Bismillah... Kisah ini aku ambil dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama. Aku menggabungkannya menjadi sebuah kisah yang mungkin banyak sekali terjadi di kehidupan ini.
Gerd Anxiety adalah Masalah pencernaan, seperti heartburn, mual, dan sakit perut adalah gejala umum yang bisa ditimbulkan baik oleh GERD maupun anxiety. Kalau di masyarakat lebih di kenal dengan sakit asam lambung akut.
Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit yang dia derita. Berbagai cobaan hidup, jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan ini hingga dia akhirnya sembuh dan sukses.
Jangan lupa pilih menu Favorit ya sebelum dibaca 🥰🥰
*****
Deg.. deg.. deg..
Tiba - tiba saja aku merasa sesak dan kesulitan bernafas. Aku segera meraba dadaku, jantungku sangat kencang sekali berdetak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Pakaianku mulai basah karenanya.
Lututku bergetar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Kini tibalah aku di Panti Asuhan Hidayah. Saat aku bernazar dalam hati kemarin Panti Asuhan ini yang ada dalam benakku.
Aku tidak berani lagi mengkir dari niatku itu. Aku tidak sanggup menanggung hukuman dari kelalaianku.
Sampai di Panti Asuhan aku disambut ramah oleh pengurus Panti. Seorang wanita yang sudah berumur.
"Assalamu'alaikum Bunda" sapa wanita itu ramah.
"Wa'alaikumsalam Bu" jawabku.
"Panggil Umi saja ya, semua anak - anak di sini memanggil saya dengan sebutan Umi" ujarnya.
"Oh iya, baik Umi" sahutku.
"Ada keperluan apa Bunda datang ke sini?" tanya Umi.
"Ini Umi saya mau memberikan sedekah ini untuk Panti Asuhan ini" ucapku sambil menyodorkan amplop yang berisi uang lima ratus ribu yang aku ambil di ATM sebelum sampai ke sini.
Umi menerimanya dengan senyuman. Tanpa bisa aku cegah air mataku mengalir dengan derasnya.
"Lho mengapa Bunda menangis?" tanyanya penasaran.
"Iya Umi, menyerahkan amplop ini sangat berat sekali godaannya bagi saya" ungkapku dengan tangan bergetar.
"Bunda boleh cerita kok kalau tidak keberatan" sambut Umi.
"Saya punya nazar saat membeli rumah. Nanti kalau saya pindah rumah saya akan sedekah ke Panti Asuhan ini, tapi setelah saya pindah suami saya berhenti bekerja seminggu kemudian motor saya hilang dan kemudian kemarin suami saya jatuh, kakinya terkilir" ungkapku.
"Innalillahi... " sambut Umi.
"Saat ini jujur saya katakan tabungan saya sedang menipis, saya butuh uang untuk membawa suami berobat ke tukang urut, saya juga butuh uang untuk kehidupan keluarga saya. Diperjalanan ke Panti ini tadi saya mengalami peperangan di hati saya. Saya sadar setan berbisik kepada saya, ngapain saya harus datang ke sini, ada juga Panti Asuhan yang lebih dekat dari rumah, atau kasih ke anak yatim saja yang penting sedekah. Tapi hati saya tetap bersikeras untuk datang ke sini. Kemudian adalah bisikan di hati saya. Mengapa harus sedekah sekarang, saat ini kamu kan sedang susah. Allah pasti mengerti. Hati saya melawan lagi, ini adalah bukti bakti saya kepada Allah. Saya tidak mau mangkir dari janji saya. Kemudian saat saya ke ATM untuk ambil uang ini, lagi - lagi ada yang berbisik kepada saya. Kurangi saja jumlahnya.. Kamu kan butuh uang untuk bawa suami berobat " ungkapku sambil nangis terisak.
"Saya tetap pada janji saya, harus sedekah ke Panti ini dengan jumlah uang yang sudah saya nazar kan di dalam hati. Jadi tolong terima ya Umi, semoga uang ini bermanfaat untuk adik - adik yang tinggal di sini. Saya memohon ampun kepada Allah atas kelalaian saya" sambungku masih menangis terisak.
"Oh ya Allah Bunda mulia sekali hati Bunda. InsyaAllah uang ini kami terima dengan baik dan akan kami pergunakan untuk anak - anak yatim di sini. Nazar Bunda sudah sampai, hutang Bunda sudah tidak ada lagi. Semoga Allah memerikan rezeki yang berlimpah untuk Bunda dan keluarga. Semoga suami Bunda secepatnya sembuh dan bisa bekerja kembali. Bunda dan keluarga sehat selalu. Berkah umur dan rezekinya ya Bunda... Terimakasih atas pemberiannya dan terima kasih Bunda sudah memilih Panti Asuhan kami sebagai pilihan hati Bunda" ucap Umi mencoba menenangkanku.
"Aaamiin... terimakasih atas doanya Umi. Saya pamit pulang ya karena harinya sudah mendung sekali. Saya takut kehujanan sampai di rumah. Rumah saya jauh dari sini" pamit ku undur diri.
"Iya Bunda, hati - hati di jalan ya" Umi memelukku dengan penuh kelembutan.
Aku merasakan kehangatan pelukannnya. Usia Umi ini pasti sebaya dengan Mamaku. Aku memeluknya dengan erat sambil menangis melepaskan semua beban di hatiku.
Setelah aku bisa mengontrol diriku baru aku pamit pulang. Di dalam perjalanan aku tak henti - hentinya menangis. Hujan turun dengan derasnya dan aku tidak berniat untuk berhenti dan memakai mantel.
Sudah lama juga aku tidak mandi hujan seperti ini. Untung juga saat ini sedang hujan aku menangis dengan kuat tanpa perlu malu orang mendengar dan melihat aku menangis.
Air mataku tertutup helm yang membungkus kepalaku. Suaraku juga dikalahkan dengan suara derasnya air hujan yang jatuh ke bumi.
Ya Allah.. maafkan atas semua dosaku, dosa suamiku. Maafkan atas khilaf dan salahku. Aku mengaku lalai ya Allah, aku lupa atas janji - janjiku. Kini semua aku pasrahkan kepadaMU ya Allah. Hanya padaMU lah aku menyembah dan hanya kepadaMU lah aku meminta pertolongan. Doaku dalam hati.
Sesampainya di rumah dengan kaki pincang Mas Fadil menyambutku.
"Bun kenapa basah - basahan? Kan ada mantel di jok motor?" tanya suamiku.
Aku tersenyum lega sambil menatap Mas Fadil.
"Bunda senang Yah, sudah lama Bunda tidak mandi hujan. Bunda ingin mendinginkan pikiran dan hati Bunda yang sudah mulai lalai kepada Allah" jawabku.
"Sudah mandi sana cepat, nanti Bunda masuk angin" perintah Mas Fadil.
Aku langsung menerima handuk yang diberikan Mas Fadil dan masuk ke dalam rumah dari pintu samping yang dekat dengan kamar mandi. Agar rumah tidak basah karena kami masih trauma dengan kejadian suami jatuh kemarin.
Setelah selesai mandi aku langsung memasak air dan membuat teh hangat untuk aku minum bersama suami dan anak - anakku.
Tadi rupanya Mas Fadil menyuruh Lia membeli pisang jadi aku suruh saja Lia menggorengnya memakai tepung. Karena semua persediaan dapur lengkap akhirnya pisang goreng tepung nya ditaburi keju, cerea dan susu kental manis.
Anak - anak bersorak senang menyambut hidangan senja itu. Lagi - lagi aku menatap ke arah luar. Entah mengapa aku memang sangat suka suasana menjelang senja seperti ini.
Aku selalu melihat ke arah langit dan menatap senja. Apalagi saat ini hujan sudah berhenti. Aku merasa hatiku benar - benar plong setelah melakukan sesuatu yang sangat ekstrim.
Benar kata Fatimah, setelah aku melakukan sedekah ekstrim aku merasakan sesuatu hal yang luar biasa. Hatiku rasanya lega dan plong sekali. Beribu beban seperti sudah terlepas dari dadaku yang selama ini menghimpit.
Ya Allah aku ikhlas atas semua yang KAU gariskan untukku. Aku ikhlaskan motorku, aku ikhlas menampung Lia di rumahku ini. Niatku tulus ingin merubahnya menjadi anak yang lebih baik lagi.
Aku akan menganggapnya sebagai anakku sendiri dan tidak membeda - bedakannya dengan anak kandungku sendiri.
Aku melihat Lia sedang bercanda gurau dengan anak - anakku. Kasihan juga melihat nasibnya seperti itu. Sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.
Bapak Ibunya sibuk mencari kebahagiaan dunia mereka sendiri tanpa memikirian anak yang jari korban. Mereka tidak pernah dinafkahi, tidak pernah mendapat kasih sayang. Hanya seperti ini, menumpang kasih sayang dari orang lain.
Tiba - tiba ponselku bergetar, aku meraihnya dan membaca pesan yang masuk.
"Ada pesan dari Rahmat dan Arif Yah" ucapku.
"Buka Bun, siapa tau hal yang penting.
Aku membuka pesan mereka satu persatu dan membacanya.
Rahmat
Kak ini ada sedikit rezeki ya. Maklum tabungan kami juga kandas baru beli rumah dan ini akhir bulan tapi semoga uang ini bisa berguna untuk Kakak dan Keluarga.
Arif
Kaaaak barusan Tia kirim ke rekening Kakak. Semoga bermanfaat ya Kak. Jangan lihat dari jumlahnya ya..
Air mataku langsung mengalir tanpa aku sadari.
"Alhamdulillah ya Allah.... "
.
.
BERSAMBUNG
nonelnya seperti kehidupan kita sehari'', benar'' hidup seperti nyata kita alami,
luar biasa sekali pengalaman yang bisa kita petik