NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:59.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?

Tinggal sejengkal lagi bibir Jovian menggapai sesuatu di balik kain kacamata. "Aku ingin melakukan ini sejak lama. Dan baru saat ini aku bisa-" Suara dering ponsel mendadak memecah kecamuk batinnya. "Argh!" Jovian menggeram dalam hati dan langsung menghentikan gerakannya. Ia mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata beberapa detik.

Ponsel itu terus berdering tanpa ampun. "Sial!" makinya masih dalam hati seraya bangun dari atas tubuh Jena.

Jena pun buru-buru bangun dan memakai kembali dressnya. Wajahnya memerah karena malu bercampur nafsu. "Angkat Mas," ucapnya pelan.

Jovian mengusap wajahnya kasar sebelum merogoh saku celana. Saat melihat nama yang muncul di layar, ia langsung mendengus. "Kenapa sih Papa harus nelepon sekarang?" gumamnya pelan.

Jena yang sempat melirik layar ponsel langsung menahan senyum. "Cepat angkat, Mas. Nanti Om Bimo marah."

Dengan pasrah, Jovian menerima panggilan itu. "Halo, Pa."

Suara berat Bimo langsung terdengar dari seberang. "Kamu di mana?"

"Di apartemen Jena."

"Masih lama?"

Jovian melirik ke arah Jena yang spontan menundukkan wajah karena malu. "Ada apa?" Ia malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

"Pulang sekarang. Ada hal penting yang ingin Papa dan Mama bicarakan."

Jovian mengernyit, tapi akhirnya menjawab, "Iya. Bentar lagi aku pulang."

"Sekarang, Jo. Jangan bentar-bentar," desak Bimo tegas.

Jovian menarik rambutnya agak frustrasi. "Iya, iya. Aku pulang sekarang."

"Buruan. Jangan lelet. Penting."

"Iya, Pa. Iya." Jovian sedikit kesal. Suasana kamar perlahan kembali tenang setelah panggilan dari Bimo berakhir.

Jovian duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya. Untuk beberapa saat ia hanya diam. Tatapannya kemudian beralih kepada Jena yang sejak tadi duduk tak jauh darinya. Ada rasa bersalah yang perlahan muncul di dalam dirinya. Ia meraih tangan Jena dan menggenggamnya pelan. "Sayang."

"Hm?"

Jovian mengembuskan napas panjang. "Maaf."

Jena menoleh. "Maaf untuk apa, Mas?" cicitnya.

"Aku kebablasan."

Pipi Jena langsung memanas mengingat kejadian beberapa menit lalu. Ia pun tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Aku juga salah. Seharusnya tadi aku ngingetin, Mas."

"Tetap aja." Jovian menunduk sejenak sebelum mengangkat tangan dan mengusap lembut pipi Jena. "Aku seharusnya lebih bisa ngontrol diri dan nafsu."

Jena menggeleng pelan. "Udah, nggak usah dipikirkan."

Jovian menatap Jena beberapa detik. Kemudian ia mencondongkan tubuh dan mengecup lembut kening Jena. Lama. Penuh rasa sayang sekaligus permintaan maaf.

Jena memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan hangat itu. Begitu Jovian menjauh, gadis itu tersenyum. "Udah?"

"Belum." Jovian mencubit pelan pipinya.

Jena langsung terkekeh. "Kamu tuh. Nanti kebablasan lagi."

Jovian menyengir. "Hehe ... nggak dong."

Beberapa saat mereka kembali mengobrol ringan hingga akhirnya Jovian melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku pulang dulu ya."

Jena mengangguk. "Iya, sana pulang. Nanti Papa mertua marah."

"Nggak diusir juga kali." Mata Jovian mendelik lucu, dibuat-buat.

"Daripada nanti diteleponin lagi."

Jovian berdiri sambil merapikan kemeja  dan rambutnya yang sedikit berantakan karena jambakan Jena tadi. "Oke, Bu Jena. Calon suamimu ini mau pulang dulu ya."

Jena tertawa renyah. "Siap, Mas calon suami. Yuk aku antar."

Mereka berjalan bersama keluar dari kamar, menuju pintu depan sambil bergandengan tangan. Begitu sampai di depan pintu, Jovian mengenakan kembali jasnya yang tadi sempat dilepas.

Jena berdiri di hadapannya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Nyetirnya jangan ngelamun."

"Iya, Sayangku."

"Kalau udah sampai rumah jangan lupa kabarin aku."

"Iya, permaisuriku."

"Jangan lupa makan, terus mandi."

"Iya." Jovian tersenyum geli. "Cerewet!" Ia menarik hidung Jena. Membuat kekasihnya itu mendengus pelan. Jovian kembali meraih tangan Jena lalu mengecup punggung tangannya singkat. "Makasih buat hari ini."

Jena tersenyum hangat. "Iya, Mas. Makasih juga udah bikin aku senam jantung."

"Heh! Jangan mulai!" Jovian mengacak rambut Jena.

Untuk sesaat keduanya hanya saling menatap. Lalu Jovian mencondongkan tubuh dan sekali lagi mengecup kening Jena sebelum mundur beberapa langkah. "Dadah, Sayang."

"Dadah Mas Jovianku."

Jovian berjalan menuju lift. Jena masih berdiri di ambang pintu memperhatikannya. Saat pintu lift terbuka, Jovian sempat menoleh dan melambaikan tangan.

Jena membalas lambaian itu sambil tersenyum. Barulah setelah pintu lift menutup dan sosok Jovian menghilang dari pandangan, Jena masuk kembali ke dalam apartemen. Senyum kecil masih bertahan di wajahnya.

Sementara di dalam lift, Jovian juga tak bisa menyembunyikan senyumnya sendiri. Sore itu, meski harus pulang lebih cepat dari yang diinginkannya, hatinya tetap terasa ringan karena satu hal. Jena masih ada di sisinya.

Begitu pintu apartemen tertutup, Jena langsung menyandarkan punggungnya sejenak di sana. Ia mengembuskan napas panjang. Pipinya masih terasa hangat setiap kali mengingat kejadian beberapa menit lalu. "Ish, Jena ..." gumamnya malu pada diri sendiri.

Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan sebelum akhirnya berjalan cepat menuju kamar. Bayangan pergulatannya tadi dengan Jovian terus berseliweran dalam ingatan. Bagaimana  lelaki itu menyentuhnya dengan sangat lembut. Menekan titik-titik sensitifnya hingga bagian paling pribadinya basah. "Ihh ... malu banget! Kamu gampangan banget sih, Jen. Ya ampun!" Jena memukuli pipinya pelan. "Udah ah, jangan mikirin itu terus." Ia membuka pintu kamar dengan cepat. Sesampainya di dalam, Jena mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian suara shower memenuhi ruangan. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, perlahan membantu meredakan rasa gugup dan malu yang sejak tadi belum juga hilang.

Jena memejamkan mata sambil membiarkan air mengalir di atas kepalanya. Kali ini bayangan wajah Jovian muncul lagi, tapi yang meminta maaf, bukan yang sedang bergairah. Senyum kecil pun muncul di bibirnya. "Dasar Mas Jovian ..." Meski sempat merasa canggung, Jena tahu bahwa Jovian berusaha menghormatinya dan menahan diri. Justru itulah yang membuat hatinya semakin hangat.

Setelah selesai membersihkan diri, Jena mematikan shower dan mengenakan pakaian tidur yang nyaman. Ia lalu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

Tak lama kemudian ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari Jovian.

Mas Jovian: Sayang, aku udah kangen lagi.

Jena yang membacanya langsung terkekeh. "Ya ampun, baru aja kita ketemu, Mas."

Tak sampai beberapa detik, balasan kembali masuk.

Mas Jovian: Iya. Seandainya tadi Papa nggak nelepon, aku pasti masih di sana.

Jena menggeleng geli sambil tersenyum. "Ya, iya. Besok ke sini lagi. Mas nginep di sini."

Mas Jovian: Oke, Sayang. Besok aku bakal nginep. Eh, udah dulu ya. Lampu merahnya udah berubah jadi hijau. Aku mau jalan lagi.

"Iya, Mas. Hati-hati." Ia merebahkan tubuh di atas ranjang dengan perasaan yang jauh lebih tenang. "Duh, liburan ke Jepang tinggal menghitung hari. Aku beneran udah nggak sabar ingin segera menghabiskan waktu berdua dengan Jovian. Dan mudah-mudahan di sana ... dia menyematkan cincin di jari manisku."

1
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!