Malika diceraikan oleh suaminya yang telah ia nikahi selama lima tahun dan telah memberinya anak kembar karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Namun, bagi Malika, keberuntungan bertubi-tubi justru datang setelah perceraiannya. Salah satunya adalah kehadiran pria blasteran Jepang tampan yang 'ngotot' ingin menjadi bagian dari hidup barunya.
🍰🍰🍰
Taki Sahara, seorang penerus Bakery legendaris berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sejak dirinya divonis infertil setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya.
Namun pertemuannya dengan seorang janda muda yang cantik beranak dua seketika mampu mengguncang keteguhan hati Taki dalam memegang janjinya itu.
.
.
.
Jangan lupa pencet ❤️ nya yaa, biar dapet notif tiap update.
Baca juga karyaQ yang lainnya:
~ REPLACEMENT LOVER
(Novel Komedi Romantis)
~ SEJUTA CINTA
(Kumpulan Cerita Pendek)
.
.
.
HAPPY READIINGGG!!! 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mrs caffeine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN MALAM
'Ada waktu untuk bersedih,
ada waktu untuk bahagia,
ada waktu untuk berjuang,
dan ada waktu untuk menikmati kebersamaan.'
—MOVE ON, by: Mrs. Caffeine
💗
💗
💗
Sesampainya di depan pagar rumahnya, Malika mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Taki karena telah mengantarnya pulang. Namun sebelum wanita itu turun dari mobilnya, Taki buru-buru menahannya.
"Tunggu dulu! Kamu diem di sini sebentar!" pinta Taki lalu keluar dari mobilnya lebih dulu.
Pria jangkung itu segera menuju bagasi belakang mobilnya untuk mengambil oleh-oleh yang tadi hendak ia berikan untuk orang-orang di rumah Malika. Setelah mengeluarkan tiga buah paper bag besar dari dalam bagasinya, Taki baru berjalan ke sisi mobil untuk membukakan Malika pintu.
Rima yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah Malika seketika mengintip dari balik jendela. Kaya'nya Malika dah pulang tuh, batinnya. Dan Rima langsung menyeringai lebar begitu melihat Taki keluar dari mobilnya.
"Anak-anak, Mami kalian udah pulang tuh!" lapor Rima pada si kembar yang sedang asyik menonton TV.
"Horee...Mami pulang!" seru keduanya dengan kompak.
"Tapi kalian tunggu di sini dulu ya! Jangan berisik! Tante mau bukain pintu pager buat mami." pamitnya pada kedua keponakannya itu.
Si kembar pun hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala mereka kuat-kuat. Hihihihii...lucu banget sih mereka ini. Rima menahan tawanya. Buru-buru ia keluar untuk membukakan pintu pagar setelah berhasil meyakinkan si kembar untuk menunggu di dalam rumah.
Melihat Taki dan Malika berdebat di depan pintu pagar entah karena apa, membuat Rima jadi tidak bisa menahan senyum lebarnya.
"Gigi lo kering tuh nyengir mulu!" ujar Malika sewot sambil masuk ke dalam setelah melewati Rima yang baru membukakan pintu pagar untuknya.
"Nggak appa-appaaah laahh...yang penting bisa ngeliat lo berduaan mulu sama Chef ganteng!" balas Rima masa bodoh.
Melihat Rima yang masih berdiri di depan pintu pagar, Taki segera menghampiri sepupu Malika itu untuk memberikan dua paper bag besar berlogo PANKEKI BAKERY sebagai oleh-oleh yang ia janjikan.
"Ini, Rim! Tolong diterima! Malika marah tuh karena aku bawainnya kebanyakan katanya, dia enggak mau terima deh jadinya!" Taki mengadu pada Rima dengan menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa.
Rima pun langsung kaget melihat banyaknya paper bag yang disodorkan Taki padanya. "Ini emang banyak banget sih, Chef!" balas Rima sambil meringis.
"Tapi yang satunya buat kamu bawa pulang, Rim!" jawab Taki. "Dan kamu nggak harus ikut-ikutan manggil saya dengan sebutan 'Chef', kamu boleh kok panggil saya Taki aja!" imbuhnya.
Kedua mata Rima berbinar seketika. "Waahhh, makasii banget kalo gitu! Tapi yang itu apaan?" Rima menunjuk pada sebuah paper bag lain dengan logo yang berbeda yang masih dipegang Taki.
Taki lalu menyodorkan paper bag itu yang ternyata berisi mainan untuk si kembar yang dibelinya secara diam-diam. "Tadi aku nganterin Malika beli mainan untuk anak-anak, dan aku jadi pengen membelikan mereka mainan juga. Tapi Malika malah marah dan enggak mau nerima juga." adunya.
Mendengar hal itu, Rima langsung bersungut-sungut. Dasar, Malika bodoh! Nggak menghargai ketulusan cowok seganteng ini. Rutuk Rima kesal sendiri. Namun tiba-tiba wajahnya berubah cerah kembali setelah mengingat rencana yang telah disusunnya.
"Naahh...kalau begitu gini aja! Sebagai ucapan terima kasih kami, gimana kalau Taki makan malam di sini? Mau?" dengan lancang Rima malah mengundang Chef Taki untuk makan malam di rumah Malika.
"Oh, boleh aja sih kalau Malika mengizinkan, toh di rumah nanti, saya juga biasanya makan sendirian." balas Taki senang.
"Ah, kalo Malika mah, apa kata aku, Taki! Dari pada makan sendirian di rumah, mending makan rame-rame di sini. Sebentar lagi suami aku juga bakalan ke sini buat makan malam bareng." sahut Rima sambil tertawa.
Rima memang sudah menyiapkan semuanya dengan Mbak Tiya selama di rumah tadi. Sejak ia tahu Taki akan mengantar Malika pulang hari ini, ia langsung memikirkan cara untuk membantu Taki agar lebih dekat dengan sepupunya itu.
Makanya ia juga menghubungi Satria agar pulang kerja nanti mampir ke rumah Malika dulu untuk makan malam.
Dan kini, saat Malika, Rima dan Mbak Tiya sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Taki dan juga Satria yang baru pulang kerja, jadi punya tugas untuk menjaga si kembar di ruang tamu.
"Lo ngapain sih tanteee pake ngajak-ngajak Chef Taki makan malam di sini! Lo dah gila ya???" Malika tampak bersungut-sungut sambil menguleg sambal di dapurnya.
"Elo tuh yang gila, cowok kaya gitu cuman disuruh nganter jemput doang. Suruh lamar giihh buruan biar dia enggak disamber orang." balas Rima tak mau kalah.
"Samber-samber, emang Taki jemuran maen samber aja!" Malika menggerutu.
"Ceileeehhh, yang segitunya enggak terima babang tamvannya dibilang begitu! Lo naksir dia kan lo, ngaku deh lo!!!" Rima menuding-nuding Malika dengan pisau kecil yang sedang dipegangnya untuk mengupas timun sebagai lalap-an.
"Apaan sih, serem amat sih lo!" Malika mundur-mundur.
"Lagian udah ngasih oleh-oleh sama mainan juga masa iya cuman disuruh pulang gitu aja, nggak ada terima kasihnya sama sekali lo, Ka! Sadis tauk!" omel Rima.
"Gue khan nggak pernah minta dia beliin mainan buat anak-anak gue. Orang gue sendiri yang pengen beliin mereka kok. Emangnya apaan sih yang dia beliin buat anak-anak gue?"
"Lo liat aja sendiri sono! Udah gue kasih ke si kembar noh." Rima menunjuk ke arah ruang tamu dengan dagunya.
Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, tanpa disuruh... si kembar dengan sendirinya berlari ke arah Malika sambil menunjukkan robot mereka masing-masing. Bermaksud untuk menunjukkan mainan baru mereka pada sang Mami.
"Mi..Mami, liat deh robot baru kita. Keren kan, Mi!" seru si kembar dengan bangga.
Malika kaget bukan main karena mengenali robot itulah yang tadinya ingin ia belikan untuk putra kembarnya.
Kenapa orang ini bisa tahu banget apa yang gue pikirin sih??? batin Malika.
Namun melihat tingkah si kembar yang nampaknya begitu menyukai mainan baru mereka, membuat Malika hanya bisa tersenyum pasrah. "Suka sama mainannya?" tanya Malika pada si kembar setelah mencuci kedua tangannya.
"Sukaaa...!" jawab si kembar bebarengan.
"Udah bilang terima kasih sama Om Taki?" tanya Malika lagi.
"Sudaahhh...!" lagi-lagi kedua bocah lucu itu menjawab dengan kompak.
"Pinteerrr! Tapi Mami juga punya mainan buat kalian loh!" kata Malika.
Kontan saja dua pasang mata mungil itu langsung berbinar mendengarnya. "Mana Mi? Mana?" teriak mereka dengan antusias.
"Nanti yaa, setelah makan malam baru Mami kasih!" ucap Malika dengan lembut.
Tak berapa lama, makan malam pun siap. Malika memanggil para pria untuk segera duduk di meja makan. Dan Malika tampak heran ketika melihat kedua anak lelakinya yang sudah begitu lengket dengan Taki.
Bahkan saat di meja makan, kedua balita yang sama-sama berumur tiga tahun lebih itu rebutan untuk duduk di sebelah Taki. Alhasil Taki jadi harus duduk di tengah-tengah antara Leo dan Reo agar mereka tidak saling berebut lagi.
"Yang sabar ya, Taki! Namanya juga anak-anak!" ujar Rima.
"Biar punya pengalaman dibuat rebutan anak kecil, enggak cuman dibuat rebutan cewek-cewek aja!" goda Satria pada Taki.
Mendengar hal itu Malika otomatis memasang tampang juteknya. Entah kenapa dia jadi kesal mendengar ucapan Satria barusan. Dan makin kesal lagi ketika pikirannya spontan membayangkan Taki yang diperebutkan para wanita meski hal itu sebenarnya lumrah-lumrah saja mengingat visual Taki yang mirip aktor Jepang Takeshi Kaneshiro itu.
Di seberang Malika, Taki yang melihat ekspresi kesal di wajah wanita itu pun jadi senyum-senyum sendiri karena terbawa perasaan. Ia berharap Malika cemburu padanya. Karena cemburu tandanya cinta. Taki berharap Malika segera mempunyai perasaan yang sama dengannya.
.
.
.
To Be Continue...