NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Agung di Kursi Pengadilan

​Langkah kaki kayu Ji Huang yang berbunyi pletag-pletog menggema di dalam ruangan Aula Penegak Hukum Pusat yang luas dan megah. Berbeda dengan koridor luar yang remang-remang, ruang sidang utama ini didesain melingkar layaknya teater kuno, dengan dinding batu hitam yang menjulang tinggi.

​Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah lingkaran formasi array interogasi raksasa yang memancarkan cahaya merah berpendar, siap menekan mental siapa saja yang berdiri di dalamnya. Dan di atas panggung tinggi, duduklah tiga orang Hakim Agung berambut putih salju. Ketiganya mengenakan jubah kebesaran hitam-emas, memancarkan aura kultivasi yang sangat masif—jauh di atas Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-8.

​Melihat kedatangan Ji Huang, suasana aula mendadak menjadi sangat menekan.

​Namun, alih-alih melangkah ke dalam lingkaran formasi merah dengan tubuh gemetar ketakutan seperti tersangka pada umumnya, Ji Huang justru melirik ke arah samping. Di sana terdapat sebuah kursi saksi berukuran besar yang terbuat dari kayu gaharu tua dan dilapisi oleh kulit beruang hitam yang tebal. Sembari membuang sisa tulang bebek terakhirnya ke tempat sampah di dekat pintu secara polos, Ji Huang langsung melangkah ke kursi itu.

​Fuuuh.

​Dia mendudukkan pantat fanya, bersandar dengan nyaman, lalu menghela napas lega dengan wajah lempeng. “Ah, kursi kulit beruang ini benar-benar empuk dan hangat. Pilihan yang sangat tepat untuk merilekskan otot-ototku setelah perjalanan jauh,” batin sang mantan Dewa Pedang dengan sangat puas.

​"Ji Huang! Berani-beraninya kamu bertindak lancang di Aula Suci!"

​Hakim Agung Ketua yang duduk di tengah mendadak menghentukan palu batunya dengan keras. BLAAM! Suara itu menggetarkan langit-langit aula. "Kamu diseret ke sini atas tuduhan menggunakan sihir hitam atau racun iblis terlarang untuk melumpuhkan meridian sepupumu, Huang Jian, di turnamen klan cabang! Seorang sampah yang dantian-nya cacat tidak mungkin bisa melakukan hal itu dengan tangan kosong! Jika kamu tidak bisa memberikan penjelasan yang rasional, hukumannya adalah eksekusi jiwa di tempat!"

​Mendengar ancaman eksekusi jiwa, Huang Fu yang berdiri di sudut ruangan langsung memasang senyum puas, sementara pengawal baju abu-abu Lapis ke-7 di sampingnya hanya diam dengan keringat dingin yang mulai menetes, tidak berani ikut campur.

​Ji Huang perlahan memiringkan kepalanya, menatap ketiga Hakim Agung berambut putih itu dengan sepasang mata jernih yang memancarkan kepolosan mutlak. Dia tidak tampak panik, marah, ataupun berniat membela diri dengan urat leher yang tegang.

​"Hakim Agung Berambut Putih, aku tidak menggunakan sihir hitam ataupun racun iblis," ucap Ji Huang blak-blakan dengan nada malasnya yang khas. "Kalian menuduhku karena kalian tidak paham esensi dari ilmu pedang keluarga kalian sendiri. Gerakan yang digunakan oleh putra tetua cabang kemarin... bukankah itu adalah bentuk turunan dari gaya pedang Kitab Pedang Angin Puyuh?"

​Mendengar nama kitab tersebut, ketiga Hakim Agung seketika tertegun. Alis putih mereka bertaut rapat. Kitab Pedang Angin Puyuh adalah kitab pusaka kuno yang ditulis langsung oleh Leluhur Pendiri Keluarga Huang sekitar empat ratus tahun yang lalu. Kitab itu sangat sakral, dan hanya sedikit tetua inti yang diizinkan mempelajarinya.

​"Bagaimana seorang bocah klan cabang sepertimu bisa mengetahui nama Kitab Leluhur?!" tuntut Hakim Agung kedua dengan nada curiga.

​Ji Huang menguap kecil, lalu melanjutkan penjelasannya dengan wajah tanpa dosa. "Aku mengetahuinya karena gerakannya sangat kaku dan membosankan. Di dalam kitab asli yang ditulis Leluhur kalian pada bab ketiga halaman ketujuh, tertulis dengan sangat jelas: 'Jika musuh meluncurkan serangan dari arah bawah, maka pertahanan terbaik adalah menarik kaki kanan dan melangkah mundur dua senti demi menjaga keseimbangan spiritual.' Bukankah begitu aturan dasarnya?"

​Ketiga Hakim Agung saling berpandangan dengan wajah yang mendadak menegang. Di dalam ingatan mereka yang sudah tua, baris kalimat yang diucapkan Ji Huang secara acak itu... ternyata seratus persen akurat dengan isi kitab suci leluhur!

​"Namun," Ji Huang melanjutkan dengan nada jujur tanpa filter, "putra tetua cabang itu sangat bodoh. Bukannya melangkah mundur dua senti sesuai instruksi suci Leluhur Pendiri, dia malah melompat ke atas secara sembarangan, mengekspos seluruh meridian lututnya di udara seperti kura-kura yang membalikkan tempurungnya sendiri. Sebagai sesama anggota keluarga, aku hanya berniat baik untuk membantu mengoreksi kesalahan gerakannya. Aku mengetuk sedikit saraf lututnya agar dia sadar akan instruksi kitab leluhur. Pertanyaanku sekarang..."

​Ji Huang menatap lurus ke arah Hakim Agung Ketua dengan pandangan lempeng. "...apakah mematuhi dan mempraktikkan instruksi suci dari Leluhur Pendiri Keluarga Huang sekarang sudah dianggap sebagai sihir iblis terlarang di Kota Utama ini? Jika iya, bukankah itu berarti kalian para Hakim Agung yang sedang menuduh Leluhur kalian sendiri sebagai pencipta sihir iblis?"

​DEGG!

​Kalimat polos nan tajam dari mulut Ji Huang seketika menghantam seluruh Aula Penegak Hukum bagaikan sambaran petir di siang bolong.

​Seluruh ruangan mendadak berubah menjadi sunyi senyap, sekering gurun pasir. Para tetua yang hadir membatu di tempat mereka, sementara tiga Hakim Agung di atas panggung tinggi langsung kena mental secara masif. Wajah-wajah tua mereka yang tadinya berwibawa kini berubah menjadi pucat, lalu memerah, dan berkedut hebat menahan kepanikan intelektual.

​Argumen Ji Huang adalah sebuah skakmat hukum yang luar biasa cerdik.

​Jika para Hakim Agung memutuskan untuk mengeksekusi Ji Huang, itu berarti secara hukum mereka menyatakan bahwa tindakan mengikuti instruksi Kitab Leluhur Pendiri adalah sebuah kesalahan besar yang pantas dihukum mati. Menentang Leluhur Pendiri adalah tabu terbesar dan dosa paling sakral di dalam klan yang bisa menghancurkan legitimasi seluruh Keluarga Utama.

​Namun, jika mereka melepaskan Ji Huang begitu saja, itu berarti mereka secara tidak langsung mengakui bahwa seorang bocah compang-camping dari klan cabang jauh lebih memahami kitab suci leluhur daripada para elit dan jenius di pusat kota. Harga diri dan martabat Keluarga Utama akan runtuh dan tamat dalam sekejap!

​"K-Kurang ajar! Ini bualan gila! Jangan dengarkan omong kosong sampah ini, Hakim Agung!" Huang Fu yang tidak paham esensi hukum klan mendadak berteriak histeris dari sudut, wajahnya panik melihat jalannya sidang menjadi aneh.

​"DIAM, HUANG FU!" Hakim Agung Ketua mendadak membentak Huang Fu dengan suara menggelegar, membuat pemuda arogan itu langsung terbungkam ketakutan.

​Ketiga Hakim Agung berambut putih itu segera condong ke depan, saling berbisik dengan sangat panik di atas podium mereka. Perdebatan sengit terjadi di antara mereka. Mereka membolak-balik lembaran hukum klan dengan tangan gemetar, mencoba mencari celah untuk keluar dari dilema moral yang diciptakan oleh kepolosan Ji Huang. Namun, semakin mereka mencari, semakin mereka menyadari bahwa mereka telah terjebak total di dalam argumen bocah pemalas itu.

​Melihat ketiga hakim agung sibuk berdebat sendiri dengan wajah frustrasi, Ji Huang hanya menyandarkan kepalanya ke kulit beruang hitam, matanya perlahan terpejam menikmati kehangatan kursi. Bagi seorang mantan Dewa Pedang yang di kehidupan masa lalunya sudah terbiasa membaca ribuan kitab hukum kekaisaran saat sedang bosan, membalikkan logika hukum klan sekecil ini adalah hal yang sangat sepele.

​Setelah hampir lima belas menit suasana aula dipenuhi oleh bisik-bisik panik, Hakim Agung Ketua akhirnya menegakkan tubuhnya kembali. Dia berdehem kencang untuk menutupi rasa malunya yang luar biasa, lalu mengetuk palu batunya dengan pelan.

​Tok!

​"Dikarenakan... dikarenakan kasus ini melibatkan penafsiran mendalam terhadap Kitab Suci Leluhur Pendiri yang sakral, maka Pengadilan Tertinggi memutuskan untuk menunda keputusan akhir!" ucap Hakim Agung Ketua dengan nada suara yang dipaksakan terdengar berwibawa. "Kami perlu melakukan investigasi mendalam dan mempelajari kembali bab ketiga dari kitab suci selama beberapa hari ke depan!"

​Hakim Agung Ketua melirik ke arah Ji Huang yang hampir ketiduran di kursinya. "Selama masa penundaan ini, tersangka Ji Huang tidak akan dimasukkan ke penjara bawah tanah demi menghormati keterkaitannya dengan teks leluhur. Sebagai gantinya, dia akan ditempatkan di bawah status tahanan rumah di Paviliun Isolasi Tamu Agung di area belakang klan!"

​Mendengar keputusan kompromi itu, Huang Fu hampir saja melompat karena tidak puas, namun tatapan tajam dari sang Hakim Agung langsung membuatnya bungkam seribu bahasa.

​Ji Huang perlahan membuka matanya, mendengar bahwa dia dipindahkan ke Paviliun Tamu Agung. Dia bangkit berdiri dari kursi kulit beruang dengan wajah polos yang memancarkan kegembiraan murni tanpa beban.

​Sembari berjalan keluar dari ruang sidang dipandu oleh seorang pelayan wanita yang membungkuk hormat, Ji Huang meregangkan otot-otot lehernya yang kaku dan membatin dengan sangat malas: “Ternyata kebiasaanku membaca kitab-kitab kuno empat ratus tahun lalu saat sedang gabut di kehidupan dulu beneran ada gunanya juga. Paviliun Isolasi Tamu Agung? Kamar privat eksklusif? Sempurna sekali. Mari kita lihat seberapa tebal selimut dan seberapa tenang suasana di sana untuk ritual tidur siangku berikutnya.”

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!