Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Jiwa yang Kosong
Kegelapan malam Sabtu Kliwon meluruh lambat, digantikan oleh hamparan fajar kelabu yang dingin di kaki lereng Gunung Raung. Kabut pagi yang turun tidak membawa kesegaran, melainkan bau tanah basah yang pekat bercampur aroma anyir terasi busuk yang entah datang dari mana. Angin pegunungan berembus lambat, menggoyang sisa-dinding tripleks rumah Sekar yang jebol parah akibat hantaman badai ghaib beberapa jam lalu.
Mbah Sariti telah menghilang Kembali ke pondoknya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada mencoba memulihkan Kembali energi batinnya yang terkuras habis.
Di dalam kamar belakang yang kini porak-poranda, Bintang masih terduduk lemas di atas lantai tegel yang retak dan lembap. Seluruh persendian tubuhnya terasa ngilu, seolah-olah dipaksa meregang melampaui batas anatomis manusia. Baju kaos hitamnya telah mengering, meninggalkan bercak-bercak kaku akibat semburan darah spiritual yang sempat keluar dari mulut dan hidungnya selama ritual penarikan sukma semalam.
Di sampingnya, Ibu Sekar perlahan-lahan mulai siuman. Kesadarannya kembali dengan sebuah sentakan panah ketakutan yang hebat. Begitu kelopak matanya terbuka, perempuan paruh baya itu langsung merangkak histeris menuju tepi dipan bambu, mengabaikan lutut dan telapak tangannya yang lecet tergores pecahan mangkuk tanah liat.
"Sekar...! Anakku, Sekar...!" jerit Rahayu, suaranya parau dan bergetar hebat.
Namun, langkah kaki Rahayu mendadak terhenti di ambang dipan. Tubuhnya gemetar, membeku seketika saat pandangan matanya berbenturan langsung dengan sosok yang duduk tegak di atas kasur kapuk yang telah robek-robek.
Sekar tidak lagi menjerit. Dia tidak lagi mencakar wajahnya atau meliuk-liuk kesakitan seumpama ular yang terbakar bara seperti beberapa jam lalu. Gadis itu kini duduk diam, bersedekap dengan punggung yang tegak lurus membentuk sudut sembilan puluh derajat yang sempurna. Posisinya begitu statis, begitu kaku, seolah-olah tubuh itu sengaja dibentuk dari lilin dingin yang tidak memiliki tulang selangka.
Pakaian kebaya putih yang dikenakannya tampak kusut, dipenuhi noda kecokelatan dari cairan amis yang keluar dari luka cakaran tangannya sendiri semalam. Anehnya, luka-luka robek di pipi dan leher Sekar tidak lagi mengeluarkan darah. Luka itu telah mengatup rapat secara tidak wajar, meninggalkan bekas guratan keloid berwarna keunguan yang menonjol kaku, menyerupai pola sisik reptil yang mati mengering di bawah terik matahari.
"Sekar... ini Ibu, Nduk... kau bisa mendengar Ibu?" Rahayu memberanikan diri mengulurkan tangan, mencoba menyentuh jemari anak perempuannya.
Sreeet.
Begitu kulit telapak tangan Rahayu bersentuhan dengan punggung tangan Sekar, perempuan itu langsung menarik tangannya kembali dengan jeritan tertahan. Dingin. Suhu tubuh Sekar sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehangatan makhluk hidup fana. Kulitnya terasa seperti gumpalan daging ayam yang baru dikeluarkan dari dalam lemari es pembeku—keras, kaku, dan diselimuti lapisan minyak tipis yang licin sekaligus berbau anyir bunga kenanga busuk.
Sekar perlahan memutar kepalanya ke arah sang ibu. Gerakan lehernya lambat, patah-patah, seolah-olah setiap sendi atlas di pangkal tengkoraknya harus digerakkan secara paksa menggunakan tuas mekanis yang berkarat. Krrrk... krrrk... Suara gesekan tulang batinnya terdengar samar namun nyata di dalam kesunyian kamar pagi itu.
Horor yang paling mendalam terletak pada bagian wajahnya. Selaput putih yang semalam menutupi seluruh bola matanya kini telah menyusut kembali ke sudut kelopak. Bagian hitam dan iris matanya telah muncul kembali. Secara fisik, Sekar tampak seperti telah "sembuh" dan kembali normal. Namun, begitu seseorang menatap langsung ke dalam manik matanya, kegelapan murni yang mengerikan akan langsung menyergap sanubari.
Mata Sekar terbuka lebar, sangat lebar hingga bagian putih di atas dan bawah irisnya terlihat sepenuhnya. Dan yang membuat bulu kuduk Bintang berdiri di sudut ruangan adalah fakta bahwa sejak pertama kali membuka mata lima belas menit lalu, Sekar tidak berkedip sama sekali.
Satu detik. Sepuluh detik. Satu menit.
Kelopak mata itu tetap terbuka kaku, menatap lurus ke depan tanpa ada getaran atau reflek kelembapan sekecil apa pun yang biasa terjadi pada mata manusia normal. Bola mata itu kering, mengilat tegang seumpama mata boneka porselen murah yang dipajang di rumah duka. Fokus pandangannya tidak tertuju pada wajah ibunya, melainkan menembus melampaui tubuh manusia di depannya, menatap kosong ke arah dinding pembatas kamar yang gelap.
"Bintang... ada apa dengan anakku, Bintang? Kenapa dia menatap Ibu seperti itu?" Rahayu mulai menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan sarung kumal. Perasaan naluriah seorang ibu tidak bisa dibohongi; dia tahu bahwa sosok yang kini duduk di atas dipan itu memiliki rupa anak perempuannya, namun esensi di dalamnya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
Bintang melangkah maju dengan tertatih-tatih, bertumpu pada tiang penyangga rumah yang miring. Dia memusatkan batinnya, mencoba membaca sisa-sisa energi spiritual yang mengalir di dalam tubuh Sekar. Hasilnya nihil. Ruang batin di dalam dada Sekar terasa seperti sebuah sumur tua yang kosong, gelap, dan sangat dalam—sebuah jurang hampa yang tidak lagi memancarkan aura kehidupan manusia fana.
"Sukma manusianya... separuh tertinggal di gerbang Wates Ghaib, Bu," bisik Bintang dengan nada suara yang teramat berat. Tangan kirinya mengepal erat, meratapi ketidakberdayaan dirinya yang gagal membawa pulang jiwa Sekar secara utuh semalam. "Kalingga menahan inti jiwanya. Yang berhasil kita tarik kembali ke dunia nyata... hanyalah cangkang fisik beserta potongan kesadaran yang rusak. Raga Sekar kosong."
Mendengar penjelasan Bintang, tubuh Sekar tiba-tiba bergerak sendiri. Tanpa mengeluarkan suara sepatah pun, dia menurunkan kedua kakinya dari atas dipan. Gerakannya meluncur kaku, telapak kakinya yang pucat menapak langsung di atas lantai tegel yang retak dan lembap tanpa alas kaki.
Dia berjalan lambat, menyeret tumitnya menyusuri lantai kamar menuju sudut ruangan yang paling gelap—area di balik lemari pakaian tua yang tidak pernah terjangkau oleh berkas cahaya matahari fajar. Di tempat itulah semalam proyeksi ghaif Kalingga sempat memanipulasi batin Rahayu.
Sreeet... sreeet...
Begitu sampai di sudut sempit tersebut, Sekar membalikkan tubuhnya membelakangi ruangan. Dia melungker kaku, mendudukkan dirinya di atas lantai tanah dengan posisi lutut yang ditekuk tinggi hingga menyentuh dada, persis seperti posisi seekor ular kobra yang sedang melingkar bersembunyi di dalam liang tanah yang gelap.
Kepalanya mendongak, menempelkan dahi pucatnya langsung pada permukaan dinding tripleks yang berjamur. Matanya yang tidak pernah berkedip itu kini menatap lurus ke arah serat-serat kayu tripleks dalam jarak kurang dari tiga sentimeter.
"Sekar... ayo makan dulu, Nduk. Ibu sudah buatkan bubur hangat," puji Rahayu beberapa jam kemudian, mencoba bersikap normal di tengah cekaman teror psikologis yang kian menebal di dalam rumah mereka.
Rahayu meletakkan sebuah piring seng berisi bubur dengan kuah sayur bersantan di samping tubuh Sekar. Namun, gadis itu sama sekali tidak menoleh. Dia tidak bergerak, tidak bernapas dengan ritme yang teratur, dan tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada makanan manusia.
Dua jam berlalu. Empat jam berlalu. Hingga matahari mencapai titik puncaknya di atas kepala, piring bubur itu tetap utuh, mulai dikerumuni lalat hijau yang berdatangan dari luar rumah. Sementara Sekar tetap berada di posisinya—duduk membeku di sudut gelap, menatap dinding tanpa ekspresi, seolah-olah waktu bagi dirinya telah berhenti berputar sejak malam jahanam itu.
Kengerian di dalam rumah lapuk itu kian merangkak naik seiring berjalannya hari. Memasuki hari kedua pasca ritual yang gagal, Sekar mutlak tidak pernah bergeser satu jengkal pun dari sudut kamar yang gelap tersebut. Dia tidak tidur, tidak buang air, dan tidak pernah menyentuh setetes air pun yang diletakkan ibunya di lantai.
Bintang, yang menginap di ruang tamu untuk menjaga situasi, berkali-kali menyaksikan pemandangan yang meruntuhkan logika sehatnya. Setiap kali malam tiba dan seluruh lampu dipadamkan, Bintang bisa mendengar suara desisan halus yang keluar secara konstan dari sudut kamar Sekar.
Hhhssss... Hhhssss...
Suara itu bukan berasal dari tenggorokan manusia yang sedang mendengkur. Itu adalah suara embusan napas kering yang bergesek dengan air liur yang kental, berirama lambat seolah-olah paru-paru di dalam dada Sekar telah bermutasi menjadi kantung udara milik reptil ghaib.
Saat Bintang mencoba mendekat membawa sebatang lilin, cahaya kecil dari api lilin itu akan memantulkan pemandangan yang mengerikan pada tubuh Sekar. Kulit di sepanjang punggung Sekar—terutama di area belikat tempat rajah Sabtu Kliwon berada—tampak berkedut-kedut gila di bawah kain kebaya putihnya. Ada sesuatu yang bergerak merayap secara berputar di balik lapisan kulitnya, menyerupai kepalan cacing tanah raksasa atau belitan ekor ular kecil yang mencoba mencari jalan keluar menembus pori-pori daging fana.
"Bintang... lihat ini..." bisik Rahayu pada pagi hari ketiga dengan wajah yang luar biasa cekung. Perempuan itu tampak sepuluh tahun lebih tua, matanya merah bengkak karena terus-menerus menangis dalam ketakutan yang sunyi.
Perempuan itu menunjuk ke arah piring makanan yang diletakkan di dekat Sekar semalam. Makanan manusia seperti nasi atau roti sama sekali tidak disentuh. Namun, di atas lantai tegel yang retak dan lembap di sekitar kaki Sekar, berserakan bangkai-bangkai kecil. Tiga ekor cicak dinding dan seekor tikus celurut got tergeletak mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Tubuh hewan-hewan kecil itu kering kerontang, mengempis seolah-olah seluruh cairan darah, sumsum, dan esensi kehidupan di dalam tubuh mereka telah disedot habis melalui lubang kecil yang membiru di bagian leher mereka.
"Dia... dia tidak makan bubur, Bintang. Tapi semalam... Ibu mendengar ada suara decakan di dalam kegelapan. Seperti suara lidah yang sedang menjilati sesuatu yang basah..." ratap Rahayu, tubuhnya bergetar hebat hingga nyaris jatuh pingsan jika tidak ditangkap oleh Bintang.
Bintang mendekati Sekar yang masih menempelkan dahinya di dinding tripleks. Bau anyir bunga kenanga busuk dari tubuh gadis itu kini kian pekat, bercampur dengan aroma asam dari raga yang tidak pernah dibersihkan namun anehnya tidak mengalami pembusukan bakteri fana.
"Sekar," panggil Bintang, suaranya ditekan serendah mungkin, mencoba memanggil sisa potongan jiwa kesadaran yang semalam berhasil dia bawa pulang dari jembatan ghaib. "Ini Bintang. Kalau kau masih ada di dalam sana... berikan aku tanda. Katakan sesuatu."
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Sekar menghentikan tatapannya pada dinding tripleks. Dia menarik kepalanya mundur beberapa sentimeter. Namun, tubuhnya tetap tidak berbalik.
Perlahan, bibirnya yang kering dan pecah-pecah mulai bergerak, membentuk untaian kalimat yang diucapkan dengan nada datar, monoton, tanpa ada intonasi naik turun seumpama suara robot yang diprogram menggunakan pita kaset rusak.
"Rumah... ini... terlalu... panas..." bisik Sekar.
Mata putihnya yang kering mendongak, melirik ke arah langit-langit kamar. "Di bawah... sana... lebih... dingin. Kamar... hitam... banyak... air... Kalingga... sedang... menunggu... bagian... yang... belum... lengkap..."
Mendengar nama Kalingga diucapkan dari mulut anak perempuannya dengan nada sedingin itu, Rahayu langsung menjerit histeris dan berlari keluar kamar, tidak sanggup lagi menahan hantaman horor psikologis yang meremukkan kewarasannya.
Bintang mundur satu langkah, merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Kalimat yang diucapkan Sekar bukan berasal dari pikiran manusianya yang sadar. Itu adalah pesan gaib yang dikirimkan oleh sisa energi Wisa Sengkolo yang tertinggal di dalam sumsum tulang belakangnya. Kalingga tidak perlu hadir secara fisik di dunia nyata untuk meneror mereka; raga Sekar yang kosong kini telah menjadi antena ghaib yang menangis dan memancarkan frekuensi terkutuk dari dasar Istana Sisik Hitam secara konstan.
Di luar rumah, langit kian menggelap meskipun jam baru menunjukkan pukul dua siang. Awan hitam tebal berputar rendah di atas atap bangunan lapuk tersebut, diiringi suara petir tunggal yang menggelegar tanpa hujan. Teror di dalam rumah Sekar baru saja dimulai, dan kali ini, musuh yang dihadapi Bintang bukan lagi lelembut yang menyerang dari kegelapan gaib, melainkan sosok gadis... yang raganya kini perlahan-lahan mulai berubah menjadi sarang baru bagi balatentara melata Kalingga.
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,