Mohon maaf, Novel dalam proses revisi menjadi bacaan yang jauh lebih baik lagi, baik dari segi penulisan, diksi kata ataupun alur yg akan lebih cepat karena menghilangkan adegan tidak pantas.
---------
Disclaimer : Adult konten.
"Menyesal itu memang selalu datang belakangan, jika di awal namanya pendaftaran," ucap Freya pada Adnan yang menyadari kesalahannya sampai membuat pernikahannya berakhir begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Adnan dan keluarga kecilnya sudah berada di rumah. Kedua putra-putrinya terlelap selama perjalanan pulang. Adnan menggendong putrinya dan membaringkannya di kamar. Dengan telaten pria itu menggosok perlahan wajah dan kaki putrinya dengan waslap basah yang sudah disiapkan Wulan dengan cepat.
Freya sendiri mengurusi putra bungsunya yang sama ikut terlelap. Keduanya kembali terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh. Adnan dan Freya telah membersihkan diri mereka masing-masing dan masuk ke dalam kamar. Freya sudah bodo amat dengan penilaian Wulan atas dirinya.
Freya terengah saat Adnan mulai dengan aksi panasnya. Tanpa basa-basi keduanya kembali menyulam penawar rindu selama sepekan bahkan selama setahun tanpa sentuhan. Permainan berakhir saat lolongan panjang keluar dari mulut Adnan. Dia merebahkan dirinya di samping tubuh Freya yang sudah lemas tak berdaya.
“Sayang…” Adnan membalikkan tubuhnya kembali meminta kepastian hubungan mereka yang sudah semakin jauh seperti sekarang. “Besok malam ya…”
“Yang… Kan nikah gak segampang itu…”
“Ya elah, tinggal bilang rujuk aja udah… Gak usah banyak pikiran!” kesal Adnan pada keras kepala Freya yang tidak berubah. “Masa kita mau begini terus… Tetangga nanti mikir gimana coba?” keluh Adnan bangkit duduk di batas ranjang.
Freya tersenyum dan memeluk tubuh pria perkasanya. “Terserah kamu deh, aku mau bikin perjanjian dulu!”
Adnan kembali terdengar berdecak kesal. Tak lama, getar ponselnya membuyarkan keromantisan keduanya. “Tar ya…”
Adnan bangkit dengan tampilan polosnya membuat Freya menutup mata malu rasanya. Adnan menatap layar ponsel yang menunjukkan sebuah nama yang ingin dihindarinya. “His, ganggu aja!” lirih Adnan mereject panggilan.
[ Adnan : Aku kesana sebentar lagi, jangan hubungi aku terus jika tidak aku malas ketemu! ]
Adnan mengirim pesan pada wanita yang terus menghubungi tanpa henti. Freya memperhatikan tingkah Adnan yang sedikit kecurigaan.
“Siapa, Ba?”
“Ini teman kantor ngajak ketemuan… Males banget!” terangnya kembali menaruh ponsel di meja rias.
“Owh… Kan udah malam?” tanya Freya merasakan firasat buruk.
“Iya, ada proyek tambahan…” Adnan menatap sendu Freya, lantas dia kembali duduk di sisi ranjang. “Aku pergi sebentar ya… Jika tidak, mereka akan terus ganggu dan aku gak bisa fokus anu-anu sama kamu!”
Freya memukul tubuh Adnan yang terdengar mesum sekarang. Tak lama Freya bangkit dan merangkulkan tubuh polosnya di tubuh lengket mantan suaminya. “Jangan lama-lama…”
“Kenapa? Mau lagi ya? Hayu!”
Plaaak!
Freya kembali menepuk keras bahu Adnan membuat pria itu terkekeh senang. Tak lama dia bangkit berencana membersihkan dirinya. Freya ikut serta sebelum ketahuan Wulan jika setiap pagi mereka harus ketahuan mandi wajib.
***
Adnan sudah berada di pelataran apartemen seseorang. Dia mengirimkan pesan pada si wanita yang ngotot ingin bertemu dengannya.
[ Adnan : Aku sudah di bawah, kita bahas di lobi… ]
Tak lama, Adnan keluar mobil dan bersiap menuju lobi apartemen.
“Hai Adnan! Long time no see…”
“Apaan, kemarin baru ketemu!”
Adnan membalas ketus atas kedatangan wanita yang merupakan rekan kerja juga merupakan anak dari pemilik perusahaan dimana Adnan bekerja saat ini.
“Dih, judes banget sih!” keluh wanita itu tidak senang.
“Buruan mau bahas apa? Kamu gak liat waktu, ini udah jam sembilan malam. Binik aku bisa protes kalau aku pulang larut…”
Wanita itu terdiam dengan wajah tidak senangnya. Dia tidak suka Adnan begitu mementingkan keluarganya. “Ya mana mungkin bahas disini, kita ke cafe sebelah!”
“Hais!”
Dengan pasrah Adnan berbalik keluar jalan mendahului wanita itu, si wanita mengepalkan tangan erat penuh kekecewaan. Padahal, inginnya dia berduaan dengan Adnan di dalam unit kamarnya.
Satu cangkir kopi hitam dengan segelas ice coffee terhidang di atas meja. Adnan terlihat serius membaca sebuah dokumen yang merupakan proposal pengajuan pengadaan air panas di salah satu resort ternama di ujung kota.
“Gimana menurut kamu?” tanya si wanita kembali tersenyum yang sepenuhnya di abaikan Adnan.
“Boleh, nilai pengerjaannya tidak begitu besar…” jawab Adnan datar dengan masih mempelajari berkas di tangannya.
Sejujurnya, Adnan memiliki potensi besar atas pekerjaannya. Hanya saja, dia adalah pria pemalas yang harus dipecut lebih dahulu untuk mengejar kesuksesannya. Jika bukan karena perceraiannya, mungkin sampai detik ini dia tetap menjadi inspektor di perusahaannya.
Wanita yang sangat ingin bertemu dengannya adalah Namira, dia putri dari pemilik perusahaan. Gadis itu juga merupakan salah satu manager di perusahaan. Tanpa diketahui Adnan, ada udang di balik batu atas kontribusinya kali ini. Namira menyukai Adnan, walau dengan jelas Namira mengetahui bahwa Adnan adalah pria beristri dengan dua anak dan hidup sederhana. Meski begitu, Namira justru berusaha keras untuk menggoda Adnan selama dua tahun terakhir.
Sampai detik ini, Adnan tidak pernah menunjukkan kehidupan pribadinya pada siapapun. Hanya dia menunjukan siapa istri dan buah hatinya. Status perceraiannya sendiri tidak pernah ingin dia ekspos, semua orang di kantor hanya mengetahui bahwa istrinya bekerja kembali di kota kembang. Alasan Adnan selalu mengajukan mutasi, karena dia ingin dekat dengan keluarganya. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Freya setelah dia bercerai.
Bagi Namira, mendapatkan pria seperti apa untuk menjadi kekasihnya sangat mudah. Sayangnya, dia justru kepincut pada pria beristri yang paling setia sejenis Adnan. Semakin Adnan jual mahal, semakin Namira gila mengejarnya. Segala cara dan upaya telah Namira gencarkan, dari mulai berpenampilan seksi dan menggoda sampai mulai perhatian yang tidak wajar di tiap harinya. Hal itu tidak ada respon sama sekali dari Adnan. Padahal, Namira bisa dengan jelas mengetahui seperti apa Freya atau istri Adnan yang biasa bahkan dengan bobot luar biasanya itu.
Namira tidak patah semangat, dia akhirnya menggunakan cara terakhir dengan mempromosikan jabatan Adnan. Untuk pertama kalinya Adnan merespon dan menginginkan jabatan itu. Sungguh bagai cinta bersambut, Namira tidak ingin melewatkan kesempatannya.
“Ini udah semuanya aku cek, besok aku buat laporan keuangannya…” Adnan membuyarkan lamunan Namira yang tengah menikmati wajah tampan Adnan.
“Oh, iya…” Namira gelagapan, dia salah tingkah.
“Ya, udah aku pulang sekarang. Thanks ya!”
Namira melongo dengan tingkah Adnan yang dingin dan cuek terhadapnya. ‘Padahal aku sudah susah payah biar dia bisa kesini!’
“Aduuuh!”
Setelah keluar dari kafe, terdengar Namira mengaduh di belakang Adnan. Mau tak mau Adnan harus berbalik memeriksa putri pemilik perusahaannya. “Kamu kenapa?”
Adnan mendekat dan memastikan keadaan Namira.
“Gak, tahu… Tadi sih gak kenapa-kenapa!” terang Namira terlihat memegang perutnya erat.
“Ya udah kamu ke dokter gih!”
Namira semakin ingin memukul Adnan atas ketidakpekaan pria itu sekarang. “G-gak, usah! Aku istirahat di kamar aja…”
“Owh, ya udah… Cepat sembuh ya!” Adnan bersiap menuju mobilnya semakin membuat Namira sakit kepala betulan kali ini.
“Adnan!!” rengek Namira membuat kening Adnan berkerut.
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa jalan… Aku minta tolong, anterin ke kamar!” pinta Namira memelas, dia bahkan berakting sempurna terlihat benar-benar kesakitan.
“Haish, suruh teman cewekmu kenapa?”
‘Ya Tuhaaan!’ Namira memekik geram dalam benaknya atas sikap dingin Adnan padanya yang tak berubah. “Kamu jahat banget sih Adnan! Tolongin aku dikit gini aja gak mau!”
“His!” Dengan berat hati Adnan akhirnya menyanggupi dan memapah tubuh ramping dan seksi Namira menuju kamarnya.
Namira menyeringai senang, akhirnya yang ditunggu-tunggu olehnya terjadi juga. Tangan besar Adnan melingkar di bahunya, dia bisa dengan jelas menghirup aroma tubuh Adnan yang bercampur dengan parfume-nya. ‘Ya Tuhan, aku sungguh tergoda dengannya. Bagaimana caranya agar dia mau denganku malam ini!’
Bersambung...
kasian adnan menderita sampai ajal dan dilupakan begitu saja
tapi kenapa freya harus menikah lagi dengan bram
harus nya freya menjaga cintanya hanya untuk adnan
emng dsr ya lu thor /Right Bah!//Right Bah!//Right Bah!//Right Bah!/
gk bosen bosen
sedih aq
tpi sllu aj mewek.
good luck buat author
seht sllu