NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Lumayan Juga Negara Ini

.........

...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....

...Tidak untuk ditiru....

.........

...Happy Reading...

.........

Matahari terbit di ufuk timur dengan warna jingga yang pekat, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalur lingkar luar Jakarta Utara. Udara pagi itu terasa kering dan mulai menghangat, membawa bau khas aspal terbakar dan oli mesin dari truk-truk besar yang mulai memadati jalanan.

Tania sudah berdiri di posisinya sejak pukul enam pagi. Di wajahnya kembali terpasang masker kain kumal dan beberapa coretan arang kasar di pelipis dan pipi, sebuah riasan penyamaran yang kini terasa seperti kulit keduanya. Tangannya mengayunkan sapu lidi panjang dengan gerakan yang sangat tenang, ritmis, dan tanpa beban.

Anehnya, setelah menghabiskan hampir dua botol ciu murahan tadi malam, Tania sama sekali tidak merasakan efek mabuk pasca-minum hangover yang menyiksa. Tubuhnya yang terlatih sejak remaja untuk menoleransi berbagai jenis racun dan zat kimia bekerja dengan sangat efisien. Alih-alih pening, jiwanya justru merasa sedikit lebih ringan pagi ini.

Sret... sret... sret...

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan napas yang memburu memecah ritme sapuan Tania. Dari arah tikungan pos kebersihan, Rangga berlari kecil mendekat. Pria jangkung itu mengenakan seragam oranye kusamnya, namun wajah rupawannya tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata sipitnya yang membuktikan bahwa dia baru saja melewati malam yang sangat menyiksa akibat mabuk berat.

Rangga berhenti tepat di samping Tania, membungkuk sebentar sambil memegangi lututnya yang lemas, terengah-engah mengumpulkan sisa oksigen di paru-parunya.

"Neng... Neng Tania..." panggil Rangga, suaranya serak dan agak bergetar.

Tania menghentikan gerakan sapunya. Dia menoleh perlahan, menatap Rangga dari balik masker kainnya dengan sepasang mata kelam yang dingin namun jernih. "Ada apa? Kenapa kamu berlari seperti dikejar penagih utang?"

Rangga menegakkan tubuhnya, menatap Tania dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. "Aduh, Neng... ini mau minta maaf bener-bener soal kejadian tadi malam. Sumpah, aku gak bermaksud buat bikin kamu terpojok di pos ronda. Harusnya tak larang kamu lebih keras lagi kemarin. Anak-anak emang kurang ajar kalau udah ketemu ciu, malah maksa kamu minum ginian. Aku beneran nyesel, Neng. Kepalaku sampai sekarang masih muter kepikiran kamu, takut kamu kenapa-napa atau trauma..."

Rangga berbicara dengan rentetan kalimat yang cepat, logat medoknya terdengar panik. Sebagai pria yang terbiasa memperlakukan wanita hanya untuk bersenang-senang, ini adalah kali pertama dia merasa begitu cemas dan bertanggung jawab atas keselamatan seorang gadis. Dia takut aura dingin Tania akan berubah menjadi kebencian mutlak padanya.

Namun, reaksi yang ditunjukkan Tania justru berada di luar jangkauan logika Rangga.

Tania menurunkan maskernya hingga ke dagu, menampilkan bibir tipisnya yang melengkung membentuk seulas senyum tipis sangat tipis, hampir tak terlihat, namun memancarkan keangkuhan yang tenang.

"Kenapa harus minta maaf?" tanya Tania, suaranya terdengar sangat santai, menembus udara pagi dengan ketenangan yang ganjil. "Tadi malam itu... seru. Saya menyukainya. Jika ada kesempatan lagi, saya ingin ikut lagi."

Mendengar jawaban itu, Rangga seketika membeku. Matanya yang sipit membelalak lebar, menerjap berkali-kali seolah-olah dia baru saja mendengar hantu berbicara di siang bolong. Mulutnya terbuka sedikit, kehilangan semua kata-kata yang sudah dia siapkan sejak subuh tadi.

He? Seru? Dia bilang seru?! batin Rangga menjerit bingung.

Di dalam benaknya, Tania seharusnya menangis, marah, atau setidaknya merasa jijik dengan lingkungan pos ronda yang kumuh dan liar itu. Tapi wanita asing ini malah menganggapnya sebagai hiburan yang menyenangkan.

Tania kembali menaikkan maskernya, lalu melanjutkan aktivitas menyapunya. Di balik ketenangannya, dalam hati dia membatin, Ternyata asyik juga dunia malam di negara ini. Dunia malam yang tidak menuntutnya untuk selalu waspada terhadap tusukan belati dari belakang, dunia malam yang meski kotor dan kasar, namun memiliki kejujuran emosi yang tidak pernah dia temukan di antara dinding-dinding marmer klan mafia Seoul.

Rangga masih mematung di tempatnya, menatap punggung kurus Tania dengan kepala yang semakin berputar hebat, bukan lagi karena sisa ciu, melainkan karena rasa penasaran yang kian membakar dadanya tentang siapa sebenarnya wanita di hadapannya ini.

"Loh, loh... ada apa ini pagi-pagi kok udah pada mojok di pinggir jalan?"

Sebuah suara nyaring dan ramah memecah kecanggungan di antara mereka. Dari arah trotoar seberang, Bu Yuni berjalan mendekat sambil membawa sebuah bakul plastik kecil berisi beberapa bungkus nasi uduk hangat. Wanita paruh baya itu menatap Rangga yang bermuka pucat, lalu beralih pada Tania yang tetap sibuk menyapu.

"Eh, Bu Yuni..." Rangga menyapa kikuk, mencoba memulihkan ekspresi wajahnya yang sempat syok.

"Kamu ini kenapa, Ngga? Muka kok pucat kayak ayam sayur begitu? Kurang tidur ya akibat keluyuran malam terus?" Bu Yuni mendengus, menaruh bakulnya di atas pembatas jalan. Dia lalu menoleh pada Tania dengan tatapan keibuan yang hangat. "Neng Tania, si Rangga ini jangan sering-sering ditemenin malam-malam, ya. Saya tahu kemarin kalian kepasar malam kan. Dia ini kalau di lingkungan sini terkenalnya pintar nyari mangsa. Takutnya nanti kamu yang polos begini malah jadi korban gombalannya."

Rangga langsung protes dengan wajah memerah. "Aduh, Bu Yuni! Jangan merusak reputasi saya di depan Tania, toh! Tadi malam itu kita cuma... anu, nyari angin segar aja kok."

Tania hanya mendengarkan interaksi itu tanpa niat untuk mengoreksi fakta bahwa dirinyalah yang menghabiskan sisa ciu para pemuda kampung tadi malam. Keramahan kasual yang ditunjukkan Bu Yuni dan kepanikan bodoh dari Rangga perlahan-lahan mulai membentuk sebuah rutinitas baru yang aneh di dalam hidupnya yang kini berjalan sangat lambat, jauh dari desing peluru dan aroma jelaga mesiu.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara, perbedaan waktu menempatkan Seoul di tengah hari yang sibuk, namun suasana di dalam ruang pengawasan Markas Besar Kepolisian Metropolitan terasa sangat mencekam dan dingin.

Kapten Herry berdiri di tengah-tengah ruang kendali utama, dikelilingi oleh belasan layar monitor besar yang menampilkan siaran langsung dari berbagai sudut distrik komersial dan perbatasan kota. Di tangannya, selembar kertas laporan intelijen mengenai pergerakan kapal kargo dari perairan Gyeonggi beberapa minggu lalu sudah remuk akibat cengkeraman jarinya yang terlalu kuat.

Pikiran Herry benar-benar kacau, berada di ambang kerumitan yang luar biasa. Sepasang matanya yang sedingin es menatap layar monitor yang menampilkan barisan kendaraan di gerbang tol, namun fokusnya kosong. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada tugas pengawasan taktis yang sedang berlangsung di hadapannya.

Di mana kamu, Marysa? pertanyaan itu terus bergaung di dalam otaknya seperti detak bom waktu yang menakutkan.

Notifikasi dari saksi mata di pelabuhan Gyeonggi beberapa waktu lalu mengonfirmasi satu hal, Marysa telah keluar dari jangkauan hukum Korea Selatan. Dia telah menyeberangi perbatasan laut. Pertanyaan terbesar yang kini menyiksa kewarasan Herry adalah ke mana arah kapal itu pergi? Apakah dia melarikan diri ke Cina? Hongkong? Atau menyusup jauh ke wilayah selatan Asia yang tak tersentuh oleh jaringan interpol?

"Kapten Herry? Kapten?"

Suara panggilan dari salah satu detektif bawahannya, Detektif Kim, membuyarkan lamunan gelap Herry. Herry tersentak kecil, rahangnya yang tegas mengeras saat dia menoleh dengan tatapan mata yang begitu tajam hingga membuat bawahannya itu sedikit mundur karena segan.

"Ya? Ada apa?" tanya Herry, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

"Ini... Wakil Komisaris Jenderal Han baru saja menelepon. Beliau meminta Anda untuk segera datang ke ruangannya sekarang bersama Nona Jessica. Ini terkait dengan koordinasi pengamanan jalur VIP untuk acara pekan depan, sekaligus... detail makan malam keluarga malam ini," ujar Detektif Kim dengan nada suara yang berhati-hati.

Herry mengembuskan napas pendek melalui hidung, sebuah embusan napas yang sarat akan kelelahan mental yang kronis. Dia menatap lencana kepolisiannya yang tersemat di dada kirinya, lalu beralih pada dokumen pelarian maritim di mejanya. Tugas profesionalnya menuntutnya untuk tetap tegak berdiri sebagai perwira elit, sementara kehidupan pribadinya mendesaknya untuk segera masuk ke dalam lingkaran keluarga Han melalui pernikahan yang megah.

Namun, jiwanya menolak untuk tunduk pada semua formalitas itu selama bayangan Marysa belum berhasil dia temukan. Spekulasi bahwa sang ratu mafia telah berada di luar negeri membuat dadanya semakin sesak oleh rasa tidak berdaya yang asing baginya.

Herry mengambil mantel hitam panjangnya dari sandaran kursi, memakainya dengan gerakan yang kaku dan penuh emosi yang tertahan. Dia melangkah keluar dari ruang pengawasan dengan langkah kaki yang berat, bersiap menghadapi tekanan berlapis dari sang calon mertua dan Jessica, sembari membiarkan obsesi gelapnya terhadap Marysa terus membakar kewarasannya dari dalam secara perlahan dan menyiksa.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!