NovelToon NovelToon
Marry (To) Me

Marry (To) Me

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Far Choinice

Will you marry me, miss Marry?


'Sorry, No'

Sebuah pertanyaan dan jawaban yang mengubah segalanya. Marry menolak Sean tanpa jeda.

Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan di suatu RS. Perlahan, mereka menguraikan benang merah masalalu. Tapi, disisi lain, mereka juga harus menghadapi banyak kisah rumit yang membuat Marry berada di satu pertanyaan yang sama tentang pernikahan, apakah dia bisa menerima lamaran itu atau menolaknya. Lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fall In Love

          Marry membolak-balik amplop peach yang ia terima dari Zara. Sebuah undangan untuk pesta pertunangan akhir pekan ini. Untuk ukuran sebuah hubungan perjodohan, Marry rasa ini terlalu cepat. Mereka baru saja dijodohkan tidak sampai sebulan dan tiba-tiba saja mereka sudah mau bertunangan. Bahkan, tidur bersama? Ini terlalu gila. Marry melirik ke arah Zara yang masih asyik menonton  TV sambil sesekali membalas pesan dari manajernya. Sepertinya, sang manajer sama terkejutnya dengan Marry akan berita pertunangan ini. Sempat terdengar omelan saat Zara mengangkat panggilan dari manajernya. Mereka sempat membahas sponsor yang harus mereka ganti rugi karena perjanjian kontrak mereka batal akibat Zara yang sudah tidak single. Dan, Zara? Oh, dia santai sekali.

           Memang beda, orang yang terlahir kaya saat sedang menanggapi hal-hal kerugian finansial kecil seperti ini, akan sangat santai. Zara dipastikan rugi hingga lima puluh miliar. Tapi, dia sangat santai. Lima puluh miliar, bagi Zara sudah seperti sedang bersin saja. Marry menelisik rumah mereka yang saat ini menjadi naungan Marry. Rumah ini asalnya adalah milik Zara. Tapi, saat ulang tahun Marry ke dua puluh lima dulu, rumah ini sudah atas namanya. Padahal, rumah ini ada dalam barisan rumah di perumahan yang terbilang cukup mewah.

           Kembali fokus pada Zara. Marry, tidak pernah tahu jika Zara akan seserius ini. Dia memang selalu menurut pada perjodohan yang diatur papanya. Tapi, selalu berakhir gagal karena banyak yang tidak sanggup menghadapi temperatur Zara yang ternyata berbeda dengan saat ia sedang berakting seperti model. Dia buruk dan suka ceplas ceplos. Jelas sekali, Zara memang memiliki perasaan berbeda pada Alvian. Meski terlihat cuek, tapi Zara menyukai dokter Alvian. Mungkin, mencintainya. Terlebih dokter Alvian bisa membawanya sejauh ini. Di ranjang dan di undangan pertunangan. Ini jelas perasaan yang cukup dalam.

            “Lo seyakin ini ama dokter Alvian?” tanya Marry setengah penasaran.

            “Just Alvian.  Asli, geli gue dengar lo manggil dia dengan embel-embel ‘dokter’.” Zara menoleh pada Marry, “Lo juga masih manggil Ravendra dengan sebutan ‘dokter’?” tanya Zara.

            Marry terdiam dan kembali tenggelam menatap amplop undangan Zara, “Oh.”

            Zara terkekeh geli, “Wah... naif sekali dirimu, nona... .”

            “Itu namanya menghormati.”

            “Itu penghinaan. Untuk orang yang dalam jenjang ‘PDKT’, sebutan gelar itu artinya lo lagi ngasih lampu merah ke dia. Artinya, lo gak sesuka itu ama dia.”

           “Emang siapa yang suka ama dokter Ravendra?” Sergah Marry.

            Zara memutar bola matanya datar, “IQ lo berapa sih? Jongkok banget.”

           Giliran Marry yang mendelik mendengar hinaan Zara. Dia hampir menggeplak kepala Zara jika saja dia tidak ingat kalau Zara adalah atlet judo. Nyawanya jadi taruhan jika harus terlibat adu mekanik dengan Zara. Dia mendengus sejenak, “Hanya... belum terlalu yakin ,sih... .” ujar Marry.

           “Karena Sean.”

           “Lho lho lho... kok nyangkut pautin Sean, sih?”

           “Denger... gue sekarang emang bakal mendukung  elo ama siapapun pilihan elo. Tapi, gue harap lo pikir-pikir lagi... Sean bukan sosok yang mudah untuk kamu pilih sekali lagi. Kalian sudah memiliki satu jurang yang membedakan hubungan  kalian sekarang dengan yang dulu. Lo gak bisa asal milih dia terus happy ending.”

          “Emang gue udah nyebut pilihan?” sergah Marry.

          “Seenggaknya lo juga punya pengharapan ama Sean.”

           “Katanya gue bebas milih... .”

            Zara melempar tatapan datar. Manik mata kebiruannya nampak terlihat membulat kesal. “Serius. Lo gak peka. Gak asyik. Bintang satu!”

           “Emang gue aplikasi? Gue gak butuh bintang lo.”

            Zara mengerang sebal dan mengabaikan Marry. Sebagai sahabat yang mengenal Marry, Zara tahu persis apa isi hatinya. Termasuk soal pilihannya antara Sean atau Ravendra. Dan, Zara lebih condong pada Ravendra. Sean? Nope. Meski mereka pernah bersahabat sejak SMA, tapi pilihan kepada Sean jauh lebih beresiko. Zara juga punya perasaan tidak nyaman. Ravendra? Dia lebih baik. Meski Zara pernah ditipu Ravendra soal Anggara. Tapi, Ravendra jauh lebih baik. Dia sosok yang lebih bisa membuat Marry pada kewarasan dan kedewasaan. Tapi, Zara tahu Marry sedikit lebih condong pada Sean. Karena bagaimanapun juga, kenangan mereka di masa SMA tidak bisa dilupakan begitu saja.

          “Lo tahu... lo ada saatnya lo harus mulai melepas tangan.” Ujar Zara.

          “Hmmm,” Marry mengangguk paham.

          “Dan, lo bisa mulai dari ini... .” ujar Zara sembari menyodorkan dua amplop undangan yang lain. Tertulis di sana nama Ravendra dan Sean.

          Marry mengernyit kecil, “Maksud?”

          “Lo harus milih salah satu dari mereka untuk datang ke pesta gue.”

          “Nope.”

           Membayangkannya saja, membuat Marry bergidik. Dia harus datang ke pesat dengan salah satu dari mereka? Bisa geger dunia Rumah Sakit Medica Utama. Dia juga bisa jadi bulan-bulanan gosip suster Sandy.

           “Harus. Lo harus tegas. Lagipula, ini bukan pilihan final. Hanya pertimbangan untuk tambah poin.”

           “Ini kita ngebahas apaan, sih?” omel Marry sambil mengembalikan amplop undangan bernama Sean dan Ravendra pada Zara dengan gusar. “Gue bakal datang sendiri. Ama Acha!”

            Zara bergedik bahu sekilas, “Kita lihat aja nanti.”

 

-oOo-

 

          “Marry!”

          Marry menoleh dan menemukan dokter Alvian berjalan cepat menghampirinya saat hendak naik lift untuk menuju kantin. Marry menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya seraya tersenyum tipis menyambut dokter Alvian yang menghampiri. Mereka berdiri berdampingan di depan pintu lift yang masih tertutup.

           “Siang, dok... .” sapa Marry.

           “Kamu mau makan siang?”

            Marry meringis kecil, “Yang jelas bukan makan malam, sih... .”

            Alvian tertawa kecil, “Garing.” Alvian menatap Marry sekilas, “Aku traktir.”

            “Ha?” Marry terlihat cukup terkejut. “Tumben... .”

            “Tapi, gak di kantin sini... aku traktir makan di luar. Ada restoran Jepang langgananku. Gak jauh, kok... tapi, makanannya enak.”

             Sudah lama Marry tidak makan makanan jepang. Tidak terlalu favorit, sih. Tapi, membayangkan makan ramen yang super pedas, terdengar menggoda juga. Tapi, dia sedang istirahat sebentar sebelum kembali dinas. Dia akan dapat tambahan masalah kalau membalas. Membayangkan ekspresi datar namun menusuk dari Ravendra, lebih pedas dari kuah ramen.

            “Tapi, aku masih harus berdinas.” Ujar Marry melirik jam tangannya sekaligus sedikit ngeri membayangkan ekspresi Ravendra. “Bisa mati aku di tangan dokter Ravendra.”

            “Itu urusanku ama Raven. Ada yang mau aku bicarakan denganmu.”

            Marry mengernyit sejenak, “Saya deg-deg an lho... salting saya ... .”

            Tidak sabaran, Alvian memutuskan untuk menyeret Marry dengan menarik kerah jasnya. Alvian menarik Marry dengan gemas sementara Marry hanya menjerit kecil. Panik. Marry diculik!

 

-oOo-

 

          Pilihan restoran Jepang dari Alvian cukup lumayan. Ornamen khas Jepang nampak menghiasi seantero restoran.  Musiknya juga lumayan enak ditambah suasana yang cukup asyik dan tidak terlalu monoton. Ada beberapa lampu lampion yang mengundang nafsu Marry untuk shopping. Ya, sepetinya lampu lampion akan terlihat beda untuk rumahnya. Supaya lebih variasi, sih.

           Tak lama, semangkok ramen dengan kuah merah membara, mengepulkan asap yang bercampur aroma pedas menggila. Marry menatap ramen pesanannya dengan menelan salivanya, dia bisa membayangkan gimana pedas ramen ini akan menggoyang lidahnya.

             “Buruan dimakan. Jangan ngiler berlebihan.” Seluruh Alvian.

             Marry mendongak ke arah Alvian yang terkekeh dengan menyuapkan sepotong sushi ke mulut. Marry menyipitkan mata kesal sambil mencoba mengecek ujung bibirnya. Kering. Dia sama sekali tidak sengiler itu. Hah!

             “Terimakasih untuk makan siangnya... .” ujar Marry dengan nada sengit.

              Baru satu suap, rasa panas dan pedas ramen, menjalar di permukaan lidah Marry. Tapi, bumbunya begitu pas dan enak. Bisa dibilang, pilihan restoran Jepang ini cukup bagus. Selera Alvian memang bagus. Tapi, hanya untuk kaum traktiran seperti Marry, dia akan menunggu momen traktir saja untuk makan di sana. Harganya lumayan bikin melongo.

            “Jadi... apa yang mau dibicarakan?” tanya Marry sembari mengelap ujung bibirnya yang belepotan oleh bumbu ramen.

            “Kamu udah tahu soal rencana pertunanganku dan Zara?”

            Marry mengangguk kecil, “Yep.”

            “Gimana menurut kamu?”

            “Lha... kok nanya saya? Serius, ini kayak dokter Alvian lagi nanyain selingkuhannya lho... .”

             Alvian mendengus kecil, mengumpulkan rasa sabarnya, “Ada supermarket di seberang jalan sana. Mungkin, kamu mau nambah b*yg*n?”

            Marry meringis kecil, mengacungkan tangan membentuk tanda perdamaian, “Bercanda. Gak boleh marah-marah. Nanti dapat bintang satu, lho... .”

           Alvian melengos dan kembali sibuk menikmati sushinya. Marry tersenyum tipis , dia tidak tahu jika dokter yang sudah merawat kegilaannya dulu, bisa selucu ini. “Sebenernya, bukan soal pendapatku yang penting. Tapi, perasaan dokter Alvian yang gimana?”

           “Aku? Ya jelas... aku menyukai Zara. Pasti. Tanpa ragu.”

           Marry meletakkan sendok ke atas mangkoknya lalu menepuk tangan salut, “Bravo... .”

            “Tapi, aku tidak yakin dengan Zara.”

            Marry kembali menelan makanannya. Membiarkan kuah ramen dan mienya menyusuri saluran pencernaannya, memuaskan rasa laparnya. “Masih ragu?”

            “Aku jatuh cinta pada Zara sejak pertama bertemu dulu. Perasaanku padanya membekas cukup lama. Dan, saat tahu jika Zara adalah yang dijodohkan papa padaku, perasaanku semakin kuat dan yakin.”

            Marry bisa melihat kilat mata Alvian yang penuh perasaan bahagia saat menyebut nama Zara. Dia sungguh mencintai Zara. Marry bahkan tidak tahu jika ada kisah cinta seperti ini di antara dokter jiwanya dengan sahabatnya. Sepertinya, sakit mentalnya yang dulu, membawa berkah untuk Zara dan Alvian. Marry merasa cukup bangga setelah menyadari jika dia adalah makcomblang yang hebat.

           “Zara juga sama.”

           Alvian mengernyit kecil, “Hah?”

           “Meski terlihat cuek dan acuh. Tapi, Zara juga merasakan hal yang sama. Setelah sekian banyak perjodohan yang gagal, tapi anda berhasil membuat namanya terpasang di undangan pertunangan... ,” Marry menelan ramennya perlahan, “Dan di ranjang.”

            Terlihat Alvian bersemu merah saat Marry membahas soal ‘ranjang’. Kejadian di Singapura cukup membuat perasaannya kian berkobar. Alvian bisa menaklukkan seorang Zara. Alvian menggaruk kecil rambutnya, menyembunyikan senyum malu dari wajahnya.

           “Zara bukan orang yang mudah berkomitmen semacam itu. Tapi, dia mau melakukan hubungan ini dengan anda. Jelas, dia menyukai anda. Aku juga bisa melihat kilat cinta di matanya. Dia mencintai anda.” Ucap Marry tegas.

            Bukan mengarang atau menjilat. Tapi, memang itu kenyataannya. Marry mengenal Zara bertahun-tahun. Dan, dia tahu semuanya. Bahkan, meski Zara menyembunyikan banyak rahasia dari Marry. Dia tahu semuanya. Semua rahasia Zara. Termasuk, isi hati Zara. Marry hanya pura-pura terlihat ber-IQ jongkok saja di depan Zara.

           “Gimana? Sudah yakin?” tanya Marry yang membuat kegusaran dan kegelisahan Alvian sedikit teratasi.

           Alvian mengangguk kecil, “Lumayan... tapi masih deg-deg an.”

           Marry tersenyum tipis, “Dia mencintai anda. Itu hal yang harus anda yakini. Pasti.”

            Alvian mengangguk kecil, “Dia juga mencintaimu. Pasti.” Ujar alvian seraya menggedik dagu ke arah belakang Marry.

          Marry mengernyit kecil dan ikut menoleh ke belakang, ke arah yang diisyaratkan Alvian. Dan, terlihat Ravendra tengah berdiri di ambang pintu masuk restoran sambil melempar pandangan ke segala arah, sedang mencari sesuatu. Dan, saat mereka beradu pandang, Ravendra bergegas melangkah menuju meja Alvian dan Marry.

          “Kenapa dokter Ravendra ada di sini?” tanya Marry.

          “Khan sudah kubilang, serahkan urusan Raven padaku.”

          Iya, tapi bukan berarti mengundangnya ikut makan siang!

 

-oOo-

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
haha... serius deh,ngakak abis😂😂
Dayu Fabi
penggunaan tanda baca yang cukup bagus, keren banget
Dayu Fabi
penggunaan kata-kata yang bagus! keren! lebih bagus novel Kakak, dibandingkan aku deh kayanya...
Aris Pujiono
terima kasih kak sudah memberi kan koin ... minal aidzin Ealah fa idzin
Aris Pujiono
terima kasih atas tipsnya kakak
Radiah Ayarin
baru mampir nih
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩
Mampir ya😊
༺❥ⁿᵃᵃ​ꨄ۵​᭄
eemm halo kak salam kenal dri aq...
yg mempir kecerita author menari...
Aris Pujiono
yuk lanjut
ZaaraItsMe
terimakasih buat karya yang bagus ini kak... love it
ZaaraItsMe
Hiks... dah tamaaatttt... seru banget. bagus banget ceritanya. beda... gak ngebosenin. mantap thoorr
Aris Pujiono
next kak
Aris Pujiono
bikin bergetar
🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌ yujin
udah mampir feedback yah
CumaAku
terimakasih untuk novel yg epik kak..... gk mbulet. seru. keren... sukses karya2nya kakkk
CumaAku
udah tamaattt hikes
ZaaraItsMe
astagaaaah dua episode terakhir baca ini bikin emosi lho. kemarin pergi, sekarang udah ada anak aja.
🐰Far Choinice🐰: sabar ya kaaaak ^^
total 1 replies
ZaaraItsMe
Heeee lhooo heeee lhooo.. kok tiba2 pergi. heeeee lhooo apa2an ini thoorrrrrrrr
ZaaraItsMe
Ya ampuunnn semua hal di novel ini berkaitan dan penuh kejutannn.. serruu aslii
🐰Far Choinice🐰: Yuhuuuuuu
total 1 replies
CumaAku
heeeee thooorrr itu gimana ada anak ajaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!