NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Penentuan dan Teriakan yang Salah Sasaran

Malam itu, Apartemen Griya Asri terasa lebih hening dari biasanya. Tidak ada suara dengungan kulkas, tidak ada deru AC. Bahkan debu pun sepertinya menahan napas.

Bara duduk di atas lemari TV, kakinya digoyang-goyangkan dengan gelisah. Ia sudah memeriksa jam tangan hantunya sepuluh kali dalam lima menit terakhir.

"Pak Broto datang dalam 15 menit," gumam Bara. "Dan kita belum punya rencana. Dinda, kamu di mana?"

Dinda muncul dari kamar mandi dengan wajah segar, rambut rapi, dan memakai blazer formal. Ia terlihat seperti siap menghadiri rapat direksi, bukan sesi teror hantu.

"Aku sedang mempersiapkan mental," kata Dinda tenang. "Dan aku juga sedang live di Instagram."

Bara hampir jatuh dari lemari. "Live?! Sekarang? Saat Pak Broto mau datang inspect? Kamu gila ya?"

"Dengar, Bara," Dinda menunjuk layar ponselnya. "Ada 5.000 penonton online. Mereka menunggu 'konten horor eksklusif' yang saya janjikan kemarin. Jika saya membatalkan, engagement rate saya anjlok. Tapi jika saya lakukan ini dengan benar... kita bisa dapat sponsor."

"Sponsor apa? Obat nyamuk buat usir hantu?" sindir Bara sinis.

"Bukan. Sponsor asuransi jiwa. Ironis, kan?" Dinda tersenyum tipis. "Sekarang, dengarkan rencanaku. Kita nggak perlu menakut-nakuti saya sampai pingsan. Kita hanya perlu membuat saya berteriak. Satu teriakan murni, tulus, dan keras. Pak Broto punya alat pengukur desibel gaib. Kalau tembus 100 dB, dia anggap sukses."

"Lalu bagaimana caranya membuatmu berteriak tanpa melukaimu secara fisik?" tanya Bara bingung.

Dinda mengambil napas dalam. "Kita gunakan psikologi terbalik. Kita buat situasi yang sangat... cringe."

Bara mengerutkan kening. "Cringe?"

"Iya. Memalukan. Canggung. Hal-hal yang membuat manusia modern lebih takut daripada hantu sungguhan. Aku akan membacakan puisi cinta buatan sendiri dengan gaya deklamasi tahun 90-an sambil menatap cermin. Kamu harus bereaksi seolah-olah itu adalah siksaan paling mengerikan di alam semesta."

Bara menatap Dinda ngeri. "Itu... itu lebih jahat daripada menyiram air suci!"

"Persis. Sekarang, posisikan dirimu di belakangku. Jangan lupa ekspresi jijik campur trauma. Dan ingat, teriakanku harus terdengar alami, bukan akting."

Tepat pukul 23.59, suhu ruangan turun drastis. Lampu berkedip tiga kali. Pak Broto materialisasi di tengah ruang tamu, clipboard tulang di tangan, tanduknya bersinar redup.

"Bara. Dinda," suaranya datar. "Waktunya evaluasi."

Dinda segera memulai aksinya. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca palsu, ia mulai mendeklamasikan:

"Oh, Cintaku yang bagai kopi tubruk...

Pahit di lidah, tapi hangat di ulu hati...

Mengapa kau pergi meninggalkan aku...

Seperti sinyal WiFi yang hilang saat hujan..."

Bara, sesuai instruksi, memegang kepalanya seolah ingin meledak. Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar, dan ia mengeluarkan erangan panjang yang penuh penderitaan eksistensial.

Dinda berhenti sejenak, lalu berteriak lantang—bukan karena takut, tapi karena "terlalu malu":

"AAAAARGHHH! BERHENTI! AKU NGGAK KUAT LAGI! INI SIKSAAN BATIN YANG SEBENARNYA!"

Teriakan itu murni. Tulus. Dan yang terpenting, mencapai 108 dB menurut sensor gaib Pak Broto yang langsung berbunyi beep keras.

Pak Broto terdiam. Ia menatap Dinda yang masih berpura-pura menangis, lalu menatap Bara yang masih memegang kepala dengan ekspresi traumatik.

"Ini..." kata Pak Broto pelan. "...adalah metode teror psikologis tingkat lanjut yang belum pernah tercatat dalam manual manapun."

Dinda mengangkat wajah, air mata palsu masih mengalir. "Kami menyebutnya Emotional Damage Horror, Pak. Lebih efektif daripada jumpscare biasa karena menyerang insekuritas generasi milenial."

Pak Broto mengangguk perlahan, terkesan berat. "Sangat... inovatif. Sangat relevan dengan kondisi mental penghuni apartemen masa kini. Bara, kamu berhasil menerapkan strategi yang melampaui kurikulum akademi."

Bara menghela napas lega, hampir ambruk.

"Tapi," tambah Pak Broto tiba-tiba, matanya menyipit. "Ada anomali energi di unit sebelah. Mbak Yuli melaporkan adanya aktivitas mencurigakan yang melibatkan kamera livestream dan janji parfum langka. Apakah ini bagian dari Emotional Damage Horror juga?"

Dinda dan Bara saling pandang panik.

"Ehm..." Dinda berpikir cepat. "Itu adalah... meta-horror layer, Pak. Kami merekam proses pembuatan konten horor untuk menunjukkan bahwa ketakutan itu konstruktif. Sebuah kritik sosial terhadap industri hiburan mistis."

Pak Broto menatap mereka lama. Lalu, ia tersenyum tipis—senyum yang jarang terlihat di wajahnya.

"Kalian berdua... mungkin terlalu kreatif untuk jadi hantu magang biasa." Ia menutup clipboards-nya. "Lulus. Dengan predikat Cum Laude in Psychological Warfare."

Asap hitam mulai menyelimuti tubuhnya. "Tapi ingat, kreativitas tanpa etika adalah chaos. Jaga keseimbangan. Dan... kirimkan link livestream-nya ke email kantor. Saya ingin belajar."

Dengan pop halus, Pak Broto menghilang.

Ruangan kembali normal. Dinda langsung mematikan livestream dan merosot ke sofa. "Aku butuh tidur seminggu."

Bara tersenyum lebar, perasaan lega luar biasa memenuhi dadanya. "Kita berhasil, Din. Benar-benar berhasil."

Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik. Dari ventilasi udara, terdengar suara ketukan pelan. Bukan ketukan marah Mbak Yuli. Ketukan itu ritmis, teratur... seperti kode.

Dua kali. Jeda. Tiga kali. Jeda. Satu kali.

Bara mengenali pola itu. Itu bukan kode hantu. Itu kode Morse manusia.

"SOS," bisik Bara, wajahnya pucat lagi. "Seseorang di dalam ventilasi meminta bantuan."

Dinda bangkit, alisnya bertaut. "Di dalam ventilasi? Tapi Mbak Yuli tadi kabur ke dinding..."

Mereka berdua mendekati ventilasi. Dinda membuka tutupnya dengan obeng. Di dalamnya, tergeletak sebuah ponsel tua yang layarnya retak, masih menyala redup. Di layar itu, ada pesan teks yang baru saja terkirim:

"MEREKA TAHU TENTANG TOPENG BARONG HITAM. JANGAN PERCAYA PADA PENJAGA. LARI SEKARANG."

Bara menelan ludah. Topeng Barong Hitam? Penjaga? Ini bukan urusan hantu magang lagi. Ini sesuatu yang jauh lebih besar, lebih tua, dan lebih berbahaya daripada apapun yang pernah mereka hadapi.

Dinda menatap Bara, matanya serius. "Sepertinya... magang kita baru saja berakhir. Dan petualangan sesungguhnya baru dimulai."

Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang. Tapi cahayanya terasa dingin. Seperti peringatan.

Bara menggenggam clipboards-nya erat. Ia tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi sekadar hantu magang yang takut PHK. Ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang memanggil namanya dari masa lalu yang terlupakan.

Dan entah mengapa, ia merasa siap.

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!