NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Damai di Antara Bukit Hijau

Hari‑hari berlalu perlahan di desa terpencil bernama Bukit Jernih. Udara pagi selalu dingin menusuk tulang, beraroma tanah lembap, daun basah, dan bunga liar yang tumbuh subur di sepanjang jalan setapak. Kabut tipis sering menyelimuti lembah sampai matahari naik tinggi dan menembus sela‑sela pepohonan. Di rumah kayu sederhana sewaan itu, Ayranza, Angga, dan Arshen perlahan mulai menemukan irama hidup baru yang jauh lebih tenang dan sederhana dibandingkan masa lalu yang penuh kemewahan sekaligus kekhawatiran.

Setiap fajar menyingsing, Angga sudah bangun lebih dulu. Ia biasa menyapu halaman depan, mengambil air dari mata air kecil di ujung jalan, lalu membantu tetangga mengangkut hasil ladang atau memberi makan ternak. Tubuhnya yang dulu halus kini mulai kekar, tangannya kasar terkena kulit jagung dan batang padi, namun wajahnya makin tampak tegar dan tenang. Arshen pun tak kalah giat: ia segera akrab dengan sekelompok anak desa, berlarian mengejar kupu‑kupu, berenang di sungai yang airnya jernih hingga ke dasar, atau sekadar duduk berjam‑jam menggambar pemandangan gunung yang berubah‑ubah rupa setiap jamnya.

Sementara itu, Ayranza menghabiskan banyak waktu di beranda kayu yang menghadap lembah luas. Ia mulai belajar mengolah sayuran sendiri di kebun kecil belakang rumah, menjahit ulang pakaian bekas, dan menganyam keranjang sederhana dari ranting muda. Keterampilan yang dulu hanya pernah didengarnya dari cerita ibunda. Gerak‑geriknya pelan dan hati‑hati, tak lupa sesekali mengusap perutnya yang makin membulat halus. Di tempat sepi itu, rasa kecewa yang tajam perlahan berubah menjadi kesedihan yang hening, memberi ruang bagi hatinya untuk berpikir jernih tanpa tekanan maupun bisikan orang lain.

Pertemuan dengan tetangga baru bermula tak lama setelah mereka menetap seminggu. Pagi itu, saat Ayranza sedang berusaha membetulkan pagar kebun yang miring, terdengar suara ramah dari balik semak mawar liar:

“Perlu dibantu sedikit, Nak? Kayunya agak keras kalau dipaksa sendiri.”

Ayranza menoleh dan melihat sepasang suami istri paruh baya berjalan mendekat sambil tersenyum hangat. Itu Pak Surya dan Bu Marni, pasangan yang tinggal di rumah kayu berjarak dua rumah saja dari tempat mereka menginap. Pak Surya bertubuh tegap, kulitnya sawo matang terbakar matahari, wajahnya penuh kerutan kecil tanda banyak tertawa dan bekerja keras. Bu Marni bertubuh agak kecil, senyumnya lembut, dan selalu membawa sekeranjang bumbu atau buah di lengannya.

“Terima kasih, Pak… Bu,” jawab Ayranza sedikit malu sambil berdiri tegak. “Saya baru pertama kali mencoba begini, belum terbiasa.”

“Tak apa‑apa,” sahut Pak Surya sambil segera ikut membetulkan tiang pagar dengan gerakan terampil. “Kami tahu kalian pendatang yang ingin istirahat lama. Tak perlu sungkan. Di sini kita saling bantu seperti saudara sendiri.”

Sejak hari itu, persahabatan pun tumbuh alami. Bu Marni sering datang membawa sepotong ubi rebus, seikat bayam segar, atau segelas minuman jahe hangat, lalu duduk berbincang sebentar dengan Ayranza. Ia tak banyak bertanya soal asal‑usul mereka atau alasan lari jauh‑jauh ke sana, hanya sesekali menatap perut Ayranza dan tersenyum penuh arti:

“Anak yang lahir di udara sejuk dan di antara orang‑orang yang saling menjaga, pasti tumbuh jadi pribadi yang teguh dan hatinya lapang.”

Percakapan mereka makin lama makin lepas. Ayranza perlahan mulai bercerita sedikit demi sedikit, tentang kehidupan yang dulu serba cepat dan penuh rahasia, tentang rasa dikhianati yang mendalam, tentang keinginan sekadar ingin menjauh dan menenangkan hati. Bu Marni mendengarkan sambil menganyam tali pandan, sesekali mengangguk pelan atau menepuk punggung tangan Ayranza lembut.

“Luka hati tak bisa sembuh sekejap,” katanya suatu sore saat mereka duduk berdua di tepi sungai kecil. “Kadang kita harus pergi jauh dulu agar bisa melihat jelas apa yang benar‑benar berharga dan apa yang sekadar bayang semata. Kalau hatimu sudah tenang sendiri, nanti jalan pulang akan terbuka sendirinya.”

Pak Surya pun makin dekat dengan Angga. Ia mengajak remaja itu ke ladang, mengajari cara menanam sayur yang baik, membajak tanah, hingga mengenali tanaman yang berkhasiat obat. Di sela kerja keras itu, ia sering berpesan hal‑hal bijak:

“Lihat pohon bambu itu, Angga. Saat angin kencang bertiup, ia melengkung jauh sekali seolah akan patah, tapi ia tak pernah roboh. Begitu juga hati manusia: kalau kaku akan mudah retak kalau terkena masalah besar. Kalau lentur dan sabar, ia bisa bertahan melewati badai apa pun.”

Angga menyerap nasihat itu baik‑baik. Ia mulai lebih tenang dan bijaksana, sering menjadi pendengar setia bagi Arshen maupun kakaknya saat suasana hati sedang kurang baik.

Suatu hari, desa mengadakan acara sederhana membersihkan jalan setapak menjelang musim hujan. Seluruh warga turun tangan membawa sabit, cangkul, dan keranjang besar. Ayranza pun ikut serta dengan hati‑hati ditemani Bu Marni, sementara Angga dan Arshen sibuk mengumpulkan ranting‑ranting kering bersama anak‑anak lain. Di tengah kerja gotong‑royong itu, kenangan lama tentang kesendirian perlahan hilang diganti rasa kebersamaan yang hangat dan tulus. Tak ada yang tahu siapa mereka dulu, tak ada yang peduli harta atau nama besar. Yang ada hanyalah kerja keras, canda tawa, dan rasa saling menjaga.

Siang itu berakhir dengan makan bersama di balai desa sederhana. Warga membawa masakan masing‑masing, sayur lodeh, ikan asin goreng, sambal pedas, dan kue beras yang manis. Suara gelak tawa bercampur cerita lucu mengalir riang. Ayranza duduk di tengah‑tengah mereka, merasakan kehangatan yang lama tak ia temukan. Di dalam hatinya, rasa sakit akibat kebohongan Axel perlahan menipis meski belum hilang sepenuhnya. Ia mulai sadar, keputusannya pergi membawa adik‑adiknya bukan sekadar pelarian semata, melainkan cara menyelamatkan diri dan janinnya agar tumbuh di lingkungan yang damai.

Namun di saat yang sama, setiap malam sebelum tidur, ia sering terbangun karena mendadak teringat wajah Axel yang penuh penyesalan, ingat janji‑janji indah dulu, serta firasat samar bahwa sesuatu sedang terjadi di tempat yang jauh. Namun ia segera menguatkan hati: belum waktunya kembali. Ia butuh waktu lebih lama lagi untuk benar‑benar yakin.

Di bawah langit bersih berbintang malam itu, Pak Surya dan Bu Marni berdiri agak jauh memperhatikan rumah kayu tempat anak‑anak baru mereka tinggal. Pak Surya berbisik pelan pada istrinya:

“Mereka orang baik, Marni. Cuma sedang terluka dalam. Biarkan mereka sembuh di sini selama perlu. Kita jaga sampai siap pulang.”

Bu Marni mengangguk mantap sambil tersenyum tipis. “Benar. Biarlah desa ini menjadi tempat persinggahan paling damai sebelum mereka kembali ke takdirnya masing‑masing kelak.”

Dan di dalam kamar kecil rumah kayu itu, Ayranza memeluk perutnya erat, berbisik pelan seolah berbicara pada anak dalam kandungannya, “Di sini aman, Nak. Kita tunggu sampai hati ibu tenang, sampai semuanya jernih kembali.”

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!