Bagaimana rasanya dibesarkan ayah tunggal yang kurang perhatian?
Hidup Eldrey adalah jawabannya.
Lahir dari latar adidaya, membuatnya tidak tahu arti keluarga. Terlebih dengan sepak terjangnya sebagai bekas orang rumah sakit jiwa, sosoknya pun jadi dipoles sedemikian rupa.
Namun dia tetaplah boneka. Cantik tapi tak bisa diraih perasaannya. Sampai pesonanya pun berhasil mengusik hati para lelaki yang tak dianggapnya.
Jadi, akankah para pemuja itu mampu meluluhkannya? Mengingat Eldrey ternyata menderita sakit mental dalam menjalani kehidupannya.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Eldrey
Charlie, laki-laki yang mengendarai mobil itu spontan menoleh pada Eldrey yang memperlihatkan raut muka masam.
“Kak Evan!” teriak seorang perempuan yang berlari mendekati anak muda yang hampir saja ditabrak. “Kakak baik-baik saja?!” tanya Alice dengan cemas sambil meraba lengan Evan untuk memastikan keadaannya.
“I-iya, aku baik-baik saja, tak apa-apa,” tukasnya menenangkan Alice, sementara sang pengemudi mobil masih belum keluar.
“Mobil ini, sepertinya tak asing,” pungkas Alice sambil menatap mobil itu.
“Nona, tunggulah di sini,” sahut Charlie sambil menggerakkan tangannya ke arah Eldrey untuk membuatnya tetap diam. Ia segera keluar dari mobil dan mendekati mereka berdua, “kamu baik-baik saja?! Maafkan saya yang sudah lalai membawa mobil,” tukasnya pada Evan.
“Ah, tidak apa-apa Tuan, saya baik-baik saja. Seharusnya saya yang minta maaf karena menyeberang secara tiba-tiba, maafkan saya,” balas Evan sambil membungkuk. Sedangkan Alice, ia masih memperhatikan setiap sudut mobil itu untuk meyakinkan dirinya.
“Aku yakin ini mobil Eldrey,” gumamnya pelan dan masih memperhatikan kaca depan mobil yang tak tertembus mata. Sementara Eldrey memperhatikan mereka dari dalam mobil, mulai memasang ekspresi dingin dan mengepalkan tangan.
Charlie sudah menyelesaikan urusannya dengan Evan. Saat ia akan melangkah kembali memasuki mobil, dirinya dicegat Alice secara tiba-tiba.
“M-maaf Tuan, ah itu. Apakah mobil ini ... itu ...” lirihnya terpotong-potong.
“Mobil ini? Kenapa dengan mobil ini?” tanya laki-laki itu yang membuat Alice jadi tidak enak bertanya.
“T-tidak ada apa-apa Tuan, maafkan saya,” balasnya sambil membungkuk. Charlie pun pergi meninggalkannya dan menjalankan mobil begitu saja begitu mereka berdua sudah berdiri di pinggiran.
“Alice, tadi kamu mau bilang apa?” tanya Evan tiba-tiba.
“Bukan apa-apa Kak. Aku hanya penasaran karena mobil itu mirip sekali dengan mobil sahabatku,” tukas Alice menjelaskan.
“Mungkin hanya mirip saja, lagi pula yang punya mobil seperti itu tidak satu dua orang kan,” jelas Evan.
“Iya juga. Ayo kita kembali ke toko,” ajak Alice.
Mereka berdua sebenarnya dalam perjalanan kembali ke toko karena baru saja selesai mengantarkan pesanan dalam jumlah banyak.
Sementara di dalam jeep unlimited putih yang sedang melaju santai itu, kecanggungan mulai terasa.
“Ada apa? Ini bukan sekali dua kali kau melihatnya kan?” tanya Charlie memperbaiki suasana.
“Apa yang sedang kau bicarakan?” Eldrey menatap jengkel padanya.
“Tentu saja sikapmu yang sedang kupertanyakan. Bagaimana pun juga, itu hanyalah masa lalu."
“Hah!” Eldrey menghela napas kasar. “Kau tak tahu apa-apa, kau hanya orang luar, lebih baik tutup mulutmu atau turun dari sini,” tegas Eldrey dengan nada kesal.
“Hah,” laki-laki itu membalas ucapan Eldrey dengan helaan napas pelan sambil menggelengkan kepala.
“Putar balik mobil, aku mau pulang,” sambung Eldrey memberi perintah.
Tanpa menjawab, laki-laki itu memutar balik mobil secara paksa sehingga ban pun berdecit dan mengeluarkan sedikit asap di jalanan. Sepertinya, orang-orang yang ada di kediaman presdir Betrand sangat ahli dalam membawa mobil secara barbar.
Selama di perjalanan pulang mereka berdua tidak saling bicara, bahkan setelah sampai di halaman kediaman rumah mewah presdir Betrand, masing-masing hanya diam tanpa saling mengacuhkan. Eldrey membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar, memasuki rumah dengan aura seolah-olah jangan mencoba untuk berbicara padanya.
“Nona?” sapa Rondolf sang kepala pelayan.
Eldrey hanya menggerakkan bola matanya sekilas untuk menatap kepala pelayan itu. Ia meneruskan langkah menuju kamarnya. Sedangkan Charlie, laki-laki yang pergi bersamanya baru saja memasuki rumah menyusulnya.
“Tuan? Ada apa dengan nona? Bukankah tadi kalian sedang pergi?” tanya kepala pelayan itu.
“Hah! Kami tadi hampir saja menabrak seseorang di jalan,” jelas Charlie.
“Benarkah? Apa dia mati?” Rondolf menanyakan hal itu dengan ekspresi tenang.
“Hampir menabraknya! Bukan sudah menabraknya!” tukasnya sedikit emosi. “Sudahlah. Evan, dialah yang hampir ditabrak tadi.”
Kepala pelayan itu terdiam mendengarnya. “Begitu? Syukurlah tak terjadi masalah besar karena itu,” balasnya dengan tenang.
“Rondolf! Apa kau yakin berbicara seperti itu?”
“Tidak peduli apa pun yang terjadi, nona adalah putri tuan Betrand sekaligus majikan di sini, hanya itu. Kalau begitu saya permisi dulu,” pungkas kepala pelayan meninggalkan Charlie.
“Hah,” laki-laki itu menghela napas pelan sambil memutar bola mata menyapu sudut pandang di depannya.
Eldrey, ia mengamati pemandangan yang terhampar di bawah balkon kamarnya. Menatap lekat kolam renang raksasa yang selalu bergerak airnya karena percikan air mancur di sekitar tiang raksasa di tengah kolam.
Ingatan tentang orang yang hampir ditabrak mobilnya pun kembali terbayang dalam kepala.
“Alice, bagaimana bisa kau mengenalnya?” gumamnya pelan. Ia pun memetik bunga mawar yang tumbuh di sela-sela pinggir dinding luar kamarnya. “Jika kau mengganggu, takkan ada belas kasih untukmu,” ia pun melempar bunga mawar itu
ke arah kolam renang.
*******
“Bagaimana? Semua lancar?” tanya bu Anna pada mereka berdua.
“Lancar Bu,” balas Alice sambil mengacungkan jempol kedua tangannya.
“Bu, ini,” sambung Evan menyodorkan amplop pada ibunya.
Bu Anna pun mengambil amplop itu sambil tersenyum. “Kalian berdua, terima kasih ya untuk semuanya, istirahatlah dulu,” tukas bu Anna membelai kepala putranya lalu dia beralih pada Alice.
Alice pun tersenyum senang dengan perlakukan baik yang ia terima dari bu Anna. Dirinya merasa sangat nyaman berada di sana, seolah-olah itu adalah keluarga serta rumah kedua setelah ibunya dan rumahnya.
Ia pun beristirahat sambil memainkan ponsel. “Kangen Rey, lagi apa ya dia,” gumam Alice mencoba menghubungi Eldrey.
Mendengar ponselnya berbunyi Eldrey pun meraihnya dan melihat layar ponsel untuk memastikan siapa yang menghubungi.
“Mm?” gumamnya pelan lalu menggesek layar ponsel dan mengangkat panggilan.
“Rey,” sapa Alice.
“Mm, ada apa?”
“Aku merindukanmu, kapan-kapan ayo kita jalan,” ajaknya.
“Ke mana?”
“Iya ke mana saja, kapan lagikan,” Alice bernada manja. Sedangkan lawan bicaranya hanya menampilkan ekspresi acuh tak acuh yang tak terlihat olehnya.
“Boleh, besok saja bagaimana?” tanyanya memastikan.
“Oh, oke. Sekitar jam 19.00 malam ya,” balas Alice senang.
“Mm,” lalu Eldrey mematikan panggilan itu begitu saja.
“Lho, Rey kok tidak seperti biasanya ya?” gumam Alice sambil menatap layar ponsel.
“Kamu kenapa?” tanya Evan tiba-tiba. Ia menggosok rambut Alice sehingga terlihat kusut.
“Aah kusut rambutku kak,” balas Alice sambil sedikit cemberut.
“Iya, maaf-maaf,” Evan pun duduk di hadapan Alice melukiskan senyum yang merekah. Ia menumpu wajahnya dengan sebelah tangan, “habis kamu terlalu fokus,” sambungnya.
“Iya bagaimana lagi."
“Kenapa?” tanya Evan.
“Tidak ada apa-apa. Cuma aku lagi rindu sama sahabatku, tapi dia tidak seperti biasanya pas aku hubungi tadi,” jelas Alice.
“Mungkin dia lagi malas sama kamu,” tambah Evan sambil tertawa.
“Iih! Kakak! Dia orangnya tidak seperti itu,” balas Alice cemberut, tampak jika keduanya lumayan dekat dari cara bicara mereka.
“Perempuan atau laki-laki?” tanya Evan.
“Perempuanlah, masa laki-laki, kan sahabat aku.”
“Iya mana kakak tahu. Apa sudah ada yang punya? Kalau belum, kenalkan saja sama aku yang lagi kesepian,” balas Evan sambil tertawa.
“Kalau pun aku kenalkan sama Kakak, belum tentu juga dia mau. Lagi pula Kakak bukan tipe idamannya,” ledek Alice.
“Memang tipe idamannya seperti apa?” balas Evan sambil berpose maskulin.
“Iiih! Kak Evan! Tidak cocok tahu!” pungkas Alice mengibaskan tangan untuk menggagalkan pose Evan itu.
walaupun agak berat isi ceritanya...
sejauh ini cukup menghibur sekali
good job, Thor...?!
dah lah van, hancurkan aja semuanya
Mksih kak udah ubek ubek perasaanku di cuaca mendung ❤️❤️❤️,,
Jadi mager kan 🤭
nyesek sih bikin mereka pada kayak gitu, tapi itulah arti dari judulnya.
Jujur aku gak tahu gimana sensasi yg dirasakan readers saat membaca, tapi semoga kalian terhibur, maaf banget kalo aku bkin ny kadang kurang mendetail, takutnya trnyata risetku salah, atau takutnya ada mengandung unsur gimana2.
lain kali aku bakalan bkin novel yg gk tragis lagi deh, 👍🏿
oh ya ini IG otor 👉🏿 miqaela_isqa
Nantiin ya karya otor selanjutnya, genre romansa komedi sih, moga2 bab ny gak panjang 👍🏿 terus dukung ane y para readers, sampai jumpa lagi di bulan baru. Babay 🙌🏿😚
Tegang hati aku thor 😍