Sequel : Burning Passion In Love!
Stefano, Casanova bastard yang sangat dingin. Prioritas utama adalah membalas dendam pada keluarga Weldon.
Dengan 2 saudaranya, Stefano berlayar menjadi seperti Ayahnya. Seorang Mafia kejam dan Pengusaha sukses.
Sebuah taktik keji mengharuskan di antara 3 pria kejam maju untuk menikah dengan Putri Mr Weldon. Alhasil Stefano yang maju untuk menikah dengan gadis baru lulus SMA.
Kisah rumit yaitu : cinta, dendam, benci, pembunuh dan gairah melebur menjadi kesatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPIL 2 - Meet My Family!
Hayoo, siapa yang ngga sabar baca Bang Stef dan Kevin bertemu Mommy and Daddy?
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Happy Reading Guy's!
***'•'~'•'***
Stefano membisu mendengar rahasia Adam. Perasaannya campur aduk membuatnya pusing. Dia tidak percaya apa yang di dengar jauh menyakitkan. Rasanya begitu menyesakan sampai air matanya luruh deras. Ini pasti bohong itu tidak mungkin terjadi. Stefano menggeleng tidak percaya akan cerita Adam.
Semua penjelasan Adam terus terngiang membuat Stefano hancur lebur. Dia sangat tersiksa ingin berteriak itu semua bohong. Jika boleh jujur ia sangat bahagia mendengar kebenaran itu. Stefano sangat bahagia kelima orang yang dicintai masih hidup. Hatinya begitu remuk jika ingat Queenaia.
Adam menepuk bahu Stefano berusaha agar Stefano tidak terpuruk. Dia sangat tahu perasaan menantunya yang sangat menderita akan kebenaran ini. Ia tahu menantunya begitu tersiksa sehingga semua terasa kalut. Perasaan, lega, senang, bahagia, kecewa, pedih, kepiluan dan segala sesuatu menjadi satu.
Seluruh kebahagiaan Adam labuhkan agar Stefano dan Kevin bahagia. Semoga saja kesakitan itu terbayar manis. Semoga saja Stefano dan Kevin lekas bahagia agar menjadi pria baik seperti orang tua mereka. Adam berharap Stefano tidak terlalu menyesal akan kebenaran itu.
"Nak, kamu tidak apa-apa? Tolong katakan sesuatu agar Paman tidak khawatir."
"Kamu bohong, itu bohong. Ayah dan Ibuku telah tiada. Paman, Bibi dan Kaviya juga telah meninggal. Tolong jangan mempermainkan hidupku, Weldon," pinta Stefano di iringi air mata.
Adam menyentuh pipi Stefano dan memberikan usapan untuk menyeka air mata itu. Dia tersenyum saat pria ini diam tanpa perlawanan. Ya Tuhan, beri kekuatan menantunya untuk melangkah. Adam raih tangan kekar Stefano dan memberikan sebuah ponsel berisi foto terakhir mereka (dia dan Zefer) berjumpa.
Stefano meraih ponsel dan mengusap layar ponsel. Air matanya luruh deras melihat Ayahnya yang sangat di rindukan. Dia dekap ponsel Adam dengan perasaan campur aduk. Stefano mendongak menatap Adam meminta penjelasan.
"Itu terakhir saat Paman pergi ke Spanyol dan mampir ke Australia menemui mereka. Nak, jika kamu ragu bunuh Paman jangan sungkan. Kamu bunuh Paman sekarang Paman ikhlas. Ini alamat mereka tinggal dan ingat jangan sampai ada orang yang tahu kamu ke sana. Kamu tiba pura-pura di makan orang tuamu di canberra lalu saat ke Albury gunakan angkutan umum (Bus). Jangan sampai orang lain tahu kamu ke Albury. Sampai di Albury kamu ke halte bus lagi untuk menuju desa ini. 3 jam baru kalian sampai desa ini. Dengarkan Paman, tolong kamu dan Kevin harus beracting seolah kalian tetap benci, Paman. Lakukan sandiwara sebaik mungkin seolah kalian membantai kami nanti. Tersenyum jangan menangis Putraku yang nakal. Sekarang Stef dan Kevin harus bersama ke Albury meraih segala kebahagiaan."
"Kenapa Anda melakukan ini? Kenapa kau tetap baik pada kami? Aku sudah menghancurkan Weldon, menyakiti Queenaia dan berencana membantai kalian. Semua yang Anda katakan akan kami ingat jangan khawatir."
"Karena kalian keponakan terbaik dan Ayahmu adalah segalanya. Aku juga sangat menyayangi Thomas seperti Adik sendiri. Tidak ada alasan apa pun semua lantaran Paman sama seperti Ayahmu. Paman tahu saat itu Stef dan Kevin kami masih di jalan salah penuh dendam. Sebagai Paman saya akan menuntun kalian pada cahaya. Kata Ayahmu yang penuh kebaikan itu memaafkan lebih baik dari pada membenci. Lagian kalian keponakan Paman sendiri. Sedari kecil Paman yang mengganti popok kalian. Menggendong dan menyayangi kalian sepenuh hati. Bahkan Stef-ku ini tidak pernah bisa lepas dari Pamannya saat bermain dulu. Sekarang pulang hampiri Kevin ajak Adikmu pergi ke Canberra sekarang. Queen-mu akan kami jaga sepenuh hati. Jangan takut karena kami akan melindungi Istrimu. Pergi raih kebahagiaanmu, bak!"
"Paman," lirih Stefano tidak bisa membalas perkataan Adam.
Adam merentangkan tangan menyambut Stefano dalam dekapannya. Dia menangis saat putra Zeferino merengkuh erat tubuhnya sembari mengatakan maaf dan terima kasih. Dia ciumi puncak kepala anaknya yang sangat di sayangi. Adam sudah mengaggap Stefano, Kevin dan Kaviya sebagai anak. Ia sangat menyayangi anak-anak sahabatnya.
Stefano hanya bisa merengkuh sembari mengatakan maaf akan penyesalan membelenggu. Dia terus mengatakan terima kasih pada Adam. Ia juga akan meminta maaf pada Queenaia selama ini di sakiti tanpa perasaan. Stefano sangat menyesal telah menyakiti perasaan Istrinya berulang kali. Dia akan memberikan segala kebahagiaan usai misi terakhir selesai. Penyesalan itu membelenggu, tetapi Stefano harus kuat agar semua terselesaikan secara baik-baik.
***'•...•'***
Stefano mengecup kening Queenaia penuh perasaan. Ia genggam tangan mungil Istrinya karena sangat bahagia Istrinya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Dia kecup pelupuk mata Istrinya penuh cinta. Stefano mengusap rambut Queenaia serat akan penyesalan dan kebahagiaan.
"Sayang, tunggu aku pulang ya. Aku usahakan orang pertama yang kamu lihat adalah aku. Tidur yang nyenyak jangan bangun dulu sebelum aku datang. Queen, aku pergi dulu doakan kebahagiaan menyertai kami. Queen, maafkan aku yang tega berulang kali menyakiti perasaanmu. Istriku, aku sangat mencintaimu sepenuh hati. Semoga kita bisa bahagia setelah badai berhenti. Aku sangat mencintaimu, Istriku!" bisik Stefano.
Stefano melangkah pergi meninggalkan Queenaia. Dia melihat Adam sekilas seraya tersenyum penuh arti. Ia berjalan menuju parkiran untuk siap-siap ke Australia. Mobil sport Lamborghini itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju markasnya.
Sampai rumah Stefano meminta pilot pribadinya untuk melakukan perjalanan ke Australia. Tepat di belakang rumah Stefano memiliki tempat untuk lepas landas jet pribadi. Stefano berlalu menghampiri Kevin sedang merencanakan taktik berbisnis.
"Ayo pergi, Kevin!"
"Kemana? Nanti malam ada rapat antar petinggi perusahaan. Apa Kakak lupa?"
"Tidak usah banyak bicara. Nanti aku ceritakan semuanya. Sekarang bawa dompet dan tinggal ponselmu!"
"Kak stef, ada apa sih?"
"Kamu banyak tanya sialan!"
Dhor
Stefano yang muak akan pertanyaan Kevin langsung menembak Adiknya. Itu peluru berisi obat bius jadi korbannya langsung tertidur setelah mendapat tembakan. Dia meninggalkan ponsel serta pakaikan. Stefano hanya membawa dompet berisi uang jutaan dolar.
Vernon bingung melihat Stefano menembak Kevin. Mau kemana Kakaknya? Kenapa ia tidak di ajak? Apa Stefano masih marah perihal kemarin? Vernon menghalangi Stefano agar tidak pergi tanpanya.
"Kak Stef mau ke mana? Apa aku tidak di ajak?"
"Kamu masih pincang dan lenganmu terluka. Aku tidak mau repot, aku mau ke makam orang tua kami di canberra. Jaga rumah jangan nakal!"
Setelah mengatakan itu Stefano memutus untuk pergi tanpa peduli Vernon. Yang terpenting cepat sampai ke Australia demi kedua orang tuanya. Lihat Stefano menggendong Kevin bak karung beras. Saat sampai ke dalam pesawat ia lempar Adiknya asal ke kursi penumpang. Masa bodoh badan Adiknya sakit, siapa peduli? Pada akhirnya Stefano membenarkan Kevin agar tidur dengan benar.
Tidak lama pesawat itu take Off siap meluncur ke Australia. Dalam pesawat super mewah ini di huni banyak keunikan. Pesawat milik Stefano ini sudah menemani Tuannya perjalanan jauh antar Benua.
Nyaris 23 jam mereka berada di dalam pesawat. Memang sangat jauh membutuhkan waktu sangat lama sampai harus ganti beberapa pilot. Dalam perjalanan Kevin tetap tidur akibat bius. Sementara Stefano terus berdoa semoga lekas sampai ke Canberra.
Setelah 23 jam di udara akhirnya mereka sampai juga ke Canberra. Kini rumah super mewah milik Ayahnya terpampang jelas. Pesawat pribadinya tadi mendarat sempurna di belakang mansion super mewah milik Ayahnya.
Stefano menabok Kevin supaya sadar, tetapi bocah ini tetap lelap. Merasa marah ia menyiram es tawar ke muka Adiknya. Dia bersyukur Adiknya tersadar dari bius kadar tinggi itu setelah tersiram es. Stefano langsung melepas sabuk pengaman Kevin dan menyeret manusia astral ini ke dalam rumah.
Kevin belum sadar betul alhasil mengikut saja ke mana Stefano menyeret tangannya. Dia ingat saat Kakaknya menembak lengannya lalu bangun sudah berada di sini. Sebenarnya mereka berada di mana? Saat sampai belakang rumah super mewah bak istana Kevin langsung membuka lebar matanya.
"Ini Australia, Kak?"
"Ini di Spanyol."
"Bohong ini rumah mendiang Paman."
"Sudah tahu kenapa bertanya?"
"Aku hanya memastikan saja."
Stefano di sambut ramah oleh para pelayan rumah mewahnya. Rencananya setelah dua jam beristirahat maka akan melakukan perjalanan menuju Albury. 7 jam setelah itu baru istirahat di rumah mereka. Tubuhnya capek berada di udara tanpa melakukan apa pun. Stefano juga tetidur di kabin pesawat untuk merilekskan pikiran.
Dalam rumah mewah ini ada Math langsung merengkuh Stefano dan Kevin. Selama 20 tahun terakhir yang menepati rumah ini adalah para bawahan Zeferino yang sangat setia. Para Mafia dan yang lainnya tinggal di Istana ini menjaga kerajaan Teixeita.
Stefano dan Kevin merengkuh Math lalu izin ke kamar. Di dalam kamar yang kedap suara Stefano mengunci pintu kamar agar percakapan ini rahasia. Kevin sadar di kamar ini kedap suara dan tentunya tidak ada CCTV.
"Kak Stef, kenapa mengajak Kevin ke Australia? Lalu kenapa meninggalkan Vernon di Amerika?"
Kevin heran kenapa bisa Stefano membawanya ke Australia tanpa Vernon. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi sampai Stefano mengajak pergi tanpa Vernon? Biasanya mereka bertiga pergi selalu bertiga.
Stefano tersenyum mendengar pertanyaan Kevin. Dia peluk Adiknya penuh haru akhirnya tiba di sini. Kini saatnya mereka ke Albury dua jam lagi tanpa orang yang tahu. Usai melepas pelukannya Stefano tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi yang sangat manis.
Kevin terbelalak melihat Stefano tersenyum lebar seperti dulu. Dia melihat gurat kebahagiaan membuat bingung. Bukannya Queenaia sakit lalu kenapa Kakaknya bahagia seperti dulu? Kevin merasa aneh akan sikap Stefano yang aneh.
"Kita akan bertemu Ayah dan Ibu, Kev!" tegas Stefano seraya tersenyum penuh keharuan.
Kevin tegang mendengar jawaban Stefano. Apa Kakaknya terbentur sampai lupa bahwa mereka telah di bantai. Bertemu dengan orang tua di Syurga? Entahlah Kevin bingung akan perkataan Stefano.
Stefano tertawa melihat Adiknya terlihat lucu. Selama ini dia hanya percaya pada Kevin. Hanya pada Kevin ia menjadi diri sendiri. Stefano sangat menyayangi Adiknya ini karena dia seperti Kakak, Ayah dan Ibu yang menjadi sandaran Kevin. Stefano sangat bahagia akhirnya mereka akan bertemu kedua orang tua serta kembaran Kevin.
Tugasnya sebagai Kakak akan berakhir saat Kevin mendapat segala kebahagiaan. Stefano juga da menyayangi Vernon sepenuh hati. Hati tulusnya begitu menyayangi kedua Adiknya. Bahkan Stefano rela mengorbankan nyawa demi Kevin dan Vernon. Sikapnya yang penyayang rela berkorban dan begitu tulus perpaduan sempurna dari Ayah dan Ibunya.
"Kakak sehat? Mereka sudah ...."
"Sstt, mereka masih hidup, Kev. Bahkan Kaviya juga masih hidup. Kamu tahu Adik kita sudah menikah dan memiliki anak manis. Kita sudah jadi Paman. Mereka masih hidup Kevin karena aku mendengar serta melihat langsung. Istirahat dua jam setelah itu kita ke rumah keluarga kita di Albury. Kita tidak yatim piatu, Kev kita masih punya Ayah dan Ibu. Kita masih mempunyai orang yang kita cinta!"
Kevin terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan Stefano. Mana bisa mereka masih hidup bahkan jasad mereka di lempar di lautan. Apa Kakaknya sedang halusinasi? Kevin masih menyengit bingung memikirkan semua keterangan Stefano.
Stefano merasa gemas pada Adik gilanya. Andai saja tidak bahagia sudah di tendang wajah Adiknya. Yakin seribu kali Kevin bakal pingsan lagi jika ia tidak sabar. Stefano menggeplak kepala Kevin sedikit kasar. Awas saja tetap sama ia ceburin Adiknya ke kolam piranha.
"Kakak halu kebangetan, bilang saja sudah luluh tidak mau balas dendam. Sudahlah aku mau tidur dan ingat jangan halu ketinggian nanti jatuh nyunsep ke laut terbawa ombak tidak bisa kembali dan akhirnya tinggal nama Stefano Eugene Raymundo Teixeita!" tegas Kevin berbicara tanpa ada tanda koma.
"Kamu mau jadi rapper? Aku serius bodoh jangan membuat mulutku berbuih, *******! Kita salah paham dan selama ini kita tersesat dalam lembah hitam tanpa akhir. Yang membantai keluarga kita memang Weldon. Namun, bukan Adam melainkan Alden dan Kalila. Kamu kenal Kalila? Itu Bibi kita, nanti tanya pada Ayah kenapa Kalila begitu? Kalau Alden bilang dia membenci Adam dan mereka mengkambing hitamkan si tua. Selama ini kita salah dan musuh dalam selimut adalah orang yang mengasuh kita. Aku punya bukti semuanya, kevin!"
Stefano tidak suka berbicara banyak kata makanya menceritakan intinya saja. Awas saja Adiknya tidak percaya kena pukulan telak darinya ia akan menghajar Kevin sampai ****** jika tidak mau percaya. Stefano menatap reaksi Kevin yang tegang.
Kevin terdiam tanpa kata mendengar penjelasan Stefano. Apa benar itu nyata? Kakaknya tipikal orang serius tidak suka bercanda. Ini pasti nyata kalau begitu mereka salah sasaran? Lalu bagaimana dengan nasib Queenaia? Mereka sudah menghancurkan wanita yang tidak tahu apa-apa. Stefano pasti sangat hancur menerima kebenaran pahit itu. Hatinya saja terasa sesak mengingat Queenaia menjadi korban balas dendam mereka.
Air matanya luruh deras mengingat semuanya. Kevin menangis mengingat setiap kata atas kebenaran sesungguhnya. Ia teringat akan musuh sesungguhnya bukan Adam melainkan orang lain. Kevin menunduk jika ingat Kalila dan Anastasya. Apa sebenarnya alasan di balik ini semua?
"Kak ayo kita pergi jangan istirahat. Aku kuat tujuh jam di perjalanan. Ayo kita bertemu Ayah dan Ibu serta Kaviya. Aku percaya padamu, Kak pasti Paman Adam meminta kita merahasiakan ini semua dan berakting untuk pura-pura balas dendam agar tahu motif mereka. Jangan takut kita akan berakting untuk menuntun kesalahan kita. Ayo kita lindungi Paman dari mereka dan yakinlah musuh sesungguhnya akan kita bantai secara sadis. Kita pergi sekarang!"
"Hn, ayo kita pergi. Beli baju dulu pakaian kita terlihat lusuh. Belum mandi, bau sekali. Aku mandi dulu kamu juga cepat siap-siap usai kita pergi!"
"Siap laksanakan komandan!"
Kevin langsung ngacir untuk mandi di kamar satunya. Dia juga ingat di sini banyak pakaian baru jadi tidak perlu repot memikirkan baju ganti. Kevin tersenyum cerah akhirnya bertemu Keluarganya. Ia tidak sabar bertemu mereka yang lama menghilang.
Stefano tersenyum melihat Kevin sudah ngacir keluar. Dia mampu menjaga Adiknya sampai sebesar itu. Sungguh alasan hidupnya ada pada Kevin dan balas dendam. Masa kecil terenggut kini akan kembali bahagia. Sejatinya Stefano nyaris bunuh diri, jika tidak ingat Kevin. Adiknya sendiri tanpa keluarga kandung dan hanya dia yang di miliki. Makanya Stefano mau bertahan demi Adiknya.
****'•'****
7 jam. Kemudian tepatnya di desa paling pinggir Albury. Stefano dan Kevin berdiri tepat di depan rumah sederhana. Mereka melempar senyum untuk mengetuk pintu rumah kedua orangtua tuanya. Stefano dan Kevin merengut tidak mendapat sahutan dari dalam. Mereka kemana di jam tiga siang? Mungkin bobok cantik membuat semua tidak dengar ada tamu.
"Ayah ... Ibu, kami datang," lirih Stefano dan Kevin.
Wanita paruh baya itu menyengit mendengar suara ketukan dari luar. Siapa yang bertamu di siang hari? Mengganggu orang tidur saja, apa tidak bisa bertamu sore hari?
Wanita paruh baya masih terlihat cantik itu melihat cucunya tertidur dalam dekapan Suaminya. Wanita berambut pirang dengan mata biru bak awan biru mengusap rambut Suaminya. Wanita itu hendak berdiri tetapi tangannya di cekal sang Suami.
"Mau kemana, Yara?"
"Zefer, di luar ada tamu aku ingin membuka pintu. Mungkin ada tetangga mau memberikan sesuatu. Aku keluar dulu, oh iya mereka masih di kebun, ya?"
Zeferino tersenyum manis mendengar perkataan Istrinya. Tangan yang terlihat masih kekar terulur untuk mengusap pipi Yara. Wanitanya yang sangat dicintai seumur hidup masih sama. Cintanya bahkan tetap sama tidak berkurang malah semakin besar. Zeferino melihat cucunya yang sedang asyik tertidur pulas.
Yara mengusap pipi Zeferino dan memberikan ciuman di pipi. Dia beranjak untuk membuka pintu karena sedari tadi di teror oleh tamu kurang tahu waktu. Awas saja tidak memberi kabar baik Yara pukul pakai spatula biar kapok.
"Kak, siapa yang bertamu?" tanya seseorang dari arah belakang bersama Istrinya. Mereka habis ke kebun memetik buah untuk mereka.
"Tidak tahu, Thom. Apa Kaviya dan Jordan masih di butik?"
"Iya, Putriku masih sibuk mengurus butik dan lihat anaknya rewel. Maafkan Kaviya menyusahkan kalian," sesal Emma.
"Tidak apa-apa, lagian kami yang ingin mengasuh Allen. Allen juga cucu kami jadi tidak perlu berbicara begitu. Kaviya sendiri terus meminta Allen, tetapi si nakal ingin ikut Kakeknya," sahut Zeferino.
"Kakak selalu saja begitu, kenapa Yara lama sekali? Siapa yang bertamu?"
Yara menyengit melihat dua pria menghadap belakang. Pria ini tampak gagah dari belakang dan terkesan begitu mempesona. Dia jadi ingat perawakan salah satu dari mereka mirip Zeferino. Entah kenapa degup jantung terasa bertalu-talu. Yara bergetar melihat dua pria ini seperti sangat familiar.
Setitik air mata luruh deras membasahi pipi yang mulai menua. Yara ingin memanggil tetapi takut salah orang. Sebenarnya siapa mereka kenapa rasanya begitu dekat ingin merengkuh? Yara ingin menggapai kedua pria dewasa ini. Dengan tangan bergetar ia buka pintu untuk mempersilakan tamu masuk.
Stefano dan Kevin berbalik saat pintu terbuka. Mata beda warna itu terpaku melihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik nan anggun. Stefano menatap Yara dengan mata berkaca-kaca. Mata jade itu menyendu sekaligus terharu melihat Ibunya berdiri menatap mereka.
Kevin terdiam seribu bahasa melihat Bibinya. Wanita cantik ini terlihat diam sembari menatap mereka penuh arti. Sudah 22 tahun berlalu dan kini mereka baru bertemu. Apa Yara masih mengenali anak-anaknya?
"Anakku ...."
****'•To be Continued•'****
Hayo, kalian lega Mommy Yara bertemu Baby Stef setelah 22 tahun berpisah?
Bagaimana perasaan Mommy Yara saat ini melihat Putranya setelah sekian lama tidak bertemu?
Mommy Yara masih kenal bahkan langsung sadar itu anaknya Stef walau tidak berjumpa 22 tahun. Ikatan batin seorang Ibu kuat sekali bukan.
Menangis kejer akunya!
See you again!
Roae_crystal_030199!
sukses
semngt
mksh
keren