Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pekerjaan
Deretan ruko di Jalan Slamet Riyadi masih tampak cukup terang. Beberapa toko baju masih buka, tukang parkir duduk di kursi plastik sembari main hp.
Kasih berdiri di pinggir jalan, napasnya masih ngos-ngosan. Kaki telanjangnya kotor oleh debu dan aspal yang sangat dingin.
Tangannya masih gemetar. Ia tak sanggup membayangkan peristiwa mengerikan barusan, dimana wajah Hendra yang sangat menyeramkan, dan tidak memiliki perasaan. Bagaimanapun, ia di rawatnya dari bayi, apakah tidak terbesit kasih sayang sedikit saja, sebagai seorang ayah?
"Tuhan... tolong aku..." bisiknya dengan pelan. Ia meratapi nasib hidupnya yang sangat sial.
Ia sangat dilema, dan tidak berani untuk pulang ke warung Bu Yati. Hendra pasti mencarinya kesana lagi.
Dia juga tidak punya uang. Jam tangan satu-satunya sudah ia berikan ke orang tadi sebagai 'ongkos'.
Kasih berjalan tanpa arah. Kemudian memasuki gang kecil di belakang ruko. Duduk di bawah tiang listrik, memeluk lututnya.
Di bagian perut bawahnya, denyutan itu masih ada. Seperti ada sesuatu yang bergerak dari bagian bawah.
"Kenapa hidupku begini terus..." ratapnya. Air matanya jatuh di pipinya mulus.
Ia mencari emperan toko yang dapat ia jadikan sebagai tempat tidur malam ini, dan saat menemukan kardus bekas dari lemari pendingin, maka ia bergelung di dalamnya.
*****
Farhan berhenti di sebuah bangunan kantor. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil. Ia memijat kepalanya yang terasa pusing.
Bagaimana tidak, pekerjaan sudah sembilan puluh sembilan persen telah selesai. Tetapi, BA belum juga di tandangi.
Biasanya ia melalui admin untuk mengurusnya. Tetapi karena ia sedang meninjau pekerjaan baru yang SPO‐nya baru saja diturunkan, maka ia ingin mempertimbangkan kontur kondisi medan proyeknya terlebih dahulu.
Matanya tampak cekung. Sebab semalaman tidak tidur.
Dan tiba-tiba saja ia mendapatkan penumpang gelap seorang wanita muda yang menyelonong masuk ke dalam mobilnya.
Awalnya ia ingin marah. Tetapi saat melihat wajah ketakutan dan nafas yang tersengal, serta dua orang pria yang mengejar dari kaca spion, maka ia mencoba membiarkannya saja.
Ia hanya memiliki insting yang cukup kuat, jika wanita muda itu dalam bahaya.
Farhan mengambil jam tangan di dashbor mobil. Lalu menghidupkan lampu, dan memperhatikannya sejenak.
Di tali bagian bawah terukir nama 'Kasih'. Tadi mengatakan sebagai bayaran tumpangannya."
Farhan mengerutkan keningnya. "Kasih..." ia membaca ukiran tersebut.
Kemudian membuka laci dashbord, dan melemparkannya ke dalam. Lalu ia memilih memasuki kantor ranting perwakilan, meskipun sudah tutup, ia ingin tidur du sana. Sebab ada rapat penting dengan para jajarannya.
****
Kasih terbangun pagi-pagi sekali. Kemudian mencari mesjid dan menumpang membersihkan dirinya di sana.
Mentari sudah muncul, dan mulai menghangatkan tubuh. Kasih keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar.
Ia berniat mencari pekerjaan dengan cepat, sebelum Hendra berhasil menemukannya.
Kasih berjalan menuju pasar. Ia bertanya pada pedagang sayur. "Permisi, Bu... Ada loker, gak?" tanya pada seorang pedagang sayur.
"Maaf, Nak. Saya mencari yng berpengalaman," tolak pedagang tersebut.
Ia kembali bertanya. Dan saat ini ia melihat seorang pedagang telur.
Ia langsung menghampirinya. "Permisi, Pak... bisa beri saya loker kerja?"
"Gak ada. Nak.. Paling ad juga jaga parkir. Mau?"
Kasih menggelengkan kepalanya. Dia takut ketemu premannya Hendra.
Sampai siang, dia belum mendapatkan pekerjaan, dan perutnya terasa lapar.
Dia duduk di depan ruko yang menjual barang-barang sembako.
Ketika melihat sebuah kertas pengumuman penerimaan karyawan, ia langsung mengajukan dirinya.
Ia memberanikan dirinya untuk masuk.
"Permisi, Bu. Ada kerjaan buat saya? Apa aja. Cuci, nyetrika, packing... Angkat barang..." ia langsung menyebutkan kemampuannya.
Wanita paruh baya itu langsung meliriknya.
"Namanya siapa?"
"Kasih, Bu."
"Kasih? Baiklah, tunggu disini sebentar." wanita itu pergi ke dalam, dan menemui seorang pria berusia empat puluh tahun yang merupakan pemilik toko.
Lima menit kemudian, ibu tersebut kembali. "Ada kerjaan bagian penyusunan barang di bagian gudang. Gaji harian enam puluh ribu, makan siang di tanggung, kamu mau?"
Kasih langsung mengangguk. "Mau, Bu. Makasih banyak."
Kasih langsung di bawa menuju gudang tempat penyimpan stok barang. Di mana ia akan menyiapkan barang yang di butuhkan oleh toko.
Sementara itu, Farhan sudah berada di ruang kantor. Ia sedang melakukan rapat bersama para direksinya.
"Mengapa BAPPEDA sangat sulit sekali di temui. Pekerjaan sudah selesai, dan pencairan terkesan di ulur oleh mereka." Farhan memutar-mutar pena di tangannya.
"Saya baru dapat informasi dari orang Dinas, kalau Sekdanya sedang ke Jakarta, dan kemungkinan tiga hari lagi baru kembali," jawab sang admin.
"Baiklah. Selesaikan dengan cepat. Sebab ada hak pekerja di dalamnya. Saya akan mengurus proyek lainnya.
"Baik, Pak." jawab Andi dengan cepat.
Farhan meninggalkan ruang rapat, kemudian kembali ke mobilnya. Saat ia mencari tisu basah, tiba-tiba ia melihat jam tangan itu lagi. Ia menatapnya sejenak, tetapi kembali menutup lacinya.
****
Kasih sedang memetakan kardus dengan barang yang sama dan gerakannya cukup cepat dan cekatan. Tangannya lincah dalam bekerja. Semua barang sudah terta, sehingga ketika toko membutuhkan barang, ia tidak lagi kerepotan mencari.
Saat hari sudah hampir sore. Bu Rina yang melihat hasil kerjanya sangat puas. "Kerja bagus," pujinya sebagai mandor. "Besok masuk lagi ya."
Kasih tersenyum tipis. Ini pertama kalinya dalam dua hari ini dia senyum.
"Saya gak punya tempat tinggal, boleh tidur di gudang?" pinta Kasih dengan wajah memelas.
Bu Rina terlihat berfikir keras. Tetapi akhirnya melunak. "Baiklah, tapi jaga amanah. Jangan sampai kamu mencuri di gudang. Sebab ada CCTV," pesannya.
Kasih mengangguk pelan. Lalu Bu Rina memeberikan kunci gudang.
Saat malam menjelma. Seseorang memperhatikan Kasih dari CCTV gudang. Ia adalah Tono, pemilik toko. Melihat kecantikan Kasih, ia tidak dapat menahan gejolak kelakiannya.
Setelah suasana sepi. Ia mematikan akses CCTV, kemudian menyelinap ke dalam gudang.
Dengan kunci utama, ia membuka gudang, dan sengaja mematikan lampunya.
Taak!
Lampu padam. Suasana gelap gulita. Tono membekap Kasih.
Keesokan paginya. Kasih terbangun di sebuah ruangan. empat orang pria sudah menatapnya dengan tatapan yang dingin.
Seorang pria berpeci tampak ketakutan karena di ancam oleh Tono.
"Sudah, kalian harus segera menikahkanku dengannya,"
Kasih tersentak kaget. Ia yang baru saja loading dan kepalanya kliyengan, tiba-tiba terbangun dan di paksa menikah.
Pria berpeci yang ketakutan menatap kasih. "Siapa nama ayahmu?"
Kasih menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Tono naik pitam.
"Katakan siapa atahmu?" ia meletakkan unung pisau di leher Kasih.
"Aku tidak punya ayah," jawab Kasih dengan bibir gemetar karena ketakutan.
"Anak haram rupanya! Tapi banyak tingkah!" cibir Tono.
"Ya, sudah... Bintinya Abdullah, karena dia anak haram," sebut Tono lagi.
Pria berpeci terpaksa menikahkan Kasih dengan Tono dengan pernikahan siri.
Saat kata 'sah' di kumandangkan, Tono tersenyum sumringah. Sedangkan penghulu dan dua orang saksi itu pulang dengan membawa uang pemberian dari Tono.
Kini tinggal Kasih dan Tono berdua di ruang kamar sebuah rumah yang ia sendiri tidak tahu entah dimana.
"Aku bos barumu di toko. Aku pemiliknya. Aku gak tahan melihat kecantikanmu. Jadi aku nikahi siri saja, lumayan untuk camilan..." ucap Tono. Suaranya membuat bulu kuduk Kasih meremang.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )