Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Kembali Ke Rumah
Bab 16 - Kembali Ke Rumah
Sebuah rumah mewah berdiri kokoh, rumah tempat nyaman saat pulang, namun terkadang rumah juga bisa menyakitkan untuk kembali. Sebelum melangkah masuk kedalam rumah tempatnya tumbuh menjadi dewasa Raisa menarik nafas panjang. Kembali kerumah adalah hal yang ia inginkan karena merindukan sosok ayah dan saudarinya. Namun di sisi lain ada hal yang tak ingin membuatnya kembali pulang, yaitu Marla sang ibu tiri.
"Ada apa? Jika kau ragu lebih baik kita kembali saja?"
"Tidak perlu, lagian kita sudah sampai." Raisa lalu membunyikan alarm dua kali sebelum pintu terbuka. Saat berjalan masuk Raisa bisa melihat Ardi sedang duduk baca koran di temani dengan secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap mengepul.
Tidak lama Marla datang dari arah dapur membawa se piring kue di tangannya. Marla lalu melihat Raisa datang dan di belakangnya ada Senopati yang berdiri memakai setelan jas mahal berwarna abu-abu, kedua tangannya berada di dalam sakunya lalu menatap Marla dengan dingin tanpa ekspresi. Marla yang melihat itu bergidik ngeri tapi pura-pura masah bodoh dengan kedatangan pria itu.
"Kamu pulang juga?" Katanya lalu meletakkan sepiring kue itu di samping cangkir kopi Ardi. "Ku pikir kamu lupa dengan rumahmu sendiri setelah tinggal di rumah mewah itu." Ucapnya sinis lalu menjatuhkan bokongnya di sofa samping sang suami.
"Raisa... Kamu pulang Nak?" Ardi lalu berdiri menghampiri Raisa tanpa memperdulikan Marla. "Papa, sangat merindukan kamu Nak?" Ardi lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang serta kerinduan. Lalu matanya beralih ke Senopati yang masih setia berdiri di samping Raisa. "Tuan, apa Raisa akan tinggal disini?" Tanyanya ragu-ragu.
"Hm, hanya sampai hari pernikahan saja." Ekspresi dingin itu lah yang tergambar di mata Ardi.
"Ayo sayang duduk dulu, Tuan, silahkan duduk." Ardi lalu menggandeng Raisa duduk di sofa tapi bukan tempatnya duduk semula karena disana sudah ada Marla yang menatap sinis sambil melipat kedua tangannya di dadah.
Senopati ikut duduk bersama mereka, melipat kakinya lalu bersandar menatap ketiganya secara bergantian. "Saya akan menutup Raisa di sini sampai sebelum acara pernikahan di langsungkan, tapi saya tidak ingin jika dia terluka atau sakit sedikitpun." Saat mengatakan semua itu Senopati hanya menatap Marla dengan tatapan seakan ingin membunuh wanita itu saat ini juga.
Marla yang di tatap seperti itu merasa bulu kuduk nya berdiri karena takut, ia jadi salah tingkah. "Uhuk...?" Iya pura-pura batuk untuk menghilangkan kegugupan nya.
"Baiklah Tuan." Jawab Ardi cepat.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepadanya dan menyebabkan pernikahan kami batal maka, kalian akan menanggung resikonya." Senopati lalu berdiri hendak pergi. "Saya pergi dulu?" Ucapnya menatap Raisa lalu melangkah pergi.
Namun Raisa segera mengikuti dari belakang, saat di luar rumah Raisa memanggil. "Tuan, tunggu?" Orang yang di panggil berhenti lalu berbalik.
"Ada apa lagi?"
"Terimakasih sudah mengantar saya pulang."
"Hm, kamu baik-baik disini. Saya pergi dulu, saya harus kekantor."
Ia benar melangkah pergi sambil memasukkan kembali kedua tangannya kedalam saku. Senopati menyetir sendiri menuju kantornya karena memang tadi saat dari rumahnya mengantar Raisa ia memilih menyetir sendiri.
Mobil mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalan kota, meninggalkan perumahan tempat tinggal Raisa dan keluarganya. Di balik kemudi, raut wajah Senopati kembali berubah tegas dan serius. Di kepalanya tak hanya terbayang kekhawatiran akan keselamatan Raisa di rumah itu, tapi juga kejadian pagi tadi—ketika Hendra tiba-tiba muncul dan mengancam nyawa gadis itu.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, mobil itu berhenti tepat di halaman depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, bertuliskan GRUP ADITAMA dengan huruf emas yang berkilau terkena sinar matahari. Ini adalah pusat dari seluruh kekuasaan dan bisnis yang dibangun keluarga Senopati selama puluhan tahun. Begitu ia turun, para staf dan manajer yang melihatnya langsung menunduk memberi hormat dengan rasa hormat sekaligus segan.
Tanpa banyak berhenti menyapa, Senopati langsung melangkah masuk menuju lift khusus yang membawanya ke lantai paling atas—lantai eksekutif yang hanya diakses oleh dirinya dan beberapa orang kepercayaan terdekat. Begitu pintu ruang kerjanya terbuka, ia langsung melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi, lalu duduk di balik meja kerjanya yang luas dan rapi.
Tak lama kemudian, pintu diketuk pelan dan masuklah Radit, asisten pribadinya yang sudah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun. Wajah Radit tampak serius, membawa seberkas dokumen dan sebuah amplop tertutup.
“Tuan, selamat pagi. Semua laporan keuangan dan jadwal rapat hari ini sudah saya siapkan. Selain itu, ada laporan mengenai pria yang menerobos masuk tadi pagi—Hendra,” ucap Radit sambil meletakkan berkas-berkas itu di atas meja.
Mata Senopati langsung menyipit tajam mendengar nama itu. Ia menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada. “Ceritakan semuanya. Apa yang dia katakan setelah diamankan? Dan apa yang sebenarnya terjadi dengan usahanya sampai dia jatuh sejauh itu?”
Radit mengangguk, lalu membuka catatannya. “Berdasarkan pemeriksaan awal, benar dia mantan mitra usaha kita beberapa tahun lalu. Usahanya bangkrut bukan hanya karena kesalahan manajemennya sendiri, tapi ada bukti adanya transaksi gelap yang mencurigakan—seolah-olah ada pihak lain yang sengaja menarik seluruh jalur pasokan dan pembiayaannya secara diam-diam.”
Jari-jari Senopati mulai mengetuk pelan permukaan meja, tanda ia sedang berpikir keras. "Lalu ada apa lagi?" Tanyanya meminta lanjutan.
"Sepertinya ia ketipu oleh seseorang, dan bisa saja orang itu membawa-bawa nama Tuan." Radit lalu menyerahkan amplop yang ia bawah kepada Senopati.
Mendengar itu, alis Senopati terangkat sedikit. Ia membuka amplop itu dan melihat salinan dokumen transaksi serta tanda tangan yang tertera di sana. Di sudut kertas itu tertera nama yang membuat matanya semakin tajam:
“Jadi dia terpojok dan mencari tahu tentangku lalu datang mengamuk kerumah saat Raisa ada disana,” gumam Senopati pelan, suaranya rendah namun penuh penekanan. “Hendra sudah terlibat dalam urusan ini jauh sebelum kami sepakat dengan perjanjian pekerjaan itu. Dia tidak hanya serakah, tapi juga berani bermain api dengan orang yang berbahaya.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan dengan Hendra, Tuan?” tanya Radit menunggu perintah.
“Jangan lepaskan dia dulu. Jaga dia di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan siapa pun. Saya ingin mendengar penjelasannya secara langsung, tapi bukan sekarang. Sementara itu, perketat pengawasan di rumah keluarga Raisa. Kirim dua orang yang paling bisa dipercaya untuk mengawasi dari jarak jauh—tanpa diketahui Raisa maupun Ardi. Saya tidak ingin ada kejadian buruk lagi menimpanya.”
“Baik, segera saya laksanakan.”
Sebelum Radit melangkah keluar, Senopati memanggilnya sekali lagi. “Dan satu hal lagi. Cari tahu siapa saja yang menjadi rekan kerja Hendra selama ini, serta ke mana saja uang hasil hutang itu mengalir. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Kita harus mengungkap semua rahasia ini.”
Setelah Radit pergi, Senopati duduk termenung menatap jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh kota. Ia menyadari semakin banyak orang yang mencari masalah dengannya dan melempar semua kesalahan itu kepadanya.