NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Mobil itu melaju meninggalkan Kaliurang saat matahari belum benar-benar naik.

Alya duduk di kursi belakang, di antara Raka dan jendela. Rafi duduk di depan, di samping sopir. Baskara memilih mobil lain, mungkin karena merasa lebih nyaman berbicara lewat telepon daripada duduk bersama anak yang baru ia jemput setelah delapan belas tahun.

Keheningan di dalam mobil tidak sepenuhnya kosong. Ada suara pendingin udara, suara ban menabrak sambungan jalan, dan sesekali notifikasi ponsel Raka.

Raka beberapa kali melirik Alya.

Alya tahu ia ingin bicara.

Di kehidupan lalu, ia terlalu gugup sampai tidak berani menatap kakak ini. Ia terus meremas ujung bajunya, menjawab dengan suara pelan, berharap Raka menyukainya. Harapan itu menjadi celah pertama yang dipakai Maya dan Dinda untuk membuatnya tampak menyedihkan.

Kali ini, Alya yang membuka suara lebih dulu.

"Mas Raka sering ke Yogyakarta?"

Raka tampak lega karena diberi jalan. "Tidak terlalu sering. Biasanya untuk kerja. Kamu suka tinggal di sini?"

"Suka."

"Tapi kamu tetap mau ke Jakarta?"

Alya menoleh. Tatapannya jernih, seolah tidak menyimpan apa pun. "Papa bilang keluarga menunggu."

Raka terdiam.

Kalimat itu seharusnya terdengar bahagia. Namun dari mulut Alya, entah kenapa terdengar seperti pertanyaan.

"Mama juga menunggu," kata Raka pelan. "Maksudku, Tante Maya. Dia... dia mungkin agak kaku, tapi dia sudah menyiapkan kamar untukmu."

Alya hampir tersenyum.

Kamar.

Di kehidupan lalu, kamar yang "disiapkan" untuknya adalah kamar tamu paling belakang, dekat gudang. Dinda menangis karena takut kamar lamanya direbut, lalu seluruh rumah menyuruh Alya mengerti. Ia mengerti. Ia terlalu mengerti sampai akhirnya tidur bertahun-tahun di ruangan yang bahkan lebih dingin daripada gudang.

"Dinda juga ada di rumah?" tanya Alya.

Raka mengangguk. "Dinda adik kita. Dia... kamu mungkin sudah dengar tentang dia."

"Anak Tante Maya?"

"Iya. Tapi Papa sudah menganggap Dinda seperti anak sendiri sejak kecil."

Tentu.

Sejak kecil, Dinda mendapat panggilan anak.

Alya mendapat kiriman uang sekolah yang sering terlambat, seolah itu pun kemurahan hati.

Raka menatap wajah Alya, lalu buru-buru menambahkan, "Tapi itu bukan berarti posisimu tergantikan. Kamu tetap anak Papa."

Alya menunduk sedikit. "Aku mengerti, Mas."

Raka semakin tidak nyaman.

Mungkin karena Alya terlalu tenang. Anak yang baru dijemput keluarga kandungnya seharusnya banyak bertanya, menangis, bahagia, atau marah. Alya tidak melakukan semuanya. Ia hanya duduk rapi, memandang jalan, seperti seseorang yang sudah tahu akhir perjalanan.

Di kursi depan, Rafi tidak menoleh. Namun Alya tahu ia mendengarkan setiap kata.

Perjalanan ke Jakarta memakan waktu berjam-jam. Baskara beberapa kali menelepon Raka dari mobil depan, menanyakan apakah Alya mabuk, apakah ia rewel, apakah mereka perlu berhenti.

Nada ayah itu terdengar perhatian.

Alya tahu semua itu hanya latihan.

Sore menjelang ketika mobil memasuki kompleks elite di Jakarta Selatan. Gerbang tinggi, pos keamanan, taman yang terlalu rapi, dan deretan rumah besar dengan halaman luas menyambut mereka.

Rumah Wiratama berdiri di ujung jalan. Putih, besar, dingin.

Alya menatapnya lewat kaca.

Rumah itu pernah menjadi kubur berjalan baginya.

Begitu mobil berhenti, pintu utama terbuka. Seorang perempuan berusia empat puluhan berdiri di sana dengan gaun rumah mahal dan senyum lembut. Maya Wiratama. Cantik, tenang, matanya penuh perhitungan.

Di sampingnya, seorang gadis muda bergaun pastel menggenggam lengan Maya. Rambutnya panjang tertata, wajahnya manis, matanya tampak berkaca-kaca.

Dinda.

Alya keluar dari mobil.

Dinda maju lebih dulu, suaranya bergetar. "Kak Alya?"

Tanpa menunggu jawaban, ia memeluk Alya.

Aroma parfum mahal langsung menusuk hidung. Pelukan itu terlihat hangat dari luar, tetapi tangan Dinda menekan bahu Alya terlalu keras.

"Akhirnya Kakak pulang," bisik Dinda. "Aku takut Kakak membenciku."

Kalimat itu cukup pelan untuk terdengar pribadi, tetapi cukup keras agar Maya, Baskara, dan beberapa ART mendengarnya.

Bagus.

Pembukaan yang sama seperti dulu.

Jika Alya menjawab dingin, ia akan tampak kejam. Jika ia menjawab terlalu lembut, Dinda akan mengambil peran korban.

Alya mengangkat tangan dan menepuk punggung Dinda pelan.

"Kenapa aku harus membencimu?"

Dinda melepaskan pelukan, tertegun. Ia mungkin tidak menyangka jawaban itu.

Alya tersenyum tipis. "Kamu tidak salah karena dibesarkan di sini, kan?"

Wajah Maya berubah sepersekian detik.

Raka menatap Alya.

Baskara berdeham. "Sudahlah, masuk dulu. Perjalanan panjang pasti melelahkan."

Maya segera tersenyum. "Iya, Nak. Masuk. Tante sudah siapkan makan malam. Kamu pasti belum terbiasa dengan makanan Jakarta, jadi Tante minta dapur masak yang ringan."

Tante.

Di kehidupan lalu, Maya memaksanya memanggil Mama pada hari pertama. Jika Alya ragu, Maya akan menangis. Jika Alya menolak, Baskara akan marah.

Kali ini Maya memilih aman, menunggu Alya sendiri jatuh ke perangkap.

Alya berkata lembut, "Terima kasih, Tante Maya."

Senyum Maya sedikit kaku.

Rafi turun dari mobil dan berdiri di belakang Alya sambil membawa satu tas. Beberapa satpam menatapnya curiga.

Baskara baru ingat keberadaannya. "Kamu bisa tinggal di paviliun belakang untuk sementara."

"Dia tinggal dekat kamarku," kata Alya.

"Alya," suara Baskara langsung mengeras, lalu ia menurunkan nada karena ingat mereka baru bertemu. "Rumah ini punya aturan."

"Di rumah Eyang juga ada aturan." Alya menatapnya polos. "Rafi bertugas menjagaku. Kalau Papa merasa rumah ini aman, seharusnya tidak masalah ada satu orang lagi yang melihat."

Raka hampir tersedak.

Maya tersenyum cepat. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin Alya masih butuh waktu menyesuaikan diri. Kita jangan membuatnya merasa asing."

Tentu saja Maya setuju. Selama ia bisa terlihat bijak di depan semua orang.

Baskara akhirnya mengangguk. "Baik. Tapi dia tetap tidak boleh sembarangan masuk area keluarga."

Rafi hanya menjawab, "Saya paham."

Makan malam berlangsung di meja panjang. Piring porselen, sendok garpu berkilau, gelas kristal. Alya duduk di sisi yang ditunjukkan Maya. Dinda duduk dekat Baskara seperti biasa, seolah posisi itu tidak pernah bisa diganggu.

Maya menatap piring Alya. "Alya, kalau tidak terbiasa pakai pisau dan garpu, tidak apa-apa. Di sini semua keluarga sendiri."

Beberapa ART yang berdiri di dekat dapur menunduk, tetapi telinga mereka jelas terbuka.

Dinda buru-buru berkata, "Ma, jangan begitu. Kak Alya pasti bisa."

Alya mengambil pisau dan garpu dengan tenang, memotong daging di piringnya dengan gerakan bersih. Tidak cepat, tidak lambat. Ia bahkan menyisihkan saus agar tidak menodai piring.

"Aku pernah membantu acara makan di hotel waktu ada kegiatan sekolah," katanya ringan. "Tidak terlalu sulit."

Maya tertawa. "Bagus kalau begitu."

Baskara tampak puas. "Kamu cepat belajar."

Alya hampir ingin mengatakan bahwa ia belajar ini bukan dari hotel sekolah, melainkan dari kehidupan lalu, ketika satu kesalahan kecil di meja makan membuatnya ditertawakan semalaman.

Namun ia hanya tersenyum.

Dinda menggigit bibir. "Kak Alya pasti lelah. Setelah makan, aku antar ke kamar ya."

"Tidak perlu," kata Maya cepat. "Kamar Alya sudah Tante minta Mbak Sari siapkan."

Alya menatap Maya. "Kamar yang mana, Tante?"

Suasana meja hening sesaat.

Maya masih tersenyum. "Kamar tamu di belakang. Untuk sementara saja. Kamar depan sedang direnovasi."

Raka mengerutkan kening. "Kamar belakang? Bukankah itu dekat gudang?"

Dinda cepat menunduk. "Mas Raka, kamar depan yang kosong itu... dulu kamarku. Barang-barangku masih banyak di sana. Tapi kalau Kak Alya mau, aku bisa pindah kok."

Matanya langsung berkaca-kaca.

Permainan dimulai lagi.

Alya meletakkan garpu, suaranya tenang. "Aku tidak mau mengambil kamar siapa pun."

Dinda tampak lega terlalu cepat.

Lalu Alya melanjutkan, "Aku hanya ingin tahu, dari semua kamar di rumah sebesar ini, kenapa anak kandung Papa ditempatkan di kamar tamu belakang."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Raka menatap Baskara.

Baskara menatap Maya.

Maya akhirnya tertawa pelan. "Alya, kamu salah paham. Ini hanya sementara."

"Kalau sementara, berapa hari?"

Senyum Maya semakin tipis. "Kita bicarakan nanti."

"Baik." Alya mengangguk. "Kalau begitu malam ini aku tidur di hotel saja. Rafi, pesan kamar."

Rafi langsung mengeluarkan ponsel.

Baskara menepuk meja. "Alya!"

Alya menatapnya tanpa gemetar. "Papa menjemputku untuk pulang. Kalau di rumah ini tidak ada tempat untukku, aku tidak perlu memaksakan diri."

Ruang makan menjadi beku.

Di wajah Dinda, air mata yang sudah disiapkan tidak jadi turun.

Raka tiba-tiba berdiri. "Pakai kamar depan di lantai dua. Kamar itu kosong sejak tahun lalu."

Maya menoleh tajam. "Raka."

"Apa?" Raka menatap ibunya tiri. "Alya benar. Rumah ini besar. Tidak masuk akal dia tidur dekat gudang."

Baskara memijat pelipis. "Sudah. Pakai kamar depan."

Dinda menunduk lebih dalam. Kali ini air matanya benar-benar jatuh.

Alya mengambil gelas air.

Ini baru malam pertama.

Dan mereka sudah mulai retak.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!