Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.
--------------------
SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.
Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.
Yuks kepoin kisah mereka!!!
---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - Pertemuan Tidak Terduga.
Di dalam ruangan kerjanya, Hanssel sedang beradu argumen dengan ibunya. Suaranya tertahan, tapi nada tajamnya jelas menusuk.
“Ma, sejujurnya... Adamson tidak sedang kekurangan tenaga kerja,” ucap Hanssel dingin. “Kita tidak butuh tambahan, apalagi dari jalur belakang.”
Nafasnya berat, menahan amarah. Ia ingin menolak, tapi tahu batas antara penolakan dan kedurhakaan.
“Aku akan tanyakan ke bagian Desain nanti. Hari ini, lebih baik Mama pulang. Aku sedang sangat sibuk.”
Nada suaranya ketus, tak memberi ruang diskusi. Nyonya Rossie memicingkan mata. “Catrin, tunggu di luar sebentar,” ucapnya tanpa menoleh.
“Baik, Tante...” jawab Catherina, lalu melangkah keluar, dengan hati yang mulai terasa gerah.
Dia menunggu di ruangan Nina. Pandangannya menyapu sekeliling, lalu tertumbuk pada sudut meja Nina masih ada sisa aroma Hanssel yang familiar baginya. Pandangan Catherina menangkap tumpukan dokumen, laptop yang tertutup rapi, hingga secarik post-it berwarna pink pucat.
Catherina mengambilnya. Matanya membulat saat membaca tulisan tangan Hanssel yang sangat ia kenal:
“Love you, Nenek Lampir!”
Lengkap dengan gambar emoji lucu dan bentuk hati, seketika darahnya mendidih.
"Ini... tulisan tangan Hanssel!” bisiknya pelan, hampir tak percaya.
Tapi matanya tidak bisa dibohongi. Itu tulisan Hanssel. Gaya bercanda khasnya. Dan “Nenek Lampir”… Siapa lagi kalau bukan Nina?
Crakk! Post-it itu diremas dalam genggaman tangannya.
“Dia... punya affair dengan sekretaris jeleknya?!” desisnya penuh benci. “Pantas dia nggak suka aku di sini!”
Catherina membuang post-it itu ke tong sampah dengan ekspresi jijik, lalu melipat tangan di dada. “Karennina... sebentar lagi posisi dan laki-laki yang kau dekati akan jadi milikku.”
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Nina berdiri di ambang pintu, memandangi ruangan, lalu pandangannya tertumbuk pada tong sampah. Ia sempat melihat secarik warna pink di sana.
“Oh... Maaf, tadi Tante Rossie bilang aku boleh tunggu di sini,” ucap Catherina, mengatur senyum palsunya.
“It’s okay,” jawab Nina ramah, meski matanya menyipit sejenak ke arah tong sampah. Ia tahu betul apa yang hilang. Tapi tak satu pun kata keluar dari bibirnya, hanya senyum kecil yang muncul dengan makna tersembunyi.
Tak lama, Nyonya Rossie masuk. “Nina, mulai besok kamu bagi tugasmu dengan Catherina, ya. Sampai bagian Desain menyelesaikan asesmennya.”
Nina terdiam. Matanya menyapu wajah Nyonya Adamson, lalu bergeser pada Catherina. Ini akan merepotkan. Apalagi di tengah rencananya menjebak Suho. Tapi sebelum ia bisa berkata apa pun—
“TIDAK BISA!!”
Hanssel tiba-tiba masuk dengan langkah cepat dan ekspresi kesal.
“HANSSEL!” bentak Rossie kaget.
“Dia satu-satunya karyawan terbaik Adamson saat ini. Dua proyek besar tahun ini di dapatkan kita karena dia,” ujar Hanssel lantang. “Kalau sampai dia salah fokus, habis kita di pasar global!”
“Justru dengan bantuan Catherina, dia bisa lebih ringan tugasnya!” sanggah ibunya.
Hanssel menatap tajam Catherina. “Mulai besok, kamu jadi manajer pemasaran. Aku pastikan kamu bisa tunjukkan kemampuanmu tanpa mengganggu departemen lain.”
Catherina mengangkat dagu, berusaha tetap anggun meski hatinya terbakar.
“Oh, up to you. Aku akan buktikan bahwa aku sangat... mampu.”
Tapi hatinya remuk. Hanssel lebih membela sekretarisnya... daripada dirinya.
“Nina, siapkan berkas Suho. Kita ketemu klien sekarang juga!”
Nadanya tegas dan tajam. Semua di ruangan menegang.
“Cepat!” bentaknya tiba-tiba, membuat Nina sedikit tersentak.
“Baik, Pak...” jawab Nina sambil bergerak cepat, mengemasi laptop dan tasnya.
“SEJAK KAPAN KAMU LAMBAT?!” seru Hanssel lagi, kali ini lebih keras.
Nina membeku, lalu menatapnya. “What the hell is wrong with you?!”
Hanssel tidak menjawab. Matanya hanya menyiratkan sesuatu yang dalam, namun penuh badai. Catherina terus mengamati. Ada yang tak beres. Ada sesuatu antara mereka.
“Kalau boleh tahu... Kita mau ke mana?” tanya Nina sambil berusaha menyamakan langkah.
“KE CHINA!” jawab Hanssel cepat, matanya lurus ke depan.
“Lo lagi PMS ya?!” hardik Nina, tak kalah sengit.
Hanssel mendengus panjang, lalu tiba-tiba menarik lengannya kasar.
“HANSSEL LEPASKAN!” teriak Nina, menolak diperlakukan seperti barang.
Begitu masuk ke mobil, belum sempat Nina membuka mulut—
Hanssel mencumbunya dengan kasar penuh emosional.
Ciuman itu bukan kasih sayang. Tapi luapan rasa yang tak bisa dikendalikan. Rasa marah, cemburu, frustasi, dan hasrat yang bercampur jadi satu. Nina berusaha keras mendorong dadanya, terengah, dan matanya membelalak. “Apa yang kamu lakukan, ha?!”
"Aaaargh!!" Nina berontak, mendorong dada Hanssel sekuat tenaga.
"Kau gila!" pekiknya, nafasnya tersengal. Mata wanita itu memancarkan amarah dan luka yang mendalam.
Namun Hanssel tetap mencengkram erat pergelangan tangannya, ekspresi wajahnya seperti pria yang kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Dengan wajah menegang, dia melajukan mobilnya dalam diam penuh ketegangan.
Begitu sampai di hotel pusat kota, Hanssel langsung menghubungi Farell.
"Booking satu kamar, sekarang." suaranya tegas dan nyaris tak terdengar emosi.
Nina terus memprotes, memaki, bahkan memukul bahu Hanssel saat mereka memasuki lobi hotel. Namun pria itu seperti batu. Hatinya yang penuh gejolak mengabaikan logika.
Setibanya di kamar, Hanssel menarik Nina masuk, dan dengan tubuh yang berguncang oleh emosi dan kerinduan, dia menahannya di ranjang. Nina meronta, menangis, dan memohon agar pria itu berhenti.
"Kau kenapa menolakku, Nina?! Aku suamimu!" raung Hanssel, suaranya bergetar di antara kekesalan dan luka batin yang menganga.
Nina menangis, tubuhnya gemetar. "Karena kau tak melihatku sebagai wanita, Hanssel... Kau hanya melihat tubuhku!"
Perlahan, seperti tersadar dari mimpi buruk, Hanssel terdiam. Nafasnya memburu. Dia menarik diri, menatap wajah wanita yang kini menangis di hadapannya.
"Aku... aku minta maaf," katanya lirih, mengusap pipi Nina dengan jemari gemetar. "Aku hanya... aku sangat merindukanmu, Nina... Sampai aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya selain dengan memiliki dirimu..."
"Bullshit!" Nina memalingkan wajah.
Namun Hanssel memeluknya dengan erat, mencium ubun-ubunnya perlahan.
"Aku memang gila, Nina. Tapi hanya padamu. Kau tak tahu betapa hancurnya aku setiap kali kau jauh dariku..."
Nina yang masih terisak, tak mampu membalas kata-katanya. Tapi tubuhnya akhirnya luluh. Kerinduan yang tak terbendung membuatnya tak kuasa menahan kehangatan Hanssel yang kini berubah menjadi lembut dan penuh kasih.
"Aku mencintaimu, Hans..." bisiknya pelan, lirih seperti desir angin.
Hanssel mencium pipinya, lalu memeluknya seolah tak ingin kehilangan wanita itu lagi.
Beberapa waktu kemudian...
Hanssel keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, rambutnya masih basah meneteskan air ke bahu lebarnya yang kekar. Nina yang baru bangun hanya bisa mengalihkan tatapan. Namun dalam hati, dia bergumam lirih, Ya Tuhan... Sekarang aku mengerti kenapa wanita-wanita tergila-gila padanya. Dia benar-benar monster... dan aku rela... kesal! Tapi rela!
Dengan langkah pelan, Nina bangkit dari ranjang, wajahnya memerah, tubuhnya sedikit pegal. Tanpa bicara, ia berjalan menuju kamar mandi.
"Masih sakit, sayang?" Hanssel bertanya lembut, namun Nina tak menjawab. Ia hanya menutup pintu kamar mandi dengan kesal.
Hanssel menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Cemburumu... lucu juga."
Satu jam kemudian, mereka telah berpakaian rapi dan berada dalam mobil.
"Kita ini sebenarnya mau ketemu siapa?" tanya Nina masih kesal.
"Startup baru. Founder-nya undang langsung. Katanya, kalau dia suka proposal dan presentasi kita, langsung tunjuk Adamson sebagai kontraktor utama."
"Siapa namanya?"
"Mr. K," jawab Hanssel sambil memainkan stir.
"Mr. K? Perusahaan apa itu?"
"Nanti juga kamu tahu. Fokus aja. Jangan malah kepikiran yang aneh-aneh..."
"Tapi aku merasa ini aneh!"
"Sudah kubilang, Nina. Trust me."
Nina duduk di dalam mobil dengan gelisah. Dari awal, dia merasa tidak nyaman dengan proyek yang tiba-tiba muncul begitu saja tanpa persetujuannya. Biasanya, dia akan diberi waktu mempelajari proposal dan data klien, setidaknya sehari sebelumnya. Tapi kali ini? Semua terlalu mendadak.
Lebih dari itu, ada keganjilan lain. Hanssel tampak gugup. Tak seperti biasanya dia begitu terburu-buru dalam mengambil keputusan bisnis, apalagi dengan calon klien yang tidak dikenal jelas identitasnya.
Mereka tiba di sebuah hotel mewah, hanya beberapa blok dari hotel tempat mereka menginap pagi tadi. Seorang pria berjas rapi sudah menunggu mereka di lobi, lalu mempersilakan mereka mengikuti menuju ruang pertemuan khusus di lantai atas.
Langkah-langkah Nina terasa berat. Jantungnya berdegup tak karuan. Semakin dekat ke ruang itu, rasa cemas dalam hatinya kian menggumpal.
Begitu pintu dibuka oleh asisten Mr. K, sepasang mata milik Nina membelalak seketika. Di balik meja panjang berlapis kaca dan dinding interior berdesain elegan, tampak seorang pria berdiri sambil memutar secangkir kopi hitam.
Wajah serta tatapan sinis itu membuat wajah Nina berubah seketika. "Aaaaww!" Pekik Nina spontan.
Hanssel yang berada di belakangnya langsung terkejut. "Kamu kenapa?!" tanyanya panik.
Nina berbalik, menatap Hanssel dengan ekspresi kalut. "E-eee... Aku… sakit perut. Kebelet!"
Tanpa menunggu respon, Nina langsung kabur. Langkahnya cepat dan tergesa seolah dikejar hantu, meninggalkan Hanssel yang tertegun penuh kebingungan.
"Hah? Apa-apaan itu?" gumam Hanssel pelan.
Di dalam ruangan, Mr. K meletakkan cangkir kopinya lalu berjalan santai mendekat. Senyum simpul menghiasi wajah tampannya. Dia mengangkat tangan memberikan isyarat, dan asistennya segera berlalu keluar menyusul Nina.
"Tuan Hanssel, kenapa anda diam saja?" sapanya ramah namun mengandung nuansa sarkasme yang halus.
Hanssel cepat-cepat tersadar dari lamunannya. Dia melangkah maju, menjabat tangan pria itu dengan canggung.
"Ah, maafkan saya. Saya... sedikit terganggu. Terima kasih atas waktunya."
Mereka duduk berdampingan. Namun kali ini, Hanssel tidak setenang biasanya. Pandangannya sesekali melirik pintu, berharap Nina segera kembali.
"Hmm... Kemana sekretaris Anda? Bukankah seharusnya dia yang mempresentasikan proposalnya?"
Hanssel menelan ludah. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. "Dia... sedang ke kamar kecil. Maaf, tadi mendadak sekali."
Mr. K mengangguk ringan. Matanya memandang ke arah pintu dengan pandangan misterius.
"Saya sudah tekankan sejak awal, Tuan Hanssel. Saya setuju bertemu hari ini karena ingin mendengar langsung dari sekretaris Anda. Bukan dari Anda."
"I-itu..." Hanssel mulai kehilangan kata.
Barulah saat itu pikirannya mengingat kembali... saat pertama kali bertemu Mr. K di pertemuan informal di Negara S, dia bisa menjawab dengan cerdas dan penuh percaya diri. Tapi... kedatangan Catherina di tengah-tengah pembicaraan membuat Hanssel kalut dan lupa segalanya.
Sementara itu, di luar ruangan, Nina menunduk sambil menyentuh dada menenangkan degup jantung yang mengamuk hebat.
"Kenapa harus dia..." bisiknya lirih, menatap langit-langit koridor hotel.
"Kak Keenan akan menyeret dan menjatuhkanku!"
"Aku tahu itu!" desis Nina panik. Dia mondar-mandir di depan toilet umum hotel, jari-jarinya saling mengait, bibirnya gemetar. Pikirannya kalut, dadanya sesak oleh tekanan yang begitu berat.
Bayangan wajah Keenan terus menari dalam kepalanya. Tatapan dingin itu. Senyum sinis yang selalu bisa membuatnya merasa kecil. Kenapa harus dia?! Dari sekian banyak klien di dunia, kenapa yang harus dihadapi justru lelaki yang paling tidak ingin ditemuinya?
Tiba-tiba—
SREEK!
Bersambung...
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕