seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 15
Pak Wijaya perlahan berdiri, memegangi pinggangnya yang agak kaku.
Pengusaha properti kawakan di kawasan Margonda itu menatap sekeliling bangunan mangkrak dengan sisa-sisa rasa tidak percaya.
Lima pria berbadan kekar yang tadi mengintimidasinya kini terkapar seperti tumpukan karung beras di lantai semen.
"Nak Kevin..." Pak Herman melangkah mendekat, menggenggam tangan Kevin dengan kedua tangannya yang masih gemetar.
"Saya tidak tahu harus bilang apa. Kamu sudah menyelamatkan nyawa saya, juga menjaga anak perempuan saya. Utang budi ini tidak akan pernah bisa saya bayar seumur hidup."
"Sudah kewajiban saya, Pak. Kebetulan saya guru Viola di sekolah, jadi keselamatan keluarga murid juga sudah jadi perhatian saya,"
jawab Kevin, kembali ke mode ramah dan sopan, seolah-olah dia baru saja membantu menyeberangkan orang di jalan, bukan menghajar komplotan mafia tanah.
Viola yang berdiri di samping ayahnya hanya bisa menatap Kevin dengan pipi yang merona merah.
Jawaban "guru yang perhatian" itu entah kenapa terdengar sangat manis di telinganya, meskipun dia tahu kekuatan fisik Kevin sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran seorang pengajar matematika.
"Tapi, Nak Kevin... bagaimana kamu bisa tahu saya disekap di sini?"
tanya Pak Wijaya heran.
"Kawasan GDC yang mangkrak ini sangat luas, bahkan polisi pun butuh waktu untuk melacak sinyal telepon saya."
"Ah, itu... intuisi driver ojol, Pak,"
Dalih Kevin sambil nyengir, menunjuk ke arah helmnya.
"Saya sering muter-muter nyari penumpang di daerah sini, jadi hafal tempat-tempat yang sering dipakai buat hal-hal gak bener."
"Pas lewat Margonda tadi, saya liat mobil mencurigakan masuk ke arah sini."
Pak Wijaya mengangguk-angguk, walau di dalam benaknya dia tahu alibi itu terlalu sederhana.
Namun, dia memilih tidak mendesak. Orang-orang hebat berkekuatan luar biasa biasanya memang suka menyembunyikan identitas mereka.
"Oh ya, Pa! Tadi sebelum Papa diculik, kami ke Ruko Margonda nomor 88."
"Di sana ada anak buah orang-orang ini yang pasang spanduk sengketa,"
sela Viola, teringat tujuan awal mereka.
"Terus, mereka semua juga udah diberesin sama Mas Kevin."
Mendengar kata 'Ruko Margonda 88', ekspresi Pak Wijaya mendadak berubah menjadi canggung dan penuh rasa bersalah.
Dia menatap Kevin dengan pandangan tidak enak.
"Soal ruko itu... Nak Kevin, sebenarnya ada hal yang harus saya luruskan," ujar Pak Herman pelan.
"Hal apa, Pak?" Kevin menaikkan sebelah alisnya.
Ini dia momen yang ditunggunya. Teka-teki kenapa Sistem memberikan ruko yang juga diklaim oleh ayah Viola.
"Minggu lalu, perusahaan saya memang berencana membeli ruko nomor 88 itu dari seorang pemilik lama."
"Berkas-berkasnya sudah kami siapkan, dan uangnya sudah kami transfer ke rekening perantara,"
jelas Pak Herman sembari menghela napas panjang.
"Tapi, dua hari lalu, pihak BPN (Badan Pertanahan Nasional) menghubungi saya."
Mereka bilang, status ruko itu mendadak diblokir karena sudah ada pemilik mutlak yang sah atas nama... Kevin Wijaya."
"Surat-suratnya terbit dengan status Hak Milik Mutlak tingkat dewa yang tidak bisa diganggu gugat oleh hukum mana pun."
Pak Herman menatap Kevin dengan mata membelalak.
"Saya baru sadar sekarang... Kevin Wijaya itu... kamu, kan?"
Viola langsung menoleh ke arah Kevin dengan tatapan syok yang tidak kalah besar.
"Hah?! Ruko tiga lantai yang di Margonda itu... punya Mas Kevin?!"
Kevin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tertawa canggung.
Sistem, bener-bener lu ya, bikin administrasi balik nama secepat kilat sampai bikin konglomerat Depok kebingungan.
"A-Anu, iya Pak. Kebetulan itu warisan dari... kakek buyut saya yang baru cair minggu kemarin,"
bohong Kevin, menciptakan silsilah keluarga fiktif demi menutupi keberadaan Sistem.
"Saya juga kaget pas tahu ruko itu malah jadi sengketa sama pihak Bapak dan ormas."
Pak Wijaya langsung melambaikan tangannya dengan cepat.
"Tidak, tidak! Kami tidak akan mengklaim ruko itu lagi. Itu mutlak milikmu, Nak Kevin."
"Justru karena ruko itu sah milikmu, mafia tanah ini mengira saya yang memegang sertifikatnya, makanya saya diculik untuk dipaksa tanda tangan surat pelepasan fiktif."
Pak Herman meraba saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kartu nama berlapis emas yang terlihat sangat mewah, lalu menyerahkannya kepada Kevin.
"Nak Kevin, ruko itu milikmu. Dan sebagai rasa terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa saya, perusahaan properti saya akan menanggung seluruh biaya renovasi, interior, dan modal usaha apa pun yang ingin kamu buka di sana."
"Anggap saja ini kerja sama. Saya tidak menerima penolakan!"
tegas Pak Herman dengan wibawa seorang pengusaha besar yang tak ingin dibantah.
Ding!
[Misi Sampingan Selesai Sempurna!]
[Hadiah Tambahan: Renovasi Ruko Gratis senilai Rp 2.000.000.000,- dari Wijaya Property Group.]
[Hubungan dengan Keluarga Herman: Aliansi Emas Terbentuk.]
Kevin menerima kartu nama itu dengan senyuman lebar.
"Kalau dipaksa begitu, saya gak bisa nolak, Pak. Terima kasih banyak."
Sore itu berakhir dengan kedatangan tim keamanan internal Pak Wijaya yang menjemput mereka sekaligus mengamankan para penculik untuk diserahkan ke polres Depok.
Kevin dan Viola kembali berboncengan membelah jalanan GDC menuju arah pulang.
Di atas motor, Viola memeluk pinggang Kevin sedikit lebih erat dari sebelumnya. Wajahnya bersandar di bahu Kevin yang kokoh.
"Mas Kevin... makasih ya buat hari ini. Kamu beneran pahlawan buat keluarga aku,"
bisik Viola pelan di balik helmnya, meskipun suaranya hampir tersamarkan oleh desing angin sore Depok.
Kevin hanya tersenyum di balik helm hitamnya, menikmati sensasi hangat di punggungnya.
Namun, kedamaian itu lagi-lagi harus terusik saat layar hologram Sistem berkedip di atas speedometernya.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem: Sisa waktu Profesi Guru Honorer tinggal 5 hari. Bersiaplah untuk tantangan baru.]
[Mendeteksi plot berikutnya: Minggu 3 - Chef Nasi Goreng Lidah Dewa. Lokasi: Warkop Berkah (Tempat Nabila). Conflict Level: High (Isu Pesugihan Babi Ngepet Komplek mulai memanas!).]
Kevin langsung tersedak ludahnya sendiri di tengah jalan raya.
"Uhuk! Apa?! Minggu depan jadi tukang nasi goreng di warkopnya Nabila?! Terus kenapa ada isu babi ngepet lagi?!"