Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Mereka sudah seminggu berada di villa, Alice sangat menikmati bulan madunya bersama Gara. Setiap menit dilewati penuh dengan kebahagiaan.
Hari ini pun sama, ketika pagi Gara memberikan ciuman selamat pagi dan menaruh pil darah dimulut Alice, ini menjadi kebiasaan rutin yang dilakukannya setelah menikah. Alice tidak mau terlalu sering menghisap darah Gara, dia khawatir tubuh Gara akan kelelahan. Namun sebaliknya dengan Gara, dia merasa sedikit kecewa karena Alice sudah lama tidak menghisap lehernya.
Sarapan sudah disiapkan, meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan. Dimulai dari sup lobster, ayam panggang, croissant, black pudding dan makanan yang tidak Alice ketahui namanya. Alice menatap Gara, Dia sedang menikmati secangkir capuccino hangat, tangan kirinya memegang koran yang entah bagaimana bisa dia dapatkan.
Gara terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja biru langit dan celana selutut. Kakinya terlihat panjang, dengan otot betis yang padat, 2 kancing kemeja atasnya terbuka, memperlihatkan dada gara yang bidang dan kokoh. Alice mengingat ketika dia menjilat perut Gara yang sixpack. Gumpalan-gumpalan ototnya sangat kencang, tangannya menyentuh dengan gatal dan bersemangat.
"Alice..
"Honey.."
Gara membuyarkan lamunannya seketika. Alice mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia tertawa dan melanjutkan lagi sarapannya. Gara menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan tingkah Alice barusan.
Kedua pelayan telah membereskan barang bawaan Alice, mereka memasukan pakaian dan semua barang Alice ke dalam koper dengan rapih. Hari ini mereka akan pulang, Alice berjanji pada bibinya hanya akan bulan madu selama satu Minggu, dan tepat pada hari ini bulan madunya berakhir. Sebenarnya Gara enggan pulang, dia masih ingin menikmati bulan madunya bersama Alice, namun dia tidak mau Alice sedih dan terus memikirkan bibinya saat sedang bersamanya.
"My Lady...
"Apakah sudah siap?"
Gara mengulurkan tangannya kearah Alice, Alice tersenyum dan menggandeng tangan Gara dengan erat.
"Berangkat...!!"
Mereka kembali pulang ke istana. Gara telah memberikan kabar kepada Ayahnya, bahwa hari ini dia akan pulang.
Kurang lebih 7 jam waktu yang diperlukan untuk sampai di kerajaan. Mereka berkendara dengan santai sambil menikmati pemandangan. Alice tidak ingin terburu-buru dan melewatkan begitu saja hal baru yang ia temui. Mereka berhenti di reruntuhan kastil dan berfoto disana, lalu berhenti lagi dipadang rumput yang dipenuhi hamparan bunga berwarna-warni, kemudian mereka berhenti lagi di tepi danau untuk memuaskan hasrat Alice yang menggebu-gebu karena tidak pernah melihat danau "buatan tangan" dia sangat antusias sekali, mengucapkan kata-kata seperti "Tidak mungkin ini dikeruk oleh tangan kan?" atau "Ini hal yang luar biasa!" atau "Ini sangat hebat! lihatlah betapa luasnya, aku harus berputar untuk melihat semuanya!". Gara hanya tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkah Alice.
Semua orang menyambut antusias kepulangan Alice dan Gara. Mereka berbaris dengan rapih dan membentuk sebuah terowongan yang akan dilewati Gara dan Alice saat mereka masuk kedalam.
"Waaw, Ini berlebihan.." Gumam Alice sambil menarik salah satu ujung pakaian Gara.
Gara menatapnya dan menaikan kedua alisnya.
Dean menunggu Gara dan Alice ditepi anak tangga, dia tersenyum dan membungkuk.
"Selamat datang My Lord, My Lady.."
Gara mengangguk dan melewati Dean sambil menggandeng tangan Alice.
"Aku merindukan kamar ini.." Alice menghempaskan badannya di tempat tidur Gara yang nyaman dan dipenuhi aroma tubuh Gara. Dia berguling-guling dan menenggelamkan wajahnya dibawah bantal, lalu menghirup nya. "Aroma tubuh Gara.." Gumam Alice lalu menyeringai. Gara memperhatikan tingkah Alice yang menggemaskan, dia tidak tahan untuk memeluknya dengan erat.
"Alice, My Honey..! Aku tidak sanggup menahan hasratku jika kau terus bertingkah seperti itu..!" Gara membenamkan kepalanya di payudara Alice yang lembut.
Alice tertawa geli dan menggeliat.
"Gara.. hentikaan, aku mengerti, aku mengerti, lepaskan aku.." Alice memohon sambil tertawa.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam sambil berpelukan. Karena terlalu lelah Alice tertidur lebih dulu. Gara melepaskan sepatu Alice dan memakaikan selimut. Dia berdiri dan berjalan keluar.
Gara berjalan ke ruang kerjanya, Dean berdiri disamping meja dan membungkuk.
"My Lord.."
Gara duduk dan melihat dokumen-dokumen yang telah menumpuk.
"My Lord, selama anda pergi, banyak hal terjadi.. Tuan muda Eric akan menikah.." Dean menundukkan kepalanya, dia takut melihat reaksi Gara.
"Secepat itukah? dengan siapa dia menikah?" Gara melanjutkan tulisannya.
"Tuan muda Eric akan menikah dengan Putri Laura dari Kerajaan Yessel. Tuan Putri sudah mengandung 5 bulan yang mulia."
Braak..!
Gara memukul meja dengan keras, Dean tidak berani menatap Gara.
"Apa yang kau katakan?! Apa maksud dari semua ini!" Gara memancarkan aura kemarahan, Dean tidak berani menjawabnya.
"Katakan!" Gara berteriak dengan kencang.
"Tuan muda Eric telah mengenal Putri Laura jauh sebelum My Lord bertemu dengan Ma'am. Yang Mulia Raja sengaja tidak memberi tahu anda My Lord." Dean masih menundukkan kepalanya.
"Jadi kau fikir dia menunda pernikahan nya karena
aku?! Lalu Apa yang dikatakan Raja Yessel?"
"Bukan begitu My Lord, yang Mulia Raja memang ingin anda menikah terlebih dahulu, karena anda merupakan Anak pertama dan pewaris tahta kerajaan. Dan.. Keluarga Putri Laura tidak mengatakan apapun, tapi mereka terlihat sedikit kecewa.." Dean memilah-milah kata dengan sangat berhati-hati, dia takut kemarahan Gara akan bertambah.
"Keluar dari sini! Panggilkan Eric."
Dean keluar dari ruang kerja Gara dengan terburu-buru, lalu mencari Tuan Muda Eric.
Tok
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu ruang kerja Gara. Eric masuk setelah mendengar Gara memanggil nya.
"Gara.." Sapa Eric pelan, dia mendengar kabar dari pelayan Gara, Dean bahwa Gara sedikit terkejut mendengar dia akan menikah, sehingga Eric mencoba mencari kata-kata yang pas untuk mengatakannya.
"Duduklah!"
Eric tidak berani memandang Gara, dia mendekat dan duduk dihadapan Gara tanpa berkata-kata. Terdengar suara kuas yang menyapu kertas dengan cepat, bunyi tinta yang menetes terdengar jelas, detak jantung Eric meningkat drastis, dia tidak tau berhadap-hadapan dengan Gara seperti ini akan membuatnya gugup dan susah bernafas.
"Kau akan menikah?" Tanya Gara, dia masih menulis diatas dokumen-dokumen nya tanpa memandang Eric.
"...." Eric tidak berani menjawab.
"Sejak kapan kau jadi tuli Eric? aku mengajak mu berbicara, apa kah kau sudah tidak menghargai ku sekarang?" Gara masih menulis.
"Aku akan menikah, tanggalnya sudah diatur, pernikahan akan digelar seminggu lagi.." Eric berbicara dengan satu nafas, dia berkeringat dan gugup sekali.
"Yah kurasa kau tidak tuli, tapi mengapa kau jadi bodoh?" Gara berbicara dengan nada sinis yang dapat membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku..
"Aku tidak mengerti Ka.." jawab Eric.
"Kau menghamili anak orang! tapi kau belum menikahinya! apa kau bodoh? sudah jelas kau tidak tuli. Apa yang dikatakan oleh ayahnya ketika mereka tau anaknya telah mengandung?" Gara menatap Eric dengan tajam, matanya berwarna merah semerah darah.
"Mereka tidak mengatakan apapun.. karena aku memang akan menikahinya, namun saat aku akan mengatakannya kepadamu, tampaknya kau telah jatuh hati pada Alice, sehingga aku ingin kau lebih dulu menikah.."
Gara tertawa terbahak-bahak, Eric semakin ketakutan.
"Aaah ..
"Jadi sekarang kau menyalahkan Aku? lalu Alice?" Gara melempar kuasnya ke arah Eric. Eric diam, tidak menghindar.
"Baiklah, mungkin kau takut aku akan marah saat itu, tapi kau salah, sekarang pun tidak ada bedanya, aku tetap marah dan kesal! Kau tau, aku tidak peduli dengan Tahta kerajaan, aku tidak peduli siapa yang lebih dulu lahir atau apapun, namun aku ingin kau mengatakan padaku apa yang kau inginkan! Setidaknya aku bisa memberimu selamat karena kau akan menjadi seorang Ayah."
"Pergilah.." Gara kembali menulis dengan kuas yang baru.
Eric tidak berani mengatakan apapun, dia berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Terimakasih.." Ucapnya pelan.
Eric berjalan ke arah pintu, membuka dan menutupnya dengan perlahan.
"Sial!.." Ucap Gara sambil mengepalkan tangannya.
Gara merasa kecewa dengan dirinya sendiri, seandainya dia lebih dekat dengan saudara-saudara nya, mungkin hal memalukan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur, pernikahan itu akan segera digelar dan Eric akan menjadi seorang Ayah, posisi yang tidak akan pernah dapat dirasakan oleh Gara. Ada sedikit rasa perih didalam hatinya tatkala memikirkan tentang hal tersebut, namun Gara segera membuang jauh-jauh semua perasaan itu dan lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Melakukan pekerjaan di ruang kerjanya merupakan suatu rutinitas yang Gara lakukan sebelum bertemu dengan Alice, dia menghabiskan separuh waktunya disana, dengan membaca, menulis dan menandatangani dokumen. Namun, sekarang berbeda, baru saja beberapa jam Gara membuka dan menandatangani dokumen dia sudah melihat jarum jam, kemudian mendecakan lidahnya.
'Aku rasa, sudah terlalu lama berada disini, sebaiknya aku menemui istriku.'
Gara berjalan perlahan ke arah kamarnya, dia telah berganti pakaian, memakai kemeja katun warna putih dipadukan dengan celana katun warna nude, dua kancing atasnya dibiarkan terbuka.
Klaak..
Pintu kamar terbuka perlahan, dia berjalan ke arah tempat tidur. Alice masih tertidur, spreinya berantakan, selimut yang tadi dikenakan telah jatuh ke lantai karena ditendang olehnya. Setelah seminggu tidur bersama Alice, Gara tau Alice tidak bisa tidur dengan rapih, selalu saja ada bagian kasur yang jatuh, bantal, guling maupun selimut. Dengan penuh cinta, Gara menyelimuti Alice lagi dan mengubah posisi tidurnya yang aneh.
Gara duduk disamping Alice, mengusap kepalanya dan mengecup keningnya lembut.
Gara menggigit pergelangan tangannya, lalu mengalirkan darahnya kemulut Alice.
Alice refleks terbangun, dia menjilat darah dari bibirnya dan menatap Gara.
"Apa yang kau lakukan?" Alice bingung melihat pergelangan tangan Gara yang penuh darah.
"Apakah kau terluka?" Alice khawatir, lalu dia berdiri dan mengelilingi Gara. Gara hanya tersenyum dan memeluk Alice.
"Aku baik-baik saja, aku melakukannya sendiri, lihatlah.. aku menggigit nya.." Gara memperlihatkan taringnya yang penuh darah.
Alice menatapnya khawatir, dia menjilat luka dipergelangan tangan Gara dan membersihkan nya.
"Apakah kau ingin menghisap darahku??" Alice membelalakkan matanya dan tersenyum jail.
Gara berpura-pura berfikir, dia membuat pose seolah kebingungan.
"Apakah aku bisa?" Tanyanya penuh harap.
Alice tidak menjawab, dia membuka kancing bajunya, dan mendekat ke arah Gara.
"Cium aku.." Ucap Alice.
Gara membelai pipi Alice, bibir Alice terbuka, Alice menutup matanya, dia menikmati momen saat Gara menyentuh perlahan. Lalu dia membelai bibir Alice, dan menciumnya dengan lembut.
Perlahan-lahan, lalu menjadi terasa panas disetiap bagian tubuh Alice, tubuhnya menegang, ingin merasakan Gara menyentuh tiap inti bagian Alice.
Bibir Gara menghisap bibir Alice, menjilat setiap bagian mulut Alice dan menengguk air liurnya yang keluar dari bibirnya, lidahnya terus berliuk disetiap bagian dalam mulutnya, mencari lidah Alice dan saling menarik satu sama lain.
Tangan kanan Gara membelai lembut tengkuk Alice, menyusuri nya dengan kukunya yang sedikit tajam dan berhenti dibagian leher Alice yang jenjang. Perlahan Gara melepaskan ciumannya dan beralih keleher Alice, dia sudah tidak kuasa menahan godaan aroma tubuh Alice, lalu dengan cepat membenamkan kedua taringnya yang tajam disana dan menghisap darahnya dengan lembut.
Aaaaah....
Uuuhk..!!
Alice memejamkan matanya, menikmati setiap momen yang Gara lalukan padanya, bagian tubuh lain semakin panas dan terus meminta, haus akan belaian tangan Gara.
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...