NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7.Keusilan Ivy.

Setelah suasana di desa kembali tenang, barulah Ivy merasakan denyut nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat berjalan perlahan menuju pulang bersama Bibi Nora, ia menyadari bahwa bahunya terasa pegal, lututnya terasa sedikit kaku, dan ada beberapa lecet di lengan serta kakinya akibat gerakan cepat dan benturan saat bertarung tadi. Namun, di balik rasa sakit itu, hatinya terasa sangat ringan dan dipenuhi semangat yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ia merasa telah melakukan sesuatu yang benar, sesuatu yang membuatnya merasa hidup, bukan hanya sekadar menunggu ajal datang.

Begitu tiba di vila, Bibi Nora segera menyuruh Ivy duduk di kursi empuk di ruang tengah dengan wajah cemas. “Duduklah sebentar, Ivy. Jangan banyak bergerak dulu. Biar Bibi panggil dokter pribadi untuk memeriksa lukamu, takut ada bagian dalam yang terluka dan tidak terasa sekarang,” ujarnya segera berniat mengambil telepon.

Namun, Ivy segera menahan tangan Bibi Nora sambil tersenyum tipis. “Tidak perlu berlebihan seperti itu, Bi. Ini hanya lecet dan otot yang kaku saja, tidak ada yang parah. Cukup berikan obat merah untuk luka luar, tempelkan koyok di bagian yang terasa nyeri, dan oleskan sedikit minyak gosok untuk sendi yang terkilir. Itu sudah cukup membuatku pulih kembali.”

Melihat ketegasan di mata Ivy, Bibi Nora akhirnya mengangguk pasrah dan segera mengambil kotak P3K yang tersedia. Saat Bibi Nora sibuk mengobatinya, pandangan Ivy tanpa sadar melayang ke atas kepalanya, melihat angka yang biasanya terus berkurang perlahan. Hari ini ia berharap tidak berubah, namun ternyata angka 20 hari itu terlihat diam, tidak bergerak maju sedikit pun seolah waktu berhenti berjalan.

Ivy tertegun, matanya membelalak tak percaya. Biasanya angka itu terus berkurang setiap jam, dan hanya akan berhenti saat ia meminum obat saja. Namun hari ini, setelah ia merasa sangat senang, bersemangat, dan melakukan hal yang ia sukai, waktu hidupnya ikut terhenti.

“Ternyata… suasana hati yang baik juga bisa menghambat perjalanan waktu itu, sama seperti obat,” gumam Ivy pelan dalam hatinya, hatinya tiba-tiba dipenuhi secercah harapan yang selama ini hilang. “Jadi bukan hanya obat saja yang bisa menahannya. Selama aku tetap bahagia, berbuat baik, dan merasa berguna, mungkin aku bisa memperlambat kematian itu datang lebih lama lagi.”

Perasaan itu membangkitkan kembali semangat yang hampir padam. Ia berdiri perlahan menghadap ke jendela kaca yang menghadap ke halaman luas, lalu menatap langit biru dengan pandangan yang lebih mantap. Dalam hatinya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh: “Tuhan, jika memang ada cara untuk menambah waktuku sedikit saja, aku rela melakukan apa pun. Aku tidak mau menyerah begitu saja pada vonis dokter. Aku ingin hidup, ingin merasakan lebih banyak hal indah yang belum sempat aku nikmati.”

Malam itu berlalu dengan tenang, dan saat pagi menjelang menyingsing, cahaya matahari perlahan masuk menerangi kamar tidur Ivy. Begitu matanya terbuka, pandangannya langsung tertuju pada angka di atas kepalanya yang kini sudah berubah menjadi 19 hari. Waktu tetap berjalan maju, namun kali ini Ivy tidak merasa sedih atau putus asa seperti biasanya. Ia hanya menghela napas panjang, lalu mencoba bangkit dari tempat tidur.

Begitu berdiri, ia merasakan seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri, sisa tenaga yang dikeluarkan kemarin terasa jelas. “Huft… ternyata tubuh ini sudah lama tidak diajak bergerak aktif, jadi rasanya seperti dipukuli semalaman,” gumamnya sambil memijat bahu dan lengannya secara perlahan. “Sepertinya aku harus mulai rutin berolahraga lagi agar tubuh tidak semakin lemah.”

Setelah mandi dan bersiap, Ivy turun ke ruang makan untuk sarapan. Bibi Nora sudah menyiapkan makanan dan segelas air putih beserta obat-obatan yang harus diminum. “Minumlah obatnya teratur, Nak. Jangan sampai terlewatkan,” pesan Bibi Nora dengan lembut.

Ivy meminumnya dengan patuh, dan seketika itu juga angka 19 hari di atas kepalanya kembali berhenti bergerak selama satu jam penuh. Setelah selesai makan, ia berpamitan untuk keluar sebentar. “Bi, aku mau lari-lari kecil di jalan setapak depan, tidak akan jauh. Jangan khawatir, aku akan hati-hati.”

Bibi Nora hanya bisa mengangguk dengan senyum, membiarkannya melakukan apa yang membuatnya nyaman. Ivy pun melangkah keluar, berjalan santai terlebih dahulu sebelum mulai berlari pelan sambil menikmati udara pagi yang segar dan sejuk.

Di waktu yang hampir bersamaan, di jalan raya yang menuju arah desa, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, begitu sampai di tikungan jalan yang mulai menyempit dan berubah menjadi tanah berbatu serta berlumpur, mobil itu terpaksa berhenti mendadak. Suara mesin menderu namun ban mobil tidak bisa melaju lagi karena terjebak di tanah yang tidak rata.

Rama Cahya yang duduk di kursi belakang membuka kaca jendela dengan wajah masam, sedangkan Larry segera turun memeriksa keadaan. “Tuan, jalan di depan ini tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Tanahnya becek dan berbatu, mobil ini akan rusak jika dipaksakan,” lapor Larry dengan nada takut.

Belum sempat Rama menjawab, terdengar suara tawa ringan namun jelas dari kejauhan. Ivy yang sedang berlari kecil berhenti dan menatap mereka dengan tatapan geli. “Wah, mobil mewah memang lemah ya. Tidak bisa melewati jalan yang sedikit berbatu dan berlumpur. Kalau ingin masuk ke sini, seharusnya kalian bawa traktor atau sepeda motor saja, bukan kendaraan seharga miliaran ini,” ejeknya dengan nada santai namun menusuk.

Mendengar ucapan itu, alis Rama terangkat tajam, tatapannya yang dingin langsung tertuju pada sosok gadis yang berpenampilan sederhana namun memiliki keberanian mengomentari dirinya. Ia menahan amarah yang mulai muncul, lalu memberi isyarat pada supir untuk mengurus mobilnya terlebih dahulu.

Saat Ivy hendak melanjutkan larinya, Larry segera melangkah menghalangi jalannya dengan sikap sopan namun tegas. “Permisi, Nona. Kami sedang mencari jalan menuju Desa Gemilang. Apakah Nona tahu jalan yang benar ke sana?”

Ivy berhenti, menatap kedua pria berpakaian rapi dan mahal itu dari ujung kaki hingga kepala. Dalam hatinya, ia langsung menduga—mereka pasti orang-orang yang mewakili perusahaan yang ingin mengusir warga desa kemarin. Sebuah ide licik pun terlintas di benaknya.

Ia mengangguk seolah bersedia membantu, lalu menunjuk ke arah jalan yang berlawanan dengan arah desa yang sebenarnya. “Tentu saja aku tahu. Kalian salah arah jalan ini. Desa Gemilang letaknya agak jauh dari sini, harus lewat jalan itu dulu,” ucapnya meyakinkan sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang justru masuk ke dalam hutan lebat.

Larry yang tidak mengenal daerah itu sama sekali langsung percaya. “Terima kasih banyak, Nona. Bolehkah Nona menunjukkan jalan yang lebih jelas sedikit agar kami tidak tersesat?”

“Tentu saja, ikuti saja terus jalan ini lurus, nanti belok ke kanan, lalu belok lagi ke kiri mengikuti aliran sungai, dan nanti sampailah,” jawab Ivy dengan wajah polos namun dalam hatinya tertawa puas. Ikuti saja, nanti kalian akan berputar-putar mengelilingi desa sampai pagi besok baru sadar kalau tersesat, batinnya sambil tersenyum licik.

Setelah memastikan mereka berdua melangkah percaya diri menuju arah yang salah, Ivy melanjutkan larinya dengan langkah yang lebih ringan, seolah baru saja memenangkan sebuah pertarungan kecil yang menyenangkan.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!