Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Dadakan
"Callie, duduk." ucap Lucky dengan tatapan tajamnya.
Callie pun duduk di karpet ruang keluarga rumah keluarga Roberto. Di sana juga ada Mika yang duduk di sampingnya. Keduanya langsung terkena sidang dadakan karena laporan dari Kara. Tak hanya Lucky, tapi ada Rachel dan Ronand juga. Jantung Ronand berdetak sangat kencang saat mengetahui bahwa alat buatannya dibawa oleh Callie. Beruntung tembakannya tepat sasaran ke orang jahat. Jika sampai melukai Callie atau Mika, Ronand pasti akan merasa sangat bersalah.
Ronand mengetahui kejadian ini dari alat yang sudah dilepaskan oleh Janice di dekat pos satpam. Tentu saja semua pembicaraan dan gerak-gerik mereka terpantau. Ronand yang mengetahui itu langsung pergi ke rumah utama keluarga Roberto. Padahal saat itu dia sedang ada rapat. Dia tak peduli, asalkan keluarganya selamat dahulu.
"Callie, nggak boleh lagi-lagi kaya begitu ya. Jantung Mama kaya mau lompat dari tempatnya tahu nggak saat dengar kamu tembak tangan orang," ucap Rachel sambil memegang kepalanya. Pusing dia menghadapi tingkah anak bungsunya yang melebihi dirinya saat kecil. Bahkan Ronand yang notabene kembaran Rachel, mengakui jika Callie lebih luar biasa membuat pusing
"Nanti Callie tangkap jantungnya pakai salingan teh, Mama. Beles, Callie itu pintal kalau soal tangkap-tangkap. Apalagi kalau tangkap duit,"
"Ya kan, plastik Mika?" Callie tampaknya ingin mencari teman agar tidak dimarahi oleh Rachel dan semua orang di sana. Callie menyenggol lengan Mika, tapi gadis remaja itu tampak acuh. Sungguh dia masih shock dan mencoba mencerna kejadian hari ini.
Bugh...
Awwww...
"Iya, ndak? Jangan lempal batu sembunyi di kali ya. Plastik Mika halus setuju sama omongannya Callie," serunya yang kesal karena Mika malah diam.
Bahkan Callie langsung memukul lengan Mika dengan kencang. Mika, gadis remaja itu sampai mengaduh kesakitan. Walaupun tangan Callie terlihat kecil dan gembul, tapi tenaganya saat memukul luar biasa. Callie ini punya sifat yang keras kepala seperti Rachel. Bahkan Callie lebih parah karena semua orang harus selalu mengikuti keinginannya. Jika tidak, dia akan memaksa atau memukul lawannya. Jurus andalannya saat ditegur dan dimarahi adalah menangis.
"Callie, jangan pukul Kakaknya dong. Ayo minta maaf sama Kak Mika. Tidak boleh kasar sama saudaranya sendiri," tegur Rachel yang langsung memposisikan tubuh Callie menghadap ke arah Mika.
"Ndak salah Callie itu, Mama. Plastik Mika nih ndak mau saling bela. Padahal salahnya beldua lho," ucap Callie memberikan alasan sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Masa membela yang salah sih, kali mambu. Lagian yang bawa pistol kan kamu. Kak Mika sama sekali nggak tahu ya kalau itu pistol beneran. Kamu juga simpan dimana itu pistol? Kak Mika nggak lihat sama sekali," ucap Mika sambil melambaikan tangannya.
"Callie kila juga itu pistol bohongan lho. Salahnya Papa untung asal taluh mainan kecil itu di meja lias. Sudah sepelti pensil alisnya Mama, jadi Callie ambil." ucap Callie tak mau disalahkan.
Bahkan Callie saat ini menyalahkan Lucky yang asal meletakkan barang. Ronand yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Perdebatan ini pasti takkan selesai jika sudah melibatkan Callie, Mika, dan Rachel. Ketiga orang itu sama saja, terlalu banyak bicara. Memang benar, kesalahan juga ada pada Lucky yang menempatkan benda berbahaya di sembarang tempat.
"Callie, pokoknya kamu nggak boleh asal masuk kamar Papa dan Mama sembarangan. Itu tidak sopan," Ucap Lucky dengan tegasnya.
"Ndak sembalangan. Olang Callie bukan sampah yang ndak boleh dibuang sembalangan kok." Ucap Callie dengan santainya.
"Kan Callie ke kamal juga bial Papa untung ndak minum susu kesukaannya Callie," lanjutnya membuat Rachel dan Lucky memelototkan matanya.
Susu? Emang Om untung masih suka minum susu?
Iya, susu di dadanya Mama Achel.
Ha?
Lucky... Mata suci keponakanku ternodai,
Bugh... Bugh...
Ampun, Ronand. Nggak sengaja woyyy...
Hahaha...
***
Saat ini Mika ada di belakang halaman rumah keluarga Roberto bersama Ronand. Tak lupa dengan Kara dan empat orang pengawal lainnya. Di atas tembok pembatas kandang buaya, ada dua orang yang berdiri. Dia adalah Yoyo dan Fajar, dua orang yang tadi mengawasi area perumahan itu. Tangan Fajar masih berdarah walaupun sudah diperban. Namun penderitaan keduanya tidak hanya sampai dipukuli oleh para pengawal karena tak mau mengaku.
Kini mereka dihadapkan dengan buaya-buaya yang sudah siap menerkam. Mulut buaya sudah menganga membuat keduanya hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Kedua tangan dan badan terikat dengan dua orang pengawal yang menggenggam talinya. Jika tali itu dilepas, sudah pasti mereka akan langsung terjatuh. Tak disangka, ternyata rumah mewah yang luarnya sangat indah itu menyimpan hal mengerikan. Ada berbagai hewan yang dijadikan peliharaan dan akan membuat lawan ketakutan.
"Tolong lepaskan kami. Kami hanya disuruh," ucap Yoyo dengan badan gemetaran. Bahkan dia sampai menahan kencing karena terlalu ketakutan melihat buaya di bawahnya.
"Ya siapa yang menyuruh kalian? Dari tadi kalian tidak mau mengaku," Sentak Mika dengan raut wajah kesalnya.
"Tidak tahu. Kami benar-benar tidak tahu," jawab Yoyo dengan gemetaran.
"Bohong. Kalian tidak mungkin tak tahu siapa yang menyuruh," seru Mika yang mulai kehabisan kesabaran.
"Kami benar-benar tidak tahu siapa namanya. Dia pakai topi dan masker, tapi rambutnya putih." Seru Fajar ikut membantu Yoyo meyakinkan Mika. Jika resikonya nyawa, dia dan Yoyo takkan mau mengambil pekerjaan seperti ini.
Mika menatap ke arah Ronand dan Lucky yang berdiri di belakangnya. Keduanya menganggukkan kepalanya, seakan paham dengan maksud dari Mika. Ketiganya segera pergi, tanpa menghiraukan Yoyo dan Fajar yang berteriak histeris. Entah apa yang terjadi di halaman belakang rumah itu selanjutnya, hanya Kara dan para pengawal yang tahu. Yang jelas, itu untuk pelajaran agar ke depannya tidak ada orang yang berani macam-macam dengan keluarga mereka.
Tidakkkk...
"Apa Uncle sudah menemukan bukti baru tentang kematian Nenek gayung?" Tanya Mika to the point.
"Ada sedikit petunjuk tambahan, Mika. Kita harus hati-hati dengan orang terdekat. Bisa saja, mereka terlibat sebagai penyebab kematian Oma. Terus hati-hati dengan teman barumu di sekolah. Sepertinya ada musuh dalam selimut di dalam geng motor itu. Bisa jadi malah pertemananmu di geng motor itu membuatmu dalam bahaya," ucap Ronand mengatakan kekhawatirannya tentang pertemanan Mika di sekolah.
"Uncle tenang saja. Aku sudah merasakan hal itu sejak balapan kemarin," ucap Mika dengan senyum misteriusnya.
Balapan? Kamu balapan?
Iya dong. Emangnya Om untung doang yang bisa balapan,
Kok nggak ngajak sih. Kan lumayan hadiahnya,
Dih... Ini khusus anak muda, bukan orangtua.
Heh...
lanjuttttt bykkkkk thor💪😄