Yuga memeluk Kanaya dari belakang. "Ayo kita mau makan dimana? Aku pastikan dimana pun kita makan, aku akan makan dengan lahap."
"Ya sudah, kalau begitu kita ke tenda di perempatan jalan sana. Di sana makanannya lumayan enak menurutku."
"Ya sudah. Ayo!"
Yuga dan Kanaya masuk ke dalam mobil lamborgini warna silver yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka sekarang.
Yuga membuka pintu dan mempersilakan istrinya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dulu. Ia kemudian ikut masuk melalui pintu lain. Mobil berwarna silver itu pun mulai bergerak menjauh meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
Saat berada di perempatan jalan, Yuga melihat mobil milik papanya berada di jalan yang sama dengannya. Sama dengan mobil yang sedang ia kendarai saat ini, mobil itu pun sedang berhenti karena lampu merah.
"Ada apa, Mas?" tanya Kanaya ketika melihat suaminya terus memperhatian mobil yang berhenti di depannya.
"Kamu kenal dengan pengendara mobil tersebut?"
"Mobil itu milik Papa dan aku yakin orang yang sedang mengendarai mobil itu adalah asisten pribadi papa, hanya saja aku merasa tidak asing dengan wanita yang duduk di sebelah asisten Papa itu," jawab Yuga.
Kanaya ikut memperhatikan. "Mungkin pacarnya," jawabnya asal.
"Mungkin."
Lampu lalu lintas sudah berubah hijau, mobil itu pun sudah melaju.
"Mau ngejar?" tawar Kanaya ketika melihat Yuga masih menatap mobil tersebut.