NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Ruangan Takhta Besar Nazarick berada dalam keheningan yang menyesakkan.

Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena seluruh penghuni ruangan memahami pentingnya pertemuan kali ini.

Di atas Throne of Kings yang megah, Ainz Ooal Gown duduk tanpa bergerak. Cahaya merah di rongga matanya menatap para Guardian yang berdiri berbaris di bawah tangga takhta. Dari luar, sosok itu tampak seperti penguasa absolut yang sedang menunggu laporan dari bawahannya.

Namun kenyataannya jauh berbeda.

Tidak peduli berapa kali hal seperti ini terjadi, Ainz masih belum terbiasa menghadapi ekspektasi luar biasa yang dimiliki para bawahannya.

Mereka selalu menganggap dirinya telah melihat sepuluh langkah lebih jauh.

Mereka selalu menganggap dirinya telah memahami sesuatu yang bahkan belum terpikirkan oleh orang lain.

Masalahnya adalah...

Kali ini Ainz benar-benar tidak tahu apa-apa.

Target bernama Slamet itu telah menggagalkan seluruh metode investigasi Nazarick tanpa menunjukkan kekuatan yang jelas. Tidak ada sihir. Tidak ada aura. Tidak ada kemampuan tempur yang teridentifikasi.

Ketidakjelasan semacam itu jauh lebih menakutkan daripada musuh yang kuat.

Musuh yang kuat masih bisa diukur.

Musuh yang tidak bisa dipahami tidak memiliki batas yang jelas.

"Aura."

Suara Ainz bergema pelan di dalam ruangan.

Elf perempuan itu segera melangkah maju dan membungkuk.

"Lapor, Ainz-sama. Tidak ada perubahan besar pada perilaku target. Selama beberapa hari terakhir ia menghabiskan sebagian besar waktunya di sekitar sungai. Memancing, mengumpulkan kayu bakar, serta berinteraksi dengan penduduk elf di area sekitar."

Aura berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Namun justru itulah yang terasa aneh. Dia tidak pernah menunjukkan kewaspadaan. Tidak pernah memeriksa area sekitar. Bahkan ketika berada sendirian di tempat terbuka."

Ruangan menjadi sedikit lebih hening.

Semua orang memahami maksud laporan itu.

Tidak ada orang normal yang bisa hidup selama ini di New World tanpa kewaspadaan dasar.

Terlebih lagi seseorang yang telah menjadi pusat gangguan divinasi skala besar.

Demiurge mendorong kacamatanya perlahan.

Ekspresinya tampak tenang seperti biasa, namun Ainz mengenal bawahannya itu cukup baik untuk mengetahui bahwa pikirannya sedang bekerja dengan kecepatan penuh.

"Menarik."

Hanya satu kata itu yang keluar.

Namun semua perhatian langsung tertuju kepadanya.

"Meskipun saya tidak dapat memastikan alasannya, perilaku tersebut mengandung kontradiksi yang cukup besar."

Demiurge menyatukan kedua tangannya di depan dada.

"Jika target benar-benar tidak memiliki kemampuan khusus, maka tingkat kelengahan tersebut sulit dijelaskan. Namun apabila ia memang memiliki kemampuan yang mampu mengganggu sistem pengawasan Nazarick, maka kemungkinan lain muncul."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kemungkinan bahwa ia sengaja memperlihatkan dirinya sebagai orang biasa."

Ainz diam.

Kalimat itu terdengar masuk akal.

Masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Itulah masalahnya.

Demiurge selalu terdengar masuk akal.

Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah Slamet memang terlihat seperti orang biasa?

Dia memancing.

Dia mengangkat ember.

Dia membersihkan abu api unggun.

Itu semua terdengar seperti hal yang dilakukan orang biasa.

Tapi...

Kalau dia memang orang biasa, lalu kenapa semua metode divinasi gagal?

Dan kalau dia bukan orang biasa...

Kenapa dia malah memancing?

Ah sial.

Aku bahkan tidak tahu mana yang lebih mengkhawatirkan.

Orang biasa yang tidak masuk akal, atau monster yang sengaja berpura-pura menjadi orang biasa.

Terlalu masuk akal.

Dan karena itulah Ainz tidak berani langsung menyetujuinya.

"Mare."

Elf laki-laki itu sedikit tersentak ketika namanya dipanggil. Ia melangkah maju dengan kepala tertunduk.

"A-aku sudah mencoba beberapa metode deteksi, Ainz-sama."

Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh luasnya ruangan.

"Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada sihir aktif. Tidak ada sihir pasif. Bahkan ketika target menggunakan benda hitam itu, aku tidak menemukan reaksi mana sekecil apa pun."

Mare menggenggam tongkatnya lebih erat.

"Seolah-olah benda itu tidak termasuk ke dalam sistem sihir yang kita kenal."

Perkataan itu membuat beberapa Guardian saling bertukar pandang.

Bagi penghuni Nazarick, sihir adalah sesuatu yang hampir selalu bisa dijelaskan.

Bahkan fenomena yang tidak diketahui sekalipun biasanya masih meninggalkan jejak tertentu.

Namun dalam kasus ini tidak ada apa-apa.

Ketiadaan informasi itulah yang justru terasa mengganggu.

Demiurge melangkah maju satu langkah.

"Jika laporan Mare benar, maka kita setidaknya dapat mengesampingkan beberapa kemungkinan."

Pandangan matanya beralih kepada replika artefak yang diproyeksikan Pandora's Actor.

"Benda tersebut kemungkinan besar bukan artefak sihir biasa."

"Dan bukan pula item yang beroperasi berdasarkan prinsip sihir Tier."

Ia berhenti sejenak.

"Tentu saja, itu tidak berarti benda tersebut tidak berbahaya."

Pandora's Actor mengangkat tangannya.

Berdasarkan citra hasil pengamatan yang telah dikumpulkan oleh tim pengawas, ia merekonstruksi bentuk artefak tersebut dengan sihir ilusi.

Cahaya ungu berkumpul di udara dan membentuk replika sempurna benda hitam yang pernah diamati Ainz.

Permukaannya halus.

Tidak ada ukiran.

Tidak ada rune.

Tidak ada simbol sihir.

Namun justru karena kesederhanaannya, benda itu terlihat semakin asing.

Ilusi berputar perlahan.

Lalu memperlihatkan bagian belakangnya.

Pada bagian belakang artefak itu terdapat tulisan yang sebelumnya berhasil diamati oleh tim pengawasan.

SAMSULUDIN.

Samsuludin...

Nama apa itu?

Ainz mengulangnya dalam hati.

Tidak terdengar seperti nama guild.

Tidak terdengar seperti nama item.

Tidak terdengar seperti nama Player yang pernah ia kenal.

Tapi justru itulah yang membuatnya gelisah.

Jika itu nama yang terkenal, setidaknya ia punya titik awal.

Namun nama ini benar-benar asing.

Jangan-jangan aku melewatkan sesuatu?

Tidak.

Mustahil mengingat seluruh pemain YGGDRASIL.

Jumlah mereka terlalu banyak.

Tapi bagaimana jika ini bukan nama pemain?

Bagaimana jika ini nama organisasi?

Atau gelar?

Atau kode?

Ah, kenapa semuanya selalu terdengar lebih berbahaya setelah dipikirkan lebih lama?

Tidak seorang pun langsung berbicara.

Nama itu terasa asing.

Terlalu asing.

Albedo adalah orang pertama yang memecah keheningan.

"Saya tidak menyukai nama itu."

Nada suaranya dingin.

Tatapannya seolah ingin merobek tulisan tersebut hanya dengan pandangan.

"Tidak ada arsip mengenai nama tersebut. Tidak ada catatan organisasi. Tidak ada informasi tentang individu dengan nama itu."

Albedo memandang ke arah singgasana.

"Entitas yang mampu bergerak tanpa meninggalkan jejak biasanya bukan entitas yang lemah."

Ainz mengangguk pelan.

Kalimat itu terdengar cukup masuk akal.

Meskipun sebenarnya ia sendiri tidak memiliki informasi tambahan.

Samsuludin...

Ainz mengulang nama itu dalam hati.

Tidak terdengar seperti nama guild yang ia kenal.

Tidak terdengar seperti nama World Item.

Namun ia juga tidak berani menganggapnya sepele.

YGGDRASIL memiliki begitu banyak konten yang bahkan pemain veteran pun tidak mungkin mengetahui semuanya.

Jika benar ada Player lain yang berasal dari dunia berbeda...

Tidak.

Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan seperti itu.

Demiurge kembali berbicara.

"Ada satu hal yang menurut saya lebih menarik daripada nama tersebut."

Seluruh perhatian kembali tertuju kepadanya.

"Perilaku target saat menggunakan artefak itu."

Demiurge menyentuh dagunya.

"Dia mengeluarkan benda tersebut. Menekan salah satu bagian di sisinya beberapa kali. Kemudian menyimpannya kembali setelah gagal memperoleh hasil yang diinginkan."

"Secara kasat mata, tindakan itu terlihat sederhana."

"Terlalu sederhana."

Aura mengangguk setuju.

"Benar."

"Kalau dia memang tahu sedang diawasi, kenapa melakukan sesuatu seperti itu di tempat terbuka?"

"Itulah masalahnya," jawab Demiurge.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Jika kita berasumsi bahwa target menyadari keberadaan para pengamat, maka tindakan tersebut dapat ditafsirkan sebagai pesan."

"Pesan?" tanya Mare.

Pesan?

Tunggu.

Apa memang terlihat seperti itu?

Bukankah dia hanya menekan sesuatu lalu terlihat kesal?

Kalau aku melihat seseorang melakukan hal seperti itu di YGGDRASIL, aku mungkin akan menganggap itemnya rusak.

Atau mungkin tidak?

Bagaimana jika memang itu sinyal?

Tidak.

Terlalu cepat menyimpulkan.

Tapi kalau ternyata benar?

Ah sial.

Aku harap Demiurge punya jawaban.

Tidak.

Justru itu masalahnya.

Biasanya saat Demiurge mulai menjelaskan sesuatu, aku malah semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Mungkin."

Demiurge tidak langsung memberi jawaban pasti.

"Itu hanya salah satu kemungkinan."

"Mungkin ia sedang menguji artefaknya."

"Mungkin ia sedang mengirim sinyal kepada pihak lain."

"Mungkin pula ia sedang mengamati bagaimana lingkungan bereaksi terhadap tindakannya."

"Terlalu sedikit informasi untuk menentukan mana yang benar."

Ainz diam.

Itulah alasan mengapa Demiurge begitu berbahaya.

Ia tidak selalu memberikan jawaban.

Namun ia mampu menunjukkan begitu banyak kemungkinan sehingga bahkan kesalahan pun terdengar masuk akal.

Dan yang paling menakutkan adalah...

Sering kali kemungkinan-kemungkinan itu ternyata benar.

Atau setidaknya cukup dekat dengan kebenaran.

Ainz mulai mempertimbangkan keputusan berikutnya.

Menangkap Slamet sekarang terlalu berisiko.

Mengabaikannya juga tidak mungkin.

Satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah melanjutkan pengawasan.

Sampai mereka memperoleh informasi yang benar-benar berguna.

Atau sampai target membuat kesalahan.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!