Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau tidak melihat cuaca yang sangat dingin?" tanya Zavier seperti biasa dengan tatapan tajam nya.
Siho berdiri dari duduknya dan menghampiri Sofia juga Zavier.
"Lebih dingin lagi tatapan mu kepada nya," kata Siho sambil tersenyum.
"Kau yang membawa nya ke sini?" ujar Zavier yang terlihat geram dengan Siho.
"Aku tidak sengaja melihat nya menangis,jadi aku mengajaknya ke sini sekaligus berkenalan, karena tidak mungkin kan aku tidak berkenalan dengan istri sepupuku sendiri," kata Siho dengan wajah terlihat mengejek Zavier.
"Sebaiknya kau segera memeriksakan keadaan kakek, jangan banyak membuang-buang waktu mu untuk berkenalan dengan istri orang," kata Zavier yang kemudian menarik tangan Sofia pergi meninggalkan tempat tersebut.
Siho teridam, namun di hatinya mulai menaruh sedikit kecurigaan terhadap hubungan suami istri antara Sofia dan Zavier ini.
"Seperti nya mereka tidak terlihat saling mencintai, aku harus tau lebih banyak soal mereka," batin Siho yang kini sudut bibirnya tersenyum tipis penuh makna.
Sementara itu Zavier menarik Sofia ke dalam kamar nya.
"Lepaskan, kak Zavier lepaskan! Ini sakit!" Teriak Sofia yang kini meninggikan nada bicara nya di hadapan Zavier.
Brukh ...
Zavier menarik Sofia dan mendorong tubuh ringan gadis itu sehingga Sofia kini terduduk di Sofa tempat ia tidur.
"Kau sangat berani ternyata," ucap Zavier yang kini berdiri di hadapan Sofia sambil melongarkan dasi yang membelit di leher kemeja hitam nya.
"Aku tidak melakukan apapun!" kata Sofia yang kini menatap Zavier dengan tatapan takut.
"Siapa yang meminta mu berkomunikasi dengan Siho? Siapa yang mengijinkan?" kata Elgara yang kini mengungkung Sofia di sofa tersebut.
Tak bisa author gambarkan bagaimana posisi mereka, yang jelas Sofia duduk di Sofa dengan mencengkram kuat dress nya, menahan rasa takut, sementara itu Zavier memegang dua sisi sandaran Sofa di samping kiri dan kanan Sofia sambil sedikit membungkuk menatap wajah merah Sofia yang terlihat ketakutan.
"Aku tidak sengaja, lagipula ada apa kak, bukan nya dia sepupu mu sendiri?" kata Sofia berusaha menenangkan diri untuk bisa menjawab pertanyaan Zavier.
Zavier yang marah kemudian mencengkram dagu Sofia dengan tatapan tajam nya ia benar-benar terlihat ingin memakan Sofia.
"Dengar kan aku baik-baik, mulai detik ini, jangan pernah berkomunikasi dengan dia, atau aku akan memberikan mu hukuman," kata Zavier dengan nafas memburu.
Sofia hanya bisa menatap mata Zavier yang terlihat sangat tajam, ia menitikkan air mata untuk yang ke sekian kalinya, karena merasa takut.
Melihat Sofia yang kembali menagis Zavier pun melepaskan nya dan kemudian berjalan meningalkan Sofia sendirian. Ia memilih masuk ke balkon untuk menenangkan diri nya.
"Kenapa dia sangat marah? Aku bahkan tidak bicara apa-apa kepada Siho karena aku juga memikirkan konsekuensi," ujar Sofia.
Mental Sofia yang sudah down kini semakin down karena tingal di mansion nya Zavier juga bukan hal yang biasa membuat nya tenang, kalau di pikir-pikir, Zavier juga sama galak nya dengan mama Rusita hanya saja dia tidak kejam seperti Rusita.
"Tuhan, usia ku baru saja dua puluh tahun, kenapa aku harus mendapatkan tekanan yang begitu besar seperti ini? Aku sangat takut," kata Sofia sambil menangis menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
Sementara itu Zavier menyesap rokok nya di balkon kamar, sudah lama dirinya tak menyesap rokok setelah menikah dengan Sofia ini adalah pertama kalinya ia terlalu marah.
"Kenapa aku sangat aneh? Kenapa aku harus semarah ini?" Zavier bahkan tidak mengerti akan apa yang terjadi dengan dirinya sendiri setelah ia sedikit tenang.
Beberapa jam Zavier memilih untuk menenangkan diri di balkon kamar nya, beberapa puntung rokok pun mulai jatuh di balkon tersebut, hanya rokok lah yang bisa membuat Zavier tenang untuk saat ini.
"Siho, aku tau rencana licik nya, dia pasti sengaja bersikap baik dan mendekati Sofia untuk mengorek informasi, dia pikir akan semudah itu? Dasar murahan," umpat Siho.
Hubungan sepupu yang memang sudah retak ini, kini semakin retak karena ada pemicu yang memicu keretakan ini menjadi semakin besar.
Jam kini menujukkan pukul 12.12
Zavier kembali ke kamar nya setelah ia menenangkan diri begitu lama di balkon kamar.
Iya melihat ke Sofa dan mendapati Sofia yang saat ini sedang tidur dalam keadaan meringkuk di atas sofa tanpa selimut.
Zavier yang melihat itu pun berjalan mendekatinya, entah kenapa saat melihat gadis mungil seperti Sofia yang sedang tidur pulas terlihat tidak berdosa sedikit pun membuat Zavier merasa bersalah.
"Apakah aku terlalu galak?" Batin Zavier sambil merenung di hadapan Sofia yang sedang tertidur.
Ia kemudian membungkuk dan mengamati Sofia.
Saat tidur wajah Sofia malah terlihat lebih cantik, bahkan sangat cantik, ia terlihat polos dan juga mungil dengan tubuh nya yang tak terlalu besar dan juga tak terlalu tinggi.
"Badan nya cukup kurus," kata Zavier sambil memeprhatikan pergelangan tangan Sofia.
Kini rasa iba dan kasihan memenuhi hati Zavier, dia menyesal sudah bersiap terlalu kasar kepada Sofia yang masih berusia dua puluh tahun.
Zavier pun kembali berdiri dan kemudian mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Sofia.
Keesokan harinya ...
Zavier terbangun dari tidurnya, jam sudah menujukkan pukul sembilan pagi, ia tidur terlalu lama karena tadi malam ia juga tidur sangat larut.
"Astaga," keluh nya yang kini merasa pusing karena bangun ke siangan.
Sementara itu dirinya segera ingat dengan Sofia, ia menoleh ke arah Sofa, tempat di mana Sofia tidur.
Di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi, sudah sangat rapih, tidak ada Sofia juga.
Zavier pun segera turun dari ranjang nya dan kemudian berjalan menuju kamar mandi sambil membawa handuk.
"Kemana anak itu pagi-pagi seperti ini sudah menghilang," batin Zavier penuh tanda tanya.
Sementara itu di taman dekat mansion.
"Kakek kita sudah sampai," kata Sofia yang ternyata menemani kakek Wiliam untuk berjemur di matahari pagi dekat taman mansion yang luas itu.
"Terima kasih Sofia, kau sudah menemani kakek, biasanya kakek ke sini bersama kepala pelayan dan dia hanya mengantarkan saja," kata sang Kakek terlihat lebih bahagia karena sekarang ada yang menemani nya bicara ketika dia sedang terapi dengan hangat nya matahari pagi.
"Tidak masalah, mulai sekarang aku lah yang akan menemani Kakek," ucap Sofia yang kini mengatur tempat duduk di bawah rumput tebal, tepatnya di samping kursi roda sang kakek.
Kakek Wiliam tersenyum hangat melihat tingkah lucu Sofia, dia sama sekali tidak bersifat sombong ataupun malas meskipun sudah menjadi seorang istri dari Zavier sang pewaris Atharyan.
Bersambung ....
gak guna!