Ini adalah kisahku dalam menunggu cinta pemuda yang kata peramal keluarga adalah keturunan ksatria.
Pemuda yang katanya menguasai ilmu-ilmu Jawa yang sudah tua umurnya.
Pemuda yang membuatku takut akan terkena mantra peletnya saat berjumpa pertama kali dengannya.
Pemuda yang banyak pacarnya, yang untuk mendapatkannya aku harus antri dan berebut dengan wanita lainya.
Namaku Selia, wanita yang terjebak cinta paranormal muda tapi tidak diceritakan dalam petualangan asmaranya.
Kan kam*pret namanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 32
Tidur dalam gelisah, meski kadang terlelap tapi dengan durasi pendek. Beberapa kali terbangun karena mimpi buruk melanda. Mimpi yang sama yang akhir-akhir ini makin sering datang.
Pada lelap yang pertama mimpi itu teputus karena aku terbangun saat aku baru memasuki hutan. Keringat dingin membanjiri punggungku. Begitu aneh ketika mimpi itu bersambung ketika aku kembali terlelap.
Tangan yang menarik seseorang dari kubangan itu adalah tangan hangat yang biasa menyentuhku. Itu tangan Al. Dan seseorang yang dikeluarkannya dari lumpur hitam itu adalah seorang gadis dengan ciri seperti Wulan.
Aku bangun dalam terkejut dan merenung panjang. Jadi selama ini mimpi itu ada artinya. Aku menghela nafas berat, pertanda itu sudah lama aku dapatkan. Aku membayangkan dalam kehidupan nyata, jika tangan itu tidak mengulurkan pertolongan sudah pasti perempuan itu tenggelam makin dalam. Aku tidak lagi penasaran dengan mimpi itu, aku lelah dan hanya ingin tidur.
Life must go on…!
Pagi yang cerah, cahaya mentari menerobos tirai jendela kamar dengan angkuh. Tanpa bisa dicegah hari sudah berganti. Malam gelap dengan sejuta kesedihan telah terlewati. Meninggalkan rasa nyeri akan kenangan dengan sang mantan. Semua benar-benar telah berlalu.
Dan tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh waktu.
Aku merapikan diri bersiap ke kampus. Memulas make up tipis untuk menutupi bekas sembab di mata. Tersenyum canggung pada cermin yang memantulkan wajah kuyu tanpa semangat.
Setelah mengirimkan pesan pada Ara untuk menemaniku mengurus mutasi di kampus, aku menghapus nomor kontak Al dan segala sesuatunya. Membersihkan ponselku dari apapun yang berbau kakaknya Ara. Aku tidak lagi ingin menyimpan kenangan yang bisa dilihat oleh mata. Aku membiarkannya mengendap dalam hati dan tidur nyenyak dalam pikiran terdalamku.
Ganti nomor ponsel sebagai langkah akhir.
Aku menjelaskan pada Ibunda dan Ayah setelah sarapan tentang keinginanku pindah kuliah ke Yogya. Aku akan tinggal kembali dengan eyang dan menghabiskan waktuku di sana. Meski berat ibunda dan ayah akhirnya menyetujuinya.
Dengan langkah yang masih gontai aku diantar Nizar ke kampus, sengaja menolak dijemput oleh Ara ataupun Lingga.
"Kakak serius mau pindah kuliah?" Tanya Nizar dengan ekspresi masih tidak percaya dengan apa yang aku ungkapkan pada kedua orang tua kami saat sarapan tadi.
"Iya, Kakak ingin memulai hidup baru." Ucapku pelan. Al yang menikah dan punya kehidupan baru kenapa aku yang berkata seperti itu.
Sederhana saja, aku ingin melupakan Al dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Aku akan memulai kehidupan sebagai Selia yang baru. Aku tidak akan melihat ke belakang lagi, ke masa lalu yang mungkin membelenggu kebebasanku.
"Melarikan diri?"
"Bukan, Nizar. Kakak sudah menyelesaikan semua masalah dengan Al. Kakak hanya tidak ingin kenangan itu terus ada karena banyak tempat yang akan membuat kakak ingat dia secara berkala."
Nizar mengangguk paham, "Bagaimana dengan Lingga? Ehm … maksud Nizar biasanya orang putus cinta obatnya itu cinta dari orang lain."
Aku menghela nafas berat dan bergumam pelan, "Lord of my heart ... Irreplaceable …. "
"Ehm ... tak tergantikan? Tapi siapa yang tau di depan Kakak bertemu dengan orang lain yang juga punya keistimewaan seperti bang Al! Atau orang sejenis Lingga yang juga punya ketulusan dalam mencintai wanitanya." Terang Nizar kalem berusaha memberikan dukungan.
"I hope so … itu kenapa Kakak pindah ke Yogya. Eyang pasti akan memberikan hiburan tersendiri tentang perjodohan. Mengenal banyak pemuda dengan darah yang dianggap sama bukan ide buruk kan?"
"Yeah, you're right. Kalaupun tidak ada yang menarik untuk dijadikan boyfriend setidaknya punya teman-teman baru yang bisa dijadikan pelarian he he he …. "
"Nizar … !"
Aku meninggalkannya di parkiran, "Nggak usah ditunggu, kakak nanti pulang sendiri aja."
Aku naik ke lantai empat dan bertemu Ara yang sudah ada di sana.
Dengan senyum cerah aku menyapanya, "Kamu udah dari tadi, Ra?"
"Belum lima menit, nomer kamu kenapa nggak bisa dihubungi?"
"Ponselku nggak nyala, lagi malas diteror Kalingga."
Ara mengerutkan dahi, "Dia khawatir sama keadaan kamu. Kelihatannya dia memang serius dan tulus sama kamu."
"Kamu lagi nggak nyuruh aku gantiin posisi kakak kamu dengan Kalingga kan, Ra?"
Dia tertawa hambar, "Nggaklah, tapi untuk hiburan aku rasa nggak ada salahnya."
"Nggak, aku mau balik malam ini. Berkas mutasi mau aku urus semua hari ini, besok aku mau lihat-lihat kampus di Yogya."
"Hah … kenapa buru-buru?" Ara mengamatiku dengan ekspresi bingung.
"Lebih cepat minum obat lebih cepat sembuhkan?" Aku menjawab santai. Tekadku untuk meninggalkan Surabaya dan melupakan semua sudah bulat.
Aku sudah menidurkan semua perasaan cinta yang ada, tanpa sisa.
Beberapa jam berlalu, sepertinya ini jadi hari terakhir aku melihat kampus dan jadi mahasiswi di sini.
"Kamu berangkat ke Yogya malam ini sama siapa, Sel?"
"Sendiri, aku pesan penerbangan jam 8 nanti."
Dia melirikku sekilas, "Aku bakal kangen berat sama kamu, sekarang kalau mau belajar masak jauh banget…."
"Kamu kan sering ke Yogya tempat saudara, mampirlah … biar kamu tau gimana kehidupanku di Yogya."
"Kamu masih tinggal di rumah kuno yang pendoponya besar kayak di film kolosal? Trus punya dayang juga?"
Aku tertawa, "Rumah eyang sudah direnov setengah modern, Ra. Emang aku anak raja pakai dayang segala?"
"Aku kan nggak tau Sel, makanya aku tanya. Trus di sana yang ngapelin kamu ya cuma orang kalangan tertentu berarti ya?"
Aku cengengesan, "Bukan datang cuma-cuma untuk pendekatan. Mereka kalau datang bersama keluarganya sekalian mengatur perjodohan."
"Jadi kamu nanti dijodohkan?"
"Begitulah…."
Dengan wajah tak percaya dan ekspresi keberatan Ara bertanya, "Apa tidak bisa ditolak?"
"Ara, pertama itu kan cuma perkenalan keluarga. Kalau cocok bisa dilanjut kalau nggak ya bisa kita tolak," terangku manis.
"Ish … tolak semua ya, Sel!"
Aku tertawa-tawa melihat wajah kesal Ara, "Apaan sih?"
"Jangan nikah muda karena mau balas dendam. Nikah umur 25 itu pas buat kamu."
"Lima tahun lagi dong! Keburu eyang kena serangan jantung, Ra. Kamu nggak tau eyang sih, aku pulang sekarang pasti bulan depan udah diajak rembukan perjodohan."
"Kamu kan masih kuliah, bilang aja itu alasannya … ntar kalau udah wisuda langsung nyambung S2, bereskan? Pas itu waktunya."
Aku mengernyit heran, "Kenapa kamu ikut pusing kapan aku harus nikah, Ra? Aku udah bilang kan kalau aku baik-baik aja?"
Ara menjawab dengan cengengesan, "Iya juga. Kali aja kamu khilaf trus memutuskan nikah sembarangan."
"He he thanks udah peduli, tapi aku masih bisa mikir logis dan realistis. Jadi kamu nggak perlu khawatir, semua perasaanku ke kakak kamu udah tidur lelap di sini," ujarku seraya menunjuk dada.
"Trus kita kemana ini? Makan?"
"Nggak laper. Aku mau pamitan sama Lina, ikut nggak?"
"Kayaknya nggak, aku pulang duluan ya!"
"Oke, jaga diri baik-baik dari Yudha. Aku telepon begitu aku sampai Yogya, aku ganti nomor. Dan tidak boleh ada yang tau selain kamu sama Lina."
"Al?"
"Ara … please don't!"
Dia mencium pipiku, "See you, sister. Be happy!"
***