Lima tahun yang lalu, Eden Kennard Anderson menjalin hubungan dengan wanita berparas cantik yang bernama Arabella Anastasya Walker, putri dari Keluarga Walker yang merupakan salah satu keluarga kaya raya di Kota Boston - Massachusetts Amerika Serikat. Karena berbeda kasta membuat hubungan mereka di tentang keras oleh Keluarga Walker. Hingga pada akhirnya wanita itu memutuskan dirinya secara sepihak dan bertunangan dengan pria
lain yang dijodohkan dengan wanita itu.
Lima tahun kemudian, Arabella kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya Eden Kennard Anderson. Pria yang dahulu
di pandang rendah kini menjelma menjadi salah satu pria terkaya di Kota New York. Memiliki paras tampan dan dijuluki pria sejuta pesona. Jabatannya yang sebagai seorang CEO membuatnya begitu diinginkan kaum wanita, termasuk seorang model cantik yang kini telah menjadi kekasihnya, Catherine Wilson.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Bella. Kau hanya milikku! Milikku!" - Eden -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranty Yoona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Selalu Menolak Bantuan
Bella termangu di depan ruangan yang beberapa menit lalu ia masuki, ruangan Dokter Andrew yang menangani ibunya. Kedua matanya memerah dan terlihat sisa-sisa air mata yang membekas di sudut mata serta wajahnya. Saat sedang bekerja, ia di telepon oleh pihak rumah sakit, lantas Bella yang panik segera datang ke rumah sakit setelah meminta izin terlebih dahulu pada asisten managernya di Restauran, yang merupakan orang kepercayaan Samuel. Karena saat ini Samuel berada di luar kota, tengah menangani cabang Restauran yang sedang bermasalah.
Mendengar kesehatan ibunya yang semakin lama semakin menurun, tubuh Bella nyaris limbung jika saja ia tidak berpegangan pada sandaran tangan kursi. Lantas ia segera melabuhkan tubuhnya di atas kursi. Air matanya kembali meluruh setelah sekuat tenaga menahannya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gumamnya lirih dalam isakan tangis yang tertahan. Ia harus mencari uang 400 juta untuk biaya operasi ibunya yang harus segera dilakukan.
Dering ponsel yang menyentakkan telinga membuat Bella menyeka air mata yang jatuh di kedua pipinya. Kemudian merogoh tas untuk mengambil ponsel yang masih berdering.
Melihat nama Samuel yang tertera di layar ponsel, Bella menarik napas dalam. Ia tidak ingin Samuel mengetahui jika dirinya baru saja menangis.
"Hallo Sam. Ada apa?" tanyanya begitu menempelkan ponsel pada daun telinga, dengan mengatur suara seperti biasa.
"Kau baik-baik saja, Ara? Kudengar dari Robbin, kau pergi begitu saja setelah meminta izin padanya." Suara Samuel terdengar panik di ujung telepon. Sayangnya pria itu tidak bisa kembali ke New York dalam waktu dekat, karena masih harus menindaklanjuti kasus yang mencemarkan nama baik cabang restauran di Washington DC.
"Aku baik-baik saja, Sam. Maaf tadi aku terburu-buru pergi begitu saja karena Bibi Rosi menghubungiku jika Mommy tiba-tiba saja pingsan," sahut Bella berdusta. Meskipun Samuel berada di Washington DC, tetapi pria itu sering menghubungi Bella, bahkan Samuel pun mengetahui jika ia menyewa jasa seorang Bibi untuk merawat ibunya.
"Lalu bagaimana keadaan Bibi Miranda? Apa bibi baik-baik saja?" tanya Samuel begitu panik.
"Hm, Mommy baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya saja yang rendah," ucapnya meyakinkan. "Maaf Sam, aku tidak ingin membuatmu terlalu memikirkan masalahku, kau sendiri memiliki masalah yang harus segera kau selesaikan," lanjutnya dalam hati. Ia tidak ingin fokus Samuel terpecah akan masalahnya. Jika pria itu mengetahui mengenai kesehatan ibunya, maka bisa dipastikan jika Samuel akan segera kembali ke New York dan meninggalkan masalah yang terjadi di cabang restauran. Biar bagaimanapun Samuel sudah bekerja keras membangun restauran dengan usahanya sendiri. Akan sangat menyakitkan untuk pria itu jika restauran cabang harus ditutup.
"Syukurlah jika Bibi Miranda baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan masalah disini dalam dua hari. Jadi setibanya di New York, aku akan mengunjungi Bibi Miranda."
"Ehm...." Bella menyahuti dengan deheman. "Semoga masalah di cabang restauran cepat selesai dan kau bisa kembali ke New York dengan selamat."
"Ya, terima kasih Ara. Aku sangat senang jika kau menunggu kepulanganku." Nada bicara Samuel sedikit menggoda Bella yang hanya terkekeh sebagai respons, sebelum kemudian keduanya memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon.
Setelah memasukkan ponsel kembali ke dalam tas, Bella beranjak dan melangkah untuk kembali ke ruang perawatan ibunya. Saat ia membuka pintu, Bibi Rosi menoleh ke arahnya.
"Apa Mommy masih tidur?" tanyanya pada Bibi Rosi yang berdiri di sisi ranjang.
"Masih Nona. Sejak diberikan suntikan pereda rasa sakit, Nyonya Miranda masih belum membuka mata," sahut Bibi Rosi memaparkan.
Bella menatap iba wajah Mommy Miranda. Wajahnya yang lima tahun lalu nampak berseri dan awet muda, kini terlihat lebih kurus dan dipenuhi dengan guratan kasar. Jika saja keluarganya masih memiliki kekayaan, ibunya itu masih akan menjalani perawatan kecantikan.
"Bibi duduk saja dan beristirahatlah. Biar aku yang menjaga Mommy," ujar Bella dengan suara sendu, sejenak memandangi wajah ibunya.
"Bibi tidak lelah, Bibi baik-baik saja. Sebaiknya Nona saja yang beristirahat. Bukankah tadi malam Nona hanya tidur dua jam saja," sahutnya. "Nona pasti tidak bisa tidur karena memikirkan ibu Nona." Wanita setengah baya itu nampak perihatin dengan keadaan Bella yang terlihat begitu kelelahan. Bekerja seharian penuh tentulah tidak mudah, terlebih harus bergantian berjaga di rumah sakit.
"Aku baik-baik saja, Bibi. Tadi malam aku memang tidak bisa tidur dan memikirkan hal yang lain." Lebih tepatnya ia memikirkan kejadian saat di VIP room bersama Eden. Ia yang terhipnotis dengan tatapan Eden, tidak mampu menggerakkan sendi-sendi di tubuhnya, dan hanya terpaku pada wajah Eden yang semakin mendekat ke arahnya, hingga bibir mereka bersentuhan dan Eden sedikit melumattnya sebelum akhirnya panggilan dari ponsel Eden menyadarkan mereka.
Eden menjawab panggilan yang ternyata dari tunangannya. Entah kenapa ia merasakan perih saat pria itu menjawab setiap pertanyaan dari tunangannya. Hal itu yang membuatnya tidak dapat terlelap dan ia tidak tahu jika Bibi Rosi mengamati dirinya.
Hanya dengan mengingat sentuhan bibir Eden, dada Bella berdesir sekaligus sesak bersamaan.
"Kau baik-baik saja Kak?"
"Astaga Arsel!" Bella yang terkejut dengan keberadaan Arsel yang sudah berdiri di belakangnya membuat tangan Bella menepuk pelan bahu sang adik dan Arsel hanya terkekeh sembari menghindari tepukan di bahunya. "Kenapa kau sudah berada disini? Bukankah kau masih harus kuliah?" tanyanya kemudian.
"Aku hanya ada dua kelas saja hari ini, karena itu aku langsung datang ke rumah sakit," sahut Arsel mengalihkan pandangannya ke arah ibunya yang masih terbaring lemah. "Apa Mommy baik-baik saja? Kenapa wajah dan tubuhnya semakin lama semakin kurus?" Arsel tidak dapat menahan rasa sedihnya kala melihat tubuh Mommy Miranda yang semakin hari semakin kehilangan berat tubuhnya.
"Mommy akan segera pulih. Aku akan mengusahakan mencari uang untuk biaya operasi."
"Dari mana kau akan mendapatkan uang dalam satu hari saja kak?" Diam-diam kedua mata Arsel mendelik curiga.
"Hm, temanku mengatakan akan meminjamkan uangnya dan aku bisa menggantinya sedikit demi sedikit." Bohong. Dari mana ia mendapatkan pinjaman, ia saja tidak tahu harus meminjam kepada siapa.
"Apa Kak Sam yang meminjamkan uangnya pada kakak?"
Bella menggeleng cepat. "Tidak. Sam masih tidak tau apa-apa tentang keadaan Mommy. Karena itu kau juga tidak boleh mengatakan apapun padanya."
Arsel mengangguki perkataan kakaknya itu. Tetapi ia masih penasaran dengan teman yang dikatakan oleh sang kakak. "Lalu teman siapa yang kau maksud Kak? Apa Kak Lily?" Sedikit ragu dan ia merasa tidak mungkin. Karena ia pun mengetahui keadaan Lily yang tidak berbeda jauh dengan kehidupan mereka.
"Teman di kerja partime. Sudahlah kau tidak perlu mencemaskan apapun. Dan sekarang aku harus kembali bekerja, kau dan Bibi Rosi bisa bergantian berjaga, malam ini mungkin aku akan terlambat pulang." Bella tidak ingin Arsel semakin mendesaknya, sehingga ia segera berlalu dari ruangan, tanpa menunggu jawaban dari Arsel dan tanpa berpamitan pada Bibi Rosi.
Tiga puluh menit dalam perjalanan, Bella sudah kembali ke restauran. Seperti ucapannya pada asisten manajer Robbin, ia hanya pergi sebentar saja.
"Ara, astaga. Kau dari mana saja?" Lily yang begitu cemas segera menghampiri temannya yang baru saja masuk ke dalam ruangan loker.
"Aku hanya memastikan keadaan Mommy."
"Memangnya Bibi Miranda kenapa? Apa yang terjadi dengan Bibi Miranda?" Lily mendesak penuh, ia begitu cemas dengan keadaan ibu teman baiknya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Mommy baik-baik saja. Hanya perlu beristirahat."
"Ah, syukurlah." Lily mengusap dada penuh kelegaan. Lalu ia teringat akan tujuannya mendatangi Bella. "Oh Gosh, aku lupa menyampaikan sesuatu untukmu."
"Menyampaikan apa?" Kening Bella mengerut ke dalam. Ia bisa melihat wajah cemas Lily saat ini.
"Nyonya Smith datang mencarimu, saat ini mereka menunggumu di ruangan Bos Sam."
"Nyonya Smith? Ibu Sam ada disini?" Bella begitu terkejut dan ia mencoba memastikan akan perkataan Lily itu.
Lily menjawab dengan anggukan kepala dengan sorot mata yang serius. "Benar, dia datang dengan seorang wanita cantik."
"Kalau begitu aku akan ke ruangan Sam." Bella yang baru saja hendak melangkah di tangan lengan oleh Lily.
"Kau berhati-hatilah, Ara. Nyonya Smith dan Bos Sam sangat berbeda. Bos Sam sangat baik sedangkan Nyonya Smith sangat angkuh." Nampak kecemasan pada raut wajah Lily. Ia tidak tahu tujuan wanita tua itu ingin berbicara dengan teman baiknya. Tetapi yang pasti itu bukan hal baik.
"Kau tenang saja. Nyonya Smith tidak akan macam-macam." Bella berusaha menyakinkan Lily. Ia segera berjalan menuju ruangan Samuel. Sebenarnya ia merasa cemas akan kedatangan Nyonya Smith yang begitu tiba-tiba. Selama dua tahun ini ia sudah tahu bagaimana perangai ibu kandung dari Samuel. Salah satu alasan ia selalu menolak bantuan berupa uang dari Samuel adalah karena Nyonya Smith tidak menyukai dirinya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
cpt ditamatin aj thor. hehehee
jangan suka nabung bab napa
ayuuk ndang up thor,, cerita seru lho
apalagi cogannya waahh
maaf y thor....
ada apakah?..