NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Suasana yang berubah.

Yang ada di dalam pikiran Prisha saat ini adalah bagaimana cara ia mendapatkan catatannya kembali. Saat turun dari mobil pun tidak ada ekspresi seperti biasanya, dia berjalan tanpa menoleh seperti sensor yang langsung mengarahkannya untuk menuju ke kamar.

“Eh, bukannya tadi pagi Prisha tampak bahagia, Ma?” Jaila menunjuk Prisha yang berlalu begitu saja seolah mereka yang dilewati merasa dalam keadaan transparan.

“Iya, ada apa dengannya?”

Kemudian kehadiran Bora menyusul, gadis itu langsung menuju ke tempat Jaila dan Ratih duduk. Bora membawa kotak di tangannya, lalu memberikan kotak itu ke Jaila.

“Ini dibelikan Nona Prisha untuk Nona Jaila. Dia menitipkan ini untuk diantarkan langsung.”

Jaila menatap kotak yang ia terima sebentar, dari kotaknya saja sudah jelas bahwa itu adalah donat. Jaila memang suka yang manis-manis, namun daripada itu ia lebih penasaran dengan apa yang terjadi pada Prisha.

“Prisha ... dia ....”

“Saya juga tidak tahu, Nona. Ekspresinya sudah seperti itu sejak dari kampus.” Bora kemudian membungkuk pamit pada Ratih dan Jaila.

Sejak itu Prisha tidak keluar dari kamar, cuman Bora yang keluar masuk ke dalam kamarnya namun tetap saja ketika ia ditanya Bora tidak tahu selain Prisha yang tampak termenung di meja belajarnya.

Langit telah gelap, bahkan Nares dan Saka sudah berada di rumah. Mereka semua berkumpul di meja makan, tersisa satu orang yang belum hadir dan entah kenapa suasananya terasa dingin.

Tampaknya Saka juga terheran, dia memandang bangku tempat Prisha biasa duduk dengan kernyitan heran. Saka mulai memandang ibunya seolah dia sedang bertanya, tapi ibunya mengangkat bahu.

“Bora,” panggil Ratih pada pelayan muda itu yang hendak pergi membawa nampan. Saat Bora berhenti dan menoleh, Ratih bertanya, “Apakah Prisha yang mengatakan ia akan makan di kamar?”

“Tidak, Nyonya. Saya pikir Nona Prisha tidak akan turun, jadi lebih baik membawakan makan malam ke dalam kamarnya.”

“Letakkan dulu itu, Saka akan pergi menjemputnya.”

“Aku?!”

Saka menunjuk dirinya sendiri, dia hampir saja tersedak. Kenapa Ratih selalu melakukan sesuatu tanpa persetujuannya? Melihat wajah serius Ratih, Saka menghela napas pasrah sembari menahan kesal oleh kekehan diam-diam Nares yang terasa seperti mengejek.

Mau tidak mau dia berdiri dari tempat duduk. Meskipun rasanya mengesalkan, tidak dipungkiri ia juga penasaran oleh sikap dingin Prisha yang begitu tiba-tiba.

“Prisha, kau di dalam?”

Dia mengetuk pintu beberapa kali, tidak ada jawaban. Karena Bora sering bolak balik, tidak mungkin pintu itu terkunci. Maka ia mendorong pintu itu secara mandiri. Kalau dipikir, ini pertama kalinya ia menyentuh pintu kamar Prisha walaupun tempat itu tepat di sebelah kamarnya.

Saka diam sejenak. Ruangan itu gelap, tiada lampu yang menyala. Ini seperti masuk ke dalam ruangan korban bunuh diri, Saka berharap ia tidak menemukan mayat sehabis ini.

“Prisha?”

Tiba-tiba lampu menyala, sekarang Saka bisa melihat seluruh ruangan dengan jelas. Prisha berdiri di depan saklar lampu—dia yang menyalakan lampu—dengan tatapan terkejut. Kenapa dia terkejut? Seharusnya Saka yang terkejut.

“Kak Saka? Tumben ke kamarku?”

Prisha tersenyum. Ini tidak seperti yang dikatakan oleh keluarganya tentang Prisha yang murung. Lalu perhatian Saka jatuh ke meja belajar yang sangat berantakan, kemudian tangan pakaian putih Prisha yang terkena noda tinta.

“Kenapa belum turun? Ini waktunya makan malam, apa kau sudah lupa waktunya?”

Prisha menoleh ke arah jam dinding. “Benar, aku lupa. Baiklah aku akan turun setelah mengganti pakaian, Kak Saka duluan saja.”

Prisha melambaikan tangan, seolah-olah menyuruh Saka untuk cepat pergi dari kamarnya. Saka cuman mengangguk, ia menutup pintu dengan rapat kemudian bersandar di belakangnya. Sepertinya keluarganya benar, Prisha memang murung meskipun gadis itu menyembunyikan hal tersebut dari Saka.

Bukannya kembali ke meja belakang, Saka masuk ke dalam kamar di sebelahnya—kamar Saka sendiri. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu menghubungi nomor yang tidak bisa dihubungi akhir-akhir ini.

“Ck, apa kau sudah mati sampai tidak bisa dihubungi seperti ini?!” Saka melemparkan ponsel itu ke atas kasur.

Jika saja D bisa dihubungi, mungkin saja dia tahu apa yang terjadi dengan Prisha. Tidak ada yang lebih mengenai Prisha di dunia ini selain D.

Sudah berapa lama gadis itu berada di rumahnya? Kenapa suasana hati Prisha dapat mempengaruhi semua orang di rumah? Bahkan Saka sempat mendengar gumaman sang koki yang berharap suasana hati Prisha secerah tadi pagi.

Karena pintu kamarnya tidak tertutup rapat, Saka bisa mendengar suara pintu terbuku dari kamar sebelah. Cepat-cepat Saka bergerak, kemudian bersikap santai ketika mendekati pintu.

“Kak Saka belum turun?”

“Ah, ada yang perlu kuambil di sini. Jalanlah duluan.”

Ketika Prisha patuh jalan terlebih dahulu, Saka masih terheran padahal tahu Prisha sedang murung. Kalau menurut pengalaman sebelumnya, Prisha pasti akan merengek untuk jalan berdampingan, dia akan memeluk lengan Saka sangat erat.

Sungguh tidak biasa melihatnya seperti itu, padahal dengan begini Prisha tampak tidak banyak tingkah dan pendiam. Sungguh Saka penasaran, dia harus mencari tahu apa yang terjadi nanti.

“Ah, Prisha akhirnya kau datang. Terimakasih donatnya, itu enak banget,” sambut Jaila.

“Syukurlah Kakak suka,” jawab Prisha sambil menarik bangku di sebelah Saka. “Padahal aku sempat bingung mau membawakan apa, di kantin kampus ada banyak macam kue dan camilan.”

“Pilihanmu tepat, aku memang lagi kepengen donat tadi.”

Di sisi lain, Nares menyenggol lengan Saka. Saka tidak ingin memedulikannya, namun Nares terus mengganggunya. Mau tidak mau Saka menoleh, “Kenapa?” tanyanya berbisik.

“Setelah menjemput Prisha kau jadi tampak aneh.”

“Aneh bagaimana?”

Nares berpikir sambil menjepit dagunya sediri. Dia mulai menatap Prisha, kemudian kembali lagi ke Saka. Setelah membuat perbandingan dia mendapatkan jawabannya. “Sebelumnya kau acuh tak acuh, sekarang kau tampak peduli. Kenapa melihat gadis itu terus?”

Benarkah? Saka tidak sadar jika sejak tadi matanya tertuju pada Prisha. Untung saja Nares mengingatkan, akan tetapi ekspresi Nares semakin menyebalkan. Entah apa yang dipikirkan sepupunya ini, satu hal yang pasti, dia berharap Saka dapat menahan Prisha di sini apapun caranya meskipun harus menikah dengan adik dari pembunuh ayah mereka.

“Nak jika ada masalah katakan pada Bibi.”

Saka menoleh lagi ke Prisha, ia benar-benar ingin tahu masalahnya, mengabaikan Nares yang kembali menyenggol-nyenggol lengannya.

”Eh? Tidak ada masalah kok, Bibi.”

Prisha tersenyum, kemudian memasukkan sayur ke dalam suapan. Dia seperti ingin menghindari pertanyaan dengan berpura-pura fokus makan. Jika ia sedang mengunyah seperti itu, orang yang mengajaknya bicara adalah orang tidak tahu tata krama. Tidak ada orang yang seperti itu di lingkaran ini, semua terpaksa diam.

Bersambung....

1
Aiden Den
up
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!