Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Status Baru
Suasana di dalam kabin mobil jip militer yang tengah melaju membelah jalanan berdebu itu terasa sangat canggung. Di kursi belakang, tidak ada perbincangan apa pun antara Radit dan Vina.
Mereka duduk saling menjauh, tidak ada yang berani menghadap satu sama lain. Wajah mereka sama-sama terlempar ke arah jendela, menatap pemandangan luar yang bergerak cepat demi menutupi kegugupan yang melanda dada masing-masing.
Radit melirik ke bawah melalui sudut matanya. Di atas lututnya, kedua tangannya mengepal sangat kuat, meremas celana kain militernya untuk meredam debaran jantung yang tidak karuan.
"Aku bisa menghadapi moncong senjata musuh di medan perang tanpa takut, tapi kenapa di depan seorang gadis aku bisa sepengecut ini?" batin Radit merutuki dirinya sendiri.
Pengemudi yang sedang membawa mobil jip itu sejak tadi melirik kecanggungan mereka berdua melalui spion tengah. Ia adalah Angga, sahabat karib sekaligus rekan sejawat Radit di kesatuan militer.
Angga terkekeh pelan, berniat memecah keheningan yang mencekam itu. "Akhirnya, mobil dinas yang kaku ini ada seorang wanita juga yang naik. Kamu tahu Nyonya, eh maksudku Nona... ini adalah kali pertama Radit membawa seorang wanita naik ke mobil miliknya. Dulu, tidak ada satu pun wanita yang boleh menyentuh jip ini, apalagi menaikinya. Gara-gara itu, aku sempat berpikir kalau Radit dulu adalah lelaki yang tidak normal."
Mendengar lelucon tersebut, wajah Radit seketika memerah karena menahan malu. Ia melotot tajam ke arah spion tengah. "Angga, tutup mulutmu sekarang juga. Kalau tidak, akan kujahit mulutmu itu setelah kita sampai!"
Mendengar ancaman khas militer dari Radit kepada temannya, Vina tidak bisa menahan diri lagi. Sebuah tawa tipis dan lembut akhirnya lolos dari bibir pucat gadis itu, meredakan sebagian ketegangan di antara mereka.
Melihat respons Vina, Radit akhirnya memberanikan diri. Ia memutar tubuhnya yang bidang agar bisa duduk berhadapan langsung dengan Vina.
Seolah ada keterikatan batin, Vina pun ikut memutar badannya. Kini, di atas jok kulit jip yang sempit, mereka berdua saling berhadapan dengan tatapan yang bertemu.
"Sebenarnya..." ucap mereka berdua secara bersamaan, kemudian langsung terdiam karena canggung.
Vina menundukkan kepalanya sedikit sembari mengulas senyum tipis. "Anda terlebih dahulu yang berbicara, Tuan."
"Tidak, kau saja duluan," balas Radit, mendadak kehilangan wibawa militernya di depan Vina.
Vina menggelengkan kepalanya pelan. "Sepertinya apa yang ingin Anda bicarakan jauh lebih penting daripada ucapanku."
"Ah, tidak juga. Sebenarnya aku hanya—"
"Ya sudah, kalau tidak ada yang mau mengalah, biar aku saja yang berbicara!" potong Angga dengan suara lantang dari kursi kemudi, sengaja menjahili dua orang di belakangnya.
"Angga..." ucap Radit dengan nada suara yang rendah namun sarat akan peringatan berbahaya, menatap tajam ke arah spion depan.
Melihat tatapan mematikan dari sahabatnya, Angga langsung menciut. Ia segera memutar tuas untuk menaikkan kaca pembatas hitam di depannya, memisahkan kabin pengemudi dan kursi penumpang bagian belakang. "Ampun, Pak Perwira. Silakan dilanjutkan, anggap aja dunia milik berdua."
Setelah pembatas tertutup rapat, suasana kembali menjadi sunyi. Vina meremas ujung kebaya putihnya sebelum akhirnya kembali menatap Radit dengan tulus.
"Sebenarnya... aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepadamu, Tuan," ujar Vina, suaranya terdengar bergetar haru. "Karena dirimu datang tepat waktu hari ini, aku tidak jadi dijual oleh ibu tiriku kepada tua bangka itu."
Radit mengembuskan napas pelan, raut penyesalan tampak di wajah tegasnya. "Tidak apa-apa. Seharusnya justru aku yang meminta maaf kepadamu. Karena keberadaanku di gubukmu semalam, kau hampir dihakimi dan diadili oleh seluruh kampungmu."
Vina terenyak, matanya membelalak tidak percaya. "Benarkah? Apakah situasinya sempat separah itu?"
"Iya, mereka membawa obor dan menghujat harga dirimu karena kita berduaan di hutan," jawab Radit serius. "Jadi—"
"Kita belum berkenalan secara resmi," potong Vina tiba-tiba, mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa berat.
Gadis desa itu mengulas senyum termanisnya, lalu menyodorkan tangan kanannya yang kecil ke depan dada bidang Radit. "Namaku Vina Darmawati. Usiaku sembilan belas tahun."
Radit menatap telapak tangan mungil itu sejenak. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena gugup, Radit mencoba menahannya sekuat profesinya agar tidak terlihat memalukan di depan gadis di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, menyambut jemari Vina.
"Namaku Radit Mahesa. Usiaku dua puluh lima tahun," jawab Radit memperkenalkan diri.
Kehangatan dari telapak tangan masing-masing mengalir, membuat debaran di dada mereka kian menggila. Entah karena terlalu nyaman atau sama-sama gugup, genggaman tangan itu terus terpegang erat dan tidak ada yang berniat melepaskannya selama beberapa menit ke depan.
Tiba-tiba, kaca pembatas depan kembali diketuk dan diturunkan sedikit oleh Angga. "Itu tangannya tidak mau dilepas sampai kita sampai ke kota, ya?" tanya Angga dengan cengiran jahil.
Seketika itu juga, Radit dan Vina langsung melepaskan genggaman tangan mereka dengan canggung. Wajah Vina memerah sempurna, sementara Radit berdeham keras, mencoba mengalihkan pandangannya ke luar jendela lagi.
"Lalu... apa yang akan terjadi setelah ini, Tuan?" tanya Vina lirih, menatap pakaian pengantin yang masih melekat di tubuhnya. "Ke mana kau akan membawaku?"
Radit kembali menoleh, menatap lekat kedua netra mata Vina. "Apa pesanku kemarin yang kutitipkan melalui kepala desa belum tersampaikan kepadamu?"
Vina mengerutkan dahi, tampak kebingungan dengan pertanyaan itu. "Pesan? Pesan apa? Sebetulnya aku baru saja sadar dari pingsanku sore ini karena demam tinggi. Jadi, selama aku tidak sadarkan diri, sepertinya banyak sekali hal penting yang sudah aku lewatkan."
"Sangat banyak," sahut Radit, memajukan sedikit posisi duduknya. "Salah satunya adalah tentang tanggung jawabmu."
"Maksudnya? Tanggung jawab untuk apa?" tanya Vina, semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan perwira di depannya ini.
"Kau harus bertanggung jawab penuh kepadaku, Vina. Karena dirimu dan gubuk rusakmu itu, aku hampir dibakar hidup-hidup oleh penduduk di kampungmu fajar tadi," ujar Radit, sengaja membalikkan fakta dengan nada bicara yang dibuat seserius mungkin untuk menjebak Vina.
Mata Vina melebar sempurna karena terkejut. "Apakah seserius itu? Tapi sepertinya saat ini kau baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa pun, kan?"
"Fisikku mungkin tidak apa-apa, tapi harga diriku sebagai perwira sudah terganggu di desa itu," bohong Radit, menahan senyum di dalam hatinya melihat kepolosan Vina. "Jadi, kamu harus tetap mempertanggungjawabkan semua ini."
Vina menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah meskipun ia tahu ada yang aneh. "Tapi sepertinya posisi kita sudah adil, Tuan. Aku sudah menolong dan mengobatimu di hutan dari perangkap besi, dan—"
"Tapi masalah yang ini jauh lebih parah, dan utang budi yang kaubuat kali ini jauh lebih besar dari sekadar mengobati luka fisik," potong Radit cepat, tidak memberikan celah bagi Vina untuk berkelit.
"Apa itu?" tanya Vina polos menatap lekat sepasang mata elang di hadapannya.
Radit tidak langsung menjawab. Ia memajukan sedikit posisi duduknya, menatap Vina dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Apa kau sudah memiliki kekasih?"
Vina terenyak, dahinya mengernyit heran mendengar pertanyaan yang melompat jauh itu. "Tidak, kenapa?"
"Apa kau sudah memiliki orang yang kau sukai?" cecar Radit lagi, nadanya terdengar seperti seorang perwira yang sedang menginterogasi tawanan, namun dengan tatapan yang lembut.
"Tidak, kenapa?" jawab Vina lagi, suaranya cicit karena debaran di dadanya kian berkejaran.
"Apa kau memiliki seseorang yang menyukaimu?"
Vina menggelengkan kepalanya perlahan, merasa bingung dengan rentetan pertanyaan pribadi ini. "Tidak. Sebenarnya... ada apa, Tuan?"
Radit mengulas senyum tipis, merasa puas dengan jawaban-jawaban polos yang keluar dari bibir gadis itu. "Apa kau tidak perlu mengetahui tentangku?"
"Untuk apa?" tanya Vina, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Aku, Radit Mahesa Laksmana, tidak memiliki siapa-siapa di hidupnya selain keluarga. Dan aku tidak memiliki orang yang dicintai saat ini," ucap Radit dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ketulusan.
Vina menelan ludahnya dengan susah payah, merasa atmosfer di dalam jip militer ini mendadak menjadi sangat panas. "Lalu?"
"Jadi maksudku semua ini..." Radit menarik napas dalam-dalam, menatap tepat ke dalam manik mata Vina dengan ketegasan seorang pria yang sudah mengunci takdirnya. "Menikahlah denganku."
"APA?!" pekik Vina tertahan, shock dengan lamaran kilat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuk!...
Suara ketukan benda keras di atas meja kaca memecah lamunan Vina seketika.
"Ini surat pernikahan kalian berdua. Sudah sah secara hukum," ujar seorang wanita paruh baya yang berada di balik loket kantor urusan administrasi kota. Perempuan itu mengeluarkan dua buah buku dan surat pernikahan yang telah dibubuhi stempel basah berwarna merah tua.
Radit mengulurkan tangannya, mengambil dokumen-dokumen legal tersebut. Sebuah senyuman puas yang sangat tipis sempat terukir di wajah tampannya saat memegangi surat berharga itu, namun dengan cepat ia menyembunyikan ekspresi bahagia tersebut saat melirik ke arah Vina.
Vina sendiri masih berdiri mematung di samping Radit, menatap lembaran kertas berstempel di tangan suaminya dengan pandangan kosong bercampur tidak percaya. Kepalanya terasa berputar hebat mengingat betapa cepatnya takdir mempermainkan hidupnya dalam hitungan jam.
"Apa hari ini... aku benar-benar telah resmi menikah dengan seorang pria asing yang baru kukenal semalam?" benak Vina berbisik lirih, menatap nanar surat pernikahan yang kini resmi mengubah statusnya menjadi istri seorang perwira elite kota.