Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Waktuu yang paling ditakuti Siska akhirnya tiba juga. Angka seratus yang sempat melintas dalam pikirannya kini bukan lagi sekadar hitungan di atas kertas. Malam ini adalah malam keseratus sejak bayi Doni dilahirkan ke dunia.
Selama lebih dari tiga bulan, Siska terpaksa hidup dalam kepura-puraan yang menyiksa. Di siang hari, dia harus bersikap biasa saja melihat Mbak Selfi yang ramah dan bayi Doni yang tampak lucu serta menggemaskan. Namun, di dalam hatinya, Siska terus menghitung hari dengan rasa cemas yang kian menumpuk. Setiap malam dia menyaksikan tubuh Mbak Selfi semakin kurus, kulitnya semakin pucat, dan tatapan matanya semakin kosong, seolah-olah seluruh isi tubuhnya sedang diisap oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
Sore itu, suasana di pinggiran kota terasa sangat berbeda. Sejak pukul lima sore, langit sudah ditutupi oleh awan hitam yang sangat tebal. Angin bertiup begitu kencang, memukuli dinding kayu rumah tua mereka hingga mengeluarkan suara berderit yang memekakkan telinga. Daun-daun dari pohon beringin tua di luar berterbangan, menciptakan kesan sepi dan terisolasi yang amat sangat.
Mas Ferdi belum juga pulang dari kantornya. Katanya ada urusan mendadak yang harus diselesaikan hingga larut malam. Praktis, hanya ada Siska, Mbak Selfi, dan bayi Doni di dalam rumah.
Lampu ruang tengah sudah dinyalakan sejak sore karena suasana rumah sangat gelap. Siska duduk di sofa, mencoba membaca buku kuliahnya untuk mengalihkan perhatian, namun sia-sia. Matanya terus melirik ke arah kamar utama.
Pukul delapan malam, Mbak Selfi keluar dari kamar sambil menggendong Doni. Siska seketika menahan napasnya ketika melihat penampilan kakak iparnya. Tubuh Mbak Selfi tampak sangat ringkih, tulang pipinya menonjol tajam, dan kulit tangan kanannya kini tidak lagi sekadar abu-abu di bagian jari. Warna abu-abu pucat seperti mayat itu telah merayap naik hingga ke pergelangan tangannya. Cincin dengan permata merah darah di jari manisnya tampak berkilau sangat pekat, seolah-olah kekuatannya telah mencapai puncak.
Anehnya, Mbak Selfi berjalan dengan pandangan lurus ke depan, matanya tidak berkedip, mirip seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur. Dia meletakkan bayi Doni di atas kasur lantai ruang tengah, lalu dia sendiri duduk mematung di sampingnya.
"Mbak... Mbak Selfi nggak apa-apa?" tanya Siska dengan suara bergetar, mencoba memberanikan diri.
Mbak Selfi tidak menjawab. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Siska. Bibirnya yang kering hanya bergerak-gerak samar tanpa mengeluarkan suara, sementara tangan kanannya yang memakai cincin pesugihan terus mengelus kepala bayi Doni.
Siska melirik ke arah boks bayi tempat Doni berbaring. Doni yang kini berusia seratus hari tidak tumbuh seperti bayi normal. Tubuhnya terlihat agak besar, namun kulitnya sangat pucat kebiruan. Bayi itu tidak tidur, dia hanya berbaring terlentang sambil menatap lurus ke arah lampu langit-langit dengan mata yang tidak berkedip sama sekali.
Rasa takut yang luar biasa membuat Siska memutuskan untuk masuk ke kamarnya di lantai dua. Dia mengunci pintu kamar dari dalam, lalu meringkuk di atas kasur sambil memeluk ponselnya, terus-menerus mengirim pesan kepada Mas Ferdi agar cepat pulang. Namun, sinyal di ponselnya mendadak hilang total semenjak cuaca buruk di luar semakin menggila.
Malam semakin larut. Ketika jam dinding kamarnya tepat menunjukkan pukul dua belas malam, teror yang sesungguhnya akhirnya pecah.
Suasana di dalam rumah mendadak berubah menjadi sedingin es. Siska bahkan bisa melihat uap tipis keluar dari mulutnya setiap kali dia bernapas. Keheningan malam yang pekat itu tiba-tiba dipecahkan oleh sebuah suara yang sangat keras dari lantai bawah.
BRAKK!
Itu adalah suara pintu kamar utama yang terbanting terbuka. Diikuti oleh suara jeritan melengking yang sangat menyakitkan dari mulut Mbak Selfi.
"AAAKKKHHH!!! SAKITTT!!!"
Siska terlonjak kaget di atas kasurnya. Mendengar jeritan kakak iparnya yang begitu menderita, rasa sayangnya mengalahkan rasa takutnya. Siska membuka kunci pintu kamarnya, lalu berlari menuruni tangga kayu dengan cepat di tengah kegelapan rumah yang mencekam.
Begitu sampai di ruang tengah, Siska langsung membeku di anak tangga terakhir. Air matanya mengalir deras melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Mbak Selfi sedang berlutut di atas lantai. Tangan kanannya terentang lurus di atas kasur lantai tempat bayi Doni berada. Dari jari manis Mbak Selfi, tepat dari sela-sela logam cincin kuno itu, darah segar berwarna merah kehitaman mengucur deras seperti keran yang bocor. Darah itu mengalir membanjiri tubuh bayi Doni.
Mbak Selfi menangis histeris, tubuhnya kejang-kejang menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun, dia tidak bisa menarik tangannya kembali. Cincin itu seperti telah menancap mati dan mengisap paksa seluruh sisa darah dari jantungnya untuk dialirkan ke makhluk lain.
"Siska... tolong... sakit banget, Sis..." rintih Mbak Selfi dengan sisa-sisa kesadarannya. Matanya menatap Siska dengan pandangan memohon, namun di balik tatapan itu, Siska bisa melihat kesadaran Mbak Selfi perlahan-lahan mulai padam, dikuasai sepenuhnya oleh kutukan pesugihan yang menuntut haknya malam ini.
Sementara itu, bayi Doni yang mandi darah tidak menangis sama sekali.
Perlahan-lahan, bayi itu membalikkan tubuhnya menjadi posisi telungkup dengan gerakan yang sangat luwes dan cepat. Kedua bola matanya terbuka lebar, menyala dengan warna merah darah yang sangat terang dalam kegelapan ruangan. Doni menjilat darah yang mengalir di wajahnya dengan rakus.
Suara derak tulang yang patah kembali terdengar menggema di ruang tengah yang sunyi.
Krek... Krek... Krek...
Siska menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kedua kaki kecil bayi Doni kembali meliuk patah ke arah dalam dengan cara yang tidak wajar. Makhluk kecil yang kini telah menguasai sepenuhnya tubuh bayi Doni itu mulai merangkak maju di atas lantai yang bersimbah darah.
Srek... srek... srek...
Suara seretan itu terdengar sangat nyata, berat, dan mengerikan. Makhluk bermata merah itu merangkak naik ke atas tubuh Mbak Selfi yang sudah lemas tidak berdaya. Dia membuka mulut kecilnya yang kini dipenuhi oleh deretan gigi-gigi kecil yang tajam, bersiap untuk menuntut tumbal terakhir dari ibu yang telah melahirkannya.
Mbak Selfi sudah tidak bergerak lagi. Kulit seluruh tubuhnya kini telah berubah menjadi abu-abu pucat, persis seperti mayat yang membeku. Tanpa sadar, selama seratus hari ini, dia telah memberikan seluruh darah dan kehidupannya demi membesarkan makhluk mengerikan yang kini berada di hadapannya.
"Mbak Selfi!!!" jerit Siska histeris. Dia mencoba berlari mendekat untuk menarik tubuh kakak iparnya, namun hawa dingin yang pekat di sekitar tempat itu mendadak mengunci pergerakannya, membuatnya tidak bisa melangkah maju seolah ada dinding tak kasat mata yang menahannya.
Makhluk bermata merah di atas tubuh Mbak Selfi itu perlahan memalingkan kepalanya ke arah Siska. Dia mengeluarkan suara geraman rendah yang sangat serak, lalu tersenyum mengerikan, memperlihatkan gigi-giginya yang berlumuran darah. Malam keseratus telah tiba, dan kutukan pesugihan dari lemari rias tua itu kini telah bangkit sepenuhnya untuk menghancurkan apa saja yang tersisa di dalam rumah ini.